
Setelah Emelin pergi, Antony lalu juga pergi dari sana menuju tempat teman-teman lamanya berada.
Tentu saja selain beberapa orang jahat yang suka menghina dan merendahkannya, ada juga beberapa teman sekelas yang cukup ramah padanya.
Berbicara dengan mereka cukup bagus, lagipula memang sudah lama tidak bertemu dengan teman-teman lamanya.
Tanpa Antony sadari, Isabella diam-diam mengikutinya.
Namun melihat Antony menuju tempat rombongan teman sekelas mereka, Isabella memiliki sebuah ide.
Isabella lalu mulai berbaur lagi dengan teman-teman selepasnya, tidak jauh dari rombongan Antony.
Lalu, salah satu orang yang sedang berbicara dengan Antony menoleh ke arah Isabella, Isabella memanggilnya.
"Nona Isabella ada apa?"
"Aku lihat kamu dan yang lainnya haus, lihat aku membawakan kalian minuman, tolong bagikan kepada rombonganmu, yang lain sepertinya sudah mengambil minum,"
"Nona Isabella naik sekali,"
"Tidak masalah. Owh iya minuman yang berwarna hijau ini untuk Antony ya, ini tidak terlalu manis karena dia tidak suka manis, namun jangan bilang kalau ini dariku ya?"
Tanpa kecurigaan sedikitpun, teman sekelas itu setuju.
"Tentu saja, Nona Isabella. Sekali lagi terimakasih atas minimumnya,"
"Tentu saja tidak masalah," kata Isabella dengan senyum terbaiknya.
Tekan sekelas yang tidak tahu apa-apa itu, lalu mengabil nampan dari Isabella dan membagi-bagikan minuman itu pada beberapa temannya.
"Lihat apa yang aku bawa? Kalian haus bukan? Aku membawa beberapa minuman untuk kalian,"
"Johan, tumben kamu begitu peka? Tahu aku sangat haus?" Kata salah satu teman sekelas, lalu mengail salah satu minuman itu.
Johan lalu ingat tentang instruksi Isabella soal tidak perlu bilang itu dari dia.
"Tentu saja, aku kan teman yang baik,"
Lalu segera mengambil gelas dengan minimal hijau didalamnya, yang sepertinya seperti Jus Mellon, menyerahkannya kearah Antony.
"Antony, kamu juga harus ambil."
"Aku belum terlalu haus," kata Antony dengan santai.
"Ayolah, ambil saja semua orang toh ambil,"
Antony merasa tidak ada salahnya, jadi dia mengambil dulu minuman yang diberikan oleh temannya itu.
Melihat semua orang terlihat ingin bersulang, mau tidak mau, Antony mengikuti mereka.
"Cheese... Mari Rayakan pertemuan kita!!"
Mereka lalu kembali bersemangat, dan meminum habis minuman mereka, Antony sendiri termasuk.
Setelahnya mereka kembali mengobrol disana.
Lalu salah satu teman sekelas bertanya,
"Ah, iya Antony kamu sudah menikah bukan? Tadi sepertinya ketika aku pergi, dengar-dengar Istrimu ada disini?"
"Ya, dia tadi disini, tapi sekarang dia sedang bersama teman-temannya yang lain, dia juga Alumni Sekolah ini,"
"Sungguh kebetulan sekali kamu bisa-bisanya menikah dengan adik tingkat, astaga apakah ini naksir sejak jaman sekolah? Ah?"
Namun bukan Antony yang menjawab, malah salah satu teman sekelas lainnya.
"Kalian bagaimana sih? Antony kan dulu bersama Isabella, mereka kan berkancan saat itu, jadi mana mungkin Antony naksir orang lain, benar bukan?"
"Itu dulu, sudah lama berlalu. Hanya ketika SMA mungkin aku dan Istriku pernah bertemu sesekali,"
"Woahhh... Ini cukup mengejutkan bukan? Lagian bagaimana kalian bisa menikah? Atau jangan-jangan Istrimu ini yang diam-diam pernah memendam rasa padamu sejak SMA, lalu cintanya berhasil entah bagaimana, berlajut sampai kalian menikah! Ah, sungguh so sweet,"
Antony lalu terdiam sesaat mendegar perkataan temannya.
Emelin menyukai dirinya sejak SMA?
Sepertinya tidak mungkin, mereka hanya pernah bertemu sesekali saat itu, bahkan tidak sempat berkenalan.
Itu benar, ketika SMA Emelin yang bilang, kalau dia pernah jatuh cinta pada salah satu Kakak Kelasnya yang katanya cukup tampan, tapi sayangnya Kakak Kelas itu sudah punya pacar.
Identitas Kakak Kelas itu masih menjadi misteri untuk Antony.
Siapakah Kakak tingkat itu?
Kalau menurut petunjuk Emelin, Kakak tingkat itu satu angkatan dengannya, apakah dari Kelas Sebelah?
Saat itu, Kakak tingkat yang Emelin punya sudah punya pacar.
Kakak Tingkat...
Cukup Tampan...
Dan Punya Pacar ketika kelas tiga.
Sebuah pikiran tiba-tiba terbesit dalam benak Antony.
Ciri-ciri ini sepertinya cukup familiar?
Mungkinkah ini, adalah dirinya sendiri?
Entah kenapa sebuah perasaan senang muncul dari dalam hatinya, ternyata saingan yang dirinya cari tidak lain adalah dirinya sendiri!
Ini bisa jadi mungkin?
