
Pria paru baya itu baru saja mendarat di bandara internasional sukarno-hatta, ia meninggalkan agendanya demi menyusul sang istri yang tengah kabur dari jangkauannya, beruntung ia memiliki pesawat pribadi, jadi mudah saja baginya untuk mengejar ketertinggalan istrinya, marah karna Maya sangat keras kepala tak mau menerima kenyataan, tapi rasa khawatir lebih mendominasi dirasakan oleh ayah kandung dari Daniel itu akan keselamatan menantu dan calon cucunya.
Meski tahu jika sang istri tak pernah mencelakai orang lain meski sangat membenci orang itu, namun Prasetio tetap takut jika sang istri gelap mata karna memang pernikahan anaknya dengan sang menantu tak pernah di restui oleh istrinya. Jangan sampai Maya melukai mereka sedikitpun karna Parsetio sendiri yang akan maju melindungi dengan segenap raganya keluarga kecil putranya meski harus berurusan dengan wanita yang sudah memberinya kebahagiaan selama kehadiran Daniel 28 tahun lalu.
"kemana sih anak ini!" umpat Prasetio saat sambungan telponnya tak juga ada balasan dari seberang padahal ini sudah yabg ke sekian puluh kalinya ia mekakukan call
"istrinya lagi berhadapan dengan ibu mertua galak, malah dia asik dengan pekerjaan yang tiada habisnya itu" omel prasetio sambil memasuki mobil yang telah di siapkan sekertarisnya
\=\=\=\=\=\=\=
Drt drt drt
Bunyi ponsel yang meraung raung memberitahu bahwa ada panggilan masuk tak jua berhasil membuyarkan konsentrasi pria dewasa itu yang tengah gusar mengendarai mobilnya menuju Mansion
Ia begitu fokus mengendarai marsedez bensnya, agar bisa segera keluar dari kemacetan dan segera sampai di mansion bertemu istrinya yang kemungkinan besar tengah terintimidasi dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba
Demi apapun rasanya ia ingin menghilang dan muncul di mansion saat ini juga.
Bip bip
Daniel mengumpat saat lampu merah menghadang laju mobilnya, ia membunyikan klakson membuat orang-orang ikut mengumpatinya, berharap dengan membunyikan klakson lampu merah bisa berubah warna ke hijau saat itu juga.
Katakanlah ia gila, memang benar ia akan gila jika menyangkut Dara, istrinya yang akan melahirkan anaknya beberapa bulan lagi, apalagi jika melibatkan ibunya yang tak pernah menganggap kehadiran istrinya.
Daniel bahkan kembali meninggalkan rapatnya saat sekertaris Ali membisikan pesan dari pak Wis. Pekerjaan yang dulu selalu jadi prioritas kini menjadi urutan ke dua setelah istrinya. Dara adalah segalanya, kenyamanan dan kebahagian Alicia adalah kewajibannya saat ini, nanti dan seterusnya.
Beruntung ia memiliki sekertaris cekatan dan cerdas seperti Ali, Ali selalu bisa diandalkan menyelesaikan pekerjaannya meski harus memberatkan di posisi Ali sendiri
Tapi seorang pria arogan macam Daniel mana peduli, yang penting masalah perusahaan beres dan ia bisa menyelesaikan masalah keluarga kecilnya.
Beruntung ia sudah belajar dari Ali soal mengemudi dengan cekatan dan jago selap-selip saat macet, setelah kejadian beberapa bulan lalu saat istrinya tengah dalam situasi yang sama saat ini. Jadi ia tak perlu lagi butuh sopir jika memang keadaannya mendesak seperti ini.
Drt drt drt
Lagi ponsel malang itu terabaikan.
"jangan menganggu istriku, bu!" geram Daniel di tengah tengah ia menginjak pedal gas
\=\=\=\=\=\=
"halo nyonya besar, apa kabar?" sapa Alicia sopan berusaha menampilkan senyum terbaiknya meski sangat terpaksa
sedang Maya hanya menatap datar, ia memindai dari bawah hingga atas tubuh wanita yang katanya mengandung benih dari anaknya ini, calon cucunya. tatapannya terhenti di perut Alicia yang memang terlihat buncit
Melihat tatapan datar Maya membuat Alicia mengaktifkan mode awasnya, ia memeluk perutnya sendiri.
*Tenang nak, tidak akan aku biarkan seseorang berbuat jahat padamu* batin Alicia
"anda butuh sesuatu, biar saya ambilkan, nyonya?" Alicia berusaha bersikap biasa saja meski dadanya tengah berdegup kencang, jujur ia takut saat ini, bukan karna penolakan atas dirinya, tapi takut jika Maya sampai tahu akan kehamilannya dan menolak anaknya, ia takut mertuanya akan mencelakai bayinya apalagi Daniel tak ada disisnya sekarang.
