
2 jam sebelum kejadian
"ada tamu yang ingin bertemu, tuan" beritahu sekertaris Ali, mengikuti langkah Daniel memasuki lobi perusahaan setelah menemani tuan mudanya meresmikan gedung apartemen kawasan elit di jakarta selatan
"siapa?"
"tuan Arham dan tuan Satria Orlando, mereka sudah menunggu di ruang tamu VIP 5 menit yang lalu"
Daniel menghentikan langkahnya, tiba tiba perasaannya tak enak, dan itu berakibat pada perutnya yang tiba tiba mengaduk dan menjalar ke kerongkongan.
Arham paman dari istrinya dan Satria adalah kakek Alicia dari pihak ibu yang menetap di Taiwan. Ada apa tiba-tiba menemuinya dan mendatanginya di perusahaan? Mengapa tidak di luar atau mungkin mereka bisa berkunjung ke mansion. mereka kini sudah jadi keluarga, bukan?
Daniel menggeleng menghilangkan rasa takut yang menyerang dadanya, ia harus bisa melawan kekhawatirannya demi martabatnya. Nggak asik dong jika ia mual dan muntah di lobi dengan beberapa karyawan sebagai penonntonnya. Cukup hanya istrinya yang bisa melihat kelebihan dan kekurangannya, baik buruk luar dalamnya.
"kamu ambil alih meeting. Saya akan menemui paman dan kakek istriku" ucap Daniel setelah bisa menekan rasa mualnya
Sial! Kenapa jika menyangkut Alicia Daniel bisa menderita begini, apalagi ketakutan akan kehadiran paman dan kakek yang kemungkinan akan membawa Alicia pergi darinya. Arg Daniel tak akan rela
"Huemm" Daniel segera menutup mulutnya dan beranjak dari sana saat mual itu menyerangnya. Saat sudah di lift, segera ia raih ponselnya untuk menguhubungi sang penawar, Alicia, istrinya yang berhasil membuat Daniel merasakan mual yang menyiksa jika teringat padanya.
setelah merasa baikan karna sudah berkomunikasi dan melihat wajah sang istri walau hanya dalam layar ponselnya tapi itu bisa membuatnya terlihat jauh lebih baik, dan ia sudah siap bertemu paman dan kakek mertuanya.
Sejam kemudian, acara pertemuan ketiganya berakhir. presdir yang sebentar lagi berusia 29 tahun itu memasuki ruangannya dengan raut wajah muram dan binar sendu, ia kembali meraih ponselnya dan menyuruh Alicia ke perusahaan dengan alasan ingin makan siang berdua padahal ia butuh sosok itu untuk menenangkannya dari ketakutannya. Ia membutuhkan wanita itu untuk membuat gejolak dalam perutnya berhenti.
Namun bersamaan dengan panggilan video call terputus, Daniel segera berlari ke kamar minimalis dalam ruangannya untuk memuntahkan sesuatu yang sudah berada di tenggorokannya.
"jangan kira saya tidak memantau pergerakan anda dan keponakan saya, untuk saat ini saya tidak punya celah untuk membawanya..." ucapan Arham membuat Daniel bernapas lega namun itu hanya sebentar sebelum kekek Satria ikut menimpali yang membuat semangat Daniel terhempas dari ketinggian
"sekali saya lihat cucuku menagis karnamu, jangan harap kamu bisa menemukannya lagi" pesan terakhir dari Satria kembali menari-nari dalam memorinya membuat gejolak dalam perutnya makin menjadi hingga rasanya kepala Daniel pecah karna memuntahkan semua isi perutnya bahkan sampai lendir-lendir terakhir semua ikut keluar. Hidungnya sampai ikut mengeluarkan lendir. Kasihan
(Tapi author suka nyiksa tuan suami gimana dong. HAHAHAHAH🤣😂🤣😂🤣)
Daniel yang tak pernah takut pada siapapun kini menemukan lawannya. Bukan soal kekayaan dan kekuasaan, tapi karna ada aliran darah yang sama mengalir pada tubuh sang istri dengan Satria dan Arham, membuat sikap dominan seorang Daniel melayang entah kemana
Meski mereka tak ikut andil membesarkan dan membiayai hidup Alicia, tapi mereka punya hak atas diri Alicia, apalagi mengingat kehadiran Alicia di dunia memang rahasia, bukan salah mereka baru muncul sekarang. Yang salah adalah dirinya yang beberapa kali pernah membuat Alicia hampir kehilangan nyawa.
Hueeekkk
Mengingat kekejamannya pada sang istri, Daniel kembali memuntahkan lendir pahit dari dalam perutnya
Ia tak mau kehilangan Alicia
Huuuueeeekkkkkk
Tubuhnya lemas, ia tak kuat lagi, sangat sakit hingga rasanya lebih baik mati saja, namun mengingat Alicia yang akan datang membuatnya tersadar dari keputus-asaannya.
Setelah hampir sejam berkutat dengan muntahan, Daniel mengumpulkan sisa sisa tenaganya yang tak seberapa untuk beranjak. Ia akan menyambut istrinya di lobi. Pikir Daniel
Kret..
"tuan?" Daniel yang berpegangan pada pintu untuk menahan tubuh lemahnya karna terkuras habis akibat muntah dahsyatnya yang serasa meremukkan seluruh anggota tubuhnya, mendongak ke arah sumber suara yang begitu dinantikannya
"jangan jauh dariku, Please! Rasanya lebih baik mati saja" lirihnya kemudian meluruh kelantai karna tak kuat lagi menahan berat tubuhnya yang tak bertenaga.
Harapannya untuk menjemput Alicia di lobi pupus sudah, karna nyatanya orangnya susah ada disini. Niat hati ingin berlari memeluk sang istri namun tulang-tulangnya sudah tak kuat, ia ambruk dilantai menatap memohon pada Alicia agar segera mendekat dan memeluknya untuk memberinya kekuatan.
Ck! Dasar pria lemah. Rutuk Daniel pada dirinya sendiri
Alicia yang awalnya mematung terkejut akan penampilan Daniel akhirnya melangkah lebar mendekati suaminya saat tubuh itu meluruh kelantai bak orang pesakitan
Menunduk untuk membantu Daniel beranjak namun tubuhnya malah ditarik dan berakhir dalam dekapan erat sang suami
Kondisi Daniel tak seperti apa yang Alicia khawatirkan, terlihat rapuh namun kenapa pelukan pria ini begitu erat seakan mau meleburkan tubuhnya menyatu dengan tubuh tuan suaminya.
"tuan, perutku" cicit Alicia menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang tak dibiarkan bernapas atas pelukan erat sang suami, perutnya pun ikut terjepit
"Maaf, apakah aku menyakiti bayi kita?" ucap Daniel kahawatir setelah melerai pelukannya, kedua tangannya kini berada di bahu dan perut Alicia, memindai keadaan istri dan calon anakya yang masih bersembunyi di dalam perut buncit Alicia
*bukan hanya bayi, tapi tubuhku juga serasa remuk* batin Alicia protes
"tuan kenapa bisa seperti ini?" bukannya menjawab dan mengeluarkan protesnya, wanita hamil itu malah bertanya akan keadaan suaminya yang terlampau berantakan
"aku merindukan mu" ucap Daniel cepat
" sejam lalu, tuan dan saya melakukan video call kalau-kalau tuan lupa" Alicia mengingatkan kebiasaan mereka, selalu berkabar sejam sekali dengan panggilan vc
"aku suamimu bukan tuanmu kalau-kalau kamu lupa" balas Daniel mengabaikan peringatan sang istri, ia malah kembali protes untuk yang__Entah yang sudah keberapa kali atas panggilan dan nada bicara formal Alicia padanya yang tidak juga di indahkan oleh ibu dari calon anaknya ini.
"tuan kan me..."
"baiklah" putus Alicia, ia hanya tak mau berdebat dengan pria dengan tampilan menyedihkan ini
Daniel menaikan sebelah alisnya mendengar jawaban Alicia yang terdengar ambigu "baiklah? Apanya?" tanyanya kemudian
"tuan kan tadi minta saya ubah pang.."
"suami, Dara. Suami! Aku suamimu Kamu istriku bukan pembantuku!" geram Daniel tak habis pikir dengan kekerasan hati sang istri
Alicia mengerjab dengan nada bicara Daniel, matanya tiba tiba merah, salahkan hormonnya yang terlalu muda baper belakangan ini jika mendengar nada tinggi. Ia menepis kasar kedua tangan Daniel dan beranjak, namun baru membalikan tubuhnya untuk pergi Daniel segara ikut beranjak dan memeluk perut Alicia dari belakang
"maaf" gumamnya
"aku tidak marah" lanjutnya, kini kepalanya ia benamkan di ceruk leher sang istri meski terhalang oleh rambut panjang Alicia
"aku hanya ingin kamu membalas perasaanku, aku mencintaimu sayang. Sangat" ucapnya mantap tanpa keraguan
tersenyum miris, Alicia menarik tangan kekar Daniel diperutnya dengan kasar untuk melepas diri, ia merasa dipermainkan oleh ucapan Daniel
"bohong!"
"Aku serius Alicia Adara Prasetio" Daniel segera meraih dan membalikan tubuh Alicia sebelum beranjak
Dikuncinya netra sang istri dengan tatapan penuh cinta
"aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, Dara, jatuh lebih dalam dari yang lainnya" lanjut Daniel meyakinkan namun yang ia lihat di mata Alicia adalah keraguan
"saya masih ingat surat perjanjian yang tuan lemparkan dengan kasar ke hadapan saya beberapa menit sebelum akad, 8 bulan yang lalu" Alicia berusaha menahan tangisnya mengingat hidupnya yang dulu hanya di anggap lelucon oleh semua orang termasuk pria di depannya yang sudah mengaku mencintainya tapi Alicia tetaplah Alicia yang menganggap cinta hanya omong kosong
Daniel tersentak, genggaman tangannya di bahu Alicia berpindah meraih kedua tangan wanitanya, kata-kata sang istri memukulnya telak. Sekelebat bayangan yang susah payah ia ajak berdamai belakangan ini bermunculan kembali menari-nari dalam memorinya.
"seminggu setelah saya tinggal di rumah tuan sebagai pelayan anda yang berkedok dengan status istri, saya ingat bagaimana tangan tuan mencekik leher saya hingga rasanya nyawa saya di cabut paksa"
Daniel terhenyak, semua perbuatan buruknya dulu kini berbalik menyerangnya. Menyesalpun tak ada guna. Istrinya terlanjur menyimpan kenangan buruk itu di memorinya
"Dara.."
Belum sempat Daniel berucap Alicia kembali memuntahkan serangan
"beberapa minggu kemudian lebih tepatnya 2 bulan pernikahan, tuan kembali mencekikku karna masalah sepele membuat saya menyerah untuk hidup, juga pada subuh itu, tuan menenggelamkanku di kolam renang, membuat saya lagi-lagi hampir mati"
Pikiran Daniel ikut larut pada segala rentetan kejadian demi kejadian perlakuan kejamnya yang diciptakannya untuk Alicia, Rasa sesak dalam dadanya berubah nyeri dan dengan sangat cepat mengalir melalui darah kemudian menghinggapi semua sel pada tubuhnya. Sakit
Ia menundukan kepala, tak kuat melihat binar kesedihan sang istri, dan sialnya ialah pelaku dari semua ini. Ia merutuki segala sikap tak manusiawinya pada sang istri dulu
Perempuan ini kelihatannya menerima semua perlakuan buruknya dengan lapang dada nyatanya diam-diam menyimpa luka yang membekas tak terobati
"dan sekarang tuan bilang cinta? Tuan pikir saya dengan mudanya percaya dan luluh? cinta tidak sebercanda itu tuan Daniel Parasetio" ucapnya dingin mengakhiri flashback masalalu kelamnya
Menghempas kasar kedua tangan Daniel, Alicia segera berbalik namun Daniel menahannya dan merengkuh tubuh wanitanya dalam pelukan
"tapi takdir memang semisterius itu kan sayang" berbisik Daniel mengatakannya dengan mata terpejam, menikmati rasa sakit yang berdentum-dentum dalam dadanya melihat istrinya mengeluarkan unek-uneknya dengan tatapan dingin tanpa air mata
" maaf, maaf karna pria jahat ini mencintaimu setelah memberikanmu luka yang mungkin tak pernah hilang dalam ingatan" Mata merah Daniel akhirnya menumpahkan laharnya, sungguh sangat menyakitkan mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut sang istri.
Apa ini rasanya tak diinginkan?
Apa ini rasanya dibuang?
Apa benar tak ada setitik cinta baginya di hati Alicia?
Daniel mengeratkan pelukannya, menyanggah kakinya yang gemetar karna nyeri di hati semakin menyebar.
Daniel akui ia bersalah, sangat sadar akan kesalahannya hingga ia tak bisa menyuarakan pembelaan.
bersambunggg...
######
gimana-gimana part ini?
panjang dong, sebenarnya mau aku 2 episode-kan tapi audahlah satukan aja, urusan ide kehaluan chap selanjutnya nanti dipikirkan lagi. yang penting readers nggak merasa digantung kek jemuran lagi tapi malah kek gantungan orang-orang sawahan. hahahah
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia halu