
Antony bersama Isabella saat ini sudah duduk di sofa tamu di ruangan Antony, dengan tidak sabar Antony lalu bertanya dengan terus terang,
"Ya? Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Isabella lalu tersenyum sambil menjawab,
"Kamu sangat buru-buru sekali bukan?"
"Aku hanya ingin tahu apa yang ingin kamu katakan,"
"Sebentar lagi Sekolah kita akan mengadakan, Reuni,"
"Dan? Kenapa dengan Reuni?"
"Apakah kamu tidak tertarik untuk ikut? Acara ini masih direncanakan sih, aku dengar dari salah satu temanku,"
"Aku tidak memiliki memory yang baik dengan mereka."
Isabella lalu sedikit tertawa mendengar perkataan dingin Antony, memang di masa SMA kehidupan Antony di SMA Elite itu cukup buruk, beberapa siswa kaya disana sering membuat Antony menjadi target mereka.
"Ah, namun bukankah ini saat yang baik untuk menunjukkan pada mereka kamu yang sekarang?"
Antony terdiam sedikit, lalu berkata,
"Aku tidak merasa itu hal-hal yang cukup penting,"
"Ah? Benarkah? Aku pikir kamu akan tertarik untuk setidaknya datang,"
"Tidak tertarik sama sekali. Jadi apakah hanya itu yang akan kamu katakan?"
"Eh? Kamu serius tidak tertarik? Acara Reuni tahun ini cukup besar karena aku dengar di Sekolah mengundang tiga angkatan, angkatan kita dan dua angkatan di bawah kita, walaupun beberapa teman sekelas ada yang cukup buruk dulu, bukankah setidaknya ada beberapa Junior yang menarik?"
Antony terdiam sejenak.
Isabella juga jadi memikirkannya, ini menjadi reuni yang cukup besar, eh dirinya jadi ingat sebelumnya Raka Andrson itu bilang dia juga berasal dari SMA yang sama? Apakah dia akan datang?
Tunggu, Raka itu tiga tahun lebih muda, mungkin angkatannya tidak diundang.
Tapi cukup mengejutkan dia juga berasal dari SMA itu.
Berhenti memikirkan kemana-mana, Isabella kembali fokus pada Antony didepannya.
"Kamu harus datang sekali-kali, kamu tidak pernah datang sebelumnya bukan?"
"Aku akan memikirkannya,"
"Tapi ayolah ada banyak juga kenangan cukup baik ketika kita disana bukan? Rasanya seperti baru kemarin bukan ketika kita masih remaja,"
"Itu sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu,"
"Sepuluh tahun? Benar juga ini sudah cukup lama bukan? Waktu benar-benar berjalan cukup cepat,"
"Ya, memang hal-hal selalu berjalan dengan cepat,"
"Makanya itu kamu harus datang sekali-sekali,"
"Besok akan aku kabari."
"Ah, baiklah aku akan menunggumu. Btw aku penasaran dengan Kabar Kakek dan Paman Bibimu? Kamu masih bersama mereka?"
Antony sedikit ingat, sebelumnya, Isabella cukup dekat dengan Kakeknya ketika mereka masih bersama, ah lupakan itu hanya masalalu.
"Kakekku sudah lama meninggal."
"Maafkan aku, aku tidak bernasib seperti itu. Aku turut bersuka cinta atas Kakekmu."
"Ya."
"Lalu bagaimana dengan Paman dan Bibi mu?"
"Mereka baik-baik saja."
"Owh, begitukah? Kamu masih berhubungan dengan mereka?"
Isabella tentu tahu hubungan buruk antara mereka, dan bagaimana Paman dan Bibinya ini selalu berbuat kasar pada Antony sejak kecil, jadi dirinya cukup penasaran sekarang melihat Antony sudah sukses dan kaya seperti ini apa yang akan dia lakukan pada mereka?
Namun jawabannya cukup membantu Isabella terkejut.
"Kamu masih berhubungan dengan mereka?"
"Tidak bisa dihindari."
"Aku kira kamu sudah putus hubungan,"
Memang disini Antony sangat ingin putus hubungan dengan mereka, namun dirinya tidak bisa.
Mereka tahu alamat rumahnya dan masih kadang mengagunya.
Alasan kenapa dirinya membiarkan mereka tetap hidup tenang setelah melakukan semua pelecehan itu padanya adalah demi Kakeknya.
Demi menghormati Almarhum Kakeknya, Antony tahu betapa Kakeknya itu juga menyayagi Putra keduanya itu.
Kakeknya adalah sosok yang baik hati, dirinya bisa bertahan selama ini berkat bantuan besar dari Kakeknya ini.
Dan tentu saja Antony sangat menyayanginya, bahkan setelah Kakeknya meninggal, demi Kakeknya Antony masih tidak melakukan apa-apa pada Paman dan Bibirnya yang jahat itu.
