
Pagi ini, seperti biasanya Alex pergi ke Sekolahnya dengan diantarkan oleh Mamanya dengan perasaan gembira.
Alex sangat senang bagaimana kemarin semua berjalan dengan lancar, dan dia dipuji oleh Mamanya, bahkan mendapatkan teman baru yang lucu.
Hari ini bakan Mamanya juga membuatkannya sebuah bekal yang bisa dirinya pamerkan pada teman-temannya betapa baiknya Mamanya ini.
"Alex disekolah belajar yang baik ya," kata Emelin sambil mengatar Alex ke gerbang sekolah.
"Tentu saja, Alex akan belajar yang baik,"
"Jangan lupa makan makan siangmu sampai habis, Mama juga menyiapkan beberapa makanan ringan untuk beberapa teman-teman sekelasmu, sekalian bagikan untuk mereka,"
"Mama tidak perlu membagikan makanan pada teman-teman sekelasku,"
"Kamu tidak bisa begitu, kamu harus akrab dan berteman dengan mereka,"
"Hmm, tapi tidak perlu repot-repot, toh mereka akan tetap mendekatiku,"
"Ya ampun, Putra Mama ini sepertinya populer! Apakah ada juga seorang gadis kecil yang mendekatimu?"
Telinga Alex sedikit memerah karena malu.
"Gadis kecil apa? Ti.. tidak ada yang seperti itu,"
Emelin yang merasa gemas sedikit mencubit pipi Alex.
"Ya ampun, kamu masih begitu lucu,"
Dan begitulah rutinitas pagi mereka, lalu Alex pergi meninggalkan Emelin digerbang dan memasuki sekolahnya.
Di ujung Kelas, ada beberapa siswa yang tadi mengintip melihat Alex dan Mamanya.
Anak-anak ini adalah teman-teman Alex, yang sepertinya selalu penasaran akan Mama Alexander itu, jadi mereka ingin melihatnya, namun terlalu malu untuk muncul, jadi hanya bisa melihat dari samping.
Alex yang sudah didekat kelas itu lalu mulai dikerumuni oleh anak-anak itu.
"Ah, Alex itu tadi Mamamu?" Kata seorang bocah kecil yang sedikit lebih tinggi dari Alex.
"Hmm, dia Mama Alex,"
"Dia sangat cantik sekali," puji anak itu.
"Tentu saja, kan aku selalu bilang kalau Mama Alex adalah yang paling cantik!!"
Seorang teman lainnya lalu menimpali,
"Iya, dia sangat cantik... Kalau aku tidak salah ingat, dulu aku pernah melihatnya di televisi, apakah aku benar?"
"Itu benar, Mamaku sebenarnya sangat populer,"
"Mamamu begitu keren, Alex, itu membuatku sedikit iri, apalagi dia membuatmu bekal bukan?"
"Ya! Lihat ini adalah bekal dadi Mamaku, dia juga membawakan sesuatu untuk kalian,"
"Benarkan?"
"Mari kita masuk kelas,"
Rombongan tiga orang itu lalu langsung masuk ke kelas ketempat duduk disekitar Alex.
Mereka menatap bagaimana Alex mengeluarkan satu kotak kue kering disana.
Dilihat dari bungkus kue itu sangat lucu, dan ketika dibuka ada beberapa kue kering berbentuk aneka macam karakter anime yang lucu.
"Mama mu yang membuat ini?"
"Itu benar, Leon, Mamaku memang sangat hebat," kata Alex dengan bangga.
"Hoahh... Aku juga ingin segera memakannya," kata Leon dengan antusias.
Disini, taman Alex yang lainnya langsung mengambil kue itu.
"Ya ampun, Rio kamu jangan langsung ambil!"
Rio mengabaikan kata-kata Alex dan langsung memakan kue itu.
"Ini enak sekali,"
Leon yang penasaran langsung ingin ikut mengambil kue itu.
"Iya benar, ini sangat-sangat enak. Aku benar-benar merasa iri padamu Alex, coba saja Mamaku juga membuatkan sesuatu seperti ini padaku...."
"Mamamu tidak membuatkanmu sesuatu, Leon?"
"Apakah kamu tidak tahu situasi Keluargaku? Mamaku baru saja menikah lagi, dan sekarang aku ditinggalkan di rumah Kakek dan Nenek, Ayahku sudah memiliki Keluarga barunya sejak beberapa bulan lalu. Memikirkan kedua orang tuaku yang meninggalkanku seperti ini membuatku sedih,"
"Leon, kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Orang Dewasa memang terkadang tidak masuk akal," kata Rio mencoba menghiburnya.
Alex baru tahu soal situasi Keluarga Leon, dirinya awalnya tidak begitu dekat dengan siapapun, namun dua anak-anak ini begitu gigih untuk ingin berteman dengan dirinya, dan pada akhirnya mereka berteman.
Namun dirinya tidak tabu banyak soal Keluarga mereka.
"Orang tuamu... Berpisah?" tanya Alex.
"Iya, mereka berpisah tahun lalu. Sebelumnya aku selalu berpikir kalau mereka berdua akan selalu bersamaku, mereka selalu bersikap begitu baik ketika bersamaku, dan hubungan mereka terlihat baik-baik saja, hanya saja mereka sepertinya agak sibuk, jadi aku memaklumi mereka, siapa yang tahu, tidak ada apa-apa yang terjadi, mereka tiba-tiba bercerai.... Atau mereka menyembunyikan dariku..." Kata Leon dengan sedih.
"Mereka Bercerai?" Alex cukup kaget mendengar ini.
"Itu benar, mereka berpisah dan bercerai lalu meninggalkanku sendirian. Sekarang mereka memiliki Keluarga Baru mereka... Mungkin dimasa depan mereka akan melupakanku...."
"Sudah-sudah, kamu jangan sedih Leon, kamu masih punya kami oke? Kami akan terus bersamamu! Benar begitu Alex?" Kata Rio mencoba menyemangati Leon.
"Itu benar, jangan bersedih lagi." tambah Alex mencoba ikut menghiburnya.
"Itu benar aku masih memiliki Kakek dan Nenekku... Namun tetap saja...."
"Mari kita makan kue ini dulu, kami bisa menghabiskannya kalau kamu mau," hibur Alex.
Disana lalu anak-anak itu lalu menikmati camilan pagi mereka, toh bel sepertinya masih lama.
Setelah makan beberapa kue kering, Leon sepertinya sedikit terhibur, lalu dia kembali bercerita,
"Aku belakangan memikirkan ini. Sebenarnya walaupun orang tuaku terlihat baik-baik saja sebelumnya, namun mereka sepertinya tidak tidur dikamar yang sama, aku pikir awalnya semua orang begitu,"
"Eh? Bukankah memang terkadang begitu?" Tanya Alex penasaran.
"Belakangan aku bertanya pada sepupuku, kalau orang tuanya tidak bergitu, kalau orang tuanya selalu ada dikamar yang sama dan tidur bersama,"
"Itu benar, orang tuaku juga selalu tidur dikamar yang sama," kata Rio menambahkan.
"Iya kan? Aku juga baru tahu belakangan ini.... Kalau seseorang saling mencintai mereka akan berada dikamar yang sama, namun orang tuaku tidak, jadi mereka bercerai...."
Alex disini memikirkannya, lalu tiba-tiba menjadi takut.
Tunggu dulu....
Mama dan Papanya....
Mereka memiliki kamar masing-masing....
Bagaimana jika mereka juga akan bercerai dan meninggalkannya?
Bagaimana ini....
Bagaimana ini...
Alex yang memikirkannya menjadi panik dan cemas sendiri.
"Kamu kenapa, Alex?"
"Mama dan Papaku.... Mereka memiliki Kamar sendiri dan tidak tidur bersama...."
"Ya ampun, Alex bukankah itu gawat? Ah... Bagaimana jika mereka seperti orang tuaku...." Kata Leon ikut panik.
"Ti... Tidak.... Mereka tidak akan berpisah,"
"Namun sebelumnya, orang tuaku juga bilang begitu padaku, namun lihat? Sekarang mereka memiliki Keluarga sendiri,"
"Leon, kamu jangan menakut-nakuti Alex seperti itu,"
"Baik-baik, maafkan aku Alex. Aku juga tidak tahu, urusan orang dewasa sangat rumit,"
Percakapan kecil itu berakhir karena kelas akan segera dimulai.
Namun dari awal kelas, Alex terus kepikiran soal ini.
Dia mulai memikirkan bagaimana sebenarnya hubungan orang tuanya sepertinya tidak begitu baik, dan bagaimana mereka berada dikamar terpisah.
Bagaimana kalau mereka benar-benar bercerai dan meninggalkannya?
Memikirkannya hal itu seharian, membuat Alex memiliki mood yang buruk, dan tidak fokus, dia bahkan menjadi tidak berselera makan.
"Alex, kenapa kamu tidak memakan bekalmu? Untukku saja bagaimana?" Kata Leon.
"Alex, kamu biasanya tidak seperti ini," tanya Rio heran.
"Aku masih memikirkannya soal tadi pagi...."
Leon dan Rio lalu saling bertatapan,
"Kamu jangan terlalu memikirkannya," hibur Leon, dirinya jadi merasa bersalah karena menakut-nakuti, Alex, namun dirinya hanya mengatakan fakta yang sebenarnya bagaimana orang tuanya bercerai.
"Lihat-lihat, bukankah saat ini Mama dan Papamu masih bersama? Bagaimana kalau kamu membuat mereka berdua lebih akrab? Mama dan Papaku selalu berada dikamar yang sama dan mereka selalu akrab dan baik-baik saja, buat saja mereka berada dikamar yang sama!"
"Ah? Itu terdengar ide yang bagus," kata Leon setuju.
Alex lalu memikirkannya, itu benar sebenarnya Mama dan Papanya masih mau berada dikamar yang sama jika ada dirinya bersama mereka, namun sepertinya mereka akan berada dikamar masing-masing jika tidak ada dirinya?
Apakah dirinya meminta tidur dengan mereka setiap hari?
Namun....
Sepertinya itu tidak menyelesaikan masalah?
Ah....
Kenapa urusan orang dewasa begitu rumit?
Dirinya tidak mengerti.
Yang dirinya inginkan hanyalah dirinya bisa bersama terus dengan Papa dan Mamanya, karena dirinya sangat menyayagi mereka.
Ditengah Kekhawatiran, akhirnya hari benar-benar berjalan dengan cepat.
Sampai Alex dijemput pulang oleh Emelin, melihat wajah Putranya sepertinya tidak seperti biasanya, tidak bisa membantu Emelin tidak bertanya-tanya,
"Ada apa denganmu? Apakah ada hal yang buruk yang terjadi disekolah?"
Alex hanya menggelengkan kepalanya.
Melihat Alex tidak menjawab, membuat Emelin jadi khawatir.
Apakah ada insiden Pembullyan disekolah atau sesuatu?
Kadang-kadang anak kecil memang suka melakukan bercanda yang keterlaluan.
"Alex, jika ada sesuatu kamu selalu bisa bercerita dengan, Mama,"
"Tidak ada apa-apa disekolah, semua baik-baik saja,"
"Terus, kenapa Wajahmu terlihat begitu murung?"
"Tidak, hanya Alex cukup lelah saja belajar,"
Melihat Putranya yang biasanya aktif ini menjadi pendiam tentu saja Emelin khawatir.
Dirinya memang tidak begitu sedekat itu dengan Putranya ini, dia mungkin lebih dekat dengan Papanya?
Apakah dirinya sebaiknya menelepon Antony?
Tapi saat ini sepertinya Antony sedang sibuk dikantornya.
Baik, mungkin Alex hanya benar-benar lelah saja?
Bagaimanapun juga, ketika banyak tugas disekolah, semua orang juga akan merasa tidak enak.
Dulu dirinya juga paling benci jika ada begitu banyak tugas ketika disekolah.
Dirinya benar-benar tidak suka belajar.
Mana dulu guru-guru begitu cerewet soal harus dikumpulkan pula.
Terutama ketika dirinya SMA...
Tugasnya begitu mengunung bahkan sejak masih awal kelas satu.
Dulu terpaksa kadang dirinya pergi ke perpustakaan mencari beberapa buku karena beberapa tugas menyebalkan.
Bicara soal masa sekolah menengah atasnya, dan perpustakaan, dirinya jadi ingat dulu sepertinya ada Kakak tingkat yang sangat rajin belajar dan selalu ada di perpustakaan.
Dia selalu mengenakan kacamatanya, dan begitu fokus membaca ketika dirinya kadang lewat perpustakaan, dan melihatnya dari baik jendela.
Kata teman-teman sekelasnya sih, itu Kakak tingkat yang mendapatkan beasiswa agar masuk sekolahnya.
Dan soal wajahnya...
Sepertinya sedikit tampan?
Karena sudah begitu lama, dirinya juga jadi tidak begitu ingat.
Owh, kenapa dirinya jadi teringat akan kenangan-kenangan lama?
Dirinya harus fokus pada hal lainnya bukan?
Tapi kalau mengigat soal masa SMA ini membuatnya sedikit penasaran, ketika Antony masih sekolah, dia seperti apa ya?
Lupakan-lupakan, kenapa dirinya jadi memikirkan Antony lagi?
Akhhhh seperti akhir-akhir ini selalu memikirkan orang itu.
Fokus, Fokus, mari fokus pada Alex!!
####
Bersambung
####
Terimakasih atas dukungannya selama ini ya, 😆😆
Berkat kalian ku jadi semangat buat Update Tiap hari, 😆
Nantikan terus kelanjutannya, 😉