
Percakapan telepon sederhana itu terlihat canggung antara keduanya.
Namun baik Emelin atau Antony sepertinya belum ingin mematikan sambungan telepon itu.
"Ah, itu bagus kalau tidak menggagu,"
"Kamu bisa menelponku lagi kapanpun kamu mau,"
"Benarkah?"
"Ya,"
Beberapa kata-kata ringan itu, juga membuat Emelin merasa sangat senang.
Sejujurnya, mereka sudah menikah selama tujuh tahun, namun ini pertama kalinya mereka melakukan panggilan Video....
Tujuh tahun bukan waktu yang pendek namun juga bukan waktu yang panjang.
Tiba-tiba melakukan hal-hal yang tidak biasa seperti ini terasa cukup aneh, namun juga terasa menyenangkan.
Dulu, mereka masing-masing tahu kalau mereka sama-sama sibuk, jadi mereka diam-diam sepakat kecuali hal mendesak atau hal yang sangat penting, mereka tidak akan saling menelpon. Itu terkadang bahkan bukan telepon, namun hanya pesan singkat yang to de poin.
Sekali lagi, mereka berdua terdiam.
Emelin sekali lagi binggung harus berkata apa, namun tiba-tiba dia memiliki sebuah ide yang bagus.
"Bagaimana kalau aku langsung menelepon Alex sekarang? Video Call bertiga seperti ini pasti membuat Alex senang,"
"Ya, itu ide yang bagus. Alex sepertinya sore ini tidak ada jatwal juga,"
"Tentu, tentu, Putra kita bahkan sibuk dengan les-les miliknya,"
"Aku sendiri tidak begitu tahu apa yang benar-benar ingin anak itu lakukan atau suka, jadi hanya menawarkan beberapa les tambahan dan dia tidak menolak,"
"Aku melihat, dia memang cukup patuh. Tapi memang sebaiknya kita tidak perlu menyuruhnya memiliki banyak kegiatan tambahan, dia masih begitu kecil, masih masa bermain,"
"Kamu benar, mungkin mencoba mencarikan beberapa teman sepantaran,"
"Ya, tempo hari Aku dan Alex bertemu seorang artis cilik, dan dia sangat akrab dengan Alex, mereka sepertinya cukup dekat lain kali, ketika aku pulang aku akan mengatur mereka bermain, atau aku nanti bisa menghubungi mereka agar datang kerumah,"
Sebuah rasa ingin tahu tiba-tiba muncul dihati Antony mendengar kata 'ketika aku pulang'
"Kapan kamu akan pulang?"
"Aku belum tahu soal itu, namun mungkin akhir pekan ini kalau tidak ada kegiatan?"
"Bagus, aku akan menunggu." Kata Antony lagi sambil tersenyum penuh arti.
Emelin yang melihat senyuman dari baik video itu merasa tercegah sesaat.
Kenapa dia tiba-tiba tersenyum?
Akhhhh...
Terlalu tampan....
Mencoba mengalihkan pikirannya, Emelin langsung memencet tombol untuk menelepon Alex.
Dan tidak sampai satu menit, suara kecil yang cerita datang dari balik telepon, menjukan wajah kecil yang terlihat sangat gembira.
"Mama!! Akhirnya Mama menelepon... Ah, Ada Papa juga...."
"Hihihi, tentu saja Mama sangat rindu padamu, makanya Mama menelepon, apakah kamu tidak merindukan Mama, hmm?"
"Tentu saja Alex sangat.. sangat merindukan Mama...."
"Ya ampun, sayang ini baru dua hari bukan?"
"Tapi Alex memang sudah sangat rindu dengan Mama, di rumah menjadi sepi tidak ada Mama. Lihat, bukan hanya Alex yang rindu dengan, Mama... Papa juga sangat rindu dengan Mama bukan? Bahkan semalam Papa pergi ke kamar Alex, Papa bilang sepi tidur di kamar Papa sendirian tanpa Mama," Kata Alex tiba-tiba sambil menunjuk kearah Ayahnya itu.
Ekspresi Emelin cukup kaget,
Antony menrindukannya?
Hati Emelin tiba-tiba berbunga-bunga memikirkan itu...
Namun...
Tapi...
Mungkin itu hanya kata-kata Antony saja untuk menenangkan Alex?
"Benarkah itu?" Tanya Emelin penuh selidik.
Antony tidak mengira Putranya ini benar-benar mengatakan Aib nya soal semalam, yang bilang merindukan Emelin...
Anak ini benar-benar tidak bisa menjaga rahasia!!
Sekarang dirinya jadi malu sendiri didepan Emelin.
Apalagi adegan dirinya yang pergi kekamar Alex dan bilangan kesepian itu!!
Sekarang Emelin tahu, apakah dia akan ditertawakan?
Hanya bisa menyalahkan Alex yang begitu spontan saat bercerita.
Anak kecil memang tidak pandai berbohong, sangat jujur dan terlalu polos.
Dengan wajah canggung dan sedikit merasa malu, Antony lalu menjawab,
"Ya. Aku merindukanmu,"
Emelin yang kaget itu hampir menjatuhkan ponselnya berkat kata-kata mendadak Antony barusan..
Antony merindukannya?
Apakan ini sebuah kebenaran?
Atau hanya mengiyakan perkataan Alex?
