TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK 137


"tuan, kenapa kita tidak makan malam di meja makan saja?" Alicia bertanya setelah ia terduduk di sofa


"supaya kamu bisa langsung istirahat setelah makan" jawab Daniel santai yang tengah berjalan menuju walk in closet untuk melepas pakaianya "ibu tidak akan membiarkanmu bisa istirahat cepat jika kita makan di bawah" lanjutnya sebelum dirinya tenggelam di balik pintu


"kasihan ibu harus makan sendiri" protes Alicia setelah Daniel keluar dari sana dengan hanya memakai celana boxer. Huh tak tahu malu


"tidak. Ibu tidak makan sendiri, dia punya banyak teman dan memiliki beberapa restoran enak" jelas Daniel mengingat ibunya tak akan bisa makan seorang diri. Beruntung ibunya memiliki hanyak teman sosialita lainnya yang siap sedia mengadakan pertemuan, sekaligus ajang pamer.


"walau kamu tak mengantuk tapi kamu tetap harus cukup beristirahat, Dara, ingat pesan doktermu. Seharian ini kamu tak memiliki waktu istirahat" sambungnya mengingatkan


Alicia menghela napas panjang, ia kemudian mengangguk tak ingin mendebat tuan suaminya yang kini terlihat tegar meski tadi hampir sekarat


Melihat anggukan istrinya Daniel kemudian melanjutkan langkahnya memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia butuh air segar untuk merilekskan raga dan jiwanya.


Setelah Daniel memasuki kamar mandi, Alicia mengalihkan perhatiannya, ia menatap dan mengamati seisi kamar yang selama 9 bulan ini di jadikannya tempat beristirahat sekaligus tempat menjadi saksi penderitaannya pada awal-awal pernikahan.


Besok ia tak lagi bisa melihat dan menikmati tempat ini.


Beranjak dari duduknya ia melangkah menuju balkon kamar yang menampilkan suasana malam penuh bintang. Balkon ini cukup terang dengan pencahayaan lampu. Menunduk melihat di bawah sana ia. Menyukai pemandangan taman mansion yang sangat menakjubkan dengan beberapa lampu sebagai pencahaya di bawah sana.


Ia akan merindukan suasana ini beberapa minggu atau bahkan bulan kedepan.


Daniel keluar kamar mandi dengan jubah mandinya seketika panik saat tidak melihat keberadaan Alicia ditempat duduknya semula. Ia menghela napas lega ketika melihat siluet seseorang tengah berdiri di balkon dari balik tirai putih. Ia segera memasuki walk in closet untuk berpakain. Pria yang sudah memakai pakaian tidur itu menghentikan langkahnya untuk segera menyusul sang istri kala ketukan di pintu dan tidak lama pak Wis dan 2 orang maid menyusul memasuki kamar setelah mendapat persetujuan dari tuan kamar.


Setelah tersaji pak Wis dan 2 maid itu pamit undur diri.


"makanannya sudah siap, ayok makan dulu, nanti baru lanjutkan menikmati pemandangannya" ajak Daniel setelah berdiri di samping Alicia


"tuan, apakah boleh makan disini saja? Udaranya sangat segar" Alicia berucap dengan mata puppy eyesnya membuat Daniel tak mampu menolak


"tunggu disini" tanpa berpikir lama, Daniel langsung menyetujui


"jangan mengikutiku, kamu disini saja" larangnya saat melihat Alicia hendak mengikutinya yang ingin mengambil makanan untuk dibawa ke balkon


Alicia mengangguk patuh


"sikapnya makin berubah padaku, apa aku harus mempercayainya? Tapi bagaimana jika ia melakukan semua ini karna memiliki tujuan khusus padaku" gumamnya menatap punggung tuan suaminya yang menjauh "aku hanya tidak ingin berharap terlalu banyak dari pernikahan ini, aku tidak ingin di jatuhkan sedalam-dalamnya setelah terbuai karna di lambungkan setinggi-tingginya" lanjutnya tak percaya diri


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Entah sudah berapa puluh kali sekertaris Ali mengumpat dalam hati, di dalam bibirnya yang tertutup rapat ada beribu makian yang ingin ia lontarkan meski tak tahu kepada siapa harus tertuju.


Raga dan jiwanya harus ikut serta melanglang buana seperti yang dirasakan tuan mudanya namun dalam artian berbeda


Jika tuan mudanya sedang berkelana dengan kefrustasian akibat perasaan cinta dan menyesal atas perbuatan kejamnya pada sang istri di masalalu kini berbalik menyerangnya, sedang Ali harus frustasi mengatasi berbagai masalah perusahaan yang dengan tak berprikesekertaris-an tuan Daniel mengalihkan semua tanggung jawab padanya akibat kesetiaannya dan kegercapannya mengatasi semua masalah perusahaan selama ini.


Mata tajam sekertaris Ali menatap ponsel, laptop dan lawan bicaranya secara bergantian.


Ia harus mengadakan pertemuan secara langsung pada orang yang bertanggung jawab atas bangunan baru yang akan di bangun lagi di sebelah kiri anak perusahaan di Bandung yang bergerak di bidang otomotif, juga harus mengecek puluhan email dari berbagai rekan bisnisnya yang tidak sempat Ia periksa langsung dalam bentuk print outnya melalui email di ponselnya, serta ia harus mengadakan rapat lebih tepatnya memantau rapat para kepala manajer yang sedang berlangsung di laptopnya. Beruntung otak kecilnya yang memiliki kecerdasan harus bisa bekerja diluar kemampuan orang-orang biasa pada umumnya, namun percayalah ada setitik rasa ingin menyerah atas semuanya, ia juga butuh istirahat dan merefresikan jiwa dan raganya tapi sekali lagi ia tak punya pilihan lain.


Mengehembuskan napas lelah, Ali mencoba kembali fokus untuk memasuki semua agenda yang dimana ia harus terlibat di dalamnya.


Sedang di lain tempat, seorang pria tengah senyam-senyum menikmati pemandangan luar bisa indah di depan matanya. Tangan kirinya terangkat untuk menyelipkan anak rambut ke belakang telinga wanitanya kemudian berpindah mengelus sayang pipi mulus nan cubby itu, ia mendaratkan sebuah kecupan dalam pada pucuk kepala sang istri yang tengah terlelap di sampingnya dengan kepala bersandar di pundak kanannya.


Pria yang awalnya sangat hati-hati untuk menjatuhkan hatinya pada seorang wanita karna menganggap wanita itu merepotkan dan hanya akan menyusahkannya saja, terlebih banyak laki-laki yang terlihat bodoh dan lemah hanya karna wanita, membuatnya membatasi hatinya untuk terjatuh pada makhluk bernama wanita karna ia tak mau jadi bodoh dan lemah, Tapi kini ia malah terjatuh lebih dalam dengan apa yang ia hindari sedari dulu.


Ia mencintai wanita ini, Daranya, istri dan ibu dari anak-anaknya kelak. Namun penyesalan akan kesalahan atas pembalasan dendamnya di masalalu tak juga bisa lepas dari bayang-bayangnya.


Menghembuskan napas pelan, ia mencoba terlelap berusaha menghilangkan pikirannya yang kini terbagi antara istri dan perusahaannya.


Jiwanya terguncang, dilain sisi ia menghawatirkan perusahaan dan puluhan juta karyawannya yang menyebar di berbagai daerah, ia merasa sangat egois karna meninggalkan kewajibannya sebagai pemimpin, tapi disisi lain ia tak mau kehilangan moment bersama istri dan calon anaknya.


Ia terpakasa harus ikut serta terbang ke Taiwan demi selalu berada disisi sang istri menjaganya dan menjadi orang pertama jika istrinya butuh sesuatu.


'tuan tidak perlu ikut, saya hanya ingin mengunjungi oma' jelas Alicia mencoba memberi pengertian pada tuan suaminya yang terlihat sangat mengenaskan


'aku juga ingin menemanimu mengunjungi oma, ingat, aku juga cucunya' keukeh Daniel tegas dibalik perasaannya yang semrawut


'bagaimana dengan perusahaan jika tuan ikut? Tuan tidak boleh se....'


