
Di salah satu ruangan tertentu di Perusahaan Anderson, terlihat Viktor Andrson sedang asik berbicara di telepon dengan seseorang.
"Ahahaha... Jadi begitu, kamu melihat kalau Kakakku Charlise Anderson itu sedang di buntuti orang lalu kamu malah mendekati dan menyapa Kakakku itu?"
'Pffff.... Itu benar, aku cukup pintar bukan?'
"Sangat bagus sekali Geovanni, kamu benar-benar tahu kapan harus bertindak,"
'Kamu juga cukup pintar untuk membuat dua saudaramu itu saling bermusuhan, rencanamu menjadikan Asistenmu sebagai kambing hitam itu benar-benar bagus,'
"Tentu saja, aku tidak akan melewatkan ini, aku berpura-pura dekat dengan gadis itu, seolah-olah tidak tahu apa-apa, dan justru ini yang akan membuat Charlise semaikan curiga pada Antony itu, hari ini harusnya Charlise sudah mendapatkan informasi ini dari bawahannya,"
'Wow, kamu benar-benar licik,'
"Terlebih, sepertinya Antony itu juga sudah mendapatkan kabar soal kamu dan Kakakku itu, dia pasti sekarang mulai curiga dengan Kakakku itu. Ya kita benar-benar bisa menafaatan Kakakku itu untuk disalahkan dalam semua ini, aku sebelumnya juga tahu jika Kak Charlise itu menaruh mata-mata untuk Antony, aku jelas memanfaatkan ini agar membuat dia lebih dicurigai,"
'Sangat hebat. Aku benar-benar menunggu, Perang Dunia Ketiga antara mereka'
Viktor lalu juga tertawa mendengar kata-kata temannya itu, lalu berikutnya dirinya bertanya lagi,
"Ah, benar, aku dengar kamu gagal dalam rencanamu sebelumnya?"
'Ya, Istri Keponakanmu itu benar-benar cukup beruntung, padahal aku ingin membuatnya celaka lalu mengirimkan surat peringatan pada Keponakanmu itu agar tidak mengaggu Bisnisku lagi,'
"Hah, kamu ceroboh dengan rencanamu itu, padahal aku sudah memberikan berita bagus untukmu,"
'Benar, sekarang sepertinya Keponakanmu itu menjadi lebih waspada, jadi sebaiknya bagaimana?'
"Nanti aku akan mengabarimu rencana berikutnya, mari tunggu Kakakku Charlise bertindak, atau... Aku baru saja memiliki ide bagus lainnya,"
'Apa?'
"Ini soal Keponakanku yang satunya, Raka Anderson...."
Dua orang dalam telepon itu terlihat sangat asik sekali berbicara merencanakannya permainan mereka sendiri.
#####
Di tempat lainnya, disalah satu Restoran Pribadi, terlihat Antony dan Thomas tengah melakukan pertemuan.
Antony sesuai rencananya, dirinya memberikan beberapa foto soal Pamannya Charlise Anderson pada Ayahnya.
Dan mulai menjelaskan bagaimana sepertinya Adik Ayahnya itu ada kemungkinan bersekokol dengan orang luar untuk membuat dirinya jauh.
"Kurang ajar itu, Charlise. Dia berani membuat kekacauan seperti itu dan memberimu masalah?"
"Iya, sepertinya dia mengirim mata-mata untuk memata-mataiku,"
Thomas mengela nafas penuh dengan kemarahan.
Adiknya itu, selain membuat masalah dengan dirinya dan dulu berniat untuk membuatnya celaka, sekarang juga berniat buruk pada Putranya dan juga Menantunya.
Jika Adiknya benar-benar bekerja sama dengan Geovanni dari Perusahaan musuh yang menyerang Antony atau Emelin...
Sial...
Kenapa Charlise menjadi seperti ini?
Dirinya sudah tidak mengerti lagi harus bagaimana.
"Baik, aku akan mencoba mengurus soal adikku ini, aku tidak mengira hal-hal seperti ini benar-benar terjadi... Dia adalah adikku dengan Ayah dan Ibu yang sama...."
Antony juga memiliki ekpersi rumit soal itu.
Dirinya sedikit mengerti soal perasaan Ayahnya itu. Lagipula Ayahnya dan Pamannya itu saudara untuk memikirkan saudara kandungnya sendiri sampai tega melakukan itu...
Memikirkan ini membuat dirinya merasa sedikit miris.
Dirinya tidak memiliki saudara sebelumnya, jadi tidak akan begitu tahu ikatan saudara kandung itu seperti apa...
Dan mereka berselisih tidak lain dan tidak bukan karena masalah Harta.
Lalu bagaimana perasaan Kakeknya jika dia tahu dua Putranya itu saling berselisih seperti ini?
Jika salah satu Putaranya bisa begitu tega mencoba menyakiti Saudaranya sendiri.
Antony juga seorang Ayah, jika sampai anak-anak sampai seperti itu...
Tidak...
Apa yang dirinya pikirkan?
Dirinya akan pastikan, dimasa depan mengajarkan anak-anaknya untuk memiliki hubungan yang baik, dan membesarkan mereka dengan penuh cinta, tidak akan membiarkan hal-hal seperti itu terjadi.
"Ya, aku akan mencoba mengurus hal-hal ini," balas Thomas.
Walaupun, Thomas sendiri juga masih belum tahu harus bagaimana mengurus hal-hal ini.
Semuanya masih sangat rumit...
"Soal Kakek...." kata Antony lagi dengan ragu, tentu dirinya sempat pemikiran kalau akan mengatakan hal-hal ini pada Kakeknya juga.
Namun apakah itu tindakan yang tepat?
"Jangan biarkan dia tahu dulu, aku takut penyakitnya akan kambuh jika tahu hal-hal seperti ini terjadi," kata Thomas lagi dengan ekpersi cemas.
Benar, Thomas juga memikirkan soal masalah kesehatan Ayahnya itu yang menghawatirkan.
"Tentu, aku akan merahasiakan ini dulu,"
Begitulah percakapan itu berlangsung, tidak lama sampai mereka berdua berpisah.
####
Malam itu, di Ruang Makan Keluarga Anderson, terlihat dua orang saling berbicara bersama.
Itu adalah, Raka Anderson yang makan malam dengan Kakeknya.
Johanes tentu merasa cukup heran dengan kedatangan Cucunya itu tiba-tiba.
Dirinya juga sudah mendapatkan laporan jika kinerja Cucunya yang ini memiliki cukup peningkatan dan lebih rajin di Kantor.
Bahkan dirinya dengar, cucunya ini mengambil inisiatif untuk meminta Antony membantunya belajar soal Perusahaan.
Jujur saat mendengar itu, dirinya sempat tidak percaya.
Kira-kira apa yang membuat Raka ini sampai berubah seperti ini?
Mari tunggu dan lihat, apa yang ingin dia katakan?
Jangan bilang, dia ingin menjadi CEO atau sesuatu, seperti Ayahnya itu yang sangat ingin menguasai Perusahaan.
"Tumben, kamu datang kesini? Apakah ada sesuatu?"
Raka sediri merasa sedikit gugup ketika berbicara dengan Kakeknya itu.
Tidak tahu harus mulai berbicara dari mana.
Ini terlihat cukup menyeramkan....
Raka memang sedikit takut pada Kakeknya.
Namun dirinya tidak punya pilihan bukan?
Melihat Raka masih diam dan menuduk itu, Johanes memiliki kesimpulan.
Apakah cucunya ini benar-benar di kirim oleh Putranya untuk mendapatkan persetujuan kenaikan jabatan atau sesuatu?
Melihat gelagatnya belakangan yang menjukan sikap baik, ini jelas memiliki maksud tertentu.
Namun dirinya masih merasa jika Raka ini memiliki banyak kekurangan...
Setelah menghela nafas, Johanes lalu berkata,
"Jika ini masalah soal CEO Perusahaan...."
Namun sebelum kata-katanya selesai, Raka sudah lebih dulu memotong perkataannya.
Raka tentu tidak mendegarkan apa yang Kakeknya katakan karena fokus pada kata-kata apa yang ingin dirinya katakan.
"Jadi Kakek.... Sebenarnya aku ingin menikah..."
Ekspresi Johanes tiba-tiba menunjukan kegetan dan syok ketika mendengar kata-kata Raka barusan.
Cucunya Raka ingin menikah?
Tidak akan pernah mengira kata-kata ini benar-benar keluar dari Cucunya yang ini, yang kabarnya sering main-main dengan Perempuan.
Namun dirinya tiba-tiba memiliki firasat buruk.
Ini...
Cucunya ini tidak tiba-tiba menghamili anak orang bukan?
Terutama melihat wajah gugup Cucunya ini....