
"mengandung anak aku?" Beo Alex. Dirinya masih terduduk diam mencerna setiap perkataan Anjani yang berhasil membuatnya seperti orang bodoh, bahkan mungkin tak menyadari jika sang ibunda sudah hilang dalam pandangan
"Maura mengandung anak aku?" keningnya mengkerut namun sepersekian detik selanjutnya ia memukul kepalanya kuat membantah pikirannya kala mencurigai jika itu bukan dari benihnya.
"tidak, maafkan papa, kamu anak papa, Ya mamamu tidak serendah itu" racau Alex yakin jika Maura tak mungkin berbuat sejauh itu dengan pria lain
"tunggu?" Alex memiringkan kepalanya mengingat sesuatu. Kejadian demi kejadian coba otaknya uraikan keadaan istrinya yang tampak berubah lebih berisi terutama bagian perutnya sejak kejadian insiden keguguran karna ulahnya yang memaksa Maura untuk melayani nafsunya 3 bulan lalu
"jangan bilang ia tak pernah keguguran? Argh bangs*t kau Alex" Alex menjambak rambutnya frustasi kala menyimpulkan jawabannya. tebakannya kemungkinan besar itulah yang terjadi. ia saja yang terlalu bodoh tak menyadari jika perut Maura membuncit tapi kulitnya kencang tak seperti perut-perut para bapak polis* yang besar tapi lembek.
Hari yang harusnya ia habiskan di perusahaannya sesuai jadwal yang sudah tersusun tak lagi Alex pedulikan. ada hal yang lebih penting yang harus ia pastikan. kebenaran tentang apa yang mamanya ungkapkan.
Alex menghela napas panjang sebelum keluar dari pesawat. pesawat yang dinaikinya telah lepas landas di bandara soekarno hatta, jakarta, kota yang sama dimana ia meninggalakan istri mudanya. kota yang seminggu ini ingin sekali ia kunjungi setelah kejadian terakhir di hotel, lebih tepatnya ingin menjemput Maura namun terhalang ego dan gengsi. jujur saja ia menyesal akan perkataanya waktu itu tapi sekali lagi egonya terlalu ia junjung tinggi, apalagi jika mengingat bagaimana Maura memohon pada sekertaris Ali dengan tangan wanita itu yang memegang tangan lelaki lain selain tangannya. Maura bahkan tak pernah memohon begitu padanya. ia dibutakan yang namanya cemburu
\=\=\=\=\=\=
"dokter Anjani sedari pagi buta di luar gerbang" lapor sekertaris Ali saat Daniel yang tengah mengendong baby El baru saja menginjak lantai 1 hendak sarapan sebelum berangkat ke perusahaan
"bagaimana dengan istriku?" tanya Daniel ringan, fokus dan tangan suami Alicia itu asik memainkan jeri jemari mungil sang anak yang lincah bergerak
"nyonya muda di kamar nona Maura, beliau masih dengan pendiriannya"
"sudah ku duga, wanitaku itu kini jadi posesif dengan apa yang menurutnya adalah miliknya" gumam Daniel "panggilkan dia, saya tunggu di ruang makan" serunya pada Ali dan melanjutkan langkahnya menuju ruang makan
sementara itu di kamar tamu, wanita cantik dengan gaun sebetis warna krem berlengan seperempat itu tengah berdiri berkacak pinggang di depan seorang wanita setahun lebih tua darinya yang tengah terduduk di tepi ranjang
"jawab kak! kamu suka sama ayah dari bayimu?" seru Alicia sedikit kesal. pasalnya Maura hanya terdiam menunduk sejak ia mengintrogasi dengan pertanyaan sama
Alicia memejamkan matanya, menarik napas dan membuangnya keras kala pertanyaannya dijawab anggukan kecil oleh Maura
"kak?"
"suka Al, bukan cinta. nyatanya perlakuannya beberapa minggu ini membuat rasa nyaman hinggap di dada, kebaikannya..."
"termasuk membuang kakak tanpa sebab?" potong Alicia dengan nada sindiran menohok yang membuat Maura mendesah panjang
"ya, itu konsekuensi gue. wanita pelunas hutang memang harus siap dibuang kapan saja. mengenai rasa suka, gue akui gue suka sama suami orang itu, bodoh memang, gue sadar gue bodoh. hanya saja perasaan memang tak bisa dikendalikan dengan siapa ia harus berlabuh. perlakuan manisnya selama 2 minggu belakangan berhasil melumpuhkan ingatanku akan kekejamannya, apalagi dia seolah memujaku sebagai seorang istri, shut!! dengar gue dulu jangan menyelah" Alicia kembali bungkam saat hendak menyela pengakuan sang kakak karna mendapat peringatan itu " lo tahu? selama 6 bulan lamanya gue hidup tanpa keluarga dan harus berakhir jadi istri siri dengan suami yang temperamannya sangat buruk, mengambil haknya dengan paksa pada gue, kasar dan bahkan tak memanusiakan gue, gue benci akan keadaan itu. tapi sejak insiden 3 bulan lalu sejak gue hampir keguguran, perlakuannya mulai berubah dan melihat keberadaan gue sebagai wanita bahkan sebagai istri, meski nafsunya masih besar tapi dia tak lagi kasar malah dia selalu mengutaman kenyamanan gue dalam berhubungan. saat itu perasaan gue masih hambar, tapi sejak 2 minggu lalu dia menawari pekerjaaan sebagai sekertarisnya, memperkenalkan pada semua rekan jika aku istrinya, perasaan ini menghangat. lo tahu Al? pada saat itu aku terharu karna kembali merasa dihargai keberadaanku, setelah merasa tak berguna dan tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, orang itu menghadirkan harapan baru untukku agar tetap semangat menjalani masa depan" saat Maura mengambil napas setelah mengutarakan isi hatinya, Alicia ikut duduk lalu mendekap tubuh sang kakak, memberinya usapan lembut pada punggungnya guna menyalurkan rasa ibanya pada kehidupan keras yang dialami sang kakak
"lo pasti dihantui akan kejahatan gue di masalalu" ucap Maura sendu
"dihantui tidak, hanya saja kenangannya tidak bisa pergi begitu saja" Alicia berucap sambil melepas pelukan
"ya kamu benar, kenangannya akan selalu ada, tapi ada beberapa hal yang memang patut diberi kesempatan kedua" ucap Maura bijak
"Bagaimana jika suamimu kelak datang dan meminta kesempatan kedua?" tanya Alicia
"untuk sekarang gue tidak berani berkhayal. tapi hal itu gue rasa dia tidak akan datang lagi. dia sudah membuangku karna memang sedari awal gue hanya wanita selingannya. dia memiliki istri yang sangat dicintainya" tutur Maura ringan
"tapi kalian akan memiliki anak, jadi kemungkinan besar dia akan menuntut"
"anak? jikapun nanti dia tahu keberadaannya, gue tidak akan iklas memberikan anak gue. nggak sudi dan nggak rela bayi yang sudah membuat perutku melar malah di asuh oleh ibu tiri. gue masih mampu merawat dan membesarkan dia seorang diri" Maura mendengus tak sudi
"bagaimana dengan perasaanmu?"
"suka bukan berarti akan mengantungkan hidup sama seseorang itu Al, aku masih dalam tahap suka tapi sudah dihempas pergi, menurutmu gue akan tetap bertahan dengan rasa suka itu? tidak. lebih tepatnya aku memilih menyelamatkan hatiku sebelum semakin terjatuh. baiknya pak Alex, ia mengambil tindakan lebih cepat sehingga gue tidak perlu berurusan dengan yang namanya cinta tak berbalas" tutur Maura jujur
ya, ia sempat terlena akan kebaikan Alex, tapi beruntungnya Alex cepat menghempaskan angannya sehingga ia tidak perlu meratapi begitu pedih perpisahan mereka.
"dokter anjani, dia..."
tok tok tok
ucapan Alicia terpotong kala sekertaris Ali datang dan menyampaikan pesan tuan mudanya
bersambunggg
#####
halo semua, aku lagi berduka sampai semangat untuk menghayal dan ngetik tidak ada.
Aufa Athala Yusuf, keponakan Autor yang belum genap satu bulan udah berpulang ke sisi Allah 3 hari yang lalu.
anak soleh baik dan ganteng itu sudah bahagia disisi Allah.