
Mendengar kata-kata Risya temannya itu, Emelin begitu kaget, tidak bisa meresponnya untuk sesaat.
Antony?
Kakak Kelas yang sama dengan Cinta Pertamanya....
Ini....
Ini tidak mungkin bukan?
Apakah Risya salah ingat?
Emelin melirik kearah Antony sekilas, lalu berniat menarik Risya pergi.
"Antony, aku pergi sebentar ada hal-hal yang ini aku bicara dengan tamanku ini,"
"Tentu saja, aku akan disini," jawab Antony dengan tenang.
Emelin lalu menarik Risya dan Lia menjauh dari sana, hingga mereka ada dikawasan aman kira-kira Antony tidak lagi bisa mendegar percakapan mereka.
"Hey, Hey Emelin ada apa ini?" Tanya Lia dengan penasaran.
"Entahlah, Emelin ini tidak jelas, memang," kata Risya dengan heran.
"Risya, coba ulangi apa yang kamu bisikan padaku?"
Risya menatap Emelin dengan wajah heran,
"Tentang itu? Soal Kakak Kelas yang kamu taksir dulu sekarang sudah menjadi Suamimu?"
"Eh? Eh? Kakak Kelas yang mana ini?" Lia bertanya.
"Itu Lo, Lia. Masa kamu tidak ingat juga? Dulu ketika Kita Kelas Satu, bukankan Emelin ini pernah jatuh Cinta pada Kakak Kelas Tampan dan Misterius yang sering ke Perpustakaan itu?"
Lia terlihat mencoba mengigatnya lagi.
"Ah, iya ingat!! Kakak Kelas itu, yang dulu selalu mendapatkan Juara Umum bukan? Dia memang sangat populer terkenal antara Ketampanannya dan wajah dingin dibalik kacamatanya itu, Kakak tingkat dari Kelas 3A!! Benar! Aku mengingatnya patas saja aku merasa pernah melihat Suami Emelin ini dimana! Astaga, Ya ampun ini benar-benar Cinta Pertama Emelin, yang dulu sering Emelin pandang diam-diam itu bukan?" Kata Lia terlihat antusias.
"Tepat sekali," kata Riysa yakin.
"Astaga, Emelin kamu benar-benar bisa menikah dengan Cinta Pertamamu akhirnya? Ya ampun, sangat so sweet sekali... Kamu ini lo kenapa menikah dengannya tidak undang-undangnya kita?"
Mereka berdua berbincang sangat antusias sambil tersenyum gembira, namun disana Emelin hanya memperhatikan.
Dirinya benar-benar tidak percaya akan apa yang dirinya dengar dari Riysa dan Lia.
Cinta Pertama Misteriusnya, seorang Kakak Kelas Tampan yang wajahnya tidak begitu dirinya ingat adalah Antony!!
Ini Antony Suaminya!?
Apakah ini mungkin?
Sepintas ingatan Emelin tentang hari-hari itu kembali.
Dulu, ketika dirinya melewati Perpustakaan saat jam Istirahat dalam perjalan ke Kantin, dari jendela Perpustakaan akan terlihat seorang siswa tampan dengan kacamatanya, tengah serius membaca buku.
Melihat dari seragam yang dipakainya, Emelin tahu itu adalah Kakak tingkat Kelas tiga.
Melihat Kakak tingkat yang terlihat serius itu, entah kenapa Emelin selalu sedikit tertarik, dan akan kadang-kadang memadang Kakak tingkat itu.
Suatu hari, ketika Emelin begitu sedih karena tiba-tiba teringat dengan Kematian Mamanya, berkat Claudia yang membawanya di Kolam Renang Sekolah. Kematian Mamanya saat itu menjadi Trouma tertentu pada Emelin.
Emelin yang dalam suasana hati tidak baik itu, langsung pergi dan lari dari Kolam Renang itu.
Rasa ketakutan dan rasa bersalah muncul hari itu, mengigat Kematian Mamanya adalah salahnya....
Dirinya juga menjadi ingat bagaimana Papanya masih bersikap dingin padanya....
Ingin mencoba menenangkan diri, Emelin memasuki Perpustakaan yang masih sepi itu, mencari sudut paling pojok untuk menagis.
Meluapkan segala emosinya saat itu.
Dikala dirinya menagis, tiba-tiba ada seseorang juga yang berada di perpustakaan itu, itu adalah Kakak Kelas yang sama yang sering dilihatnya.
Anehnya dia tidak bertanya kenapa Emelin menagis hari itu, hanya berkata dengan sesuatu yang terlihat jujur dan terang-terangan.
"Aku tidak tahu bagaimana cara menghibur seorang gadis yang menagis, namun aku rasa jika kamu tetap menagis kamu akan terlihat jelek,"
Kata-kata yang terlihat dingin itu mengalihkan perhatian Emelin, membuat Emelin menatap kearah siswa itu.
"Aku.. Aku tidak jelek..."
Siswa itu lalu mulai sedikit tertawa,
"Jika kamu tidak ingin terlihat jelek maka jangan menangis... Kamu tahu, suara tangisanmu itu juga begitu jelek. Aku tidak tahu apa yang membuatmu menagis, namun jika kamu terus menagis nanti kamu benar-benar menjadi jelek,"
"Apa-apaan, itu! Bukankan jika melihat seorang gadis mengais kamu harus menghiburnya, kenapa malah mengatakannya hal-hal jelek padaku?"
"Aku sudah bilang aku tidak tahu bagaimana menghibur seseorang yang sedang menangis. Namun sebenarnya tidak apa-apa jika kamu ingin mengais ini baik-baik, menagis saja dulu, terkadang dengan bisa menagis itu akan membuatmu lega,"
"Sekarang kamu malah menyuruhku menagis..."
"Lalu, apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah bilang sebelumnya aku tidak tahu cara menghibur orang yang menangis."
"Kamu sudah mengatakan tiga kali kata-kata itu! Soal tidak bisa menghibur orang yang menagis, jadi kenapa kamu musti datang? Kamu tidak perlu kesini jika tidak ingin menghiburku."
"Hmm, apakah aku harus memberimu permen atau sesuatu? Namun aku tidak punya permen,"
"Kamu kira aku anak kecil,"
Siswa didapannya itu lalu menatap Emelin dari atas sampai bawah, lalu memberikan kesimpulan.
"Hmm, memang masih kecil."
Emelin lalu memukul-mukul siswa didepannya itu dengan ringan.
"Siapa yang kamu panggil kecil? Tadi kamu memanggilku jelek sekarang kamu memanggilku anak kecil! Apa-apa kamu itu! Menyebalkan!"
Ekpersi Emelin cemberut, ketika mengatakan itu.
"Lihat make up mu luntur dan hitam dimana-mana jika kamu masih ingin menagis,"
"Apa-apa!! Tidak luntur sama sekali! Kamu menipuku,"
Siswa itu lalu tertawa,
"Kamu benar-benar lucu, hmm apakah sekarang sudah tidak sedih lagi? Kamu sepertinya sudah tidak mengasih lagi,"
Emelin juga menyadarinya, kalau dirinya sudah tidak menagis lagi.
Lalu dirinya jadi teringat lagi salah satu alasannya menagis, setelah melihat pantulan wajahnya di cermin.
"Papaku selalu membenciku, dia bilang aku memiliki wajah yang buruk dan selalu mengigatkannya pada Mamaku.... Jadi aku mewarnai rambutku, agar Papa menyukaiku, namun begitu aku mewarnainya Papa malah bilang kalau aku terlihat jelek, dia tidak pernah menyukaiku entah kenapa... Mamaku juga meninggal gara-gara menyelamatku, ini salahku kenapa Mama pergi... Dan Papa masih saja tidak menyukaiku,"
"Itu bukan salahmu. Aku rasa semua Ibu didunia ini sangat menyayangi anaknya, dia pasti sudah melakukan yang terbaik untukmu dan tidak ingin kamu sedih apalagi menyalahkan diri sendiri, dia pasti selalu ingin melihatmu tersenyum. Dan soal Ayahmu..."
Siswa itu lalu menyentuh ujung rambut pirang Emelin.
"Aku rasa Ayahmu Buta, siapa yang bilang kamu jelek? Bahkan dengan rambut pirang ini, kamu terlihat cantik.... Rambutmu selalu sangat indah.... Benar-benar cantik." Kata siswa itu sambil tersenyum.
Ini adalah momen yang Emelin tidak pernah lupakan.
Senyuman itu...
Dan kata-kata sederhana darinya...
Seolah waktu itu, waktu benar-benar berhenti, dan jantung Emelin berdebar lebih kencang.
Itu adalah pertama kalinya dirinya jatuh cinta.
Sekarang ketika mengigat momen itu, kemudian wajah Antony yang menghiburnya tempo hari disatukan dengan kenangan itu....
Itu memang terlihat seperti gaya Antony...
Dia selalu tidak bisa menghibur seseorang yang menagis dan malah hanya mengatakan hal-hal omong kosong.
Hmm...
Hanya saja mungkin dirinya melupakan wajah dimasalalu itu karena banyak kenangan buruk soal Mantan-mantannya yang buruk ketika di SMA.
Menyadarinya sekarang, Emelin merasa aneh...
Jadi dirinya sudah sangat lama pernah mencintai Antony...
Kakak Kelas Misterius yang selalu dilihatnya itu terlihat sangat rajin dan pekerja keras....
Itu benar-benar Antony, Suaminya sekarang...
Kemudian Emelin mengigat lagi momen ketika mereka menikah.
Mungkin memang ada alasan kenapa dirinya bisa begitu mudah menerima Antony bahkan sejak Malam Pertama Pernikahan mereka...
Mungkin itu karena Antony pernah mengisi hatinya...
Jadi selama bertahun-tahun mereka bersama, dirinya tidak pernah segan-segan saat bersama Antony, dan begitu nyaman setiap waktu.
Dengan wajah tampan itu...
Kenapa dirinya tidak mudah jatuh cinta dengan Antony sejak awal Pernikahan mereka?
Bukanya tidak jatuh cinta...
Ini lebih seperti....
Karena sejak mereka menikah, dirinya selalu mengagap kalau Antony adalah miliknya, sebagai miliknya, tidak akan pernah kemana-mana, akan selalu disisinya.
Itu juga mungkin alasan dirinya sangat marah ketika Isabella-Isabella itu mulai dekat-dekat dengan Antony.
Mencoba mengambil apa yang menjadi miliknya...
Mungkin tanpa sadar dirinya sudah menyukainya sejak lama...
Juga alasan kenapa hari itu dirinya bisa tergoda oleh Daniel...
Saat Kematian Kakeknya dirinya begitu sedih...
Terutama karena saat itu juga hubungannya dengan Antony begitu dingin, perang dingin tanpa akhir.
Seolah-olah kekosongan dihatinya kembali muncul...
Dan dirinya bisa mudah tertipu lagi dengan sedikit kebaikan.
Hmm...
Dan alasan kenapa dirinya selalu mencari Pria Tampan...
Berharap bisa menemukan seseorang yang setampan Cinta Pertamanya, sebagai pengganti karena tidak pernah bisa memiliki Cinta Pertamanya yang sudah menjadi milik orang lain saat itu...
Sayang sekali mereka semua begitu buruk hingga tidak bisa dibandingkan.
Jadi begitu dirinya memang sangat mencintai Antony....
Seseorang yang dari masalalu, dan juga saat ini....
Suaminya, Antony Callisto...
Namun hal-hal yang dirinya perbuat pada Antony begitu buruk, baik dimasalalu selama Pernikahan mereka ataupun belakangan ini.
Tidak pernah bisa menjaga Putra mereka dengan baik...
Dan dirinya yang tidak peka dan lamban selalu mengagap Antony sebagai suami bayarannya....
"Hey? Emelin?"
Suara panggilan Risya menyadarkan Emelin dari lamunannya.
"Ini sebuah cerita yang panjang, aku juga tidak tahu harus memulai ini dari mana... Aku sendiri tidak pernah mengira mereka orang yang sama...."
####
Bersambung