
Di salah satu ruangan di Rumah Sakit H, terlihat sesosok kecil dengan luka di kepalanya terbaring di ranjang tempat tidur.
Wajah kecil itu terlihat pucat dan tidak bertenaga sama sekali.
Seorang dokter sekali lagi memeriksa anak itu.
Antony menatap wajah Putranya dengan perasaan yang begitu sedih.
Alex putranya masih begitu kecil, kenapa bisa mengalami hal-hal seperti ini?
"Dokter, bagaimana keadaan Putra saya?"
"Saat ini keadaannya stabil. Dia hanya belum sadarkan diri karena efek obat, jadi Bapak tidak perlu khawatir. Luka yang di deritanya juga tidak parah hanya saja...."
"Hanya saja apa?"
"Kita tidak benar-benar tahu apakah akan ada efek samping dari benturan ini atau tidak, dia terjatuh cukup keras dari arah tangga, sudah sangat beruntung dia tidak mengalami gagar otak, hanya beberapa tulangnya ada yang patah, kami memberikannya obat bius agar dia tidak terlalu merasakan begitu banyak rasa sakit,"
"Patah tulang?"
"Benar, ini dibagian tangan kanannya yang terjatuh lebih dulu kelantai, dan menanggung beban yang banyak,"
"Namun selain itu tidak ada apa-apa lagi kan dokter?"
"Kita akan lihat saat dia sadar, semoga tidak ada cedera lain yang dia derita di kepalanya,"
"Kapan dia akan sadar?"
"Itu, sebenarnya saya juga masih kurang tahu, efek obat bertahan hanya beberapa jam, mungkin dia akan terbangun di tengah malam, atau bisa juga malah dia tertidur lelap sampai besok pagi. Sekarang saya permisi dulu, nanti malam akan ada Dokter Jaga yang memeriksa kondisi Putra Bapak," kata Dokter itu, lalu segera pergi bersama perawat setelah melakukan pemeriksaan pada Alex.
Antony lalu memikirkannya, memang terjatuh seperti ini merupakan hal yang begitu berat untuk anak sekecil Alex, terutama patah tulang ini...
Alex yang masih begitu kecil masih harus menanggung rasa sakit ini...
Antony menatap wajah kecil itu dengan ekpersi yang begitu sedih, lalu mengelus rambut Alex ringan.
"Alex, Putra Papa harus kuat oke?" Gumanya sambil memberi kekuatan pada anak itu.
Antony lalu duduk disamping tempat tidur Alex, dan terus mengawasi anak itu, menunggu sampai anak itu terbangun.
Namun tetap saja perasaannya masih tidak tenang.
Bagaimana dengan Emelin?
Harusnya dia saat ini tengah menjalani Operasi.
Apakah Operasinya berjalan lancar?
Apakah dia baik-baik saja?
Tapi dirinya juga tidak bisa pergi meninggalkannya Alex.
Dan apa yang akan Alex pikirkan jika dia tahu Mama nya juga tengah dalam keadaan seperti itu?
Lupakan soal hal itu, bahkan Emelin jika dia sampai tahu Alex dalam keadaan ini....
Dan juga soal dia yang keguguran itu....
Dan waktu sangat cepat berlalu, Antony lalu mendapatkan sebuah pesan dari Ayahnya, yang mengabarkan kalau Operasi Emelin berjalan dengan lancar, dan hanya menunggu Emelin sadar dari efek obat bius setelah Operasi.
Emelin sekarang dalam proses pemilihan dan tidak ada yang salah dengan kondisinya, semua baik-baik saja.
Sedikit rasa lega menghampiri hati Antony.
Hari sudah sangat malam sekarang, Antony masih menatap kearah Alex yang saat ini wajahnya sepertinya juga sudah mengembalikan kecerahannya, seolah hanya tidur lelap.
Antony yang begitu lelah seharian, dan begitu pusing memikirkan semua ini lalu jatuh tertidur disamping ranjang tempat Alex tidur.
Hanya bisa berdoa semoga semua akan baik-baik saja.
####
Disisi lainnya, yang Emelin rasakan adalah berada di kegelapan yang gelap, dan terasa mengerikan.
Sendirian disana, tidak ada siapa-siapa.
Lalu dia mulai bermimpi buruk, mimpi ketika Ibunya meninggal dulu gara-gara dirinya...
Seandainya dirinya tidak ceroboh apakah Mamanya masih akan hidup sekarang?
Masih begitu sedih ketika teringat kejadian hari itu....
Tengelam dalam mimpi buruknya itu, tidak lama kemudian dia tersadar.
Hal pertama yang dirinya lihat adalah ruangan serba putih yang familiar.
"Ukhh... Ini? Ini dimana?"
Seorang suster yang berjaga di ruangan itu, lalu mulai mendekati Emelin dan bertanya,
"Anda sudah sadar? Saat ini anda berada di Rumah Sakit. Apakah anda merasakan beberapa kelainan?"
Setelah sedikit tersadar sekarang dirinya merasakan rasa sakit yang parah di bagian perutnya, juga kepalanya yang masih sedikit pusing dan sakit.
"Ibu Emelin tunggu sebentar, saya akan segera memanggilkan Dokter,"
Suster itu lalu mencatat keluhan itu, dan segera memanggil dokter.
Emelin masih sedikit linglung didalam ruang serba putih itu.
Dirinya masih tidak tahu apa yang terjadi.
Yang dirinya ingat, saat itu dirinya sedang perjalanan menuju Restoran tempat dirinya dan Antony janji bertemu, lalu tiba-tiba, rem mobil yang ditumpanginya mengalami Blong, lalu mengalami tabrakan dengan sebuah Truk Besar, dirinya lalu tidak ingat apa yang terjadi lagi setelahnya.
Hanya saja, dirinya ingat samar-samar, kalau dirinya melihat wajah Antony, setelah kecelakaan itu.
Wajah dan ekpersi Antony begitu sedih saat itu, ekpersi yang belum pernah Emelin lihat sebelumnya.
Lalu, saat itu dirinya dengan agresif menyatakan cintanya dalam keadaan seperti itu, dan kehilangan kesadaran...
Belum tahu apa jawaban Antony...
Tunggu?
Antony?
Kemana Antony?
Kenapa dia tidak disini?
Ketika Emelin berpikir itu, dokter lalu datang, dan mulai memeriksa kondisi Emelin.
"Hmm, semua baik-baik saja hanya efek samping setelah Operasi,"
"Setelah Operasi Dokter?"
"Benar, baru saja anda mengalami luka dalam dan melakukan beberapa Operasi,"
"Luka dalam? Operasi?"
Tiba-tiba Emelin memiliki perasaan buruk.
"Lalu... Lalu bagaimana dengan keadaan kehamilan saya?"
Melihat ekpersi itu, Dokter itu lalu menatap kearah Perawat, dan Perawat itu mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Sepertinya anda belum tahu, anda barusan mengalami keguguran aktibat kecelakaan itu, dan janin dalam perut Ibu barusan diangkat,"
"Apa? Apa?? Calon anakku...."
Emelin terlihat teriak panik disana, merasa begitu frustasi dan begitu sedih.
Kehamilan yang bahkan baru dirinya tahu dua hari belakangan ini...
Rasa kegembiraan yang dirinya rasakan karena akan menjadi seorang ibu bagi anak keduanya nanti...
Bahkan kabar bahagia ini belum sampai pada Antony....
Dan tiba-tiba seolah kebahagiaan begitu singkat, dan calon anaknya ingin menghilang...
Kenapa...
Kenapa ini harus terjadi...
Emelin lalu menagis dengan frustasi disana.
"Nyonya Emelin harus tenang," kata perawan menangkannya.
Emelin lalu bertanya,
"Apakah... Apakah Suami saya tahu soal hal ini?"
"Suami Ibu sudah tahu, dia yang menyetujui soal Operasi ini,"
"Lalu... Lalu di amana dia? Aku... Aku ingin bertanya dengannya..."
Benar...
Bahkan kalaupun ini adalah hal yang sedih, dirinya masih ingin bertemu dengan Antony.
Tidak tahu bagaimana relasi Antony nanti, dirinya juga tidak tahu harus bersikap seperti apa nanti didepan Antony....
Harusnya ini akan menjadi kabar baik....
Namun kenapa malah menjadi kabar buruk?
"Setelah surat persetujuan Operasi, sepertinya Suami Ibu pergi, dan belum kembali hingga saat ini,"
"A... Apa?"
Sekarang perasaan takut muncul dalam hati Emelin.
Apakah...
Apakah Antony marah padanya?