
Setelah berganti pakaian, Emelin lalu menikmati sarapan dengan tenang bersama Alex, tentu saja Emelin menyuapi Alex, memanjakan anak itu dengan senang hati, setelah merasa bersalah meninggalkan Alex tanpa kabar seperti itu.
"Alex harus makan yang banyak dan minuman obat agar cepat sembuh,"
"Tapi Alex tidak sakit, Ma..."
"Kamu ini, lihat suhu tubuhmu, apakah kamu semalam tidak tidur, sampai sakit seperti ini?"
Alex mencoba mengelak,
"Ha.. Habis Mama dan Papa tidak memberi kabar,"
"Lain kali jangan seperti itu, oke? Jika Alex tidak makan juga dengan baik atau kurang istirahat lalu sakit, Mama dan Papa juga akan sedih,"
Ketika Ibu dan anak itu masih sibuk makan dan bercakap-cakap, dari arah pintu tiba-tiba seseorang masuk.
Itu adalah Antony yang sepertinya sudah menemukan baju entah dari mana, dan memakainya, terlihat buru-buru dan mendatangi Alex.
"Papa dengar, Alex sakit?" Tanya Antony mencoba memeluk Alex, namun Alex menghindarinya.
"Hpmh, ini kan gara-gara Papa," kata Alex dengan nada galak.
Antony yang tidak tahu kenapa putranya tiba-tiba mengatakan itu hanya bisa menatap Emelin.
"Aku hanya bilang pada Alex itu memang salahmu kami tidak pulang semalam dan lagi tidak menghubungi Alex,"
Sekarang akhirnya Antony sadar, memang benar itu salahnya untuk mengajak Emelin semalam, bahkan sampai lupa tidak mengabari rumah, sampai-sampai Alex terlihat khawatir semalaman.
Mencoba membujuk Alex, Antony lalu mendekati Alex lagi, mencoba mengelus rambutnya, namun dihindari oleh Alex.
"Maafkan, Papa sayang, kemarin itu ada beberapa urusan mendesak, yang harus Papa dan Mama lakukan,"
"Hpmh, Alex tidak peduli, pokoknya itu salah Papa!! Alex marah!!"
"Ayolah sayang, jangan marah pada Papa oke? Nanti akan Papa beri hadiah bagaimana?"
"Alex tidak megiginkan apapun. Lagian kenapa Papa dan Mama sampai tidak memberi kabar? Alex benar-benar khawatir semalam saat Papa dan Mama tidak pulang, Papa menyebalkan!! Mengambil Mama Alex untuk dirinya sendiri!!"
Melihat Alex sepertinya tidak bisa dibujuk itu, Antony juga menjadi binggung.
"Jangan marah, Alex. Semalam itu benar-benar urusan mendesak antara Papa dan Mama,"
Alex lalu menatap sekilas ke arah Antony, lalu bertanya dengan nada penasaran,
"Lalu apa yang Papa dan Mama lakukan semalam sampai tidak mengabari Alex?"
Emelin sekarang menatap horor karah Antony, berharap Antony ini tidak mengatakan omong kosong pada Alex.
Namun tebakan Emelin benar-benar tepat, kata-kata Antony penuh omong kosong pada Alex,
"Papa dan Mama sedang membuat adik kecil untuk Alex,"
"Adik apa? Bukankah Alex bilang tidak ingin adik?"
"Apa benar? Ini adik kecil yang lucu yang mungkin mirip dengan Mamamu, kamu tidak ingin melihat adik kecil lucu?"
Alex lalu membayangkan seorang adik perempuan kecil yang mirip Mamanya, itu akan terlihat sangat lucu dan cantik!!!
Anak kecil selalu beubah-ubah, dan gampang dibujuk, begitu pula Alex kecil ini.
"Adik lucu? Apakah benar? Mana adik lucu Alex Pa?"
Emelin langsung menendang Antony dengan kejam, karena omong kosongnya itu, kemudian berkata dengan tenang,
"Jangan dengarkan kata-kata Papamu itu, dia hanya beralasan,"
Alex lalu menatap Papa dan Mamanya dengan ekpersi binggung.
"Jadi ada adik atau tidak? Alex tidak suka ditipu seperti ini, hmph..."
Melihat ekpersi Alex yang lucu itu juga ekpersi malu yang ditunjukkan Emelin, Antony jadi malah semakin ingin menggoda Putra dan Istrinya itu.
