Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Chapter 95: Pertengkaran (Part 1)


Ketika Emelin pergi dengan Antony dari lokasi kejadian, hanya tersisa Claudia dan Ibunya disana, yang di krumuni oleh sekelompok wartawan.


Claudia masih mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Ma.. Ini sangat sakit.... Akhhh... Aku tidak tahan..."


"Kamu harus bisa, Claudia. Tunggu Mama akan memanggil Ambulans," kata Cornelia panik.


Namun beberapa wartawan kepo malah sibuk bertanya-tanya.


"Apa yang terjadi?"


"Kalian diam!! Cepat seseorang panggilkan Ambulans!!" Kata Cornelia panik.


Para Wartawan dan beberapa kerumunan itu saling pandang, lalu ada seseorang yang memanggil Ambulans.


Cornelia dibantu salah satu orang disana, mencoba membawa Claudia untuk duduk di salah satu kursi disana, namun Claudia tetap mengeluh ketika hendak diangkat.


"Akhhh.... Sakit sekali... Tidak bisa bergerak..."


"Kita hanya akan membuatmu duduk dikursi itu,"


"Ma.. Ini terlalu menyakitkan... Biarkan disini saja.... Sialan!! Gara-gara wanita Brengsek itu!!"


Claudia yang kesakitan itu juga masih emosi akibat hal-hal yang Emelin lakukan, masih marah-marah tidak jelas sambil berteriak-teriak kesakitan.


"Baik, baik. Kamu tidak akan kemana-mana, tunggu sebentar disini, bantuan medis segera tiba," kata Cornelia mencoba menenangkannya.


Cornelia sangat khawatir dengan keadaan Claudia, apalagi tahu kalau Putrinya ini sedang hamil muda, melihat darah keluar dari rok putrinya, dia jadi semakin khawatir.


'Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada calon cucunya ini!! Sialan!! Ini semua gara-gara Emelin yang tidak tahu diri itu!! Awas saja jika terjadi sesuatu pada Putriku dan calon cucuku!'


Hanya rasa jengkel yang memenuhi pikiran Cornelia sekarang.


Sambil menunggu tim medis, dia mencoba menghubungi suaminya.


Namun beberapa kali panggilan, tidak juga di jawab.


"Sakit... Ma.. Perutku sakit sekali...."


"Tahan sayang, tahan sebentar lagi. Ini juga Mama sedang mencoba memanggil Papamu, dia pasti akan segera datang."


Pikiran Claudia hanya memikirkan bagaimana perutnya begitu terasa menyakitkan, hampir membuat dia kehilangan kesabarannya.


"Ukhhh.... Gara-gara Emelin aku harus mengalami semua ini....."


Untuk beberapa saat, krumunan itu hanya bisa menonton Claudia, disana, hingga mereka dibubarkan oleh petugas bandara.


Akhirnya hanya ada petugas bandara dan sepasang ibu dan anak itu.


"Mana Tim Medis nya dan Ambulans?"


"Maaf, Nyonya, Ambulans terjebak macet diluar bandara, dan saat ini Tim Medis kami kekurangan orang karena kebetulan Dokter yang bertugas sedang sakit,"


"Kalian!! Kalian benar-benar tidak becus!! Sekarang bagaimana dengan Putri ku?"


"Ma.. aku sudah tidak bisa menahannya....."


Cornelia marah-marah pada petugas itu,


"Maafkan kami, Nyonya. Sebentar lagi mereka akan segera datang,"


Claudia hanya bisa menahan rasa sakit dipangku Mamanya hingga Tim Medis datang.


Itu membutuhkan waktu sekitar setengah jam lebih sampai Ambulans datang dan membawa Claudia yang masih kesakitan itu.


Cornelia, mencoba menelepon suami Caludia, Daniel.


"Daniel, sebaiknya kamu segera ke rumah sakit, terjadi sesuatu pada Istrimu,"


Suara panik terdengar dari balik telepon,


'Ada apa dengan Claudia?'


"Terjadi kecelakaan padanya dan sepertinya dia mengalami pendarahan,"


'A.. Apa... Terus bagaimana keadaan bayi kami?'


"Kami baru perjalan ke Rumah Sakit!! Penanganan di Bandara benar-benar sangat lama!!"


'Kenapa.... Kenapa ini bisa terjadi!!'


"Ceritanya panjang, nanti aku akan menceritakannya, segera saja kamu ke Rumah Sakit XX, dan coba hubungi Ayah Claudia, aku tidak bisa menghubunginya,"


'Baik, Baik. Aku akan segera kesana,'


Dengan panggilan itu, berakhir, Cornelia hanya bisa menatap wajah pucat putrinya yang saat ini tengah diberikan obat penenang.


Hah...


Emelin itu!!


Awas saja!


Aku tidak akan membiarkan kamu tenang setelah melakukan semua ini pada Putriku!!


####


Begitu mereka sampai di Rumah Sakit, Claudia langsung dibawa ke UGD, dan seorang dokter segera menanganinya.


Cornelia hanya bisa menunggu dengan cemas didepan Ruangan itu, mondar-mandir cukup lama.


"Apa sih yang dilakukan orang-orang itu! Kenapa bisa begitu lama!!"


Tidak lama, terlihat ada tambahan beberapa perawat datang ke IGD, dan tempat tidur dimana Claudia berada dibawa keluar Ruangan.


Cornelia menjadi panik,


"Ada apa ini dokter dengan Putri saya?"


"Maaf, apakah ada suaminya disini? Saat ini Nona Claudia harus segera menjalani Operasi untuk pengangkatan janin sesegera mungkin, karena janin didalam perutnya sudah tidak bisa lagi diselamatkan, jika terus dibiarkan kamu takut ini akan membergaruhi kesehatan Nona Claudia..."


"Apa? Apakah benar-benar tidak bisa diselamatkan?"


"Maaf, Nyonya, karena benturan dan kurangnya penanganan segera, hal itu menyebabkan janin dalam perutnya tidak bisa lagi di selamatkan, seandainya saja pertolongan datang lebih cepat, mungkin hal-hal ini tidak akan terjadi..."


"Lalu... Lalu bagaimana dengan Putriku?"


"Kami saat ini butuh darah tambahan untuk menjalankan operasi ini, karena sebelumnya juta terjadi pendarahan, dan membuat Nona Claudia kekurangan darah, namun karena golongan darah Nona Claudia cukup langka, kami kehabisan stok darah...."


"Apa!? Bagaimana ini bisa terjadi? Jadi bagaimana dengan Putriku sekarang?"


"Apakah ada di kelurga anda yang memiliki golongan darah sama? B negatif. Dan jika bisa segera hubungi suaminya juga untuk segera tanda tangan surat persetujuan Operasi,"


Cornelia begitu panik, karena darahnya tidak sama dengan Putrinya.


Ah, ya harus segera menghubungi Suaminya, karena hanya suaminya lah yang bisa mendonorkan darah pada Putrinya.


"Sebentar-sebentar saya akan segera menghubungi Ayah anak ini,"


Segera dokter itu, pergi dari sana, bersama Claudia yang segera di pindahkan ke Ruang ICU.


Cornelia masih kebingungan mencoba menghubungi Suaminya, Alvano, akhirnya di angkat juga.


"Sayang, Putri kita... Kamu... Kamu harus segera kesini...."


'Aku sudah dengar dari Daniel soal yang terjadi, saat ini aku dan Daniel sedang perjalan kesana, kamu tunggu saja....'


"Cepatlah.... Claudia butuh segera donor darah..."


'Bagaimana keadaannya saat ini?'


Cornelia terdiam, tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya, bahwa calon cucu mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi.


"Pokoknya kamu harus sampai disini dulu,"


'Baik, Aku mengerti.'


Setelah telepon dimatikan, akhirnya Cornelia merasa sedikit lega.


Hanya harus menunggu mereka sampai disana segera, dia Claudia baik-baik saja setidaknya.


Dan tidak lama setelah itu, Daniel dan Ayah Claudia datang.


Cornelia segera menjelaskan tentang apa yang terjadi, bagaimana awalnya mereka bertemu Emelin dan bertengkar, dan bagaimana Emelin menendang Claudia begitu keras hingga terjadi seperti ini, sampai bagaimana sekarang kandungan Claudia tidak bisa lagi diselamatkan.


"Emelin? Jadi ini semua karena anak sialan itu hah?" Alvano begitu marah setelah mendengar penjelasan dari Cornelia.


