
Angan tinggal angan, surprise yang ia sediakan bersambut sunyi nan senyap. Ruangan yang beberapa jam lalu ia khayalkan akan menemukan ekpresi terkejut dari penghuninya nyatanya malah ia yang terkejut akan fakta yang menyapa sesaat ia menghidupkan pencahayaan ruangan yang biasa ia sebut kamar itu
"Sayang?" panggilnya sekali lagi, kali ini ia langkahkan kakinya menuju kamar mandi mencari sosok wanita yang tak ia temukan diatas pembaringan, padahal harusnya istrinya itu terlelap disana melihat malam sudah menjelang subuh ini, jam 3 dini hari.
Ia mengetuk daun pintu, tak mendapati respon apapun, Alex membuka pintu dan segera masuk
"Ra?"
"kamu dimana sayang?" panik, ia tak menemukan siapapun di dalam sana
Segera ia raih ponselnya, mencoba peruntungan kali aja Maura mengangkat panggilannya di waktu dini hari ini walau harapan hanya 0,sekian persen.
Lagi, untuk kesekian ratusan kali dalam 29 jam terakhir hanya suara operator yang menjawab panggilannya
Mengeram kesal melampiaskan ketakutannya. setelahnya Alex beranjak keluar dari kamar dan mencari Maura di kamar lantai atas
Namun sekali lagi ia disambut kekosongan nan gelap
Tanpa pikir panjang, Alex segera menuju kamar utama sang pemilik rumah
Namun gerakannya tiba-tiba terhenti saat tangannya hendak mengetuk pintu kamar Bimo dan Anjani
Walau bagaimana kalutnya ia mencari keberadaan Maura namun ia tak bisa seenak jidat menggangu jam malam kedua orang tuanya
tanpa ia tahu bahwa kamar itupun juga kosong.
Dengan langkah gontai nan lesu, Alex menuntun kakinya menuju kamar miliknya. Tak punya pilihan lain selain menunggu hingga pagi, 3 jam lagi.
Mencoba untuk terlelap namun nyatanya Alex hanya membolak balikan tubuhnya di atas ranjang hingga membuat seprai kusut bak habis dipakai bergulat
Ia rindu sekaligus cemas akan sosok sang istri kecilnya. Merasa kepalanya makin berdenyut karna kekhawatiran melanda membuat Alex mendudukan diri dan menyanderkan punggungnya di dasbord ranjang
"kamu kemana sih Ra, nggak ada kabar. Mimpi itu nggak mungkin nyatakan?" monolognya risau
4 hari lalu, saat ia sibuk-sibuknya mengurusi si penghianat dalam perusahaannya, Alex didatangi sebuah mimpi yang membuat detak jantungnya berhenti sepersekian detik. Ia melihat Maura pergi darinya, pergi untuk selama-lamanya karna sebuah kecelakaan yang diperbuat oleh orang sekitar Alex, namun dalam mimpi itu, ia tak mengenali wajah si pelaku karna Alex terlalu syok akan keadaan Maura. Saat tersadar dari mimpinya ia kesetanan mencari ponselnya menghubungi Maura, ia nyaris gila akan ketakutannya, beruntung pada panggilan kedua, Maura akhirnya menjawab telponnya. Dan ia bernapas lega kala Maura menceritakan jika keadannya baik-baik saja membuat Alex melupakan mimpi itu
Dan sekarang, mimpi itu kembali terlintas dalam memorinya
"nggak. Nggak mungkin. Maura pasti baik-baik saja" Alex menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran buruknya. Satu hal yang ia percaya, bahwa keluarganya tak mungkin menutupi kabar Maura darinya.
Entah berapa lama ia tak sadar, hanya saja ia yakin baru beberapa menit kesadaran itu diambil alih oleh alam bawah sadar sebelum suara deringan ponselnya yang ia genggam diatas dadanya meraung minta perhatian
"hm?" gumamnya ogah-ogahan setelah dengan asal menjawab panggilan tanpa melihat si penelpon, matanya masih saling merapat
Dan sepersekian detik selanjutnya mata lelah Alex terbuka sempurna dengan riak wajah pias
Segera ia beranjak dan langsung berlari keluar kamarnya tanpa peduli penampilannya
"tuan Alex?" sapa Imah saat tubuh keduanya hampir bertubrukan di ambang pintu rumah
Imah baru saja membeli sayuran pada mas-mas yang biasa menjajakan dagangannya jam 6 pagi
"tuan pagi-pagi mau kemana?" tanya Imah saat Alex hanya melewatinya
"Bibik kenapa nggak bilang semalam?" sahut Alex yang kini sudah menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kesal wanita paru baya itu
Imah bingung, namun melihat penampilan Alex dengan wajah mengeras membuatnya sadar akan maksud pertanyaan sulung majikannya itu
"semalam saya hendak mengatakan sama tuan, tapi tuan sendiri yang langsung nyelonong masuk tanpa peduli panggilan bibik" ujar Imah membela diri. Pasalnya saat ia membukakan pintu rumah untuk Alex, mantan tuannya yang terlihat kelelahan itu langsung mengacir ke kamar, setelah mengucapkan terimakasih atas jasa Imah yang mengorbankan waktu tidur demi membukakan pintu untuknya. Alex juga menyuruh Imah melanjutkan tidurnya membuat imah urung mengejar Alex untuk menyampaikan keadaan yang sebenarnya
"tenang saja tuan, kata nyonya besar, nona Maura sudah baik-baik saja" beritahu Imah agar anak majikannya itu tak terlalu khawatir
Tanpa mengucap sepatah katapun setelah mendengar ucapan bik Imah, Alex bergegas menuju rumah sakit yang diberitahukan mamanya tadi lewat telpon
Tak butuh waktu lama, Alex tiba di bangunan besar berwarna putih hijau itu. Memasuki bangunan dengan perasaan berkecamuk, sedih, marah, cemas dan takut, ia larikan tungkainya menuju recepsionis, dengan napas memburu ia tumpukan kedua tangannya di meja recepsionis untuk menopang tubuh gemetarnya.
bagaimana tidak? kedua belahan jiwanya tengah berjuang tanpa dirinya disisi mereka. suami macam apa dirinya. rutuk Alex pada dirinya yang tak becus
Setelah mendapat informasi Alex kembali berlari menyusuri lorong menuju kamar yang telah disebutkan si recepsionis, bahkan ia tak peduli pada beberapa orang yang ia tabrak karna ia yang ingin secepatnya sampai ke ruangan dimana orang terkasih di rawat
Ceklek
"Ra?" panggil Alex dengan mata berkaca-kaca melihat sang istri tercinta terbaring di atas ranjang pesakitan
"apa yang sakit, sayang?" tanya Alex saat sudah berada disamping ranjang Maura. walau wanitanya itu sudah membuka mata dan terlihat tidak pucat tapi tetap saja Alex khawatir setengah mati. istri kecilnya itu selama bersamanya sudah beberapa kali masuk igd dalam beberapa bulan ini, dan Alex menyalahkan dirinya
Bukannya menjawab, Maura malah menatap intens lelaki matang di sampingnya
"Ra? sayang? Kenapa hm?" Alex kembali bertanya saat melihat reaksi diam Maura yang hanya menelisik penampilan dirinya
"apa sesakit itu hingga membuatmu tak bisa bersuara?" tanya Alex yang kini air matanya sudah membendung di kelopak matanya, melihat wanita muda itu kesakitan ia tak bisa. Ia tak tega
"tuan siapa?" lirih Maura bertanya membuat Alex mengerjab hingga air matanya meluruh
"kamu..kamu kenapa? Kamu tidak mengenaliku?" tanya Alex dengan sisa-sisa ketakutanya akan pikirannya yang menerka-nerka hal yang terjadi pada istrinya
Alex segera memeriksa kepala Maura, menelisik hingga belakang kepala
"hei, tuan apa-apaan sih" protes Maura berusah menepis tangan Alex di kepalanya
Alex mengabaikannya, ia tetap memeriksa dengan mata tajamnya. Dan ia dapati bahwa kepala Maura tak luka sedikitpun. jadi tak mungkinkan wanita itu geger orak hingga melupakannya
"tuan ini kurang ajar sekali memegang sembarangan kepa.."
Cup
Ucapan Maura harus tertelan kembali kala bibir Alex mendarat di bibirnya
"nggak lucu bercandaannya sayang. Aku ini suamimu. Alex suami Maura satu-satunya" ucap Alex menekan setiap katanya setelah melepas bibirnya
"khem!" deheman keras dari arah sofa membuat Alex menoleh dan melayangkan tatapan sinis pada mereka, sedang Maura memejamkan matanya malu.
Mengabaikan 3 orang di sofa, Alex kembali memfokuskan atensinya pada wanitanya
"ada apa hm? Kenapa bisa berakhir disini sayang?" tanya Alex lembut, jari-jarinya mengelus pipi sang istri yang kian menyerupai bakpao
Maura masih diam, mata wanita itu sibuk meneliti penampilan Alex
"sayang?" panggil Alex berusaha menarik atensi sang istri
"kemarin pagi, dia ngidam pengen makan semur udang..."
"kalian memberikannya?" potong Alex dengan ekpresi kerasnya
"maaf, kami hanya menuruti mau cucu.."
"bagaimana dengan Maura? Itu pantangan buatnya. Ia Alergi berat sama udang, mah" Alex yang mendengar Maura mengonsumsi udang membuat tulang-tulangnya tersasa lemas. Ia tahu bagaimana respon tubuh Maura terhadap udang. Ia pernah menyaksikan Maura hampir sekarat beberapa bulan lalu karna memakan udang sisa makanannya dengan Elana saat wanita itu kelaparan dan tak punya pilihan lain selain memakan sisa udang di atas meja makan
Sedang Maura yang mendengar sekaligus melihat kekhawatiran suaminya terharu. Alex terlihat begitu terpukul akan keadaannya.
Haruskah ia memberi kesempatan untuk lelaki itu? Mempercayainya akan hubungan mereka. Percaya akan janji Alex yang akan membayar penderitaannya dengan bahagia?
"kami tidak tahu bang kalau dia Alergi, karna selama tinggal sama kami, ini kali pertama ia meminta sesuatu dan kami tentu antusias untuk mengabulkannya" sahut Alexa yang kini berjalan menuju ranjang Maura
"kenapa kalian tidak ada yang mengabariku? Apa aku tidak sepenting itu untuk mengetahui semuanya sampai kalian menutupi keadaan istriku" lirih Alex merasa kehadirannya disisi Maura tak dihargai
"tuan.."
"aku suamimu Ra. Kamu pikir aku tenang seharian kemarin saat tak mendapat kabar darimu, semua aku telpon tapi tak ada yang mengatakan apa yang terjadi, mereka semua sok sibuk. Merasa paling penting disisimu, mengabaikan aku yang nyaris gila disana karna khawatir" racau Alex yang kini berlutut di lantai karna tak kuat lagi menopang tubuhnya
"itu permintaan ku, lagian kali ini tak parah kok, aku tak sampai kejang-kejang. Sumpah!" beritahu Maura mencoba meredakan emosi Alex namun tak ditanggapi oleh lelaki itu. Maura berucap sambil beranjak dari baringnya karna tak tega melihat kekecewaan Alex pada mereka
"maaf.." Maura berusaha meraih tubuh Alex agar berdiri, kemudian ia tuntun suaminya agar mendudukan bokongnya di tepi brangkar
"aku hanya tak ingin menganggu pekerjaanmu..."
"persetan dengan pekerjaan Ra! aku suamimu, berhak tahu kondisimu apapun yang terjadi. Kamu kewajiban aku, Ra. Apa kamu masih tak bisa menerima kenyataa itu?" potong Alex menatap tak percaya pada Maura atas ucapan wanita itu
"aku menerimanya mas. karna penerimaanku membuatku tak mau menganggu pekerjaanmu agar kamu bisa menyelesaikan semuanya dan menjemputku segera untuk pulang" jawab Maura dengan nada lirih. Ia merasa bersalah. ia tahu bagaimana Alex belakangan ini frustasi mengurusi perusahaan, tapi nyatanya lelaki itu lebih frustasi akan tindakannya
Bersambunggg...