"Alex, kamu harus tahu membuat adik untukmu bukan hal mudah, Papa harus kerja keras untuk itu, jadi kamu harus bersabar,"
Emelin semakin malu mendengar omogan Antony menjadi semakin tidak tahu malu.
"Owh begitu? Jadi ini susah, Pa?"
"Benar, sekali ini cukup susah,"
"Alex kira murah, Jadi bagaimana caranya membuat adik?"
"Kamu masih kecil, kamu belum boleh tahu hal-hal seperti itu,"
"Tapi Alex ingin tahu,"
"Alex, sudah Mama bilang jangan dengarkan omong kosong Papamu itu,"
"Itu benar, Alex masih marah dengan Papa!!"
"Ayolah Alex jangan marah,"
Pada akhirnya, Antony mencoba membujuk Alex, namun Alex masih tetap marah pada Papanya itu, bujukan Antony tidak mempan.
"Nanti malam Papa tidak boleh tidur dengan Mama dan Alex, Mama akan tidur dengan Alex, hpmh,"
"Ya, ampun Alex, dasar anak ini," kata Antony binggung.
"Dengar tuh, apa kata Alex," kata Emelin setuju-setuju saja dengan Alex.
"Kalau begitu nanti proses membuat adik Alex dari semakin lama, apakah tidak apa-apa Alex?"
Sekarang tatapan Emelin menjadi lebih merah, dan menginjak Kaki Antony lebih keras.
"Aw..."
Antony hanya bisa merasakan kakinya sakit, namun masih tidak menyerah untuk mengoda Emelin.
Sekarang mereka menunggu jawaban Alex,
"Kalau bisa di dipercepat saja,"
"Nah... Maka dari itu Alex...."
Namun sebelum Antony melanjutkan omongannya itu, Alex sudah memotongnya lagi,
"Tapi sekarang tetap tidak boleh!! Alex masih marah pada Papa, hphm,"
Pada akhirnya sampai Alex tertidur setelah minum obat, Alex sepertinya masih marah pada Papanya itu.
Dan sekarang hanya ada Emelin dan Antony yang terbangun dalam ruangan itu.
Mereka saling bertatapan dalam diam, sampai Antony mulai membuka pembicaraan...
"Soal semalaman... Aku.... Aku minta maaf,"
"Sudahlah, itu sudah terjadi tidak perlu terlalu dipikirkan," kata Emelin mencoba tenang, sekarang berada didepan Antony, Emelin sendiri tidak tahu harus berkata apa.
Lalu ada keheningan disana, Antony sendiri tidak tahu harus berkata apa.
"Kamu harus percaya kalau aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu,"
Mendengar perkataan Antony barusan, membuat wajah Emelin langsung memerah karena malu.
"Omong kosong apa yang lagi-lagi kamu katakan, hah? Kamu sudah menjadi Suamiku, hal apa lagi yang akan kamu pertanggung jawaban kan? Menikahiku lagi atau sesuatu? Kamu sungguh aneh,"
"Jadi kamu tidak keberatan melakukannya denganku?"
Emelin merasa malu, dan tidak menjawab,
"Kamu ini dari tadi mengatakan hal-hal tidak berguna!! Apa-apa tadi yang kamu katakan pada Alex?"
"Aku hanya mengatakan hal-hal yang sebenarnya, soal semalam tidak ada yang salah dari itu, anggap saja semalam salah satu bagian dari perencanaan membuat adik Alex, versi uji coba pertama,"
"Akhhh.... Kamu ini, tidak tahu malu!!" Emelin menutupi seluruh wajahnya, tidak bisa menahan kata-kata yang dirinya dengar dari Antony yang benar-benar tidak tahu malu itu.
"Kamu mengalihkan pembicaraan, jadi keberatan atau tidak?" sepertinya Antony sangat gencar sekali untuk mengoda Emelin, seperti tidak akan melepaskannya.
Sejujurnya, dirinya juga cukup penasaran apakah Emelin akan marah atau tidak.
Apalagi semalam dirinya lebih memaksa untuk melakukannya pada Emelin.
Tentu saja, dirinya cukup khawatir...
Namun hal-hal dari malam sebelumnya, itu memang cukup menyenangkan.
Jadi saat ini dirinya benar-benar menantikan jawaban Emelin,
"Emelin, jawab aku suka atau tidak?"