
Melihat perutnya tiba-tiba berbunyi itu, tentu saja Alissya jelas merasa sangat malu.
Dia mencoba untuk menetralkan emosinya.
"Aku... Aku tidak lapar. Lagipula aku buru-buru, lain kali saja,"
Kryuukkk
Sekali lagi perut Alissya berbunyi.
Raka benar-benar tertawa mendengar itu.
Wajah Alissya berubah menjadi merah, mendegar perutnya itu tidak bisa diajak kerja sama agar bisa cepat pergi dari sini.
"Sudah, mari aku traktir makan," kata Raka lagi sambil menarik tangan Alissya, namun gadis itu tetap tidak bergerak.
"Tapi sungguh, aku sedang buru-buru sekarang,"
Raka yang mendengar penolakan itu, memiliki ekpersi kecewa,
"Apakah kamu masih marah saat terakhir kali?"
"Tidak. Sungguh, aku hanya sedang buru-buru," terlihat Alissya melepaskan tangan Raka dan hendak pergi.
Melihat gadis didepannya itu terlihat keras kepala, Raka mengalah, ya sekarang dirinya sudah bukan lagi remaja nakal yang sangat keras kenapa dan arogan, tahun-tahun berlalu dirinya sudah melatih untuk menjadi lebih sabar, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar, harus lebih sabar.
Tidak boleh lebih mempermalukan dirinya lagi didepan gadis ini.
Raka lalu merogoh sakunya, menemukan beberapa camilan coklat.
"Kalau begitu, ambil ini," kata Raka lagi sambil menyerahkan dua batang coklat itu.
Alissya menatap Raka sebentar, lalu menatap coklat di tangan Raka.
Dirinya kira, Raka masih akan memaksanya?
Tidak mengira orang ini akan melepaskannya begitu saja?
Alissya lalu mengambil itu, dan berpamitan pergi.
Raka menatap kepergian Alissya dengan ekpersi rumit.
Raka cukup sedih, akhirnya bisa bertemu dengan Alissya lagi, namun gadis itu pergi begitu saja.
Dirinya ingat pertemuannya dengannya dua bulan lalu.
Ketika itu, adalah saat paling sial setelah ada skandal yang melibatkannya.
Tidak pernah mengira kalau tidak ada seorangpun yang percaya kepadanya, termasuk Keluarganya sendiri.
Merasa begitu furstasi, dirinya melangkah memasuki restoran secara random.
Di tempat parkir dirinya melihat Alissya terlihat sedang didekati oleh Pria Parubaya.
Melihat ekpersi pucat dari Alissya saat itu, jelas Raka langsung memukul Pria Parubaya itu, namun sepertinya Alissya malah marah.
Hanya melihat Alissya menjadi marah itu, saat pertemuan mereka kembali, Raka juga menjadi begitu marah.
"Kamu harus tahu kenapa aku memukulinya, lihat apa yang akan dia lakukan padamu! Kenapa kamu begitu marah?"
"Tapi... Kamu tidak harus menjadi begitu emosi seperti itu, bisa mengunakan cara yang halus,"
"Tapi dia mencoba merayumu apakah kamu tidak merasa marah hah? Tidak marah? Atau apakah kamu memang suka di goda Pria Tua seperti itu?"
Sebuah tamparan melayang dipipi Raka setelah itu.
Melihat dirinya ditampar itu, perasaan Raka hari itu menjadi semakin hancur.
"Raka, kenapa kamu selalu bisa menjadi begitu menyebalkan?"
"Memang kenapa kalau aku menyebalkan? Semua orang hanya selalu seperti itu... Aku... Aku bahkan tidak melakukan apapun namun semua orang menuduhku... Aku bahkan hanya mencoba menolongmu namun kamu menjadi begitu marah... Selalu seperti itu...." Kata Raka dengan penuh emosi, sampai-sampai tidak sadar kalau dirinya sedikit menagis, mengigat lagi bagaimana Kakeknya langsung menamparnya juga bahkan tanpa menunggu penjelasan darinya.
Dan bagaimana bahkan Ibu dan Ayahnya juga memarahinya habis-habisan.
Rasanya begitu frustasi.
Melihat ekspresi Raka yang tiba-tiba mengais itu, tentu saja membuat gadis itu binggung.
"Tunggu... Tunggu... Apa yang terjadi padamu? Kamu kenapa, Raka?"
Raka lalu berbalik dan berniat pergi dari sana, namun tangannya di pegang oleh Alissya menahan agar Raka tidak pergi.
Raka tentu saja menepisnya, dan berkata dengan marah,
"Itu bukan urusanmu,"
Alissya terdiam sebentar, lalu teringat sesuatu.
"Baik-baik, aku minta maaf telah berbuat kasar padamu. Aku benar-benar tidak bermaksud oke? Hah... Sepertinya memang orang tua bangka itu layak mendapatkannya, selelah melihat kamu memukulinya, sungguh sebenanya aku sangat lega sekali. Aku berterimakasih padamu, Raka. Kamu selalu menjadi orang yang baik hati,"
"Kamu tidak marah?"
"Hah, sudah lupakan saja soal masalahku. Aku tidak marah. Jadi apa yang terjadi padamu? Kamu terlihat dalam suasana hati yang buruk,"
Raka terdiam dan menunduk sambil mengusap air matanya dengan ekpersi malu, tidak tahu harus berkata seperti apa.
Melihat Raka tidak ingin menjawab itu, Alissya lalu bertanya lagi,
"Apakah itu soal hal-hal di Internet?"
Ekpersi Raka menjadi pucat setelah Alissya mengatakan itu.
"Kamu.... Kamu... Tahu?"
"Hal-hal itu entah bagaimana menjadi sangat viral dan di share dimanapun, karena ada hubungannya dengan Tuan Muda Keluarga Anderson, bagaimana aku tidak tahu?"
Bahkan berita soal hal-hal seperti itu bisa sampai padanya?
Alissya dari semua orang?
Bagaimana kalau dia juga ikut menuduhnya seperti orang lain...
Alissya dari semua orang...
Memilikannya membuat Raka semakin frustasi.
Dengan ekspresi sedikit gemetar, Raka lalu bertanya,
"Kamu... Kamu percaya itu?"
Alissya lalu berkata sambil tersenyum,
"Raka yang aku tahu bukan orang seperti itu, walaupun kamu sedikit nakal, namun kamu selalu tahu batasannya dan tidak akan membuat malu Keluargamu dengan keterlaluan. Ini pasti hanya omong kosong majalah gosip, semua gosip di Dunia Hiburan hanya penuh omong kosong,"
Raka awalnya siap mendengar kata-kata makian dari Alissya itu, namun dirinya tidak mengira akan ada kata-kata seperti itu dari Alissya.
"Kamu... Kamu percaya padaku?"
"Ya, aku percaya padamu. Jadi berhentilah menagis,"
Ekpersi Raka menjadi begitu malu, lalu mengusap air matanya lagi.
Mengapa Alissya didepannya.
Perasaan hangat tiba-tiba muncul.
Ya, bahkan walaupun mereka baru bertemu lagi setelah sangat lama tidak bertemu, tidak mengira kalau gadis itu akan ada dipihaknya.
Rasanya sangat berharga, bahkan walaupun hanya ada satu orang yang ada dipihakmu.
"Si... Siapa yang mengais,"
"Pfffff.... Aku juga terkejut melihat Tuan Muda dari Keluarga Anderson menagis,"
"Aku... Aku tidak menagis...."
Mengigat kejadian itu, perasaan Raka menjadi hangat, sambil menatap kepergian gadis itu sekarang.
Ya, tidak perlu terlalu cemas.
Jika gadis itu berada di gedung ini, kemungkinan dia sedang melamar pekerjaan atau sesuatu?
Sepertinya ada pembukaan lowongan baru, baru-baru ini.
Sampai-sampai Asistennya mengoceh soal ini.
Bilang kalau Asistennya itu ingin mengundurkan diri menjadi Asisten Raka dan ingin mendaftarkan diri pada lowongan baru itu, yang sepertinya gajinya akan besar juga.
Ya, itu hanya lelucon pula.
Namun soal lowongan pekerjaan sepertinya nyata.
Sepertinya dimasa depan, mereka akan sering bertemu lagi.
Hmm, itu bagus.
Akan ada banyak kesempatan.
Dengan perasaan gembira, Raka kembali menuju Ruang Kerjanya.
Tapi, Raka masih merasa sangat malu, kenapa juga dirinya hari itu harus mengais didepan Alissya?
Dirinya menjadi terlalu cegeng saat itu, sampai menagis, padanya seorang laki-laki, benar-benar menunjukkan wajah memalukan didepan Alissya.
####
Bersambung