Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Episode 166: Apartemen Raka


Setelah berpisah dengan Menejernya, Emelin kembali ke Perusahaan Anderson bersama Raka, mereka menuju tempat parkir untuk mengambil mobil Raka.


"Raka, cepatlah jalan aku ingin segera makan mangga itu,"


Raka yang masih santai itu terlihat mulai menatap Emelin dengan tatapan aneh,


"Kak Emelin tidak sabar amat, lagian kenapa kakak tiba-tiba dimakan mangga, aneh deh. Padahal ya tidak ada angin tidak ada badai,"


"Sudahlah kamu diam saja Raka, cepat mana mobilmu!"


"Itu warna putih di ujung tempat parkir,"


Emelin melihat kearah yang ditunjukan oleh Raka, disana ada mobil sport berwarna putih yang ter parkir menyendiri di sana.


Emelin segera menuju mobil itu dengan buru-buru, entah kenapa sekarang dirinya benar-benar sangat mengiginkan mangga itu!


Harus memakannya secepatnya!!


Raka dengan lesu menyusul Emelin dengan berlari, Emelin berjalan cukup cepat sampai-sampai dia sepertinya tersandung sesuatu dan hampir jatuh disampaig mobil Raka, namun untungnya Raka menangkapnya dalam pelukannya.


"Ah, Kakak tidak hati-hati! Nanti Kakak jatuh, terus terbentur mobilku bagaimana? Bagaimana kalau Mobil tersayangku ini lecet? Ya ampun, My Beby untung kamu tidak apa-apa," kata Raka setelah langsung melepaskan Emelin yang sudah sudah berdiri dengan benar, dan langsung menghampiri mobil tersayangnya tersebut, dan mengelusnya.


Emelin menatap Raka dengan kesal, lalu menendang mobil itu.


"Ahh.... Tidak.... My Beby, Honey Sweetyku, Kenapa Kak Emelin menendang Honeyku? Ya ampun, Honeyku jadi lecet kan,"


"Dasar lebay, makan tuh Beby mu, patas sana tidak punya pacar. Bukannya khawatir padaku malah khawatir dengan mobilmu,"


Raka seteleh melihat mobilnya yang masih terlibat kinclong itu lalu menatap Emelin,


"Habis ya Kak Emelin sendiri sih, pakai acara tidak hati-hati segala, jadi hampir jatuhkan? Untung ada aku,"


"Sudah cepat, buka mobilmu,"


Raka lalu segera membuka pintu depan mobil.


"Yang belakangan,"


"Aku bukan sopir Kak Emelin, jadi Kakak duduk didepan, hphm," kata Raka lalu langsung masuk kedalamnya, disusul Emelin yang juga langsung duduk disamping Raka.


Tanpa mereka sadari, ada tatapan mata yang menatap mereka.


Sedangkan Emelin dan Raka terlihat damai menuju Apartemennya Raka.


Tidak lama sampai mereka tiba di Apartemen Raka.


Ini adalah sebuah gedung Apartemen Mewah yang cukup tinggi.


Ketika memasuki Apartemen, mereka di sambut dengan ramah oleh para pegawai disana.


Lalu, Raka mengajak Emelin ke lift khusus disana.


Lift ini berbeda dengan lift lainnya, lift ini memiliki kaca transparan yang memperlihatkan penandatanganan di luar, akan terlihat sangat indah jika itu malam hari.


"Lift ini benar-benar sesuatu,"


"Cukup indah bukan?"


"Benar,"


Emelin sedikit menikmati pemandangan dari sana.


Cukup lama mereka berada dalam lift itu, sampai sepertinya lift berhenti dilantai paling atas.


Mereka lalu keluar dari lift itu dengan santai,


"Raka, kamu benar-benar sangat bergaya sekali tinggal di Penthouse,"


"Ya, tentu saja Tuan Muda Raka ini harus tinggal di tempat terbaik seperti ini,"


"Benar-benar kebanyakan gaya,"


"Biarin, kan memang bisa bergaya. Tidak tahukan Kakak betapa susahnya membujuk Kakek agar mengijinkanku tinggal disini? Astaga, merayunya saja cukup sulit,"


"Jelas, aku paham kesulitan Kakekmu, melihat kamu ingin tinggal sendiri di Apartemen hal-hal merepotkan apa yang mungkin bisa kamu buat? Astaga, Astaga,"


"Huh, Kak Emelin menyebalkan."


Mereka lalu memasuki Apartemen itu, dan memang desain Apartemen itu sangat mewah dan indah, dan lagi ada sebuah kaca teransparan juga yang menunjukan penandatanganan kota dari atas sini.


Emelin melihat-lihat sekitar, lalu duduk di Sofa bahkan sebelum diperselahkan.


"Tiba-tiba aku merasa ingin tinggal di Penthouse seperti ini juga,"


Raka yang saat ini sedang menuju dapur untuk membalikkan mangga mendegar kata-kata Emelin, lalu berkata dengan keras,


"Kenapa Tidak Minta di belikan Suami Kakak itu saja?"


"Mau minta bagaimana? Hah... ini sulit,"


"Apakah ini soal hal-hal yang dibicarakannya oleh Isabella-Isabella itu? Kak Emelin belum menjelaskannya padaku,"


"Ceritanya panjang, yang jelas sampai sekarang dia masih belum bercerita soal dirinya yang merupakan salah satu Tuan Muda Anderson itu,"


"Baik-baik, mari nanti dengarkan, akan aku ambilkan mangga yang Kakak inginkan itu,"


"Owh, benar mangganya, jagan lupa di kupas sekalian,"


Walaupun Emelin bilang seperti itu, namun Raka tetap hanya membawa satu kardus mangga muda.


Emelin menatap kotak itu dengan ekpersi syok,


"Astaga, banyak sekali, dan kenapa kamu berikan beserta kotak-kotak nya? Harusnya kamu kupaskan untukku, bukan malah sama kotak-kotak nya,"


"Kupas aja sendiri, Kak. Aku tidak bisa mengupas mangga,"


Emelin mengabil satu mangga dari kotak, lalu berkata pada Raka,


"Dasar, kamu payah. Mana pisau?"


"Dalam kotak sekalian, dan juga ambil saja itu semua mangganya beserta kotak-kotak nya,"


"Kamu tidak ingin makan ini? Kan masih bisa ditunggu sampai matang,"


"Tidak, aku tidak mau makan lagi. Temanku ini tidak masuk akal, dia membawa satu kotak mangga muda dan diberikan padaku, aku awalnya mengira itu mangga manis, lalu mencoba satu mana tahu rasanya begitu mengerikan, aku sekarang sedang trauma dengan mangga, tidak akan makan mangga setidaknya satu bulan kedepan,"


Melihat ekpersi Raka, Emelin lalu tertawa,


"Kamu itu sungguh lucu,"


Lalu Emelin dengan sigap mengulas mangga itu, dan mulai mencobanya, dan benar saja, rasanya memang cukup asam, namun entah bagaimana Emelin begitu menikmati mangga itu dengan lahap.


Raka yang menatap Emelin memakan mangga-mangga itu dengan lahap tiba-tiba merasa tidak enak.


Masih teringat rasa mangga itu kemarin.


Astaga....


Ada orang yang bisa memakan hal-hal itu?


Padahal rasanya...


Raka kembali mengigat rasa itu di mulutnya hanya dengan menatap Emelin yang makan mangga, dia tiba-tiba menjadi mual.


"Aduh, Kak jangan makan mangga di depanku, tiba-tiba perutku sakit dan mual,"


Emelin yang asik makan mangga itu menatap wajah pucat Raka lalu tertawa sekali lagi.


"Kamu itu terlalu berlebih-lebihan, ini sungguh enak, tahu." Kata Emelin sambil mengambil satu potong mangga dan memakannya dengan lahap, lalu mengabil satu potong lagi, dia sodorkan pada Raka.


Raka yang mencium aroma mangga itu menjadi semakin ingat rasanya, dia mundur.


"Kak!! Jangan dekatkan buat terkutuk itu padaku!!"


"Tapi ini beneran enak!!"


Emelin yang sedang iseng itupun mengarahkan mangga dengan cepat keadah mulut Raka, membuat Raka merasakan rasa itu lagi.


Raka hampir muntah disana,


"Akhhhh..... Kak Emelin!!!"


Dia langsung lari kekamar mandi seperti orang kesetanan.


Emelin tertawa melihat itu.


Pada akhirnya, tidak banyak hal yang terjadi setelahnya.


Hanya, Emelin mulai sedikit bercerita tentang awal kisah pernikahan kontraknya dengan Raka, membuat Raka kaget.


"Benar-benar ada yang seperti itu?" Tanya Raka heran.


"Sudahlah, aku bilang cerita ini panjang namun saat ini hubunganku dengan suamiku baik-baik saja, jadi tidak perlu di permasalahkan."


Mendengar cerita itu Raka kurang lebih paham garis besarnya.


Lalu dirinya mengigat hal penting,


"Lalu surat kontrak perjanjian itu? Apakah sudah dibatalkan?"


Mengigatkan hal itu, wajah Emelin menjadi pucat.


"Ini belum, masing-masing aku dan Antony memiliki salinan surat itu, dan milikku..."


Melihat wajah pucat Emelin, Raka kurang lebih bisa menebaknya.


"Jangan bilang itu masih di Rumah Keluarga Smith?"