Kalau tidak karena hal itu, dirinya pasti sudah lama menendang mereka.
"Ah? Begitukah?"
Kedua orang itu lalu sekali lagi membahas masalah soal reuni, lagipula acara itu baru pada tahap perencanaan, hanya baru rumor antar teman.
Isabella cukup menantikan acara itu.
Kembali ke Sekolah lama mereka, disana memiki banyak kenangan, bukankah ini saatnya meningkatkan hubungan baik dengan Antony?
Benar-benar rencana bagus.
####
Malam itu, Antony pulang kerumahnya tepat waktu, baru jam setengah delapan dia sudah sampai rumah.
Jam makan malam Keluarga ini, tepat pukul delapan, namun kadang jika Antony ada lembur dia menyuruh Emelin untuk makan duluan dengan Alex.
Alex masih kecil jadi dia akan makan lebih awal, sekitar jam tujuh biasanya dia sudah makan malam.
"Selamat datang, hari ini kamu tidak lebur lagi?" Sapa Emelin pada Antony yang baru datang itu.
"Ya, tidak sesibuk kemarin."
"Begitu. Ah tapi jujur aku tidak menyangka kita akan bertemu di Perusahaan Anderson tadi siang,"
"Aku juga terkejut,"
"Jadi apakah kamu sering kesana?"
"Terkadang mengurus beberapa hal."
"Tapi kamu cukup hebat ya, bisa bekerja disalah satu Perusahaan Cabang mereka, itu memang Perusahaan yang cukup besar,"
Antony hanya tersenyum menanggapi itu, lalu berkata,
"Kamu sangat suka Perusahaan itu?"
"Hmm, aku sebenarnya tidak terlalu mengerti hal-hal seperti itu, hanya saja aku tahu itu Perusahaan yang cukup besar. Dimasalalu sepertinya Kakek berurusan dengan mereka."
"Semacam kerja sama?"
"Ya begitulah. Hubungan Keluarga mereka dengan Keluarga Smith cukup baik, aku pernah mendengar kalau sebelumnya dua Keluarga ini berniat melakukan Perjodohan,"
"Perjodohan?"
Antony mulai memikirkannya, apakah sebelum dirinya dijodohkan dengan Emelin, Kakek Emelin sebelumnya melirik Keluarga Anderson?
Satu-satunya orang di Keluarga itu yang memiliki umur yang hampir sama dengan Emelin adalah Tuan Muda Mereka satu-satunya, Raka Anderson...
Jangan bilang mereka saling kenal atau sesuatu?
"Ya, ini adalah cerita masalalu. Ini soal Ibuku yang masih muda kala itu dengan Putra Tertua mereka sebelumnya."
Antony cukup terkejut dengan fakta itu namun juga cukup lega.
Ya, itu benar melihat tempramen Kakek Emelin, dia tidak akan menjodohkan Cucunya dengan sesuatu seperti Raka bukan?
Melihat semua romor tentang sepupunya itu, selain dia adalah Tuan Muda Kaya yang di Manjakan, dia memiliki kelakuan yang buruk.
Tapi ini juga mengejutkan, Putra Tertua Keluarga Anderson itu adalah Ayahnya bukan?
"Mereka berdua?"
"Itu benar. Aku dengar saat itu Ibuku tidak mau dijodohkan, dan dia memilih Ayahku yang sekarang, dan Kakek menghormati keputusan Ibuku, dan mereka memutuskannya membatalkan perjodohan itu baik-baik." Kata Emelin sambil menghela nafasnya, lalu kembali berkata,
"Namun sejujurnya, aku cukup menyesal kenapa Mamaku tidak menerima perjodohan itu, mungkin dia akan lebih bahagia jika menerima perjodohan itu dari pada menikahi laki-laki tidak tahu diri seperti Ayahku."
Antony lalu terdiam sejenak.
Dia merasa kalau perkataan Emelin benar-benar salah.
Ayahnya, Thomas Anderson tidak jauh lebih buruk dari Ayah Emelin, setidaknya menurutnya dia adalah Ayah yang tidak bertanggung jawab.
Antony merasa bahwa Ibu Emelin ini memiliki nasip yang cukup malang soal berurusan dengan laki-laki.
Antony memikirkannya, jadi apakah Ini yang benar-benar membuat Kakek Emelin sangat khawatir dengan Emelin?
Takut benar-benar meniru jejak Ibunya.
"Kita tidak akan pernah tahu takdir itu seperti apa,"
"Kamu benar. Aku bahkan tidak pernah mengira kalau kita dulu benar-benar menikah."
"Aku juga tidak pernah menyangkanya."
"Ah, aku sampai melupakannya. Apakah kamu ada waktu besok?"
"Ada apa?"
"Aku ingin kamu menemaniku ke Makam Keluargaku."
####
Bersambung