Namun bahkan walaupun ini hanya sekedar mengiyakan kata-kata Alex, Emelin juga cukup senang.
Akhhh....
Sudah terlanjur dikatakan...
Dalam Video mereka saling menatap dalam diam, merasa malu dengan kata-kata masing-masing.
"Astaga, kenapa Papa dan Mama bisa begitu lucu? Bukankan ini wajar untuk saling merindukan... Alex rindu Mama... Ingin cepat bertemu,"
Dua orang itu lalu tersadar setelah mendengar suara ceria itu.
"Alex, kamu ini ya..."
"Habis, Papa dan Mama sepertinya asik mesra-mesraan sendiri didepan Alex, dan melupakan Alex yang ada di pojokan ini, lihat Papa dan Mama pasti sudah bertelepon lama sebelum ini,"
Melihat wajah imut yang sedikit cemberut itu, membuat Emelin tertawa,
"Ya ampun, kamu belajar kata-kata ini dari mana, astaga Alex, siapa yang bermesra-mesraan?"
"Dari salah satu teman, Alex,"
Saat itu, mobil Emelin sudah sampai di tujuan, berhenti di depan toko serba ada disana.
Tentu, Emelin tidak berniat menutup teleponnya, hanya ingin mencari tempat yang lebih nyaman untuk melakukan Video Call itu.
Emelin terlihat sangat asik mengobrol dengan mereka, Alex selalu mengatakan banyak hal, walaupun Antony terlihat tidak banyak bicara, namun dia selalu mengagapin semua perkataannya.
"Kalian tahu? Tempat ini sangat indah, Pantainya sangat-sangat indah, sayang sekali aku belum bisa menunjukan pantai pada kalian karena kurangnya sinyal disini,"
"Benarkah Ma? Sangat indah?"
"Benar, ini sangat-sangat indah, aku ingin kapan-kapan mengajak kalian liburan kesini,"
"Alex jadi sangat ingin kesana, bagaimana kalau kami pergi ke sana menyusul Mama, Pa?" tanya Alex tiba-tiba pada Antony.
Reaksi Emelin dan Antony sama-sama menunjukan keterkejutan mereka.
Emelin memikirkannya, ini pasti akan menjadi hal yang baik jika mereka bisa menyusul.
Namun, Antony bukankah dia sangat sibuk?
Menjadi CEO Anderson Group sebesar itu pasti sibuk sekali bukan?
Banyak hal yang harus di urus, Raka saja yang katanya jadi wakil CEO sibuk dan selalu mengeluh setiap hari, padahal sepertinya sebagai wakil dia pasti tidak melakukan apapun dan beban tambahan itu pasti pada akhirnya dilimpahkan pada Antony bukan?
Sangat sibuk sekali, jadi pasti tidak akan ada waktu.
Namun, jawaban Antony mengejutkan Emelin,
"Itu terdengar ide yang bagus,"
Dengan ragu, Emelin bertanya,
"Kamu tidak sibuk?"
"Tidak, tidak. Aku selalu bisa meluangkan waktu, nanti kalau kamu tidak bisa pulang, akhir pekan ini kami yang akan kesana,"
"Benarkah?"
"Tentu saja,"
"Lihat, Papa sudah setuju!! Hore! Alex sangat gembira bisa menyusul Mama!"
"Ya ampun, Alex itu masih akhir pekan ini, masih lama,"
"Tapi tetap saja Alex senang, Alex kira tidak akan pernah melihat Mama sampai Bulan Depan, Mama biasanya kalau pergi menjadi sangat-sangat sibuk, dan sangat sulit dihubungi,"
"Itu kan dulu, sekarang Mama tentu tidak lagi sulit di hubungi, namun memang sinyal disini sedang buruk. Mama akan mencoba lebih sering mencari sinyal,"
"Apakah itu tidak merepotkan, Mama?"
"Tentu saja tidak. Mama juga ingin ngobrol dengan kalian tentu saja,"
Setelah beberapa waktu, mereka masih asik saling mengobrol satu sama lain, hingga sepertinya hari sudah cukup gelap, dan Emelin harus segera pulang ke Penginapan, karena jika lebih malam jalanan menuju kesana akan sepi dan meyeramkan.
"Sampai jumpa lagi, Alex...."
"Ya, sampai jumpa lagi Mama juga Papa..."
Alex lalu mematikan teleponnya terlebih dahulu meninggalkan hanya dua orang lagi disana.
"Ya, hati-hati saat perjalanan menuju penginapan," kata Antony singkat.
"Terimakasih sampai jumpa lagi,"
"Hmm, tidur nyenyak malam ini,"
"Ya..."
Dan telepon itupun berakhir.
Emelin sendiri, merasa sangat senang setelah berteleponan dengan Keluarga kecilnya itu.
Rasanya semua beban dan pikirannya akhir-akhir ini hilang.
Memang, masih ada beberapa masalah dengan Antony yang belum terselesaikan, namun urus saja itu nanti, tidak ingin hal-hal seperti itu mengagu Emelin saat ini.
Emelin hanya bisa terus bertanya-tanya apakah Antony benar-benar merindukannya....
####
Bersambung
####
Terimakasih atas dukungannya ya semua, 😆😆😆
Ku jadi makin semagat Update nih 💪