
Dengan langkah lebar Alex menuju sebuah ruangan dengan raut wajah lelah, ia menghela napas sebelum tangannya memencet beberapa digit nomor pada tombol pasword pintu
Ceklek
Alex menyungingkan senyumnya membalas senyuman tipis seorang wanita cantik yang terduduk di sofa apartemen yang langsung menghadap ke arah pintu
Ah, dia merindukan wanita bergaun maroon itu, memang pakain yang dikenakan tertutup tapi tak membuat Alex berhenti memuja keseksian tubuh dengan perut bulat itu. alih alih langsung menerjangnya Alex memilih melangkah santai seolah ia tak memiliki beban apapun. Lebih tepatnya berusaha menghindari hal hal yang akan membuat mereka lupa akan kondisi dan keadaan keduanya
"nggak rindu?" tanya Alex setelah mendudukan bokongnya di samping Maura
"mmm,, lumayan" jawab Maura meragu membuat Alex terkekeh, Alex menarik pelan Maura kepelukan hangatnya, menenggelamkan wajahnya di samping kepala Maura, menghirup dalam-dalam aroma yang ia rindukan seharian ini
"baru juga 10 jam di tinggal. Dasar bucin" ledek Alex pada Maura yang membalas pelukannya lumayan erat. Ledekan yang sebenarnya lebih pantas untuk dirinya sendiri
"bukan aku yang rindu kok. Tapi anak kamu" Elak Maura yang masih asik mengendus-enduskan hidungnya menghirup aroma tubuh suaminya yang tetap harum walau seharian bekerja
'heh mama lucnuk, berdosa banget kamu. suka banget bawa-bawa nama aku. Mentang-mentang aku masih di dalam perutmu. papa bucin jangan percaya sama mama gengsian' kira-kira begitulah seruan dari si jabang bayi yang sering teraniaya oleh mamanya sendiri
Alex percaya tak percaya hanya mengangguk samar. tak ingin mendebat si nyonya
Cup
Setelah mendaratkan kecupan di dahi Maura, Alex mengelus sayang kepala serta punggung istrinya yang kini sibuk menelusupkan wajahnya di leher depan Alex. menimbulkan rasa geli karna kecupan-kecupan basah bibir Maura juga hembusan napas istrinya itu membangunkan bulu kuduknya
"sebaiknya berhenti kalau tidak mau kita berakhir bercinta disini sayang" lirih Alex yang terdengar seperti geraman.
Sontak membuat Maura seketika menegakan tubuhnya setelah tersadar kelakuannya bisa membuat mereka tak bisa mengendalikan diri, melirik takut-takut ke arah Alex, lelakinya itu tengah menipiskan bibir dengan mata terpejam, tangan kekar yang tadinya merem4s pinggangnya kini beralih memer4s sandaran sofa, juga sesuatu yang menonjol di antara kedua paha suaminya tak luput dari pengamatannya
"ma..maaf" cicit Maura
"tidak. Kamu tidak salah. Aku yang salah" bantah Alex menyalahkan dirinya yang tidak bisa mengendalikan hasratnya
Sebenarnya apa yang salah? Kenapa mereka harus menahan sesuatu hal yang halal untuk dilakukan keduanya. Bukankah mereka bisa melakukan apapun, menyatu dan saling memuaskan? Toh mereka suami istri yang sah.
Argh insiden itu!
Percobaan pembunuhan pada Maura dan kandungannya 2 minggu lalu yang menewaskan Maria di tempat.
Syok dan guncangan saat ia didorong dan terjatuh di tanah membuat kandungan Maura mengalami cedera, namun kuasa Tuhan, bayi itu kuat hingga masih bisa selamat. Meski begitu, Anjani menyarankan agar tak melakukan hubungan badan untuk menghindari guncangan pada si janin, dan itu disarankan sampai kelahiran si bayi. Itu artinya Alex harus berpuasa kurang lebih 3 bulan lagi
Alex tentu tak masalah, karna keselamatan istri dan anaknya adalah priorotasnya meski ia harus memboros sabun mandi selama 3,,, tidak, 4 bulan lamanya lebih tepatnya, sampai istrinya benar-benar bersih, Alex akan bersabar hingga ia bisa memberi jatah pada sang jagoan bin4lnya. Ia bersumpah hingga hari itu tiba, ia akan menguasai Maura 24 jam lamanya non stop. tolong ingatkan Alex akan janjinya pada benda pusaka yang kini terasa nyeri di dalam sana jika hari kemenagan itu tiba
"mas,, butuh bantuan?" pertanyaan lirih dari Maura membuat Alex membuka matanya, menatap tepat di manik istrinya
"maksudku,, bantuan dengan cara lain?" jelas Maura melihat kebingunan Alex
"bo..bolehkan?" tanya Alex ikut terbata
Maura menelan ludah, menatap wajah memerah Alex dan benda keras yang menyembul dibalik resleting celana bahan Alex bergantian
"ca..caranya?" bukannya menjawab Maura kembali melayangkan peryanyaan yang di balas senyum geli oleh Alex
Istrinya berusaha berinisiatif walau jelas mata berbulu lentik itu memancarkan keraguan. Maura menawarkan bantuan agar bisa membuatnya senang namun wanita itu tak tahu menahu hendak membantu dengan cara bagaimana. sungguh gambaran seorang istri yang berbakti. Sikap Maura itu membuat Alex gemas
Alex memang butuh bantuan, tapi ia tak mau jika istrinya bekerja sendirian. ia akan menyelesaikanya sendiri. pikir Alex
namun...
sekali lagi, Alex memang bisa gila jika ia berhadapan dengan makhluk yang berhasil menjungkir balikan dunianya itu
Grep
Hap
Alex meraih Maura kedalam pangkuannya, memulai dengan ******* bibir manis Maura, menyesapnya dan mengabsen setiap deretan gigi Maura
Mereka saling menukar salivar dengan mata saling memejam. Menikmati setiap pertemuan bibir mereka. Maura sudah mengalunkan kedua tangannya di kepala Alex namun tangan Alex malah mengepal disisi tubuhnya. Membuat Maura merasa kurang, ia memancing dengan menggerakan pant4tnya agar Alex mengerayanginya. Ya, Maura butuh tangan Alex menyentuhnya
*argh sial! niat hati hanya ingin menciumnya sebentar lalu ke kamar mandi tapi kenapa aku tak bisa lepas. mana wanita licik ini tak mau berhenti bergerak* batin Alex merasa disiksa oleh kelakuan Maura
*sentuh aku* teriak Maura dalam hati
Alex mengeram tertahan, kepalan tangannya gemetar saat Maura makin cepat menggesek bokongnya di atas miliknya yang makin mengeras dibalik celanya. Alex sudah tak kuat
Ia lepas tautan bibirnya paksa, menurunkan Maura dengan pelan dan ia berlari ke arah kamar mandi
"hoshh hosh hosshh.." napas Alex memburu setelah ia berhasil mengeluarkan cairannya di kamar Mandi
"hah, bisa keluar juga tanpa menyakiti mereka. Jika saja tadi aku menyentuh tubuhnya aku tak yakin bisa tak meminta lebih" monolog Alex kembali memakai celananya dengan perasaan lega walau tak selega saat bisa menuntaskan bareng bersama Maura tanpa terhalang kain di tubuh Mereka
Sedang Maura yang berada di luar memberengut kesal.
"ck! Jadi aku yang butuh bantuan sekarang" dumelnya namun ia berusaha untuk meredam nafsunya.
Ia tak ingin menyiksa suaminya jika ia meminta dipuaskan, sedang keadaannya yang tak mungkin untuk mereka saling menyatu. Setelah mengganti ********** yang sedikit lembab ia kembali ke arah sofa, menunggu suaminya selesai dengan kegiatannya di dalam kamar mandi
"makasih" ujar Alex yang tau tau sudah berada di sampingnya
"aman?" tanya Maura memastikan, ia melirik celana suaminya yang tak ternoda apapun
"aman sayang" ujar Alex menyanderkan kepalanya di sandaran sofa
"mm mas?"
"hum?"
"bagaimana?"
Kata tanya dari Maura membuat Alex tersadar akan hal penting yang harusnya ia bicarakan pada istri cantiknya namun malah terabaikan. Ah, efek sang istri yang memiliki aura menggoda iman membuat Alex melupakan hal penting itu. menghela napas panjang, kemudian ia menegakan tubuhnya dan mengahadap ke arah Maura
"maaf" ucapnya dengan raut menyesal
"hah? Maksudnya mas?"
*maaf karna belum bisa jujur saat ini* batin Alex
"kasusnya lumayan rumit sampai belum bisa menemukan titik terang"
Helaan napas panjang dari Maura membuat Alex kembali diterpa perasaan bersalah. Ekspresi sedih sang istrilah yang membuatnya seharian ini dihantui akan keputusannya yang mungkin akan membuat istrinya kecewa padanya. Namun ia tak memiliki pilihan lain.
Dan nyatanya, Maura sudah terlihat kecewa padahal ia belum mengatakan kebenarannya. Alex dilema. Haruskah ia mempertimbangkan ulang? Bukankah disini Maura yang harus ia utamakan?
Bersambunggg