
bukannya fokus pada pemaparan sekertaris lawan bisnisnya, pikiran Alex malah tertuju pada rumahnya. ia tampak gelisah dilihat dari duduknya yang banyak gerak. bukan, bukan gelisah karna membuat istri sahnya merajuk karna permintaan wanita berusia 34 tahun itu masih belum Alex kabulkan, tapi kegelisahannya kali ini tertuju pada wanita muda yang tadi malam kembali ia sentuh setelah puasa selama 10 hari usai membiarkan wanita itu pulih sepenuhnya, istri mudanya, Maura
*si4l! Kenapa wanita itu menganggu konsentrasi ku sih* umpat Alex dalam hati
Meringis kala mengingat semalam ia kembali bermain sampai beberapa jam akibat dorongan nafsunya tak bisa surut jika berhadapan dengan Maura yang diam-diam mengambil alih sebagian fungsi otaknya. Meski permainan tidak lagi dengan cara Alex yang dominan kasar tapi rasa menggebu setiap ingin mencapai puncak permainan tetap membuat Alex lupa diri. Alex tak bisa memungkiri bahwa nyatanya bermain lembut dan penuh penghayatan atas pergulatan panas mereka tadi malam nyatanya jauh lebih nikmat dan membekas dari pada caranya selama ini yang hanya menuntut pelepasannya seorang diri
"Shit! Maura" geram Alex tanpa sadar, membuat 3 orang di hadapannya terkejut akan umpatannya
"oh maaf, saya tiba-tiba teringat akan kucing nakalku di rumah saat melihat tas bocah itu" ujar Alex merasa tak enak, untung saja ia bisa beralasan dengan lancar, katakan saja terimakasih pada bocah kecil yang memakai tas punggung dengan gambar kucing garong yang berjalan diluar ruangan terhalang dinding kaca ini
*sejak kapan pak bos memelihara kucing?* pria bermata 4 bernama Wahyu membatin, Ia adalah Asisten Alex
"anda penyuka hewan manis itu? Kebetulan saya juga, saya memiliki beberapa jenis dan..."
"khem!" deheman sengaja dari Alex membuat ucapan pak Widi menggantung. Pria dengan alis tebal itu sungguh muak dengan basa basi persoalan di luar bisnis. Ia juga sebenarnya merutuki dirinya yang sampai hilang kendali sampai bisa mengumpat dan menimbulan agenda meeting sempat tertunda
"sampai mana tadi?" tanya Alex pada sekertaris pak Widi yang sedari tadi memaparkan materinya tapi tak di perhatikan dengan baik oleh Alex
Sekertaris pak Widi itu pun melanjutkan kembali materinya.
"Wahyu, kirimkan tukang cctv ke rumah, saya mau setiap sudut lantai dasar terpasang cctv" titah Alex setelah mereka melaju dari pakarangan hotel menuju perusahaan Alex
"baik tuan"
"lakukan diam-diam jangan sampai ada yang mengetahuinya---terutama kucing nakal itu" Alex mengeluarkan seringainya, dengan begitu ia bisa memantau keadaan rumah lebih tepatnya bisa memantau kegiatan istri mudanya yang dengan berani-beraninya selalu mengahantui pikiran Alex dengan terus memutar memori kebersamaan mereka selama ia jauh dari pandangan
\=\=\=\=\=\=
waktu terus bergulir, pagi siang malam terus menyapa penghuni bumi, menyampaikan bahwa kegiatan di dunia ini masih berjalan dengan semestinya. pagi yang entah berapa ratus kalinya kembali wanita itu rasakan selama menjadi isri kedua itu selama dirumah ini. meski kini kehadirannya mulai dilihat tapi ketahuilah ia tidak sesenang itu.
Maura diam-diam mendengus melihat tingkah kedua orang dewasa di depanya, dua sepasang suami istri yang tak lagi muda membuatnya geli di pagi hari ini. Bagaimana tidak, si wanita yang memiliki kaki tapi hanya dipajang doang nggak digunain baru saja berpindah ke kursi meja makan dibantu oleh Alex, tapi malahan si wanita malah tak melepas pelukan dari leher suaminya, dan malah mengecup pipi berbulu itu beberapa kali.
"cinta kamu, mas" ujar Elana di sela-sela ciumannya di seluruh wajah Alex
Alex yang mendapati tingkah Elana mengacak gemas rambut pemilik tawanya itu
"aku jauh lebih cinta, sayang" sahut Alex sebelum ikut mendaratkan sebuah kecupan di dahi Elana
*cinta tapi tak bisa bercinta? Huh! Kasihan* ejek Maura dalam hati, ia mememulai sarapannya karna perutnya sudah sangat lapar
"cintaku lebih luas dari lautan dan lebih tinggi dari gunung" Ujar Elana tak mau kalah
"cintaku tak terhingga" balas Alex lagi
"kalau gitu cintaku seluas langit dan bumi!" seru Elana menatap suaminya penuh cinta
"cint..."
Kriet
Gerakan Maura yang sangat pelan berhasil membuat Alex berhenti berucap
"habiskan makananmu! Saya membelinya dengan uang" titah Alex dingin. Istri mudanya sungguh pandai mengubah suasana hatinya
Mau tak mau, Maura kembali duduk, menyuap cepat nasinya yang tinggal sebagian. Ia sungguh muak berada satu meja bareng dengan suami dan istri tua dari suami sirinya itu . Bukannya bersyukur karna sejak pagi dimana ia dizinkan Alex makan di meja makan sampai sekarangpun aturan itu masih berlaku, dan terhitung sudah 2 minggu ia selalu menjadi orang ketiga di atara pasangan itu setiap pagi dan malam, Maura bukannya senang disuguhkan makanan enak tapi ia malah merasa tak enak hati, karna kehadirannya di antara pasangan yang sudah menikah belasan tahun itu makin memperjelas bahwa ia hanya seorang perusak rumah tangga meski kenyataannya tak demikian.
karna ia adalah alat untuk mendapatkan seorang keturunan pasangan itu. Itulah kenyataannya
"pelan-pelan, kamu seperti gelandangan saja" Alex tentu kesal melihat tingkah Maura, selain kelakuan Maura yang tak sopan makan cepat begitu, Alex juga tak mau jika wanita itu nantinya keselek
Elana yang mendengar ucapan pedas Alex tersenyum sinis ke arah Maura
*sepertinya rencanaku membuatnya cemburu berhasil nih* sorak Elana dalam hati. Ia memang sengaja bertingkah aneh demi merebut perhatian Alex dan memperlihatkan pada Maura jika Alex mencintainya tanpa syarat walau ia tak bisa memberikan apa yang Maura berikan pada suaminya itu. Elana bukannya tak sadar akan keadaan yang mulai tak berjalan semestinya, apalagi setelah kepulangannya 2 minggu ini, Alex kini mulai mempertimbangkan keberadaan madunya itu, mulai dari mengajakanya sarapan dan makan malam bareng jika Alex tak lembur, juga malamnya yang kesepian karna Alex seringkali hilang di atas ranjang mereka saat tengah malam
Bahkan Alex malah mengabaikan permintaannya untuk memperkerjakan bik Imah kembali part time, sudah segala macam alasan Elana berikan agar tugas Bik Imah hanya memasak tapi Alex malah mengabaikannya dengan alasan kerjaan Maura tak becus, makanya harus dibantu bik Imah. tapi ia tak akan menyerah, Elana akan merayu dan meyakinkan Alex sedikit lagi sampai kemauannya kembali terpenuhi.
"sudahlah mas, sepertinya ia memang kelaparan" ujar Elana memberi pengertian suaminya tapi jelas nadanya mengejek Maura
"maaf tuan, nyonya, saya memang sangat lapar karna semalam tenaga saya sampai terkuras habis" balas Maura enteng, tak perlu menjelaskan lebih detail karna ia yakin kedua orang dihadapannya pasti paham maksudnya
"uhuk!" jelas Alex yang baru saja menyuap nasi ke dalam mulutnya tersedak akan ucapan Maura. Jelas ia tak lupa dengan kelakuannya semalaman. Benar-benar bermain sampai lemas dan malah menempeli Maura bak magnet
*sialan!* umpat Elana dalam hati, senjata makan tuan!
*berani sekali kau mulut!* rutuk Maura pada dirinya setelah tersadar reaksi keduanya. kenapa ia kelepasan dengan begitu mudahnya, tak sadarkah ia berhadapan dengan siapa saat ini? jangan ngelunjak Maura. peringat Maura pada dirinya lagi
Bersambunggg....
#######
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu