
Alex berdiri kaku ditempatnya saat pintu rumah besar itu terbuka, matanya tak berkedip melihat wanita yang lebih muda darinya berdiri dihadapannya. Ingin sekali merengkuhnya ke dalam pelukan untuk mengurai rasa rindunya yang telah lama ia pendam seorang diri, tapi entah mengapa ia tak memiliki kekuatan hanya sekedar bergerak dari posisinya. Begitu juga dengan sang wanita, matanya terbelalak melihat pria matang tengah berdiri di depan pintu, setelah sekian lama, kembali ia bisa melihat wajah itu lagi yang kini makin dewasa eh ralat makin tua
Tidak. Ini pasti hanya halusinasinya, ya, karna pria itu tak mungkin berada di rumah keluarga besar Bimo Putra Maulana.
Namun kenapa bayangan itu seolah nyata? Untuk memastikan apakah orang di hadapannya hanya sebuah halusinasinya, wanita itu mengerjabkan matanya kemudian kembali melihat pria itu.
Kenapa masih ada?
Lagi, ia kerjabkan matanya berkali-kali namun saat menajamkan penglihatannya, sosok itu masih setia berdiri mematung di hadapannya
"kamu nya..."
"siapa Lexa?" sahut seorang pria dari dalam rumah memotong pertanyaan Alexa pada kakak lelakinya, Alex
Deg
Keduanya tertegun, saat Bimo muncul dari dalam rumah untuk melihat siapa gerangan orang yang bertamu di rumahnya sepagi ini. Lelaki paru baya itu langsung tertegun melihat keberadaan putra sulungnya sedekat ini setelah belasan tahun lamanya.
"papa" lirih Alex setelah sekian lamanya beradu tatap dengan mata tua sang ayah
"tamu kamu, Xa?" mengabaikan panggilan Alex, Bimo malah bersikap tak kenal dengan bertanya pada Alexa
"hah?" Alexa menoleh pada Bimo "tamu? Bukan tamu Lexa, pa" jawab Alexa setelah mengerti raut keenganan pria cinta pertamanya itu dengan kedatangan Alex
Bukannya membenci putra kandungnya, tapi rasa kecewa itu masih membekas di hati pria berusia 55 tahun itu pada Alex yang memilih wanita asing dari pada keluarganya
"ini Alex pa" ujar Alex memperkenalkan diri. Bukannya berpikiran Bimo tak mengenalinya tapi hanya kalimat itu yang bisa terucap dari mulutnya. Alex tahu, jika respon ayah kandungnya itu adalah bentuk kekecewaan atas sikapnya saat ia masih muda, dibutakan cinta. Cinta yang salah.
"pah" panggil Alexa lembut saat Bimo hanya berdiri diam mengabaikan sang kakak, lelaki 2 anak itu bahkan membuang muka
Alex merasa tertohok akan respon pria yang telah banyak berjasa dalam hidupnya itu.
"Alex datang...untuk meminta maaf sama papa, mama, dan Alexa" sahut Alex menekan rasa sedih sekaligus rasa malunya
Bimo berdecih sebelum beralih menatap wajah kusut Alex
"setelah belasan tahun?" cercah Bimo menatap sinis sulungnya itu
"Alex akui Alex salah, makanya Alex datang meminta maaf, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak muncul sama sekali" ujar Alex membuat Bimo tertegun akan ucapan Alex yang mana adalah pepatah yang pernah ia ajarkan pada kedua buah hatinya sewaktu kecil, dan ternyata Alex masih mengingatnya
"Alex boleh jauh dari kalian, tapi semua yang pernah papa ajarkan selalu menjadi pedoman hidup Alex, kecuali...kecuali mengenai 1 hal itu, meninggalkan kalian demi perempuan. Alex minta maaf untuk itu. Alex nyesal" aku Alex jujur
"pah, Alex menyesal. Maaf karna Alex bertindak bodoh 12 tahun silam, maaf karna datang terlambat" kembali Alex bersuara kala Bimo maupun Alexa hanya terdiam akan pengakuannya. Bagaimanapun ia, sebanyak apapun angka usianya tapi ia tetap seorang anak di hadapan kedua orang tuanya, abang di hadapan adiknya, dan ia merengek meminta ampunan saat ini karna ia sadar ia memang bersalah dan tak akan menyerah sebelum ia mendapat maaf itu.
