Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Episode 22: Masalalu


Setelah tengelam dalam pelukan Antony untuk beberapa waktu, dan meluapkan kesedihannya itu, Emelin yang tersadar akan perbuatannya itu menjadi malu sendiri.


Dia lalu melepaskan pelukan Antony, dan langsung kembali kekamarnya.


"Aku... Aku kekamar dulu,"


"Kamu sudah baikan?"


"Sedikit."


"Baiklah, Jagan terlalu banyak menagis."


"A... Aku tidak menagis!!"


Emelin merasa kalau suasana hatinya sudah sedikit pulih.


Namun tetap saja dirinya masih merasa kesal dengan fakta yang barusan didengarnya dari Ayahnya.


Hah....


Bagaimana dirinya membalas mereka semua?


Hah...


Karena begitu lelah dengan semua emosinya itu, Emelin lalu mulai tertidur pulas.


####


Ketika Emelin bangun tidur, hari sudah cukup siang.


Perutnya sedikit keroncongan karena lapar, namun suasana hatinya sudah cukup baik.


Jadi, Emelin langsung berniat menuju kebawah ke ruang makan.


Namun ketika Emelin sedang menuju kedapur, dia tiba-tiba mendengar suatu ketika dari arah ruang tamu.


Emelin yang penasaran itu, lalu mengintip, ingin tahu hal-hal yang ada diruang tamu.


Kira-kira siapa lagi yang memberikan keributan dirumah ini??


Saat ini, diruang tamu ada sepasang suami istri, yang terlihat sedang ribut-ribut dan berteriak.


Disana ada Antony yang duduk dan menatap dua orang itu dengan ekpersi dingin.


"Kamu!! Kamu dasar keponakan tidak tahu diri!! Kami hanya ingin meminjam uang namun kamu pura-pura tidak punya Hah?" Kata salah satu Pria itu dengan marah.


"Itu benar!! Bukankah Istrimu itu Kaya Raya? Dia memiliki banyak uang bukan? Masa kamu tidak punya uang?" Kata wanita disana.


"Aku bukankah sudah memberikan uang untuk kalian pinjam sebelumnya?" Kata Antony lagi dengan dingin.


"Kamu tahu, kalau belakangan kami mengalami saat-saat sulit."


"Kalian juga selalu seperti itu setiap kali kesini, hanya meminta uang, aku tidak pernah meminta uang yang kalian pinjam untuk kembali, dan aku selalu memberikan kalian uang namun kalian masih saja kesini dan meminta uang terus."


"Kamu!! Kamu sebagai keponakan harus berbakti pada kami! Kamu pikir siapa yang membersarkanmu setelah Ibumu meninggal Hah?"


Disini, Antony menjawab dengan dingin,


"Itu Kakek yang membesarkanku. Dari awal kalian menentang Kakek untuk merawat ku."


"Hah? Omong kosong apa itu? Kamu pikir kamu tinggal dimana selama ini?"


"Itu jelas rumah Kakek. Kalian juga hanya menumpang di rumah Kakek."


"Kamu!! Kamu berani berkata begitu!!"


Emelin yang mendengarnya menjadi bertanya-tanya soal Identitas-identitas orang-orang itu.


Ah...


Sekarang dirinya ingat soal latar belakang keluarga Antony.


Dia tidak memiliki ayah dari kecil, dan diasuh oleh Ibunya, namun ketika dirinya masih kecil Ibunya meninggal, lalu dia diasuh oleh Kakeknya dan tinggal bersama Paman dan Bibi nya bersama Kakeknya.


Emelin mendengar kalau hubungan Antony dan Paman dan Bibi nya ini cukup buruk.


Sepertinya, Antony selalu diperlakukan tidak adil oleh orang-orang itu.


"Aku sudah muak dengan kalian!! Berhentilah datang kesini!" Kata Antony dengan marah.


"Kamu!! Kamu benar-benar ya! Keponakan tidak tahu diri!!"


"Tidakkah Paman dan Bibi yang harus berkaca? Bukankah kalian yang sudah 'Menjual' keponakan kalian untuk di Nikahkan dengan Keluarga Kaya? Kalian pikir aku tidak tahu, berapa uang yang telah kalian terima dari Kakek Mertua ku?"


Disini, dua orang itu menunjukan wajah pucat.


"Itu... Itu bayaran yang sepadan karena membesarkanmu!!"


"Kapan kalian membesarkanku? Kalian bahkan memanfaatkan penyakit Kakek saat itu, dan mengambil keuntungan, bahkan setelah Kakek meninggal kalian...."


Melihatnya arah pembicaraan tidak sesuai degan kemauan dua pasangan itu, mereka menjadi marah.


Iya, mereka takut kalau Antony keponakan mereka mengambil lagi uang yang diberikan Keluarga Istrinya untuk mereka saat Pernikahan Antony dulu, juga jika sampai Antony mengusut soal hak warisan dari Kakeknya....


"Hah!! Kamu benar-benar tidak tahu diri!!"


Dengan marah dua orang itu lalu pergi dari sana.


Meninggalkan Antony yang teruduk merenung disana sendirian.


Disana lalu, dia menatap kearah samping, kearah Emelin berdiri.


"Mendengar semuanya?" Tanyanya dengan nada yang masih cukup dingin.


Emelin hanya mengangguk, dan keluar dari tempat persembunyian, dan perlahan mendekat kearah Antony.


Dirinya benar-benar tidak tahu kalau ternyata Antony juga memiliki masalah Keluarga yang begitu rumit.


Ini juga mengigatkannya saat mereka menikah, Antony berharap bisa segera lepas dari Keluarganya itu, namun sepertinya Keluarganya ini tidak melepaskannya.


Dan lagi...


Dulu satu tahun sejak dirinya dan Antony menikah, Kakek Antony meninggal dunia.


"Sekarang sudah tidak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan soal perkataan mereka."


"Apakah mereka selalu begitu?"


"Sungguh, mereka bukan masalah besar sekarang."


Emelin lalu mulai duduk, dan kembali bertanya,


"Benar? Tidak apa-apa?"


Melihat sepertinya wanita disampaignya ini terlihat cemas, Antony lalu berkata,


"Aku tidak sepertimu yang gampang menagis dan cegeng,"


"Siapa yang kamu panggil cengeng?"


"Bukankah memang begitu? Lihat matamu sekarang lemab karena terlalu banyak menagis."


Disini, Emelin yang awalnya ingin menghibur Antony itu merasa kesal, dan memukul-muku kecil Antony.


"Kamu yang membuatku menangis."


"Apakah sekarang kami sudah baik-baik saja?" Tanya Antony lagi.


"Tidak baik sama sekali. Sangat mengesalkan ketika tahu kalau Ayahku ternyata Brengsek."


Antony sedikit tertawa melihat sikap Emelin yang masih terlihat cemberut dan mengeluh itu.


"Jangan menertawakanku!"


"Aku malah tidak tahu awalnya seperti apa Ayahku tapi sekarang...."


Disini, Emelin juga jadi terdiam. Dirinya ingat kalau Antony tidak tahu siapa Ayahnya.


Ketika awal menikah, dirinya sempat kelepasan bertanya soal itu, dan Antony hanya menjawab kalau dia tidak tahu siapa Ayahnya. Ini mungkin hal-hal seperti Ayah tidak bertanggungjawab pada Ibu Antony atau sesuatu.


Setelah memilikirkan ini Emelin merasa lebih rumit.


Ini....


Ini adalah hal yang juga rumit, Emelin jadi merasa bersalah mengungkit hal ini.


Sebelum Antony menyelesaikan perkataannya, itu sudah dipotong oleh Emelin.


"Kamu tidak perlu membicarakan soal hal-hal itu jika kamu tidak mau mengungkitnya. Lagipula di Dunia ini memang banyak laki-laki Brengsek seperti itu, seperti Ayahku atau mungkin Ayahmu juga... Laki-laki tidak bertanggungjawab seperti itu tidak perlu terlalu dipikirkan. Aku sudah bertemu beragam laki-laki brengsek, itu benar-benar melelahkan ketika memikirkannya,"


"Apakah aku termasuk dalam kategori seperti itu?"


Emelin lalu berpikir sejenak,


"Kamu sebenarnya adalah Ayah yang baik, namun aku pikir bukankah kamu terlalu sibuk? Aku juga mendengar ini dari Alex bagaimana kamu juga jarang untuk pulang. Bukankah kamu dulu berjanji untuk merawat Alex?"


"Hmm, apa aku memang bukan Ayah yang baik?"


"Kami bicara apa sih? Aku tidak bilang seperti itu. Lagipula bagaimana denganku? Aku bahkan lebih terlihat seperti itu yang tidak bertanggung jawab bukan? Aku tidak pernah memperhatikan Alex selama ini."


"Ya, kamu memang."


"Kamu lagi-lagi terlalu jujur."


"Sejujurnya, aku juga tidak mengerti bagaimana menjadi Ayah yang baik untuk Alex. Ini adalah pertama kalinya aku memiliki seorang anak, dan lagi aku bukan dari Keluarga yang lengkap, jadi aku tidak tahu harus bersikap seperti apa terkadang di depan Alex."


"Ini juga pertama kalinya aku memiliki seorang Putra juga... Tentu saja kita tidak akan benar-benar tahu bagaimana membesarkan seorang anak dengan baik bukan? Tapi setidaknya kamu jauh lebih baik dariku."


"Emelin kamu...."


"Tapi mulai sekarang aku akan berusaha menjadi Ibu yang baik untuk Alex, aku tidak akan membuat dia merasa kesepian lagi, aku ingin Putra kita tumbuh menjadi anak yang ceria, dan selalu bahagia tanpa kekurangan kasih sayang dari kita, bukankan begitu?"


Mendengar perkataan Emelin yang terlihat biasa namun terasa hangat, hati Antony juga jadi menghangat.


Awalnya dirinya memang tidak mengerti soal wanita yang di nikahinya ini, selama bertahun-tahun mereka menikah, hubungan mereka tidak begitu dekat dan tidak pula jauh.


Emelin hanya akan pulang ketika dia ada perlu, dan selalu bersikap cukup acuh tak acuh selama ini.


Dan belakangan melihat sikap Emelin yang tiba-tiba berubah itu membuat Antony juga sedikit tidak mengerti.


Dirinya juga tidak tahu harus bersikap seperti apa...


Hanya saja, perasaan ini adalah perasaan yang hampir sama yang dirinya alami saat awal Pernikahannya dengan Emelin.


Dulu, Emelin yang langsung hamil tidak lama setelah mereka menikah juga merupakan sebuah kejutan untuknya.


Masa-masa itu adalah masa-masa yang cukup berat untuk Emelin, jadi dirinya selalu memaklumi apapun hal yang Emelin lakukan sampai sekarang.


Terutama saat dulu Emelin melahirkan Putra mereka Alex, dia sempat koma beberapa minggu dan mengalami pendarahan berat.


Saat Emelin hamil dulu, sekitar lima bulan, dia mengalami beberapa kecelakaan yang hampir membuat dia hampir kehilangan bayinya.


Selama satu bulan, dia berada di Rumah Sakit, dokter bahkan saat itu menyarankan kalau kondisi Emelin cukup lemah dan mungkin tidak baik jika terus mempertahankan kehamilannya.


Namun, Emelin terlihat keras kepala saat itu, rasanya Antony masih ingat kata-kata hari itu,


"Kamu tenang saja, Antony aku pasti akan melahirkan anak ini dengan baik. Kamu tidak perlu cemas, aku akan memenuhi janjiku, oke?"


Ya bahkan setelah mengalami hari-hari sulit itu, sampai akhirnya memasuki persalinan yang menyakitkan, Emelin benar-benar melahirkan Putra mereka dengan selamat. Seorang Putra yang begitu kecil dan lucu, dan membuat dirinya menjadi seorang Ayah.


Sebuah anugrah terindah dalam hidupnya.


Walaupun saat itu, dirinya tahu kalau Emelin melakukan ini demi agar bisa cepat-cepat pergi meraih impiannya namun tetap saja....


Ya, Emelin telah melahirkan Alex dengan begitu banyak usaha...


Itu sudah cukup.


"Kamu sudah cukup baik selama ini, kamu telah melahirkan Alex dengan baik. Aku selalu berterimakasih,"


"Kamu bicara apa tiba-tiba?" Tanya Emelin dengan heran.


Ya, untuknya, selama ini Emelin adalah Ibu dari Putranya...


Namun apakah hanya seperti itu?


Mengenal Emelin lebih dekat dan lebih banyak bicara dengannya membuat hatinya sedikit bergetar.


####


Bersambung