
Ini adalah hari yang lain, hari sangat cepat berlalu. Sudah hampir dua minggu sejak, Emelin dan Antony bulan madu.
Selama hari-hari ini, terlihat cukup damai-damai saja.
Pagi ini, sama seperti pagi-pagi yang lain, dimana Antony harus berangkat ke Kantor kerena kesibukannya.
Namun, pagi ini ada sedikit hal yang berbeda.
Saat ini, Antony dengan cemas menunggu Emelin keluar dari kamar mandi.
Namun itu berlangsung tidak lama, karena Emelin segera keluar dari kamar mandi, dia membawa sebuah alat Tes di tangannya.
"Bagaimana hasilnya?"
"Aku belum melihatnya. Aku cukup takut,"
Antony lalu mendatangi Emelin, dan memeluknya.
"Apa yang kamu takutkan? Apapun hasilnya, itu tidak masalah, ini tidak seperti aku buru-buru ingin memilikinya, kalau itu memang rejeki kita, aku yakin kamu akan segera hamil, namun jika tidak, tidak apa-apa,"
Emelin sedikit tersenyum lemah.
Ya, tentu saja dirinya tahu yang Antony katakan ada benarnya.
Lalu dirinya segera membuka alat tes ditangannya itu.
Disana ada garis merah, satu.
Antony juga menatap itu.
"Tidak apa-apa, tidak usah sedih, tidak perlu kecewa,"
"Ini Negatif,"
Antony tentu saja segera menghibur Istrinya itu.
"Ya, mungkin ini belum saatnya saja, masih ingin membuat aku menikmati Prosesnya mungkin? Setelah semua, jika kamu hamil, paling tidak aku harus puasa 1 tahun,"
Melihat respon datar Antony itu, ekpersi Emelin menjadi cemberut.
"Ukhh... Kamu ini ya,"
"Sudah, aku bilang jangan sedih,"
"Tapi, aku heran.... Padahal kita melakukan cukup sering saat Bulan Madu, dan juga kadang-kadang belakangan ini, namun kenapa belum juga berhasil? Padahal sebelumnya kamu hanya melakukan sekali, dan Alex tiba-tiba ada,"
"Aku juga mana tahu,"
"Sungguh, padahal kehamilanku sebelumnya juga, kita hanya melakukannya satu malam dan aku langsung hamil, sekarang kenapa tidak? Antony, apakah ada yang berbeda dari saat awal melakukannya dulu?"
"Astaga, sudah aku bilang aku tidak melakukan apa-apa, tidak ada yang berbeda,"
"Tapi ini benar-benar aneh, ketika kita mengiginkannya malah begitu sulit,"
"Tidak perlu di pikirkan, Emelin, pokoknya kita lakukan saja setiap hari agar cepat berhasil,"
Wajah Emelin langsung memerah.
"Itu keenakan kamunya, dasar,"
"Ya, bagaimana lagi? Aku suka yang enak-enak, dan memakan Istriku ini tentu saja menyenangkan,"
"Sana kamu pergi ke Kantor saja,"
Antony tentu mengabil kesempatan ini untuk mengoda Istrinya itu.
"Ini masih juga pagi, masih jam lima pagi, mau melakukan pemanasan di pagi hari?"
Emelin tentu saja tahu, 'Pemanasan' apa yang suaminya ini biacarakan.
Sungguh, pagi-pagi sekali, Suaminya ini sudah begitu bersemangat.
Emelin lalu melihat keadah tempat tidur, dimana Alex masih tertidur lelap.
Emelin tentu saja tanpa malu-malu, langsung menarik Antony ke dalam kamar mandi.
Ya, namanya usaha?
Mari coba lagi.
Antony tersenyum melihat Keputusan Istrinya itu.
"Emelin, semakin kesini sepertinya kamu melupakan rasa malu,"
"Mau bagaimana lagi? Suamiku ini sangat tampan, bagaimana aku tidak tergoda? Ah~"
Emelin segera melepaskan kancing baju bagian atas tubuh Antony.
Dari sana, lansung disajikan pemandangan yang indah.
Perut Sixpack yang terbentuk dengan baik, dan terlihat sangat indah.
Benar-benar menyegarkan mata di pagi hari.
Emelinh tentu saja langsung memujinya,
Antony tertawa mendengar respon Emelin itu,
"Tentu saja, ini salah satu cara untuk menyenangkan Istriku,"
"Kamu selalu bisa untuk mengodaku,"
Dan dua-duanya tanpa menahan diri, langsung berciuman, menikmati pagi yang damai ini.
####
Sudah hampir dua minggu Alissya kerja di Perusahaan Anderson.
Selama dua minggu ini, tentu saja dirinya masih penyesuaian.
Namun, atasannya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor, jadi dirinya mau tidak mau harus ikut lembur juga sebagai seorang Asisten.
Jarak antara Rumahnya dan Kantor hampir lebih dari satu jam perjalanan mengunakan motor.
Dan seperti pagi-pagi lainnya, Alissya yang cukup lelah itu, harus bangun dan berangkat ke Kantor pagi-pagi sekali.
Alissya tentu saja memikirkan soal mencari Kost dekat Kantor.
Namun, saat ini dirinya belum menerima gaji, dan berdasarkan keuangannya saat ini, masih belum mampu untuk menyewa tempat tinggal sementara.
Ngomong-ngomong, sudah hampir dua minggu ini juga dirinya tidak bertemu dengan Raka sejak kejadian sebelumnya.
Sepertinya Raka menghindari dirinya atau sesuatu.
Namun ketika pagi hari, di mejanya, sudah sejak beberapa hari lalu ada sebuah bunga mawar merah disana.
Setiap lagi, akan ada bunga baru yang segar, juga beberapa camilan untuk melengkapi sarapan, dengan sebuah kartu ucapan.
Seperti biasanya, Alissya sudah sampai di meja kerjanya pagi ini, dirinya segaja berangkat lebih awal kali ini.
Karena jelas ingin bertemu dengan seseorang yang memberikannya barang-barang itu.
Tentu saja, dirinya tahu siapa yang mengirimkannya barang-barang itu, bahkan walaupun dalam kartu ucapan tidak ada nama pengirimnya, dan hanya tulisan pengagum rahasia.
Hanya ada satu orang di Kantor ini yang akan melakukan itu dengan cara yang cukup kekanak-kanakan untuk mengirim dengan cara seperti ini padanya.
Dan benar saja, ketika Alissya memasuki lorong itu, tepat di depan meja kerjanya, terlihat siluet wajah yang familiar.
"Jadi itu benar-benar kamu, Raka,"
Raka yang awalnya tengah meletakan bunga dan camilan di meja Alissya itu tentu saja menjadi keget.
Kenapa Alissya sudah datang sepagi ini?
Ini bahkan belum jam tujuh pagi, bukankah rumahnya jauh?
Kalau dirinya kan memang Apartemen hanya dekat sekali dengan Kantor. Dirinya hanya mampir ke Kantor setiap pagi sambil olahraga pagi.
Awalannya sejak kejadian memalukan dengan Alissya sebelumnya, dirinya sempat menjadi binggung harus berbuat apa.
Namun, pada akhirnya dirinya bertanya pada hatinya, ya hatinya masih menginginkan Alissya untuk menjadi miliknya.
Itulah kenapa dirinya mulai bertekad mengejar Alissya.
Tapi, Alissya yang dirinya tahu, tidak menyukai hal-hal yang begitu mencolok dan didepan orang banyak, jadi dirinya memutuskan melakukan hal-hal diam-diam ini, kan barangkali, ini bisa meluluhkan hati Alissya.
Namun sekarang, ketahuan oleh orangnya, membuat Raka sedikit malu, wajahnya menjadi memerah, dan mulai membuat alasan.
"Aku... Aku hanya kebetulan lewat, ada apa dengan itu?"
Alissya tidak menjawab, hanya terus berjalan mendekat kearah Raka, Raka yang didekati oleh Alissya itu tentu saja secara refleks mundur kebelakang, namun sayangnya, belakangnya adalah meja, dan dia tidak bisa mundur lagi.
Melihat Alissya yang semakin dekat, tentu saja jagung Raka hampir copot.
"Benarkah itu? Aku rasa ini bukan jalanan umum dimana kamu bisa lewat,"
Perkataan Alissya itu membuat Raka semakin gugup,
"Ya... Aku... Aku hanya melihat-lihat...." Kata Raka lagi sambil menghindari tatapan mata Alissya.
Melihat ekpersi gugup Raka itu, entah kenapa Alissya merasa itu sedikit lucu.
"Aku tahu ini darimu, sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot,"
Raka yang tahu kalau dirinya akan ditolak lagi, tetap tidak menyerah.
"Itulah kenapa aku tidak ingin kamu tahu.... Kamu bilang sebelumnya dulu, aku hanya Raka... Ini tidak ada hubungan dengan Keluarga Anderson, hanya Raka... Aku ingin kamu hanya menatapku sebagai Raka...."
"Raka, kamu tahu itu tidak mungkin... Bahkan walaupun aku hanya menatapmu sebagai Raka, orang lain akan tetap memperhatikanmu sebagai Raka Anderson, dan pasti tidak akan menyukai kamu memiliki hubungan denganku,"
"Siapa yang peduli dengan orang lain? Aku benar-benar tidak peduli dengan apa kata orang, hanya jika kamu setuju...." Kata Raka tiba-tiba sambil memegang tangan Alissya.
"Raka ini...."
Namun sekali lagi, sebelum Alissya mengatakan sesuatu, Raka berkata,
"Alissya, kamu juga harusnya tahu kalau aku ini keras kepala, jadi aku tidak akan menyerah, aku akan membuatmu menyukaiku, dan menyukaiku, hingga kamu tidak bisa bilang tidak,"