Ia sudah lelah hidup berdampingan dengan rasa sakit jauh dari keluarga, yang sialnya adalah ia sendiri yang meninggalkan keluarganya
"sujud di kaki ibumu" suara Bimo terdengar dingin dan tegas, setelah berucap suami dokter Anjani itu berbalik dan berlalu ke dalam rumah
"Lexa" panggil Alex pada sang adik yang masih berdiri di ambang pintu
"masuk" datar Alexa berucap "nggak enak diliatin tetangga yang lewat" lanjutnya dan menyingkir dari pintu "tutup kembali pintunya" sahut Lexa lagi kemudian berlalu menyusul Bimo.
Sedang Alex yang ditinggal seorang diri entah harus merasa bahagai atau sedih, ia seolah diberi isyarat untuk masuk ke dalam rumah tapi tampak kedua ekpresi tuan rumah yang menyambutnya tadi seolah tak sudi.
Menggeleng mengusir bisikan bisikan penghancur mental, Alex harus menekan semua rasa malu dan ketakutannya akan penolakan. Ia sudah bertekad untuk mendapatkan maaf. Ia sudah sejauh ini, pantang baginya untuk berbalik mundur. Menghela napas panjang, Akex melangkahkan kakinya pelan memasuki rumah.
"siapa pa?" tanya Anjani yang baru keluar dari arah dapur, Anjani menangkap wajah datar sang suami membuatnya penasaran
Bimo hanya merespon dengan kendikan kepalanya membuat Anjani mengarahkan pandangan dan terbelalak mendapati Alex ada di belakang Alexa
"kamu, kamu ngapaian disini!" pekik Anjani spontan yang ditanggapi senyuman pedih dari Alex karna menagkap reaksi sang ibu yang seolah tak mengiginkan kehadirannya
"pagi Mah" sapa Alex lugas, lebih tepatnya pura-pura baik-baik saja
*Maura?* batin Anjani mengingat keberadaan Maura di dalam ruang makan
"silahkan duduk, saya ke dalam dulu" pamit Anjani setelah mempersilahkan tamunya duduk di ruang tamu
"mah" panggil Alex hendak mengejar mamanya. Sebenci itukah mamanya padanya hingga mengabaikan kedatangan Alex bahkan cenderung menganggapnya orang lain. Pikir Alex
"bertamu di rumah orang punya sopan santun, area ruang keluarga bukan untuk tamu" ujar Anjani pedas berhasil menghentikan langkah Alex
"mah, Alex hanya ing..." ucapan Alex terpotong kala Anjani melenggang pergi
*Sakit sekali tuhan diabaikan oleh ibu kandung sendiri. sesakit inikah yang dirasakan keluarga ku dulu kala aku mengabaikan mereka yang ingin menunjukanku jalan kebenaran? * batin Alex menangis
Sedang di dalam ruang makan, Anjani menyuruh Maura masuk dalam kamarnya. Ia menyuruh bibik untuk mengantarkan makanan Maura sementara Anjani menuntun menantunya memasuki kamar.
Anjani tidak ingin Alex menemui Maura dulu, Anjani belum sepercaya itu sama Alex. Ia takut Alex akan mengambil Maura. Tidak boleh sebelum anak durhakanya itu berubah. Cukup sudah kelakuan bejat Alex selama ini pada Maura. Cukup hanya pada kedua orang tuanya Alex durhaka, tidak dengan istrinya
Sedang Maura yang penasaran akan perintah Anjani itu bertanya-tanya tapi Anjani hanya beralasan jika hari ini mereka kedatangan tamu orang tak waras, makanya Maura harus bersembunyi dalam kamar. Alasan nenek dari bayi yang dikandungnya ada-ada saja. Maura bukan anak kecil yang bisa dibodohi dengan alasan tak berdasar
Jika orang gila bertamu ngapain di ajak masuk? Bisa jadi jika pemilik rumah ingin ikutan gila sih. Noh serahkan sama rumah sakit jiwa kan beres, ahlinya menangani orang-orang kurang waras bahkan bisa menyembuhkan bukan?
Maura penasaran, ia ingin cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar, seminggu ia tinggal di keluarga ini semuanya baik-baik saja. Tapi kali ini sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan. Pikir ibu hamil itu
setelah beberapa saat di tinggal Anjani, Maura yang memang keras kepala menuruti rasa penasarannya. ia dengan pelan keluar kamar dan mengendap-endap mencari dimana gerangan orang gila yang dimaksud dokter Anjani.
"ruang tamu" gumam Maura saat mendengar suara-suara dari arah ruang tamu
dengan seringan kapas, ia ayunkan kakinya menuju ruang tamu. ia mengitip dibalik tembok dsn
Deg
matanya langsung bersirobok dengan pria itu, pria brengsek mesum yang mengilai sel*ngkangannya, dan setelah puas langsung membuangnya tanpa beban
*Alex?*
*Maura?*
suara batin mereka bersamaan
Bersambungg...
######
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu