Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Episode 39: Menggoda di Pagi Hari


Ini adalah pagi yang baru, saat ini bahkan matahari belum menunjukan tanda-tanda akan terbit, alaram di kamar Emelin sudah berbunyi.


Emelin membuka matanya, lalu mengabil ponselnya, dan mematikan alarm, kembali tidur lagi.


Namun tidak beberapa lama, sekitar lima menit kemudian, alaram berbunyi lagi.


Emelin, sedikit membuka matanya dengan malas, lalu melihat jam menunjukan pukul 04:50.


"Ah, baru jam segini, lima menit lagi,"


Emelin kembali mematikan alasan dan tidur lagi.


Itu berulang sampai jam menunjukkan pukul 05:15, barulah Emelin benar-benar bangun.


Emelin memang tidak menyukai bangun pagi, bahkan terkadang Alex Putranya itu bagun lebih pagi dari pada Emelin.


Namun hari ini adalah hari khusus.


Bukan-bukan, ini bukan hari ulang tahun dirinya ataupun hari ulang tahun Antony, ini hanya hari kerja biasa seperti kebanyakan hari lainnya.


Tidak ada yang benar-benar spesial dengan hari Kamis ini.


Hanya saja, Emelin berencana membangun sarapan.


"Orang bilang, mengabil hati laki-laki itu pertama-tama dengan perutnya dulu! Mari memasak sarapan untuk Antony! Ini benar-benar akan menjadi langkah yang bagus!" Kata Emelin dengan begitu semangat, dia lalu kekamar mandi untuk cuci muka dan ganti pakaian.


Semalam rencananya memang gagal, namun Emelin tetap tidak menyerah.


Dengan hati yang begitu gembira itu, Emelin keluar dari kamarnya dengan semangat, namun siapa yang tahu, karena Emelin begitu bersemangat dan terburu-buru kedapur, dia malah menabrak Antony yang baru keluar dari kamarnya.


"Ah..."


Antony menangkap Emelin yang hampir jatuh itu tepat waktu.


Antony lalu menatap Emelin dengan pandangan heran.


"Kamu tidak apa?"


Disini, sepintas Emelin merasa terteguh sejenak, wajah bangun tidur Antony masih terlihat tampan, mau melihatnya beberapa kalipun, Emelin tidak akan merasa bosan.


Itu, benar dengan wajah setampan ini sangat sia-sia jika dilepaskan begitu saja bukan?


Wajah yang menyenangkan untuk ditatap.


Emelin menatap Antony lekat-lekat, dan tentu Antony menyadarinya.


"Emelin? Apakah ada yang salah dengan wajahku?"


Mendengar suara maskulin dan mangnetis itu membuat Emelin tersadar dari lamunannya.


"Owh, lihat ada sesuatu di rambutmu!" Kata Emelin basa-basi lalu tangannya curi-curi untuk menyentuh rambut Antony lalu sedikit mengelusnya.


Rambut Antony benar-benar lembut...


Mengelus rambut Antony seperti ini memberikan perasaan baru pada Emelin.


Antony merasa rambutnya diacak-acak oleh Emelin, lalu mulai berkata,


"Emelin, apakah kamu sangat menikmati membuat rambutku berantakan? Ah benar, juga kamu sangat suka juga mengelus rambut Alex seperti ini, apakah ini semacam hobi tersembunyi?"


Muka Emelin memerah melihat dirinya tertangkap basah, lalu dia mencoba mengelak, segera melepaskan tangannya dari rambut Antony lalu berkata,


"Ti... Tidak... Aku tidak memiliki hobi seperti itu..."


Antony lalu sedikit menaikan alisnya karena penasaran lalu dia segera mengelus rambut Emelin.


"Jadi apakah kamu lebih suka dielus?" Kata Antony dengan ekpersi yang masih terlihat datar seperti biasanya.


Namun mendapatkan sentuhan yang tiba-tiba diatas rambutnya itu membuat telinga Emelin tambah memerah, dan jantungnya sedikit berdebar.


Ini....


Ini...


Ini benar-benar serangan dobel kill...


Tidak ini malah Triple Kill...


Damagenya terlalu besar!!!


"Ah...."


Emelin yang merasakan serangan mendadak itu lalu langsung lari menjauh dari Antony, meninggalkan Antony menatap kepergian Emelin dengan penuh tanya.


"Ada apa dengan dia...."


Ya, Emelin terlalu malu untuk merespon seperti apa.


Bukankan dirinya begitu berani tadi malam?


Kenapa menjadi begitu gundah hanya dengan sentuhan sederhana?


Akhhh.....


####


Ditempat lain, ini adalah pagi yang buruk untuk seseorang.


Pagi itu, Claudia kembali mendapat telepon dari Managernya bahwa Kontrak dengan Anderson Group memang benar-benar tidak bisa dikembalikan, dan mereka tidak mendapatkan kompensasi sedikitpun.


'Maaf soal itu saya juga tidak tahu.'


"Akhhh... Kamu benar-benar tidak berguna!"


Claudia yang merasa marah itu lalu langsung menutup teleponnya.


Disampaignya, Daniel yang juga baru saja bangun itu langsung bertanya pada Claudia,


"Ada apa? Kenapa moodmu buruk lagi? Bukankan kemarin semua baik-baik aja?"


"Aku tidak tahu kenapa aku tetap tidak mendapatkan kontrak dengan Anderson Group,"


"Bukankan katamu temanmu sudah mengurus itu? Teman itu cucu dari pemilik perusahaan itu bukan?"


"Iya, ya adalah cucu dari pemilik perusahaan. Dia sudah bilang untuk membantuku kemarin."


"Kenapa tidak menelepon temanmu itu lagi?"


Mendengar ide itu, Claudia lalu langsung menelpon Raka. Tidak beberapa lama telepon Claudia diangkat dengan suara malas.


"Selamat Pagi, Raka," kata Claudia dengan ramah.


'Ternyata kamu masih berani meneleponku bukan, Claudia? Aku sudah dengar semuanya dari Kak Emelin. Jangan pernah meneleponku lagi."


Claudia dengan gugup lalu muslim bertanya,


"Ah, omong kosong apa yang kamu bicarakan, Raka?"


'Sudahlah, berhenti berakting didepanku. Kak Enek benar-benar sudah cerita semua yang kamu lakukan padanya.'


"Apa yang Kak Emelin ceritakan? Kamu tahu? Itu hanya omong kosong karena dia sedikit iri bagaimana aku menikah dengan seorang yang dia suka."


'Hah, tidak usah mengelak, menurutmu aku akan percaya? Dan soal Kontrak dengan Anderson Group, jangan pernah bermimpi untuk mendapatkannya, aku pastikan kamu akan masuk daftar black list dari Perusahaan ini bahkan sampai di Perusahaan cabang dan Perusahaan yang bekerja sama dengan kami.'


Dengan kata-kata dingin itu, Raka menutup teleponnya tanpa menunggu reaksi Claudia.


Mendengar kata-kata dingin itu, tentu saja wajah Claudia menjadi pucat.


Dia lalu menjadi begitu marah dan melemparkan teleponnya.


Emelin!!


Emelin sialan!!!


Kamu berani sekali bahkan mencemarkan nama baikku!!


"Claudia ada apa?" Tanya Daniel yang melihat Claudia begitu marah itu.


"Diam kamu, Daniel!! Memang apa yang kamu bisa? Selain wajahmu, kamu tidak memiliki hal lainnya."


Mendengar kata-kata marah Claudia itu membuat Daniel juga menjadi kesal.


"Apa yang barusan kamu katakan?"


"Apa? Itu memang benar, aku hanya mengatakan fakta, bahwa tanpa bantuan ku juga kamu tidak punya apa-apa."


Disini, Daniel mulai memikirkan masalalu.


Dulu, Claudia terlihat begitu manis, namun belakang setelah menikah dengannya, wanita didepannya ini hanya bisa marah-marah setiap hari.


Seolah-olah Claudia yang dirinya kenal dulu hanya sebuah ilusi.


Memikirkan ini, Daniel jadi mengigat Emelin.


Ah...


Kalau dipikir lagi, Emelin tidak pernah berbuat kasar padanya dan marah padanya dulu....


Dia selalu menjadi wanita yang ramah, bahkan walaupun saat itu dirinya hanyalah seorang artis kecil.


Emelin tanpa menyerah mendukungnya tanpa pernah menrendakannya sedikitpun.


Ya...


Kenapa dirinya dulu bisa tergoda dan terjerat dengan Claudia?


Apakah itu karena dulu dirinya begitu marah setelah tahu Emelin sudah menikah?


Hanya memikirkan masa lalu membuat dirinya merasa rumit.


####


Bersambung


####


Anggap saja bonus Episode, 😆😆


Mumpung semangat Update nih,


Jangan Lupa tetap dukung karya ini dengan cara Like, Komentar atau Gift,


Dan Terimakasih buat yang sudah mendukung karya ini, like kalian sangat berarti 🤗


Jadi semangat buat Update, 😆


Nantikan kelanjutannya,