Itukan kenapa Emelin begitu malu untuk mengatakan siapa Cinta Pertamanya itu padanya?
Padahal Emelin sepertinya tidak keberatan untuk menunjukan Mantan-mantan pacarnya itu padanya.
Ini aneh?
Lihat ekpersi malu, Emelin sebelumnya.
Tanpa sadar sebuah senyuman muncul diwajah Antony.
"Hey, kenapa malah tersenyum sendiri? Apakah tebakanku benar?"
"Hmm, entahlah? Bisa iya, bisa tidak," Jawab Antony tidak begitu jelas.
Karena sebelumnya saat mereka menikah, Emelin sepertinya tidak memiliki reaksi, jika dirinya cinta pertamanya, Emelin tidak akan menawarkan Pernikahan Kontrak ini bukan?
Ini aneh...
Tapi kemungkinan selalu ada, atau mungkin karena Emelin tidak mengenalinya?
Penampilannya memang cukup jauh berubah jika dibandingkan saat SMA, dari model rambut dan tidak lagi memakai kacamata.
"Ah? Apa-apaan jawaban ini?"
"Memang, dia tidak mau cerita. Dan lagi sebenarnya aku juga cukup penasaran kenapa kamu Putus dengan Isabella sejauh yang aku tahu kamu dulu sangat mencintainya,"
Mendengar pertanyaan teman-temannya ini, Antony terdiam sejenak, mengigat lagi saat mereka putus.
"Kita mungkin memang tidak berjodoh. Terkadang cinta itu bisa salah, lagipula itu sudah lama lewat, dan aku sekarang merasa beruntung sudah menikah dengan Istriku yang sekarang,"
Teman-temannya itu lalu mulai tertawa,
"Itu benar, masalalu biarkan saja menjadi masalalu, tidak perlu dipikirkan."
"Sangat setuju, memang mungkin kamu memang sudah jodoh dengan Istrimu ini, Emelin ini."
"Eh? Ini Emelin yang sama yang merupakan Aris populer itu? Yang dulu juga pernah menjadi adik kelas kita? Si gadis berambut pirang paling cantik di angkatan kelas satu itu?"
"Iya, ini Emelin yang sama, dia memang masih sangat cantik sejak dulu, dan sekarang masih begitu cantik,"
Tatapan Antony tiba-tiba menjadi hitam, menatap teman-temannya itu.
Melihat tatapan dingin itu, mereka yang barusan memujinya itu, lalu langsung berkata gugup,
"Dan tentu saja kecantikan seperti itu sangat cocok untuk menjadi Istri Antony kita ini, tentu saja Emelin itu hanya milikmu, Antony. Mana berani kita bahkan memandangnya, bukankah begitu?"
"Hahaha... Tentu saja mana berani kita? Lihat tatapan cemburu ini, jelas Antony kita ini sangat mencintai Istrinya itu,"
"Ya, aku sangat mencintai Emelin,"
Mereka lalu tertawa melihat pengakuan Antony itu, lalu salah satu orang mulai bertanya lagi,
"Ah, ngomong-ngomong aku cukup penasaran, kenapa kamu tidak memakai cincin pernikahanmu?"
Sekarang mendegar pertayaan itu, Antony melihat kearah jarinya, dan memang tidak ada cincin pernikahannya disana.
Biasanya cincin itu memang tidak pernah dipakai karena hubungan pernikahan mereka dirahasiakan.
Kakek Emelin juga memaklumi hal itu, karena memang Emelin berkarir di Dunia Hiburan terutama, dan jelas cincin dijari manis akan sangat mencolok, jadi Kakek Emelin juga tidak curiga, dan dirinya hanya mengikuti kata Emelin saat itu, dan tidak memakai cincin pernikahan mereka.
Sekarang memikirkannya, dimana ya cincin itu?
Karena sudah tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi, sekarang seharusnya tidak masalah memakai cincin pernikahan mereka.
Mungkin nanti akan dirinya cari cincin itu, atau....
Perlu untuk membelikan cincin baru untuk Emelin?
Tapi cincin pernikahan mereka adalah cincin yang penting, salah satu simbol ikatan pernikahan mereka berdua, tidak akan tergantikan, karena mereka hanya menikah satu kali, dan hanya ada sepasang cincin.
"Kebetulan tidak memakainya,"
Kata-kata Antony itu jelas membuat teman-temannya kaget.
"Sungguh aneh, untuk tidak memakai cincin pernikahan, makanya aku sempat kaget ketika Istrimu datang tiba-tiba, aku kira kamu masih bersama Isabella karena datang bersama,"
"Kami hanya bertemu di parkiran."
"Owh, begitu."
Disisi lainnya, Isabella masih menatap kearah Antony dan teman-temannya.
Antony sudah meminum minuman itu!
Artinya rencana tahap awalnya berhasil.
Masih sekitar 30 menit sampai obat itu harusnya bereaksi, jadi dirinya harus memiliki kesempatan untuk mendekati Antony saat itu.
Dirinya sudah menyiapkan bahkan kamar hotel yang nantinya akan digunakan.
Sambil tersenyum, lalu Isabella mendekati kearah kerombongan itu.
"Hallo, sepertinya kalian begitu asik bercerita?" Sapa Isabella dengan ramah.
"Ahaha... Hanya mengobrol dan mengigat hal-hal lama. Mari duduk disini," kata salah satu Pria disana mempersilahkan Isabella untuk duduk.