'terus bagaimana denganku yang selalu muntah sampai rasanya meremukan semua badanku jika jauh darimu? Apa kamu lebih peduli perusahaan dari pada keadaanku?' tanya Daniel mengiba


'bukan begitu, tuan, saya hanya ingin...'


'dan aku ingin menemanimu' putus Daniel memotong ucapan Alicia, ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat ke bandara pagi ini


Ya, setelah pertemuan antara cucu dan kakek itu kemarin sore, Alicia langsung setuju ikut ke Taiwan untuk menemui keluarga dari ibunya. Ia memang butuh sosok keluarga yang mau mengajarkan ia arti kasih sayang tulus yang sebenarnya. ia memutuskan untuk ikut dan meninggalkan rasa nyamannya yang kini mulai ia rasakan beberapa hari belakangan ini dengan statusnya sebagai nyonya muda yang disayangi semua orang termasuk ibu mertunya yang sempat membencinya.


Dan Daniel tak akan membiarkan istrinya pergi tanpa dirinya, setelah menidurkan Alicia malam itu, ia memanggil Ali dan menyerahkan untuk sementara waktu pekerjaan perusahaan, karna kunjungan ini tak mungkin hanya memakan waktu sehari 2 hari mengingat Alicia adalah cucu mereka yang sempat terpisah puluhan tahun. namun sebelumnya Daniel ikut membantu menyelesaikan pekerjaan penting hingga dini hari sebelum ia berangkat ke Taiwan


Tetap ia juga akan menghendel beberapa pekerjaan yang mengaharuskan keterlibatannya melalui ponselnya.


\=\=\=\=\=


helaan panjang sudah beberapa kali wanita paru baya itu keluarkan untuk. mengurangi rasa sepinya. ia merasa bete di dalam kamar di sebuah mansion yang kini hanya dirinya jadi tuan rumah, semua meninggalkannya, suaminya sibuk dengan bisnisnya di Jepang, putra satu-satunya yang sempat membuatnya panik kemarin sore juga pergi entah berapa hari ke negara tempat harusnya menantunya tumbuh, dan yang membuatnya bersedih ketika mengingat wanita muda yang sempat di bencinya dengan kejam kini tak bisa lagi ia omeli akan kelakuan yang selalu membuatnya mengeratkan gigi karna gemas, ia juga tak bisa mengelus dan melihat seminggu sekali cucunya saat dokter Putri memeriksa kandungan Alicia.


"kalian jahat pada ninggalin" gumamnya kesal


Sungguh kebiasaan yang membuatnya sering mengelus dada akan kebersamaan dengan menantunya rupanya meninggalkan kenangan mendalam di hatinya


Meski tak rela dan tak setuju akan keputusan sang menantu yang tiba-tiba itu, tapi Maya tak bisa melarang mengingat bahwa ibu hamil tak boleh terkekang dan banyak pikiran akhirnya ia mengalah dan membiarkan menantunya berkunjung ke taiwan untuk bertemu keluarga kandungnya disana. Katakanlah ia kekanakan, tapi sungguh ia sudah mencintai Alicia seperti anaknya sendiri.


Entahlah, Alicia yang mudah di cintai jika sudah mengenalnya atau Maya yang mudah menjatuhkan hati pada sosok wanita muda yang menurutnya sangat menggemaskan setelah memahami sosok gadis yang akan memberikannya gelar nenek beberapa bulan lagi.


Alicia dengan segala sikap penurutnya dan mudah belajar apa yang diberikannya selama ini.


Tentu selain belajar tentang membalas perasaan. calon ibu muda itu belum bisa belajar dengan baik akan membuka hati. suatu saat ia akan membuka hatinya tapi dengan perlahan dan semua butuh proses, bukan?


Bersambunggg...


#######


Gimana hasil revisi? Ya, maaf soalnya kehaluan memang hanya sebatas ini. harap maklum typo. ini ngetiknya sampai jari-jari kesemutan


Kemarin memang ngetiknya gabut banget, tapi percayalah aku ngetik nggak asal ngetik kok, aku juga jungkir balik memutar otak harus Bagaimana agar bisa nyambung ke part 138 yang idenya sudah ada sedikit gambaran di otak.


Makasih semua atas sarannya 🙏🙏🙏


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu