Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Episode 75: Niat Jahat


Mendengar beberapa gosip tidak enak itu, Emelin merasa tidak nyaman.


Dirinya lalu segera meminum minuman disalah satu gelas, mencoba membuat hatinya tenang.


Entah kenapa, sekarang ketika melihat beberapa orang berkumpul di Pesta ini, terasa sangat tidak nyaman.


Apakah semua orang memang masih memikirkan soal dirinya yang buruk?


Jadi dari pada Emelin terus curiga, dia memutuskan untuk pergi di daerah samping Aula yang menghadang pantai. Disana cukup sepi, jadi Emelin bisa duduk sambil memenangkan pikirannya.


Syuting akan dimulai sejak adegan permulaan besok, sebaiknya dari pada memikirkan hal-hal tidak berguna, sebaiknya dirinya fokus untuk menghafalkan adegan awal untuk besok.


Emelin lalu mengeluarkan ponselnya, masih sama seperti sore tadi, tidak ada sedikitpun sinyal di ponselnya.


Hah...


Tempat yang indah namun di kutuk sinyal, sangat baik jika setidaknya ada sinyal, bisa mencoba menghubungi Alex atau sesuatu.


Emelin lalu mulai mengulir ponselnya, membuka salah satu berkas disana.


Itu adalah berkas naskah yang juga selin diberikan hasil printnya, dikirimkan via email juga.


Diharapkan dengan pengaturan ini juga memudahkan para pemain untuk bisa memperlajari naskahnya dimana saja.


Emelin mulai melafalkan teks pertama dari film ini.


Tapi karena ini masih dipesta, jadi Emelin tidak berani untuk terlalu keras, walaupun tempat ini cukup sepi.


Semakin membaca naskah itu, Emelin sedikit tengelam.


Memang, isi naska sangat bagus.


Perjuangkan seorang gadis mengajar mimpinya, walaupun tidak banyak orang yang menjadukungnya, karena gadis bernama Lailah ini terlahir di keluarga miskin, namun dia bermimpi menjadi seorang penyanyi terkenal.


Lailah memiliki suara yang indah, namun terhalang oleh keluarganya yang miskin.


Cukup sulit memerankan tokoh Lailah ini karena selain harus bisa bermain musik, juga harus bisa bernyanyi.


Sangat beruntung bagi dirinya karena bisa bermain beberapa alat musik klasik, dan dirinya bisa bernyanyi.


Suaranya tidak sebagus itu, tapi juga tidak buruk.


Selain menjadi Artis dan Model, dulu saat muda dirinya juga sangat suka bernyanyi.


Ada kalanya ketika masih di Sekolah Menengah, dirinya bernyanyi diatas panggung saat perpisahan dengan Kakak tingkat.


Berbicara soal Kakak tingkat, membuat Emelin teringat Kakak tingkat tertentu ketika dirinya masih di SMA.


Sedikit mengigat, Emelin sedikit lupa namanya, karena hanya mengamati wajahnya saat itu, namun karena lama waktu berlalu, ingatan itu sedikit blurr, tidak lagi mengingat seperti apa wajahnya.


Yang jelas pasti sangat tampan.


Sekarang setelah waktu berlalu, kira-kira Kakak tingkat ini apa kabar ya?


Tidak tidak, bukan karena dirinya masih memiliki perasaan atau sesuatu, hanya sedikit penasaran saja pula.


Emelin sekarang ingat, kalau Raka tempo hari menceritakan kalau di SMA mereka akan diadakan sebuah Reuni besar.


Beberapa angkatan akan di undang sekaligus.


Apakah ini artinya dirinya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Kakak tingkat ini?


Tunggu, kenapa pikirannya jadi melayang kesana?


Sekali lagi, Emelin mencoba fokus pada teks dialog miliknya.


Dan tanpa Emelin sadari, waktu cepat berlalu, Asistennya datang mencarinya.


"Nona Emelin tidak menikmati Pesta?"


"Cukup bosan, ingin lebih mempersiapkannya untuk besok."


"Apakah tidak nyaman disini?"


"Kamu juga menyadarinya?"


"Ya, ketika aku berkeliling aku sempat mendengar beberapa orang bergosip yang tidak-tidak. Sudahlah Nona Emelin, sebaiknya jangan hiraukan kata-kata mereka,"


"Hmm, terimakasih Ana."


"Baik, dari pada disini sebaiknya Nona Emelin kembali saja ke Penginapan, lagipula Acara ini juga sudah hampir berkahir."


"Waktu cepat berlalu?"


"Nona Emelin kemungkinan tidak menyadarinya karena terlau fokus, Nona Emelin sungguh hebat,"


"Jangan terlalu banyak memuji,"


"Ah, ya aku sampai lupa, jangan juga menjadi salah paham akan perlakuan Pak Sutradara, dia benar-benar memperlakukanmu dengan baik dan memberimu Asisten seperti ku karena dia sangat menghargai Pemeran Utama dalam filmnya, jangan termakan gosip orang-orang,"


"Tentu saja, aku tidak akan salah paham. Hanya saja orang-orang saja yang bergosip seenaknya."


"Memang kok, tidak jelas itu orang-orang,"


"Hahaha, ya sebaiknya mari kita kembali,"


Dengan di hibur oleh Asistennya, Emelin merasa sedikit tenang, setidaknya diantara orang-orang masih ada yang berada dipihaknya.


Emelin dan Asistennya lalu berpamitan dengan Sutradara dan Produser yang kebetulan sedang mengobrol disana.


"Kenapa kamu kembali terlalu cepat? Tidak menyukai pestanya?" Tanya Sutradara itu dengan ekpersi binggung.


"Tidak, tidak. Tentu saja saya sangat menyukai Pesta yang diadakan ini, namun saya ingin bersiap mempelajari naskah untuk persiapan syuting besok pagi,"


"Wow, kamu sangat rajin sekali." Puji Sutradara itu.


"Tidak, tidak ini hanya sebuah kewajiban,"


"Lihat Pak Produser, Pemeran Utama Wanita kita sangat berdedikasi, tidak salah kita mempertahankannya,"


Produser di samping Sutradara itu lalu hanya tersenyum canggung pada Emelin.


Untung saja, Sutradara Muda ini, entah bagaimana bisa mendapatkan Sponsor baru, namun tetap saja demi mempertahankan Artis yang sudah turun dan meminta reputasi buruk ini, apakah ini sepadan?


Bagaimana kalau ini akan merupakan reputasi film ini?


Produser itu, menatap lagi Emelin dari bawah sampai atas, memperhatikannya.


Ah, tapi memang Artis ini memiliki tubuh yang indah, cukup seksi dan wajah yang cantik.


Sekilas ada tatapan mata buruk terlintas di benak Produser itu, ketika mengamati kepergian Emelin.


####


Pagi itu, Emelin terbangun dari tidurnya tepat waktu.


Asistennya sudah menyiapkan sarapan untuk Emelin sehingga dia bisa menikmati sarapannya dengan tenang.


Sambil membawa naskah dialog yang akan dirinya pakai, Emelin menikmati bubur ayam dengan tenang.


Suasana pagi hari masih terasa sangat nyaman.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Emelin memutuskan untuk melihat-lihat kearah pantai.


Masih memiliki waktu sebelum jam syuting di lakukan.


Sekali lagi, menatap hamparan laut biru jernih, membuat hati Emelin terasa tenang.


Memang, pantai ini sangat indah.


Ketika Emelin berjalan menyusuri pantai, dia melihat ada sosok yang familiar dengan sebuah pakaian olahraga juga tengah terlihat menyusuri pantai, dengan sebuah naskah ditangannya.


'Bukankah itu adalah Ricard? Pemeran Utama Pria dalam film ini? Wow, dia juga sangat rajin untuk berlatih dan bangun pagi-pagi sekali, pantas saja dia menjadi begitu populer, dia benar-benar terlihat berusaha keras,' pikir Emelin.


Emelin merasa ada baiknya dia menjadi cukup akrab dengan Aktor ini agar dirinya bisa melakukan syuting film dengan lancar.


"Selamat Pagi," sapa Emelin.


Pemuda yang terlihat lebih muda itu lalu menoleh, menatap kearah wanita itu.


"Selamat pagi juga," jawabnya dengan tanpa ekpersi.


Terlihat orang itu cukup penyendiri dan sulit didekati.


Emelin sendiri jadi binggung ingin berkata apa lagi.


"Emm, kamu sedang berlatih naskah?"


"Ya." Jawabnya dengan singkat.


"Ah, begitu. Kebetulan aku juga sedang ingin berlatih naskah, kenapa kita tidak mencoba beberapa dialog bersama?"


"Sepertinya belum ada adegan untuk kita pagi ini,"


"Benar sih, aku pikir kamu juga belum syuting untuk hari ini. Tapi Tidak masalah untuk mencoba beberapa dialog untuk kedepannya. Lagipula dari pada latihan sendiri bukan?"


Mendengar ide Emelin cukup masuk akal, Ricard memutuskan mengikuti saran Emelin.


Memiliki waktu luang, dia orang itu lalu mulai berlatih melantunkan beberapa dialog dengan penuh emosi.


Emelin sempat tapjub dengan akting baik Aktor didepannya.


Ketika masih dalam sebuah film, ekpersi dan sikapnya benar-benar bisa menghayati dengan baik.


Disisi lainnya, tanpa mereka berdua sadari ada seorang gadis yang menatap mereka berdua.


'Bukankah itu Emelin yang di rumorkan itu? Aku dengar dia dekat dengan Pak Sutradara, tapi sepertinya sekarang dia mencoba menggoda laki-laki lainnya, dan dari semua orang apakah sekarang dia akan menggoda Ricardnya? Sungguh, ternyata dia benar-benar tidak tahu diri,'


Gadis itu merupakan salah satu Artis pemeran tambahan dalam film, yang juga merupakan penggemar Ricard, yang sangat menyukai Ricard.


Dengan tatapan kebencian, dia menatap kearah Emelin.


'Awas saja ya, nanti akan ku buat syuting hari ini susah untukmu,' pikir gadis itu dengan kesal.'


Berkata gosip buruk dan rumor yang beredar, beberapa orang mulai menumbuhkan kebencian tidak masuk akal pada Emelin.


Sebuah Rumor yang membuat Emelin tidak akan bisa tenang.


####


Claudia di ujung jauh, sana setelah mendapatkan telepon dari orang suruhannya merasa sangat senang, melihat hal-hal yang dirinya inginkan terlaksana


'Hah... Aku tidak akan pernah membiarkan Emelin berhasil,'


"Baik, kamu terus awasi Emelin, dan partai gerak-geriknya disana, sebarkan rumor lebih buruk soal dia, jika perlu di foto," kata Claudia dari ujung telepon.


'Baik Nona Claudia, semua akan saya laksana,'


Dengan perasaan senang, telepon itu ditutup.


Namun tidak beberapa lama, ada sebuah telepon dari Managernya,


"Ada apa menelpon pagi-pagi?"


'Maaf Nona Claudia, sepertinya ada masalah. Iklan untuk Nona dadi Perusahaan Y di batalkan,'


"Apa kamu bilang? Dibatalkan lagi?"


Cih, baru saja dirinya senang, kenapa ada kabar buruk seperti ini?


Belakangan seperti hantu, beberapa perusahaan tiba-tiba memutuskan kontrak dengannya.


Benar-benar tidak masuk akal!!


Sialan!!


Apa sih yang salah?


####


Bersambung