
"Apa kamu bilang? Kamu hanya bisa mengeluh saja bisanya! Kamu tidak membantuku sama sekali, hanya bisa meminta uang dan uang, apakah isi otakmu itu hanya uang?" kata Alvan dengan marah.
"Alvan! Kamu menjadi semakin menyebalkan sekarang!" Kata Cornelia yang berdiri dari kursinya lalu pergi meninggalkannya Alvan dimeja makan sendirian.
"Cornelia!! Kamu sekarang berani padaku?"
"Kamu sendiri Alvan! Jadi Laki-laki tidak berguna!"
Kata-kata itu benar-benar membuat hati Alvan terasa terpukul.
Disaat-saat berat dalam hidupnya ini bukannya didukung, dirinya malah hanya dicaci maki.
Alvan di meja makan itu tiba-tiba merasa tidak punya selera makan lagi.
Putrinya, sepertinya terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, dan Istirnya juga hanya bisa marah-marah soal uang.
Seolah tidak ada yang peduli padanya dirumah ini.
Tidak tahukan mereka? Kalau dirinya ini sangat dalam suasana hati yang buruk.
Perusahan semakin kacau dan membuat dirinya pusing.
Namun mereka berdua seolah tidak ada yang peduli atau bertanya tentang keadaannya.
Putrinya Claudia hanya masih marah padanya soal bagaimana dirinya tidak bisa menghilangkan hal-hal di Internet.
Sedangkan, Cornelia hanya uang yang ada dipikirannya itu!!
Semakin kesini dirinya kadang tidak mengerti lagi soal Cornelis itu.
Tiba-tiba saja Alvan mengigat hal-hal dimasa lalu.
Ada ketika dirinya juga dalam keadaan buruk, setelah gagal mendapatkan proyek, juga setelah dapat beberapa makian dan dimarahi oleh Ayah Mertuanya itu.
Dirinya yang lelah, itu disambut oleh Putrinya Emelin,
'Ayah sepertinya tidak dalam suasana hati yang baik? Lihat Emelin membuatkan Ayah coklat hagat, mungkin Ayah akan sedikit merasa lega. Ayah jangan sedih ya? Jika ada masalah Ayah selalu bisa bercerita pada Emelin,'
Beberapa perhatian kecil dan senyum berharga itu tiba-tiba dirinya rindukan.
Walaupun dirinya memperlakukan Emelin cukup dingin dari dulu, namun Putrinya itu selalu tetap ada disisinya dan memihaka padanya, selalu memberikan perhatian kecil, dan selalu mencoba mencari cara untuk menenangkan hatinya.
Dia bahkan selalu begitu perhatian dan membela dirinya didepan Kakeknya, membuat beberapa masalah menjadi lebih ringan.
Tiba-tiba sebuah perasaan rumit muncul ketika mengigat Emelin lagi....
Wajah yang mirip dengan Ibunya itu selalu membuat dirinya merasa muak...
Yah...
Bahkan terkadang ketika melihat Emelin dirinya teringat bagaimana Olivia menjebaknya untuk tidur dengannya, seolah Emelin adalah bukti nyata tindakan Olivia.
Tapi jika memikirkannya, itu memang bukan salah Emelin kenapa dia memiliki wajah seperti itu...
Bahkan dengan perlakuan dingin darinya, Emelin tetap selalu tersenyum dan akan selalu menghiburnya ketika dirinya kesusahan...
Apakah dirinya selama ini terlalu tidak adil pada gadis itu?
Mengambil semua yang seharusnya menjadi miliknya.....
Seolah-olah dirinya tiba-tiba ditampar oleh rasa bersalah.
Tapi ini tetap salah Olivia!!!
Bahkan ketika masalah belum selesai, Olivia sudah pergi begitu jauh...
Membuat dirinya tidak tahu lagi kemana mengarahkan kebencian yang dirinya miliki ini...
Ketika Alvan melamun sendiri, sebuah telepon tiba-tiba datang.
"Ya, ada apa?"
"Pak Presdir kami mengabarkan jika ada kecelakaan di Proyek, karena hal ini salah satu bangunan runtuh dan memakan beberapa korban jiwa,"
"Apa? Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Sepertinya ini karena kita membeli bahan-bahan yang cukup murah sehingga membuat bangunan rapuh. Saat ini kerugian yang di taksir melebihi dana yang kita miliki.... Ini..."
"Apa kamu bilang???"
Proyek itu adalah satu-satunya harapan Perusahaan...
Karena Kecelakaan ini...
Tidak hanya kemungkinan gagal proyek, namun juga harus ada banyak ganti rugi yang harus Perusahaan Keluarkan.
Belum lagi, itu bisa menurunkan kepercayaan pada Perusahaan ini....
Membuat Investor bisa saja menarik lebih banyak uangnya.
Jika ini sampai tersebar....
Hah....
Kenapa semua menjadi semakin berantakan?
Belum masalah utang selesai, sekarang ditambah hal-hal ini...
Seolah jatuh masih tertimpa tangga...
Kenapa hidupnya menjadi semakin sulit?
Sekarang apa yang harus dirinya lakukan dengan semua ini?
####
Di tempat lainnya, Antony yang sarapan dengan damai bersama Keluarganya juga mendapatkan kabar soal kecelakaan di Proyek Perusahaan Smith ini.
Dirinya tidak tahu apakah harus senang ataukan merasa ini terlalu ironis.
Seoalah-olah Perusahaan Smith itu benar-benar tidak membiarkan dirinya di pegang oleh Ayah Emelin, dan hancur dengan sendirinya perlahan-lahan.
"Antony ada apa?"
"Tidak, hanya mendengar beberapa kabar menarik,"
"Apa itu?"
"Aku dengar Di Perusahaan Smith terjadi Kecelakaan Proyek yang menimbulkan banyak kerugian, sepertinya Ayahmu akan pusing dengan hal ini,"
"Hah... Biar dia tahu rasa itu akibatnya memakan harta orang, hah,"
"Tapi itu masih Perusahaan Kakekmu dulu,"
Emelin lalu terdiam,
"Tapi memang tidak ada cara untuk mendapatkannya kembali?"
"Aku rasa itu cukup sulit,"
Antony sebenanya memiliki beberapa ide lagi, saat ini dengan bantuan Paman Radit, dirinya berhasil mendapatkan rekaman penyelewengan dana di masalalu oleh Ayah Emelin.
Ini bisa juga diperkarakan untuk memenjarakannya...
Tapi sebelum itu...
Ada hal lain yang juga harus dirinya urus...
Ini bisa menjadi momentum yang tempat untuk Akusisi Perusahaan....
Dan soal Uang hasil Akusisi nanti....
Tentu saja dirinya tidak akan benar-benar membirakan Ayah Emelin itu mendapatkannya.
Pasti ada caranya.
"Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya, jangan membuat dirimu pusing sendiri, fokus saja dengan karirmu," kata Antony mencoba menenangkannya.
"Baiklah,"
Biarkan dirinya saja yang mengurusnya, dan ini akan menjadi kejutan untuk Emelin ketika semua selesai.
####
Bersambung