
Alex bersedekap dada, mimik wajahnya datar, netranya fokus pada objek di hadapannya, seorang wanita cantik tengah tersenyum manis padanya dengan mata mengerjab lucu
"ini bukan mau aku kok, tapi mau dia nih, masa kamu nggak mau nurutin mau anak kamu sih" ucap Maura sambil mengelus perutnya di balik baju kebesarannya.
"Ra, ayolah" Wajah yang semula datar itu berubah memelas berharap dikasihani oleh sang istri
"bagaimana kalau nanti akunya digampar?" karna tak ada respon dari Maura, Alex mencoba mengingatkan pada istri mudanya jika perimintaan nyeleneh yang mengatas namakan kemauan bayi itu akan berimbas fatal pada dirinya
"ya, kabur" jawab Maura ringan tanpa beban
"gampang banget ngomongnya. Pikirkan baik-baik deh akibatnya. malu Ra, disini bukan cuman kita loh, nanti kalau aku digebukin? Terus kamu diseret seret karna aku suami kamu. Aku nggak akan bi...."
"ah, nggak asik. Kalau nggak bisa bilang" potong Maura kesal dengan tangan dilipat di depan dada. menantang keberanian suaminya
"gitu aja takut" lanjutnya memojokan Alex yang makin menampilkan raut frustasi
"sayang..." Maura mengulum senyum melihat wajah tak berdaya Alex, lelaki itu merengek padanya. sungguh kejadian langkah seorang pria matang berwajah angkuh memohon belas kasihan padanya
"ck! Yaudah, aku mau pulang aja" ucap Maura sebal. Ia beranjak dari posisinya dan menghentakan kakinya sebelum mengayun tungkainya pergi
"nah ayo. Dari tadi kek sayang. Tahu aja kamu kalau kita harusnya di kamar buk.."
"mau pulang ke jakarta! Aku mau kembali sama keluargaku. Ngapain bertahan sama suami yang tidak mau menyenangkan hati istri dan anaknya" potong Maura dengan nada kentara kecewa
"Ra, kamu ngomong apaan sih" sela Alex tak terima ucapan istrinya
"Ra? Sayang? Istriku?" panggil Alex yang tak juga di hiraukan. Alex terpaksa menahan lengan istrinya agar jalannya pelan-pelan. Tak tahukah Maura jika aksinya itu membuat Alex khawatir. Bagaimana jika Maura kesandung dan terjatuh? Bisa bahayakan buat perempuan itu juga calon bayi mereka.
"ih apasih, lepas! Jangan dekat-dekat" Maura berusaha menyingkirkan tangan Alex tapi tak mampu bersaing dengan tenaga lelaki itu
"ck, kekanakan" decak Alex malas akan tingkah istrinya yang merajuk
"wanita yang tengah anda bilang kekanakan ini tengah mengandung anak anda loh" balas Maura masih dengan wajah kesalnya
Lihatlah, istri kecilnya ini selain sudah berani menyuruhnya ini itu dengan alasan kemauan calon anak mereka, Maura juga sudah pandai membalas ucapannya.
"baiklah-baiklah yang mulia istri cantikku yang tengah mengandung anakku. Maafkan daku. Hamba mengaku salah. Hamba akan melakukan apa yang menjadi perintah yang mulia istri pada si suami ini" lebih baik mengalah dari pada harus kehilangan istrinya. Ya, Alex memang takut akan ancaman Maura yang akan pergi darinya, mengingat bagaimana susahnya ia berhadapan dengan nyonya muda Prasetio jika Maura kembali kesana. Alex jadi nergidik ngeri saat ingatannya tiba-tiba mengingat ancaman Alicia jika ia tak bisa membuat Maura bahagia.
"aku bilang bukan mauku, mau anak ini kok" protes Maura
Alex mendengus kesal, walau kesal tapi lelaki itu tetap menuruti mau anaknya atau sebenarnya mau istrinya? Ah entahlah yang jelas Alex rela demi keduanya.
*ini tak seberapa dibanding bagaimana aku pernah buat wanitaku ini menderita dengan kekerasan yang pernah aku lakukan padanya* batin Alex sadar diri
"kamu tunggu disini yah" ujar Alex menuntun sang istri duduk di kursi pantai "ingat jika sesuatu terjadi, jangan mengakui kalau aku suamimu, kamu kaburlah, telpon papa atau wahyu untuk menyelesaikannya" titah Alex seolah ia hendak pergi berperang membuat Maura memutar bola matanya
Oh ayolah, tidak seberat itu kok permintaannnya
"sebenarnya aku ingin cium kening, kali aja aku nggak selamat setelah ini. tapi aku malu sama mata natizen yang sok suci" bisik Alex membuat Maura lagi-lagi melengos akan sifat suaminya itu
"aku pamit yah, sayang" ucap Alex sambil mengelus sayang kepala Maura, setelahnya lelaki itu berbalik. Menghela napas panjang kemudian mulai melangkahkan kakinya.
"mas?" panggil Maura menahan tangan Alex, pergerakan Alex terhenti, ia menolehkan kepalanya ke belakang tapi tubuhnya masih diposisi membelakangi Maura
*ya, larang aku sayang. Cegah aku* batin Alex penuh harap
"hati-hati yah, Aku dan anak kita menunggumu" tutur Maura dengan senyuman 5 jari, walau awalnya kecewa karna harapannya tak sesuai fakta tapi saat mendengar Maura menyebut 'anak kita' semagat Alex langsung terisi full
Ya, bahagia Alex sederhana, saat mendengar sang istri dengan ringan mengatakan anak kita adalah moment paling ditunggu Alex selama ini.
"ya, tunggu aku, aku akan berjuang mendapatkan kemauan dan kebahagiaan kalian" setelah mendaratkan kecupan di tangan Maura, Alex melanjutkan langkahnya dengan penuh tekad
Maura menatap kepergian suaminya dengan seringai liciknya
*emang enak dikerjaian. Hahahah* batin Maura kegirangan
Dan interaksi keduanya yang memperlihatkan adengan sebuah hubungan bahagia itu tak luput dari 2 bola mata yang memandang mereka penuh arti
Pagi tadi, pemilik mata yang ditutupi kaca mata hitam itu tak sengaja melihat keduanya tengah memasuki sebuah penginapan mewah di pinggir pantai ini. Sepertinya pasangan itu habis menikmati sunrise. Dan yah, sore ini, ia berhasil mengikuti mereka setelah menguntit di sekitar penginapan mahal nan elit dimana tempat pasangan yang tengah diintainya tinggal.
"sebahagia itu kalian di atas penderitaanku, eh?" monolognya, hatinya pedih melihat kebahagian suami dan madunya. Eh apa mantan suami dan mantan madu? Sebab dirinya sudah di talak oleh lelaki yang telah sabar mencintainya selama belasan tahun namun malah ia sia-siakan. Ya, ia sadar akan kesalahannya itu, tapi ia berjanji tidak akan mengulangi lagi, dan dia ingin memohon kesempatan kedua pada lelaki yang tengah berjalan menjauhi Maura menuju ke arah sepasang pasangan yang tengah bermain pasir di bibir pantai
Drt drt drt
"bagaimana? Wanita tua itu sudah kamu temukan?" todongnya setelah menerima panggilan
"...."
"bagus, bawa ke hadapanku segera" wanita itu kemudian beranjak dari sana dengan bantuan sebuah tongkat untuk menopang tubuhnya sekaligus membantunya berjalan.
Sebelum pergi ia sempat menyunggingkan senyum kala melihat lelaki yang 12 tahun mejadikannya istri itu terlihat berlaku konyol pada sepasang pasangan mesra disana.
"terakhir aku melihatnya usil sebelum kami menikah, dan itu terjadi 13 tahun lalu" gumamnya tersenyum miris. Yah selama hidup dengannya, Alex seolah menjadi pribadi baru. Selalu merasa bersalah padanya atas kecelakaan yang menimpa hingga membuat kakinya harus lumpuh, sifat jail dan humor Alex seolah hilang ditelan bumi tergantikan raut datar penuh beban, dan bahkan Alex jarang sekali tertawa lepas seperti yang ia lihat tadi pagi saat lelaki itu mengusili Maura sebelum memasuki penginapan
Alex-nya telah kembali ceria, namun bukan dengan bersamanya. Tapi Elana janji akan menjadi bagian dari kehidupan Alex lagi, ia ingin menebus semua dosanya. Bagaimanapun caranya ia harus mewujudkan keinginannya itu.
Bersambunggg...
######
Ada yang kangen Elana? Noh dia kembali
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu