
Ketika perjalanan menuju ke rumah, suasana hati Alex sepertinya masih belum membaik, melihat Putranya begitu cemberut dan tidak menjawab pertanyaannya, membuat Emelin semakin khawatir.
Jadi pada akhirnya dia menuturkan untuk menelepon Antony.
Dan tidak begitu lama sampai telepon itu diangkat.
"Hallo, ada apa Emelin?"
"Emm, begini aku pikir Alex cukup murung setelah pulang dari sekolah, dia tidak mau mengatakan apa-apa padaku, aku takut sesuatu terjadi disekolah, atau dia habis berkelahi dengan temannya atau sesuatu, ini membuatku cemas,"
"Benarkah? Bagaimanapun juga Alex memang masih anak-anak, mungkin terkadang dia ingin sedikit menyimpan rahasia?"
"Antony, kamu tidak melihat ekpersinya, dia terlihat sangat sedih terlihat jelas dari raut wajahnya,"
"Baiklah-baiklah, sini berikan Teleponnya pada, Alex, biar aku yang bicara,"
Tidak lama, lalu Emelin menyerahkan Teleponnya pada Alex yang duduk di sofa ruang tamu.
"Alex, lihat ini Papamu ingin bicara denganmu,"
"Papa menelepon?"
"Hmm, dia ingin berbicara denganmu,"
Tidak lama Alex lalu mengabil telepon itu.
Terlihat dari sudut Emelin, seperti Antony juga bertanya keadaan Alex.
"Tidak, tidak terjadi apa-apa di Sekolah," jawab anak itu.
"Hanya.... Hanya beberapa hal kecil yang Alex khawatirkan,"
"Nanti setelah Papa pulang, Alex akan beritahu,"
"Apa? Papa lembur? Tidak boleh, Papa harus pulang tepat waktu,"
Sepertinya percakapan Ayah dan Anak itu berjalan dengan baik, Emelin hanya sedikit mendengarkannya dari samping.
Dan tidak lama sampai Alex menyerahkan teleponnya pada Emelin, lalu dengan wajah lesu dua berkata,
"Apakah Alex membuat Mama Khawatir? Maafkan Alex,"
"Tidak, tidak sayang. Mama hanya... Hanya sedikit penasaran denganmu kenapa kamu begitu cemberut hari ini,"
"Nanti Alex akan cerita setelah, Papa pulang. Tidak usah khawatir, benar-benar tidak terjadi apa-apa disekolah, Mama bisa yakin,"
Emelin lalu tersenyum, dan mengelus ringan rambut Alex.
"Baiklah-baiklah, mari kami cuci muka dulu dan Mama akan menyimpan beberapa Es Krim untukmu,"
Alex terlihat memperbaiki ekpersinya, lalu tiba-tiba berkata,
"Mama tidak akan meninggalkan Alex kan?"
"Kamu bicara apa sih?"
"Tidak, tidak."
"Mama akan selalu bersama Alex, jadi tidak usah khawatir."
Dan begitulah percakapan siang itu berakhir.
Dengan janji kecil Mamanya, Alex merasa sedikit lega.
Alex mulai memikirkan bagaimana cara membuat Mama dan Papanya menjadi lebih dekat.
Jika mereka lebih dekat, mereka tidak akan berpisah bukan?
Dirinya juga akan menjadi anak yang baik sehingga orang tuanya tidak akan meninggalkannya.
Disini, ada sebuah tekat Dimata anak kecil itu.
####
Hari inipun cepat berlalu, saat ini Antony baru saja pulang dari kantor, sampai dirumahnya, dia langsung disambut oleh sebuah pelukan hangat dari Alex.
"Hmm, Papa akhirnya pulang," kata Alex bersemangat.
Antony sebenarnya ada beberapa hal di kantor yang harus dia urus, namun melihat sepertinya Putranya ini ingin dirinya pulang lebih awal, dirinya tidak punya pilihan lain, lagipula pekerjaan selalu bisa diurus besok.
Putranya Alex adalah yang paling penting.
Antony langsung menggendong anak itu.