"Benar, ini semua gara-gara Emelin sampai Claudia mengalami semua itu."


Daniel disana, masih dalam posisi syok setelah menerima kabar tentang bagaimana kandungan Claudia tidak bisa diselamatkan, dia barusaja menandatangani persetujuan Operasi Claudia.


Dirinya benar-benar tidak mengira hal-hal buruk seperti ini akan terjadi.


Awalnya hubungan dengan Claudia sedikit rengang berkat Claudia yang selalu marah-marah dan emosian itu, yang hanya mengeluh sepanjang waktu dan menghina dirinya, namun setengah bulan lalu, dirinya menerima kabar baik tentang kehamilan Claudia.


Mendengar kabar itu, tentu saja sangat menggembirakan, memikirkan bagaimana dirinya akan menjadi seorang Ayah...


Namun...


Belum berapa lama, dirinya harus merelakan calon anaknya ini.


Sungguh?


Ini benar-benar karena Emelin?


Pikiran Daniel menjadi rumit.


Dengan itu Operasi Claudia dimulai, setelah Ayahnya mendonorkan darahnya.


####


Operasi itu berjalan cukup cepat, hanya membuatkan waktu kurang dari satu jam, sampai selesai.


Dokter sudah keluar dari ruangan Operasi.


"Bagaimana keadaan Claudia sekarang Dok?" Tanya Cornelia lagi.


"Semua berjalan dengan baik. Sebentar lagi, Nona Claudia akan segera sadar, dan kalian bisa segera menemuinya,"


Mendengar itu, Cornelia dan Alvano merasa lega, setidaknya Putri mereka baik-baik saja.


Sedangkan Daniel, masih hanya diam dan mendengarkan.


Namun ini hanyalah awal dari masalah baru dimulai.


Ini dimulai dari saat Claudia akhirnya sadar.


Daniel lah yang pertama kali masuk karena dia adalah suaminya.


"Claudia, kamu akhirnya sadar?"


"Hah, semua ini gara-gara Emelin sialan itu!!"


"Aku sudah dengar dari Mamamu,"


"Sial, gara-gara dia aku harus mengalami semua rasa sakit ini..."


Daniel hanya menghela nafas pasrah mendegar Claudia mulai marah-marah lagi.


Sebenarnya ketika tahu soal kehamilan Claudia, dirinya sudah pernah bilang agar Claudia hati-hati dan tidak kemana-mana dulu, namun dia masih keras kepala untuk tetap syuting, dan bahkan masih sempat-sempatnya membuat masalah dengan Emelin itu hingga hal-hal ini terjadi.


Menyimpan kelurahannya, akhirnya Daniel berkata,


"Claudia, bukankah aku sudah bilang agar kamu hati-hati dan minta cuti dulu? Kamu harusnya tidak kemana-mana dan mendengarkan aku, karena kamu sedang hamil muda, jadi begini kan akibatnya!!"


"Ini semua karena Emelin sialan itu!! Kenapa jadi menyalahkanku?"kata Claudia dengan nada penuh emosi.


"Iya, Aku tahu. Tapi kamu juga yang tidak hati-hati, kamu harusnya tahu kalau kamu memiliki kehidupan lain dalam tubuhmu, jadi berhenti membuat masalah! Namun kamu masih bersikeras mengikuti berbagai macam kegiatan syuting dan pergi kemana-mana! Juga bahkan sempat-sempatnya bertengkar dengan Emelin!!"


"Jadi kamu menyalahkanku? Ini di puncak kesuksesan karirku! Mana bisa aku berhenti? Aku masih harus tetap syuting! Lagipula ini salahmu tidak mengunakan pengaman dengan baik hingga aku hamil! Padahal kamu tahu aku tidak ingin punya anak dulu! Aku masih harus mengurus karirku! Dan sekarang anak bermasalah ini akhirnya hilang, ini juga hal baik."


"Claudia!! Kamu!!"


Daniel tidak bisa menahan amarahnya mendegar kata-kata dingin dan tidak berperasaan dari Claudia soal calon anak mereka.


Bahkan walaupun itu hanya masih janin kecil yang belum benar-benar terbentuk, namun dia berkata seolah-olah itu benar-benar hanya pengganggu.