"mmm Kalau tidak ada..."
Kaki bumil itu keram kelamaan berdiri, Karna tak ada respon apa-apa dari Maya membuat Alicia berpamitan ke kamar utama, sekali lagi ia sadar jika keberadaannya tak pernah di anggap oleh ibu mertuanya ini
"silahkan nikmati waktu anda nyonya, saya permisi" ucapnya kemudian beranjak dari hadapan Maya
"begini caramu bersikap dengan mertuamu?" ucap Maya akhirnya. Lidahnya begitu kelu berucap pada istri dari anaknya itu.
"aku mertuamu, bukan majikanmu" lanjut Maya dengan nada informalnya, meski masih dengan intonasi dingin dan wajah datarnya.
Alicia masih berdiri diam di tempatnya, ia mengerjab bingung mendengar ucapan Maya yang mengaku 'mertua' untuk pertama kalinya selama 7 bulan pernikahannya dengan tuan suaminya. Apalagi dengan kata 'aku' yang terdengar seolah tak ada sekat di antara ia dan wanita paru baya yang selalu memancarkan aura permusuhan padanya selama menjadi istri Daniel
Apa ia sudah diterima? Tapi mana mungkin, mengingat Maya sangat membenci dirinya.
"kamu membuat cucuku kecapean jika berdiri lama disitu" Maya menaikan suaranya saat menantunya itu tak merespon dirinya
*loh yang bawakan aku, yang capek aku dong,,,, tunggu?! cucu?!! * batin Alicia setelah berpikir sejenak, dengan pelan ia berbalik, takut takut menatap wanita paru baya yang baru saja mengaku adalah mertuanya
"kemari! Aku mau peluk cucuku" Maya tak putus asa, ia terus berucap meski istri dari anaknya itu tak meresponnya, Maya maklum, menantunya itu pasti heran akan perubahan sikapnya
*gimana mau peluk, dia aja masih di dalam perutku* Alicia hanya bisa menjawab dalam hati
*tapi sejak kapan dia tahu kehadirannya?* tanya Alicia dalam hati mengeratkan pelukan di perutnya
Ke tiga ajudan mengajalangi langkah nyonya muda mereka saat hendak melangkah mendekat ke Maya
Maya tersinggung, ia ingin marah namun ia urungkan kala menyadari bahwa mereka melakukan itu karna melindungi nyonya muda mereka. Ia sadar diri bagaimana sikap kasarnya pada menantunya selama ini, tapi ayolah, ia sudah berdamai dan berusaha menerima jika pilihan anaknya jatuh pada gadis yatim piatu ini.
*Ck, sepertinya anak itu sudah menyiapkan segalanya untuk istrinya ini* batib Maya, Entah menagap dalam hati, ia senang akan hal itu. Anaknya memang harus menyediakan pengawasan ketat pada istri sepolos dan... Cantiknya ini.
"kalian mengahalangi moment mertua dan menantu saling berbaikan" desis Maya menatap geram pada ketiga ajudan wanita itu
Meski keraguan menyelimutinya, wanita hamil itu mengangguk pada ketiga ajudannya mengisyaratkan tak apa. Dengan langkah pelan Alicia memberanikan diri mendekat
Maya berdiri, ia merentangkan tangan menyambut kedatangan menantunya
"kemari"
Hap
"maaf, maafkan ibu, nak" lirih Maya mnegeratkan pelukannya namun tak sampai menekan perut Alicia yang tengah mengandung cucunya
"maaf karna terlambat menjadi sandaranmu"
"maaf menjadi orang kesekian bahkan yang terakhir mengetahui jika kamu dengan mulianya mau mengandung cucuku"
"Terimakasih telah kuat dan bertahan disisi putraku" racau Maya, air matanya menetes menyesali sikap keras kepalanya dulu,sekat yang selama ini ia bangun porak-poranda tak bersisa, menyesal saat ia tahu jika menyayangi dan menerima Alicia segampang ini, hanya perlu buka mata karna Alicia sangat mudah di cintai.
Sebenarnya, Maya memang sudah mulai menyerah dan belajar menerima kenyataan saat Daniel memperkenalkan Alicia di hadapan publik saat pesta Alm. Dinata beberapa minggu yg lalu dan di siarkan tv internasioal serta di rilis di majalah-majalah pebisnis dunia. Awalnya ia berusaha menerima karna hubungan mereka telah tersebar di seluruh dunia, namun kini ia membuka tangan lebar-lebar menerima gadis ini, menantunya yang tengah mengandung cucu pertamanya
Bersambungg...
########
Sahur sahur sahur...
Oiya, Gimana puasa pertama guys?
Semoga semua lancar dan dimudahkan semuanya
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu