
Emelin tentu saja terkejut mendengar itu langsung dari Antony, bahwa dia benar-benar berasal dari Sekolah Menengah Atas yang sama.
"Ya ampun, itu sama seperti SMA milikku, aku tidak mengira kita dulu pernah satu angkatan,"
Antony, yang memang sudah tau dari awal dan ingat soal pertemuan jaman SMA dengan Emelin, berpura-pura sedikit tidak tahu.
"Owh? Benarkah? Kamu berasal dari SMA Elite Y juga?"
Sebenarnya Antony berniat mengejutkan Emelin nanti saat acara reuni, tapi sudahlah lain kali saja bisa mengunakan ini untuk mengoda Emelin.
"Iya, aku tidak mengira. Berati kamu Kakak kelasku ya?"
"Seharusnya begitu,"
"Tapi bagaimana kamu bisa sekolah disana? Maksudku... Ku tahu kan Sekolah itu...."
Antony lalu memikirkan bagaimana dirinya bisa masuk SMA itu.
Itu adalah kisah yang panjang...
Tapi alasan dan latar belakang kenapa dirinya ingin masuk ke SMA itu, Antony tidak begitu ingin mengigatnya.
"Beasiswa,"
"Ah begitu, aku dengar mendapatkan beasiswa disana cukup sulit, kamu pasti sudah berusaha keras, kamu dulu pasti siswa yang pandai dan sangat rajin, sangat bagus sampai bisa masuk ke SMA itu, dengan caramu sendiri,"
"Kamu tidak bertanya kenapa aku ingin masuk kesana?"
"Apakah itu penting? Semua orang tentu saja punya keinginannya sendiri, apapun alasannya kamu telah berhasil masuk kesana dengan usahamu sendiri, itulah yang paling penting, kamu sudah berusaha keras,"
Kata-kata simpel dari Emelin menghangatkan hati Antony.
Tidak banyak orang yang memberikan pujian padanya ketika dirinya berhasil masuk kesana, beberapa orang bahkan menuduhnya masuk kesana dengan maksud tertentu, seperti untuk mengoda gadis-gadis kaya atau sesuatu....
Dan seseorang tertentu juga tidak menghargai usahanya yang begitu keras untuk bisa masuk kesana.
Jadi mendapatkan pujian tiba-tiba dari Emelin ini, membuat Antony merasa cukup senang.
"Hmm, ya." Kata Antony singkat sambil membelai rambut Emelin.
"Ukhhh? Apa-apaan?" Respon Emelin kaget melihat sikap Antony yang tiba-tiba.
"Papa, Mama? Apa yang Papa dan Mama bicarakan?" Tanya Alex yang dari tadi menikmati makanannya sendiri, sekarang menatap kearah orang tuanya yang asik mengobrol itu.
Antony lalu tersenyum dan menjawab Alex,
"Kami hanya sedang membicarakan kalau dulu kami pernah satu Sekolah,"
"Wah... Papa dan Mama satu Sekolah? Itu terdengar sangat keren!! Apakah kalian bertemu saat itu?"
"Tentu saja kami pernah bertemu," kata Antony tanpa sadar.
Emelin menatap Antony dengan pandangan binggung.
Melihat tatapan Emelin, Antony jadi sadar kalau dirinya keceposan.
Ooppsss
Harusnya dirinya tidak bilang sekarang.
Antony lalu memberikan kedipan pada Emelin seolah sebuah tanda, namun Emelin tidak mengerti.
"Jadi bagaimana Papa dan Mama bertemu ketika masih di Sekolah?" Tanya Alex dengan tatapan yang antusias.
Antony tersemyum mengoda, karena sudah ketauan, kenapa tidak langsung saja?
"Hmm? Bagaimana ya? Saat itu Mamamu adalah siswi paling mencolok di antara siswi baru, dengan rambut yang di cat pirang itu. Papa melihat Mamamu, namun mungkin saat itu Mamamu tidak tahu Papamu,"
Ya, kalau mengigat tentang kenangan masa SMA, memang tidak banyak yang terjadi pada pertemuannya dengan Emelin.
Mereka hidup didunia yang berbeda, Emelin adalah seorang Nona Muda Kaya dari kalangan Atas, salah satu siswi paling populer di Sekolah. Dan dirinya hanya siswa miskin yang mendapatkan beasiswa.
Apalagi mereka beda angkatan, dan tidak ada tempat untuk saling menyapa, kecuali beberapa pertemuan kecil dengan Emelin dulu di Perpustakaan.
Itupun mereka tidak pernah saling berkenalan.
Mungkin bagi Emelin, dirinya hanya akan menjadi salah satu dari puluhan teman yang dia lihat di sana, dan tidak benar-benar mengigat dirinya atau memiliki beberapa kesan.
Dirinya kebetulan ingat Emelin, karena dia begitu mencolok saat itu.
"Mama dulu mewarnai rambutnya? Seperti apa Mama saat itu? Alex ingin melihatnya... Ah..."
Antony lalu menatap Emelin,
"Apakah kamu tidak memiliki beberapa foto lama?"
"Jadi.... Jadi kamu melihat ku saat itu? Saat aku mewarnai rambut ku? Kamu tahu itu aku??"
Wajah Emelin memerah karena begitu malu.
Antony pernah melihatnya ketika saat-saat memalukan!!!
Tunggu...
Namun dirinya tidak pernah bertemu Antony?
"Kamu begitu mencolok saat itu, ketika sering berganti warna rambut dan dandananmu... Ya semua orang di Sekolah pasti memiliki kesan ketika melihatmu, tidak hanya aku."
"Kenapa kamu tidak pernah bilang? Ahhhh.... Jadi apakah kamu sudah tahu kita satu sekolah sejak kita menikah dulu?"
Emelin menutupi wajahnya saking malunya.
Sebelum Antony menyelesaikan kata-katanya, Emelin menutup mulut Antony dengan tangannya.
"Jangan!! Sungguh jangan katakan lagi soal hari-hari itu!!"
Melihat wajah Emelin memerah itu, Anting benar-benar tidak tahan untuk menggodanya. Antony lalu mengabil tangan Emelin, mencium tangan itu dengan bibirnya lalu berkata,
"Kamu cantik saat itu, kamu bahkan begitu populer sampai kalangan Angkatanku, apa yang membuatmu malu, hmm? Dan dahan model rambutmu yang sekarang kamu tetap masih cantik,"
Antony sekali lagi, mencium telapak tangan Emelin, begitu lembut dan halus, sedikit mengodanya dengan tatapannya.
Emelin yang merasakan bibir hangat dan lembut di telapak tangannya, wajahnya sudah memerah dan malu.
"A... Apa-apa?!? Jangan mengodaku seperti itu Ah...."
Emelin langsung menarik tangannya, kemudian lari dari sana, melarikan diri.
Membuat Antony dan Alex yang masih dimeja makan menjadi binggung.
"Kenapa dengan Mama, Pa?"
"Dia hanya sedikit malu."
"Alex tidak mengerti."
"Ya ya, kamu tidak perlu mengerti sekarang ini hal-hal orang dewasa oke?"
"Hpmh, ya ya, Alex tahu."
"Btw, bagaimana kalau malam ini Alex pergi tidur sendiri?"
Ekspresi Alex menjadi cemberut, lalu berkata,
"Tidak mau!! Alex kan ingin tidur dengan Papa dan Mama,"
"Ya ampun, Alex kamu tidak ingin seorang adik?"
Alex berpikir sejenak,
"Hmm, aku sudah memikirkan ini dan membahas dengan teman-temanku, mereka bilang memiliki adik bisa merepotkan, nanti semua perhatian hanya akan pada adik Alex, dan Alex diabaikan, Alex tidak ingin di abaikan! Alex tidak jadi ingin adik! Besok kalau Alex sudah besar saja,"
Antony tidak habis pikir dengan Putranya ini, tempo hari sepertinya dia sangat mengiginkan seorang adik kenapa sekarang begitu cepat berubah pikiran?
Pada akhirnya, tidak ada apa-apa malam itu, dan Keluarga kecil itu tidur bertiga dengan nyaman.
####
Di pagi hari berikutnya, Emelin juga sudah melupakan hal-hal memalukan kemarin, lalu hanya bertanya pada Antony,
"Kamu dapat Undagan Reuni juga?"
"Ya, aku dapat. Kenapa?"
"Kamu berencana datang?"
"Mungkin? Bagaimana denganmu?"
"Aku ingin datang.... Tapi.... Aku ada jatwal hari itu, mungkin aku akan telat."
"Baik, aku juga akan datang, mari bertemu disana nanti,"
"Oke-oke, kita bertemu disana nanti, sebenarnya aku ingin memperkenalkanmu pada teman-temanku.... Kamu tahu, aku memiliki begitu banyak pengalaman cinta yang buruk, aku malu jika aku datang kesana sendirian,"
Antony lalu tertawa,
"Hmm, baik-baik, aku ikut kamu saja."
Dengan itu janji untuk bertemu di Reuni telah dibuat.
Mereka memiliki rencana sendiri-sendiri.
Antony lalu pergi ke Kantor seperti biasanya.
Dia mengcek ponselnya, disana ada beberapa pesan, salah satunya dari nomor tidak dikenal menanyakan apakah dirinya akan datang ke Reuni atau tidak.
Hmm, sepertinya ini nomor Isabella?
Tidak penting juga sih, tapi kemarin Isabella bilang, harus mengkonfirmasi kehadiran?
Ya karena Antony tidak tahu siapapun dari teman-teman SMA nya, dengan sangat terpaksa dia mengirimkan pesan ke Isabella.
'Aku akan datang ke Reuni, tolong beritahukan konfirmasi kehadiranku ini pada Panitia.'
Bagaimanapun juga dirinya sudah janjian dengan Emelin.
Tidak lama, ada pesan balasan yang terlihat sangat antusias.
'Mari berangkat bersama,'
'Tidak perlu.'
'Baiklah-baiklah, mari bertemu disana saja,' balas Isabella lagi, namun Antony tidak membalas pesan itu lagi.
Tidak penting untuk membalas pesan ini.
Hanya, cukup menantikan acara Reuni besok.
####
Bersambung