"Hmm, Putra Papa terlihat sangat bersemangat. Tapi sepertinya ku belum mandi,"
Saat ini jam masih menunjukan sekitar pukul setengah tujuh.
"Alex menunggu Papa,"
"Baiklah-baiklah, mari kita mandi bersama,"
"Ya!"
Disini, lalu Alex memiliki sebuah pemikiran.
"Mama, mari ikut!"
Emelin yang dari tadi menatap menjadi kaget.
"Eh? Apa? Kamu mandi saja dengan Papamu, bukankah kamu tahu Mama sudah mandi?"
"Mama tidak membantu Alex mandi?"
Emelin lalu menatap kearah Antony.
"Bukankah sudah ada Papamu?"
"Tapi... Tapi...."
"Anak ini mulai begitu manja bukan? Mari-mari kita segera mandi, jangan ganggu Mamamu,"
Pada akhirnya, Alex mengaguk dan menuruti permintaan Papanya.
Sedangkan Emelin, dia menunggu pelayan menyiapkan makan malam di meja makan.
Biarkan ayah dan anak itu saling mengobrol dari hati ke hati, mereka berdua sepertinya sangat dekat.
Sambil menunggu dua orang laki-laki itu, Emelin lalu melihat kearah ponselnya.
Seperti biasanya, dirinya tidak lupa mengecek akun Media Sosial miliknya.
Kebetulan malam ini tidak ada siaran, dirinya sudah siaran tadi sore.
Melihat sepertinya sudah semakin banyak viewer di akun live streaming miliknya.
Respon orang-orang juga semakin baik, baik tentang dirinya atau tentang Putranya.
Setidaknya satu langkah menuju kembali ke Dunia Hiburan sudah tercapai.
Tinggal menunggu syuting film itu, berharap akan menjadi sebuah film yang cukup hebat.
Diantara beranda sosmed miliknya, disana kebetulan melihat salah satu update dari akun sosmed Perusahaan Smith.
Disana, Claudia tentu saja yang membintangi semua produk-produk ikan untuk Perusahaan itu.
Melihat ke akun mereka, ada beberapa hal penting juga gosip yang di publik soal mereka.
Dimana, kabarnya saat ini Daniel mulai terjun dan menjadi salah satu Direktur di Smith Group.
Disana juga di Syahlan bagaimana Ayahnya Resmi menjadi Ketua dadi Smith Group atas persetujuan Direksi yang lainnya.
Melihat semua hal itu, membuat Emelin menjadi marah.
Memang, dirinya benar-benar tidak mengerti hal-hal soal Perusahaan...
Memikirkan bagaimana dulu Mama dan Kakeknya berusaha keras untuk Perusahaan Smith....
Dan sekarang Perusahaan itu jauh ke orang-orang biadab itu membuat Emelin merasa bersalah.
Gara-gara dirinya yang bodoh....
Apakah tidak ada suatu hal yang bisa dirinya lakukan?
Memikirkan dirinya tidak berdaya dan tidak mengerti soal pengambil alihan Perusahaan dan lainnya benar-benar membuat Emelin pusing.
Lalu disini, sepintas, Emelin melihat kalender di ponselnya.
Disana ada catatan merah.
Benar, sebentar lagi adalah peringatan dua tahun Kakeknya meninggal.
Sepertinya besok dirinya akan mengajak Antony dan Alex untuk mengunjungi pemakaman Keluarga.
Ketika Emelin masih melamun itu, Antony dan Alex sudah selesai mandi.
Antony mengendong Alex seperti biasanya.
Emelin yang tersadar itu, lalu menyapa mereka.
"Mari kita segera makan, sini Alex biar Mama bantu untuk makan,"
Alex dengan patuh duduk disamping Emelin.
Makan malam ini berjalan dengan tenang.
"Jadi Alex sebenarnya kenapa kamu murung seharian ini?"
"Sebenarnya, tadi di Sekolah salah satu teman Alex bercerita, bagaimana orang tuanya bercerai dan berpisah, bagaimana mereka meninggalkan temanku itu lalu memilih Keluarga Baru mereka... Dia juga bercerita bagaimana awalnya sebelum orang tuanya bercerai. Mereka memiliki kamar terpisah... Dan Papa... Mama... Kalian sepertinya tidak tidur dikamar yang sama... Apakah Kalian akan berpisah juga seperti mereka dan meninggalkan Alex?"
Ketik mengatakan itu tatapan Alex terlou begitu sedih, seolah ingin menagis.
Emelin lalu bertatapan dengan Antony.
Dirinya dan Antony hanyalah menikah dalam sebuah kontrak pernikahan.
Dan suatu saat cepat atau lambat mungkin akan berakhir.
Awalnya ketika dirinya memutuskan untuk membuat Kontrak Pernikahan ini, dirinya tidak terlalu memikirkan bagaimana kedepannya.
Memiliki ikatan dengan seorang anak...
Mereka berdua sekarang memiliki seorang Putra, dan anak ini juga memiliki perasaan, dia tentu akan sedih jika melihat kedua orang tuanya berpisah.
Jika memikirkannya, ini memang terdengar sangat egois bukan?
Baru beberapa bulan lalu juga dirinya mengajukan surat cerai pada Antony.
Dan bagaimana jika saat itu Antony benar-benar tanda tangan?
Bagaimana dengan nasip Alex?
Alex hanyalah seorang anak berusia enam tahun.
Seberapa hancurnya dia jika melihat kedua orang tuanya bercerai?
Memikirkan ini setelah dirinya cukup dekat dengan Alex, membuat dirinya memiliki perasaan yang cukup rumit.
Sekarang dirinya benar-benar mengerti kenapa Antony selalu bertahan selama ini, bahkan dengan semua perlakuan buruk Keluarganya saat itu.
Dia benar-benar memperhatikan perasaan Alex.
Namun ini hanya sebuah Pernikahan Kontrak, sejujurnya dirinya juga sedikit takut untuk membuka perasaannya, soal bagaimana nasip Pernikahan antara dirinya dan Antony dimasa depan.
Dalam diam, Antony dan dirinya saling tatap.
Itu benar, itukan alasan kenapa dirinya mencoba mendekati Antony?
Untuk mempertahankan pernikahan mereka, setidaknya agar Pernikahan ini bisa bertahan selama mungkin.
Ini adalah sebuah tekat, untuk dirinya sendiri dan untuk Putranya Alex.
"Apa? Kami tidak akan meninggalkan Alex, kami akan selalu bersama Alex,"
"Benarkah?"
"Benar, apakah soal kamar terpisah? Ini hanya karena barang-barang kami cukup banyak mengerti? Kamu tidak usah khawatir, Alex. Agar kamu tidak perlu khawatir lagi, Mama dan Papamu sekarang akan tinggal dikamar yang sama terus,"
Ketika mengatakan itu, Emelin diam-diam menatap kearah Antony, namun sepertinya tidak ada perubahan ekpersi disana, namun sepertinya tidak ada penolakan.
Memang, mereka pada akhirnya harus tinggal di kamar yang sama.
Namun memikirkan ini juga membuat Emelin sedikit gugup.
"Ya, kami akan tinggal dikamar yang sama mulai sekarang," kata Antony sambil mendukung keputusan Emelin.
Alex lalu terlihat senang, mendengar kalau kedua orang tuanya sepertinya memiki hubungan yang baik dan akan tinggal dikamar yang sama.
Sebagai seorang anak kecil yang tidak tahu urusan orang dewasa, tentu saja dia hanya bisa percaya kata-kata orang tuanya itu.
"Baik, mari sekarang membantu Mama untuk memindahkan bener barang, Ke Kamar Papamu?"
Alex lalu terlihat bersemangat, dan mengiyakan.
####
Sebenarnya saat ini tidak banyak barang yang Emelin pindahkan ke Kamar Antony.
Mungkin hanya beberapa baju tidur, lagipula kamarnya hanya benar-benar ada disebelah, tidak perlu terlalu ribut pindah.
Dan dikamar Antony juga sudah ada sepasang bantal dan guling, paling hanya membawa set boneka tidur miliknya untuk dipeluk.
Itu benar, Emelin selalu memiliki kebiasaan tidur untuk memeluk sesuatu, biasanya dia memeluk boneka atau guling lucu dikamarnya, namun memikirkan dirinya akan tidur berdua dengan Antony, sekarang dia menjadi gugup.
Apalagi saat ini sekarang sudah tinggal mereka berdua yang berada dikamar. Alex sengaja sudah pergi duluan.
"Kamu merasa tidak nyaman? Apakah sebaiknya kita pindah ke Kamar mu saja?" Kata Antony mencoba meringankan suasana.
"Ti.. tidak, disini tidak masalah."
"Ah baiklah. Kalau kamu merasa tidak nyaman kamu bisa bilang,"
"Kamar ini baik-baik saja."
"Baiklah."
Lalu sekarang ada keheningan dalam ruangan itu.
Antony lalu duduk dengan santai ditempat tidur, dia mulai memakai kacamata hitam lalu fokus kearah laptopnya, sepertinya dia membawa pekerjaan kerumah?
Ekpersinya benar-benar sangat biasa, tidak ada rasa gugup sama sekali seolah-olah ini hal yang lumrah.
Apakah hanya dirinya saja yang gugup untuk tidur hanya berdua dengan Antony?
Mencoba mengalihkan suasana, Emelin juga duduk ditempat tidur lalu memainkan ponselnya.
Dua orang ada dikamar yang sama, fokus pada aktifitas masing-masing.
Namun sebenarnya, Emelin sesekali menatap kearahnya Antony.
Suasana berdua tanpa Alex memang benar-benar canggung dan sepi seperti ini.
Dirinya juga binggung mau mencoba meringankan suasana dengan apa.
Apakah sekarang dirinya mencoba merayu Antony lagi?
Tapi memikirkan rayuannya beberapa hari lalu membuat dirinya malu sendiri.
"Antony,"
Antony yang dari tadi fokus dengan laptopnya, lalu menatap kearah Emelin.
Disini, sekarang Emelin melihat wajah Antony dengan kacamata baca itu untuk pertama kalinya.
Ya ampun, dirinya baru tahu kalau Antony memakai kacamata ketika sedang bekerja.
Dan tampilan itu benar-benar sangat tampan.
"Aku baru tahu kamu memakai kacamata,"
"Ya, terkadang aku memakainya,"
"Sudah sejak lama?"
"Ya, sudah cukup lama? Aku biasanya memakai kontak lens, tapi tidak memakainya juga tidak apa-apa. Ini tidak banyak, dan aku masih melihat dengan jelas,"
Memang, sungguh aneh dirinya bersama dengan Antony untuk waktu tujuh tahun, namun bahkan tidak tau kalau Antony memakai kacamata.
"Ah, begitu."
"Apakah tidak cocok untukku memakai kacamata?"
"Apa? Siapa yang bilang begitu? Kamu cukup cocok dengan kacamata itu, kamu juga terlihat tampan, terlihat elegan dengan kacamata itu,"
Sedikit senyuman muncul diwajah dingin Antony, membuat Emelin semakin gugup.
"Benarkah?"
Awalnya Emelin malu dengan kata-katanya sendiri, namun kemudian dirinya ingat dengan tekatnya untuk mendekati Antony, harus memujinya dengan benar?
"Ya, kamu sangat Tampan. Kalau kamu sedikit lebih banyak tersenyum, kamu akan sangat-sangat tampan,"
"Kamu menyukainya?"
"Ya, ya aku menyukainya,"
Emelin yang sempat keceposan itu jadi malu sendiri.
"Jadi wajahku yang kamu sukai?"
"Hal omong kosong apa yang kamu bicarakan?"
"Aku hanya belakangan kepikiran saja, itukah alasan kamu sering mengajakku tidur bersamamu?"
"A... Apa?"
"Dulu kamu sering meminta sesuatu seperti 'Layanan Malam', apa karena wajahku?"
Mengigat kenangan masa lalu, membuat Emelin merasa malu.
"Sudah aku bilang berhenti bicara omong kosong,"
"Pfffff... Kamu terkadang bisa bersikap lucu juga,"
"Si.. siapa yang kamu bilang lucu?"
####
Bersambung