
Melihat seseorang yang datang tiba-tiba itu, orang-orang didalam ruangan tidak nyaman.
Kali ini, baik Thomas dan Charles langsung berbicara dengan marah,
"Victor sialan!! Kenapa kamu disini?" Kata Charles dengan kesal
"Ya! Siapa yang mengijinkanmu datang ke rumah ini hah?" Kata Thomas dengan emosi.
Pria yang duduk santai itu, terlihat tertawa melihat dua Tuan dari Keluarga Anderson itu marah, lalu segera berkata.
"Ayah, apakah Ayah tidak bilang pada mereka jika Ayah mengundangku kesini? Bukankah ini akan menjadi Pertemuan yang mengesankan dan menyenangkan melihat seluruh Keluarga Anderson berkumpul dengan akrab,"
Charles lalu menatap Ayahnya, lalu berkata dengan marah.
"Ayah, coba jelaskan ini kenapa anak haram Ayah ini sampai ada disini, Hah?"
"Itu benar, aku tidak menerima kedatangannya!"
"Woah, Kak Thomas, untuk seseorang seperti Kakak yang juga memiliki anak haram, ternyata masih bisa berkata seperti itu?" Sungguh Charles.
"Diam Kamu Charles. Bahkan walaupun Antony anakku dari Luar Nikah, aku tidak pernah berselingkuh atau sesuatu, karena aku tidak punya Istri. Jadi tidak salah membawanya pulang untuk jadi ahli warisku."
"Cukup kalian semua!! Aku mengundang Victor kesini hanya agar kalian tidak terlalu membencinya, dia adalah adik kalian, ini memang bagian kesalahanku dimasalalu, jika kalian membenciku kalian boleh, tapi Viktor tidak salah apapun,"
Melihat Ayahnya membela, saudara tirinya itu, Charles menjadi begitu marah.
"Ayah!! Kamu sungguh keterlaluan!! Pertama membawa anak haram Ayah kesini, lalu bahkan menerima Anak Kak Thomas yang di Luar Nikah itu!! Bahkan memberikan mereka posisi di Perusahaan! Ayah bahkan tidak memberikan cucu Ayah sendiri, Raka posisi yang baik!!!"
Johanes merasa marah melihat betapa kurang puasnya Putra keduanya itu, lalu berkata dengan marah,
"Kamu! Aku sudah memberikan Raka posisi yang cukup! Dia masih Wakil CEO! Dia saja yang tidak kompeten menjalankan Perusahaan, aku memikirkannya, itu benar-benar seperti kamu yang selalu tidak kompeten!"
"Hah! Terus, puji itu Kak Thomas, puji itu Cucu harammu dan juga Anak Harammu!! Dari dulu Ayah seperti itu dan tidak pernah berubah!! Seandainya Ibu masih hidup, dia pasti akan lebih membela aku dan Raka,"
"Charles kamu!!!"
Mendengar kata-kata Putra keduanya itu, Johanes menjadi cukup emosi.
"Sudah, ayo sayang kita pergi dari sini, aku memikirkannya, tidak ada gunanya aku harus satu meja makan dengan orang-orang menyebalkan itu. Raka, ayo pulang juga," kata Charles dengan tegas.
Dengan itu, Charles mengandeng Istrinya pergi, dan Raka mengikuti dari belakang.
Sedangkan Thomas juga menjadi marah, lalu berkata,
"Aku juga tidak sudi harus duduk di meja yang sama dengan orang itu, Ayo Antony ajak anak dan Istrimu pergi dari sini, tidak ada yang baik disini,"
Mendengar kata-kata, Ayahnya itu, Antony juga sedikit terteguh.
Dirinya tidak pernah melihat Ayahnya semarah ini sebelumnya.
Dirinya memang sudah mendengar soal saudara tiri Ayahnya yang di bawa kembali oleh Kakeknya sekitar lebih sepuluh tahun lalu.
Saudara tirinya ini lebih muda, saat dibawa pulang, dia baru berusia sekitar lima belas tahun, harusnya sekarang sekitar berusia tiga puluhan lima.
Dirinya denger, sejak kedatangan anak itu, Keluarga Anderson tidak pernah damai.
Emelin yang binggung dengan situasinya, lalu menatap Antony dengan binggung, menunggu keputusan yang akan Antony buat.
Dirinya tidak mengira akan ada kejadian seperti ini juga di Keluarga Anderson.
Dan memang iya, jika dirinya ada diposisi seperti Ayah Antony atau Paman Antony, dirinya juga tidak akan Sudi sampai duduk bersama di meja makan lagi dengan Claudia setelah tahu Claudia itu anak kandung Ayahnya.
"Maaf, Kakek. Sepertinya aku juga akan pergi,"
Emelin terkejut mendengar perkataan Antony barusan.
"Antony! Kenapa kamu juga begitu, hah?"
"Aku hanya menuruti perkataan Ayah."
"Keponakan, kamu tidak bisa begitu. Lihat sepertinya Putramu masih menikmati makan malam ini," kata Viktor dengan senyumannya yang tidak berubah.
"Kak Thomas juga sebaiknya tidak usah pergi," katanya lagi dengan sok akrab.
Melihat senyum itu, membuat Thomas merasa semakin kesal.
Dasar munafik!!
Memang kamu pikir aku bodoh?
Kamu jelas kesini hanya untuk menjilat Ayah kami!!
Namun jika dirinya tetap tinggal, itu akan menjatuhkan harga dirinya sendiri dan seolah menerima anak haram ini, namun jika dirinya seperti Charles yang langsung pergi, itu akan memberikan kesan buruk pada Ayahnya.
Setelah berpikir sejak, lalu Thomas mulai mengalami kesempatan,
"Antony, kamu boleh disini demi Putramu, lagipula dia tidak tahu apa-apa, tidak baik merusak kesenangan seorang anak,"
Thomas lalu menyapa cucunya itu, mengelus rambutnya dengan ringan,
"Alex, ini aku Kakek Thomas, Ayah dari Papamu , ini mungkin baru pertama kalinya kita bertemu, lain kali kita akan bertemu lagi,"
"Ini Kakek? Ayah Papa? Eh? Kakek akan pergi?"
"Ya, lain kali kamu bisa main-main ke Apartemen Kakek,"
"Boleh?"
"Tentu saja boleh,"
Kemudian Thomas pergi dari sana.
Melihat suasana makan malam itu, sekarang menjadi hening, perasaan Johanes menjadi pusing.
Tidak pernah mengira jika bahkan setelah begitu banyak waktu berlalu hubungan antara Putranya tetap menjadi begitu buruk.
"Kenapa tidak kita melanjutkan makan saja, benar begitu Ayah?" Kata Viktor lagi dengan nada akrab.
"Ya, mari lanjutan saja. Maafkan kami karena memberimu suasana yang tidak nyaman, Emelin,"
Emelin yang tiba-tiba diajak bicara itu, lalu berkata,
"Tidak, tidak. Tidak masalah."
"Benar, aku belum memperkenalkan diri bukan? Aku adalah Viktor Andrson, Putra Ketiga dari Keluarga Anderson. Kamu Istri Antony kan?
Istri Keponakanku, Ah bahkan kamu sudah memiliki seorang Putra, tiba-tiba aku merasa menjadi cukup tua," katanya pada Emelin.
"Ya, salam kenal Paman," balas Emelin dengan sopan.
"Selamat datang di Kelurga Anderson.
Antony yang melihat Pamannya yang ini yang terlihat sok akrab, menjadi kurang suka.
Sepertinya itu benar-benar dibuat-buat, seolah-olah dia tidak peduli jika dia lah yang membuat kacau makan malam ini.
Namun pada akhirnya, Antony tidak berkomentar, bahkan walaupun di tanya dan di ajak bicara Pamannya ini, dirinya menjawab cukup singkat dan dingin, Emelin sendiri sedang berpura-pura mengajak bicara Alex dan menyuapinya makan, untuk menghindari pembicaran.
Dan akhirnya, malam malam itu selesai dengan cukup cepat, sampai mereka bubar.
Paman Antony segera pamitan duluan, dan pergi.
Disusul oleh Antony yang juga berniat pergi.
"Kakek, aku juga akan permisi untuk pergi dulu,"
"Ya ampun, Antony kenapa kamu buru-buru? Kenapa tidak menginap dulu? Aku masih ingin lebih dekat dengan ciciku ini, benar begitu Alex? Apakah kamu suka disini?"
"Itu benar, Alex masih ingin disini,"
"Alex, kamu tidak bisa. Bukankah kamu tahu, Mama dan Papa akan pergi besok? Kami harus segera pulang dan bersiap-siap,"
"Hpmh, kan yang pergi hanya Papa dan Mama, itu bukan urusan Alex," kata Alex terlihat cemberut.
Kakek Antony yang penasaran lalu bertanya,
"Kalian mau pergi? Pergi kemana? Dan kenapa tidak mengajak Alex?"
Namun bukannya Antony atau Emelin yang menjawab, malah Alex yang menjawab,
"Papa dan Mama katanya akan pergi sebentar demi adik Alex,"
Kakek Antony itu sedikit terteguh, lalu menatap Antony dan Emelin,
"Adik Alex?"
Wajah Emelin sedikit memerah karena merasa malu, untuk mengatakan hal-hal seperti itu!!
Alex itu ya!!
"Begitulah, Kakek. Calon anak kedua kami,"
Kakek Antony itu lalu menatap keduanya dengan seksama, dan akhirnya mengerti soal pergi berdua saja dan tanpa Alex.
"Owh, jadi begitu. Aku mengerti.... Hmm, kalian memang masih muda, masih saatnya untuk bersenang-senang,"
"Begitulah, Kakek, mumpung aku dan Emelin masih muda, harus menikmati ini selagi muda." Jawab Antony dengan ekpersi datar, sedangkan Emelin yang mendengarnya merasa malu sendiri.
Kenapa Antony ini juga tidak tahu malu?
Mengatakannya dengan nada yang bisa-bisanya terlihat biasa saja?
Kakek Antony lalu sedikit tertawa, dan berkata dengan santai,
"Jangan terlalu keras pada Istrimu. Aku juga akan menunggu kabar baiknya,"
"Itu tidak masalah. Benar bukan, sayang? Aku selalu bersikap lembut padamu,"
"Kakek, jangan dengarkan omong kosong Antony ini,"
"Ah, benar juga bagaimana jika selama kalian pergi, kalian membiarkan Alex untuk menginap disini? Dari pada dia kesepian di rumah, bukan?"
"Tidak perlu, Kakek. Nanti malah merepotkan," kata Antony.
"Merepotkan apa? Tentu saja tidak, aku sebenarnya sangat kesepian tinggal di Rumah sebesar ini sendiri, Putra-putraku sudah besar dan tinggal di luar saja, begitu Pula dengan cucu-cucuku. Ada Alex disini akan membuat rumah ini lebih berwarna,"
"Tapi Kakek..." Kata Antony ragu sambil menatap Emelin.
Emelin sendiri juga bingung.
"Alex, bagaimana jika kamu menginap di tempat Kakek buyut ini? Apakah kamu mau?"
Alex yang ditanya Kakek Buyutnya itu, lalu menjawab dengan senang,
"Tentu saja, Kakek!! Alex senang jika disini, lagipula Papa dan Mama akan pergi beberapa hari, cukup sepi di rumah. Boleh ya, Papa? Mama?"