
Antony dari ujung telepon tentu saja tengah menantikan jawaban dari saudara sepupunya itu.
"Jadi bagaimana menurutmu?" Tanya Antony lagi.
'Apakah tidak apa-apa?' tanya Alyssa lagi.
"Tidak masalah jika itu kamu, percayalah kamu bisa masuk ke Perusahaan Anderson,"
'Tapi aku takut gara-gara ini, dan memanfaatkan koneksi bisa menjadi masalah untuk Kakak dalam Keluarga Kakak,'
"Tidak masalah, lagipula aku juga hanya ingin membantumu. Dan lagi sudah aku bilang kan? Ini imbalan jika kamu ingin menolongku,"
'Jadi, apa yang bisa aku bantu Kak?'
"Sebenarnya, Paman dan Bibi menyimpan beberapa barang peninggalan Almarhum Ibuku..m jadi aku..."
Alyssa akhirnya mengerti bahkan sebelum Antony menyelesaikan kata-katanya.
'Jadi begitu, aku kurang lebih paham situasi Kakak. Hah, aku benar-benar tidak bisa berkomentar soal kelakuan orang tuaku,'
"Sungguh, ini bukan salahmu Alyssa, kita tidak pernah tahu isi hati orang, termasuk orang tuamu sendiri, jangan menyalahkan diri sendiri,"
'Baiklah, aku mengerti. Aku akan membantu Kakak,'
"Ya, kamu tidak perlu mengambil secara paksa, aku takut kamu akan terkena masalah. Cukup cari tahu saja dimana mereka meletakan barang-barang itu,"
'Oke, aku mengerti. Aku akan mencoba menyelidikinya. Namun soal Pekerjaan itu....'
"Kamu boleh memikirkannya terlebih dahulu, nanti kamu bisa menghubungiku lagi kalau sudah mengambil keputusan. Kalau bisa secepatnya saja, dan jangan lupa jika kamu setuju segera kirimkan CV mu,"
'Baik, aku akan menghubungi Kakak jika sudah memutuskannya,'
"Kamu tidak perlu terlalu banyak berpikir hal-hal rumit, hanya... Aku harap kamu menerima tawaran ini,"
'Terimakasih Kak Antony.'
"Ya, tidak masalah sama sekali,"
Dengan itu, Antony lalu menutup teleponnya.
Alissya setelah menutup telepon itu, lalu mulai berpikir sendiri dikamarnya.
Sejujurnya, dirinya tidak akan pernah menyangka kalau Kakak Sepupunya itu ternyata berasal dari Keluarga Anderson.
Rasanya dunia cukup sempit...
Setelah memejamkan matanya dan berpikir sejenak, tiba-tiba telepon seluler Alissya berbunyi.
Itu adalah pemberitahuan tagihan.
Melihat itu, Alissya lalu melihat ke aplikasi M-Banking miliknya, melihat sisa-sisa tabungannya yang menipis itu.
Hah...
Sepertinya tabungannya semakin menipis...
Apakah sebaiknya dirinya menerima pekerjaan dari Kakak Sepupunya itu?
Namun harus ke Perusahaan Anderson...
Tunggu, Perusahaan Anderson kan begitu luas dan lebar, tidak mungkin juga kan bisa bertemu ditempat seperti itu?
Dan lagi, dirinya juga hanya akan menjadi Karyawan biasa.
Dengan berbagai kemungkinan, sangat kecil untuk bertemu dengan orang itu, jadi apakah lebih baik dirinya menerimanya?
Ya, ya, dari semua tempat yang luas itu, mana bisa bertemu.
Benar.
Sepertinya dirinya sudah memutuskan.
Sebaiknya memang menerima lowongan ini saja, karena tidak ada pilihan lainnya.
Ya, mari sekarang siapkan dulu CV dan nanti sore mulai menghubungi Kakak Sepupunya itu.
Dirinya sudah mengabil keputusan.
####
Di tempat, lainnya saat ini Emelin mulai terbangun dari tidur siangnya, menatap kearah tempat tidur disampingnya, tidak ada siapa-siapa.
Sebelumnya bukankah Antony tidur siang dengannya?
Apakah dia sudah bangun?
Emelin lalu mulai bangun dari tempat tidur, mencoba mencari keberadaan Antony.
Melihat sekeliling ruangan, Emelin melihat jika pintu menuju balkon terbuka.
Apakah Antony berada disana?
Segera, Emelin memakai sendalnya dan menuju tempat itu.
Hal yang dia lihat ketika memasuki balkon adalah ekpersi sedih yang terlihat di wajah Antony.
Ekpersi kesedihan yang mendalam, yang terlihat menyakitkan.
Melihat itu, tentu saja Emelin menjadi binggung.
Lalu, Emelin mulai memeluk Antony dari belakang.
"Apa yang kamu pikirkan, sayang?" Tanyanya pada Antony.
Antony kaget dengan pelukan tiba-tiba itu, karena dirinya melamun, dirinya sempat tidak sadar jika Emelin datang.
Memikirkannya lagi, saat ini dirinya tidak perlu menyimpan rahasia lagi dari Istirnya.
Mungkin, dengan berbagi, beberapa hal dalam hatinya akan menjadi ringan.
"Aku tiba-tiba merindukan Almarhum Ibuku,"
"Jadi begitu? Tidak apa-apa untuk merindukan Mamamu, aku terkadang juga merindukan Mamaku yang ada di jauh sana, sangat rindu, rindu dengan pelukan hangatnya itu,"
"Hmm, mereka pergi begitu cepat dan tiba-tiba,"
"Kamu benar. Namun kenapa kamu tiba-tiba menjadi ingat hal-hal itu?"
"Tadi barusan, aku menelepon Paman dan Bibi,"
"Ya,"
"Kenapa kamu masih menelpon mereka?"
"Tentu untuk memastikan mereka tidak lagi membuat masalah. Aku hanya ingin bertanya apa tujuan mereka,"
Emelin menghela nafasnya, lalu berkata,
"Bukankah sudah jelas? Yang mereka inginkan adalah Uang,"
"Kurang lebih begitu,"
Sekarang Emelin memujukan ekpersi terkejutnya.
"Apa? Mereka benar-benar masih berani meminta uang padamu? Jangan beri mereka sepeserpun,"
"Ya, aku tahu. Namun kali ini mereka membawa alat tawar menawar,"
"Mereka berani mengancam mu?"
"Bukan mengancam, hanya alat tawar menawar. Itu mereka masih menyimpan beberapa barang peninggalan Almarhum Ibuku juga Buku Hariannya. Mereka benar-benar tahu bagaimana cara untuk mempermainkanku,"
"Astaga... Mereka itu benar-benar keterlaluan!! Berani-beraninya mengunakan barang-barang Almarhum Ibumu sebagai alat tawar menawar. Kamu... Kamu pasti ingin hal-hal itu bukan? Jadi bagaimana?"
"Sementara ini, aku akan menuruti mereka,"
"Tapi, Antony jika kamu menurut, kamu tidak akan pernah tahu apalagi nanti yang mereka minta,"
"Aku tahu, aku tahu. Aku hanya berpura-pura menurut agar mereka lengah, lalu aku akan mencari cara mendapatkan barang-barang itu,"
"Pfffff.... Jadi kamu sudah punya rencana? Bagus, kalau begitu. Itu baru namanya Suamiku,"
"Ya, tentu saja. Aku tidak akan membiarkan orang-orang dengan mudah menindasku lagi,"
"Jadi apa rencanamu?"
"Jadi sebenarnya awalnya mereka meminta memasukan Putra mereka ke dalam Perusahaan Anderson,"
"Mereka benar-benar meminta hal tidak tahu malu itu? Lalu bagaimana?"
"Tentu saja aku menolak untuk memasukan Kakak Sepupuku yang menyebalkan itu. Namun sebagai gantinya, aku berencana memasukkan adik sepupuku Ke Perusahaan,"
"Adik sepupu mu? Apakah tidak masalah?"
"Ya, dia adalah adik yang cukup baik, walaupun dia terlihat cukup dingin, namun dia sebenarnya baik,"
"Apakah itu benar?"
"Ya, dia juga mau membantuku untuk menyelidiki lokasi soal barang-barang Ibuku disimpan,"
"Sepertinya dia cukup baik,"
"Ya, dia bernama Alissya Callisto,"
"Alissya? Aku sepertinya pernah mendegar nama ini sebelumnya,"
"Mungkin kamu pernah bertemu dengannya saat di Sekolah Menengah?"
"Eh? Dia ada di SMA yang sama dengan kita?"
"Dia harusnya adik kelasmu, satu tingkat di bawahmu,"
"Apakah begitu? Mungkin aku memang pernah melihat atau mendengar namanya saat itu, begitu banyak kenalan saat SMA,"
"Ya, mungkin nanti kamu bisa mengigat-ingatnya,"
"Tentu saja. Jadi sebaiknya kamu tidak usah sedih lagi, kita disini untuk bersenang-senang oke? Aku yakin semua rencanamu pasti berhasil,"
Antony lalu tersenyum melihat kepercayaan diri Emelin itu.
"Ya, tentu saja. Aku harap juga begitu, dan lagi... Rencanaku untuk membuatmu segera hamil juga sedang dalam proses, aku harap ini segera berhasil," kata Antony sambil menyentuh perut Emelin.
Emelin menjadi malu sendiri, lalu bertanya malu-malu,
"Apakah menurut mu sudah?"
Antony menatap Emelin sebenar, kau berkata dengan sungguh-sungguh.
"Aku rasa belum. Kita benar-benar perlu bekerja keras untuk ini, mari segera lakukan..." Kata Antony hendak mencium bibir Emelin, namun Emelin mendorong Antony menjauh.
"Omong kosong, itu hanya kamu ingin melakukannya saja bukan?"
Antony lalu mengunakan tangannya untuk membuat Emelin menatapnya, menaikan dagunya.
"Itu benar, tentu saja aku akan menikmati prosesnya, sejujurnya aku tidak ingin kamu cepat-cepat hamil, aku masih ingin lagi...."
Antony lalu mencium bibir Emelin, dan menatapnya dengan pandangan mengoda.
"Akhhh... Antony... Kamu ini benar-benar modus!!"
"Ya... Mau bagaimana? Aku sangat menikmati melakukannya denganmu? Kalau dulu, kamu yang meminta 'Layanan Malam', bukankah sekarang giliranku untuk memintanya?"
Wajah Emelin benar-benar menjadi memerah.
"Kamu.... Layanan Malam apa...."
Siang itu, mereka berdua terlihat menikmati waktu mereka untuk saling mengoda satu sama lainnya.
####
Ketika sore hari tiba, Alissya sesuai rencananya, dia menelepon Antony untuk memberikan jawaban.
Dirinya sudah memutuskan untuk menerimanya, setelah begitu banyak berpikir.
Lagipula, tidak banyak kerugian yang dirinya dapatkah ketika masuk kesana, paling-paling hanya beberapa kesialan saja jika sampai bertemu orang tertentu.
Ya, hanya berharap saja tidak bertemu.
Ya, positif saja.
Kantor begitu luas, bagaimana bisa bertemu?
"Hallo, Kak Antony,"
'Ya, Alissya? Jadi apa jawabanmu?'
"Aku menyetujui tawaran Kakak,"