
Sudah beberapa hari sejak pembicara serius antara Raka dan Kakeknya itu.
Pagi itu, Raka seperti biasanya bagian lebih pagi, dan membeli beberapa Saparan di toko serba ada disekitar Apartemennya, dan langsung menuju ke Kantor untuk meletakannya di meja Alissya sambil olahraga.
Hari itu, ketika berbicara dengan Kakeknya, memang Kakeknya itu sempat kaget dengan hal yang dirinya katakan.
Dirinya memang sempat dimarahi bahkan di tuduh melakukan hal macam-macam.
Namun dirinya sudah menjelaskan kalau ini tidak seperti itu.
"Kakek, ini tidak seperti itu... Aku hanya ingin segera menikah dengan wanita yang aku suka... Hanya saja.... Dia bukan dari Keluarga yang cukup kaya, jadi... Aku tahu jika Orang Tuaku tidak akan setuju itulah kenapa aku meminta restu Kakek, aku harap Kakek akan setuju dengan permintaanku,"
Saat itu Kakek Raka langsung terdim, memikirkan sejenak.
"Bawa gadis itu ke Rumah jika kamu serius,"
"Benar, itu Kakek?"
"Soal urusan cinta, Kakekmu tidak terlalu memiliki pendapat asal itu orang yang cukup baik, tapi..."
"Tapi Apa Kakek?"
"Sudahlah, yang penting bawa saja kesini jika kamu serius, aku yang akan menilai apakah dia wanita baik atau tidak, mana tau dia hanya mengiginkan uang-uangmu,"
"Sungguh, dia tidak seperti itu...."
"Dan ingat, Aku belum tentu setuju dengan ini, kamu masih muda dan tidak memiliki pencapaian apapun, apa yang nanti akan kamu lakukan setelah menikah?"
Raka saat itu terdiam.
"Aku berjanji jika aku akan mencoba mengurus Perusahaan dengan baik,"
"Pegang janjimu itu, jika kamu serius. Kakek nanti yang akan mencoba bicara dengan orang tuamu,"
"Terimakasih Kakek,"
Tentu mendegar Kakeknya itu sepertinya akan setuju dengan idenya itu, Raka menjadi senang.
Jadi, Raka terus untuk mencoba mengejar Cinta Alissya.
Ya!!
Tinggal sedikit lagi!!
Dirinya yakin, akan bisa membawa Alissya pulang dan menikahinya.
Dirinya juga harus menjadi seorang Pria yang bisa diandalkan, yang bisa melindunginya.
Sekarang, mari mulai dengan menjadi rajin dalam bekerja agar tidak ada lagi yang memasang rendah dirinya, jadi nanti dirinya punya cukup kekuatan untuk melindungi Alissya.
####
Di tempat lainnya, seperti hari-hari lainnya, Emelin saat ini bekerja di Perusahaan AX Entertainment.
Setelah lebih dari satu bulan berada disana, Emelin sudah terbiasa dengan pekerja disana.
Apalagi, kehamilanya yang merupakan bayi kembar cukup rawan, dan perutnya yang makin membesar, membuat jatwal syuting Emelin benar-benar di kurangi.
Namun dia masih melakukan siaran langsung, dan dia masih cukup populer dengan video-video yang di unggahnya.
Emelin yang melihat berbagai komentar positif setelah dirinya mengumumkan kehamilan yang tiga bulan itu, sangat senang.
"Ini benar-benar baik," kata Emelin sambil mengelus perutnya.
Sebentar lagi akan ada bayi kembar, namun memikirkannya lagi, Emelin sejujurnya cukup cemas.
Dulu saat hamil Alex, dirinya mengalami hal-hal sulit sehingga tidak bisa melahirkan dengan normal.
Lalu saat ini dirinya mengandung dua bayi sekaligus, tentu saja ini membuat Emelin cemas, apakah nantinya akan lancar atau tidak, apakah dirinya akan kuat atau tidak.
Mood Emelin tentu menjadi berubah-ubah karena bawaan Ibu hamil itu.
Namun segera Emelin mengeleng-gelengkan kepalanya, dan mulai berpikir positif,
"Aku tidak bisa berpikir seperti itu, aku pasti kuat. Dulu aku juga menaggung begitu banyak hal ketika hamil Alex, dan masih bisa melahirkan Alex dengan selamat, dan sekarang Putraku juga tumbuh begitu besar," gumanya mencoba penuh energi positif.
Lagipula ini masih terlalu awal memikirkan soal persalinan nantinya.
Baru juga tiga bulan.
"Permisi Ibu Emelin saya melaporkan jika Surat Undangan yang Ibu Emelin suruh saya bagikan, sudah saya bagikan," kata Ana, Asisten Emelin itu.
"Kerja bagus, jangan lupa besok kamu datang juga ke acaraku," kata Emelin dengan senang.
"Tentu saja saya akan datang. Saya mengucapkan Selamat pada Ibu Emelin untuk Kehamilannya,"
"Terimakasih, Ana."
"Aku melihat, sepertinya Acara Syukuran ini akan menjadi Acara Besar?"
Mendengar itu, Emelin sedikit tersenyum lalu menjawab,
"Itu benar, Kakek Suamiku begitu bersemangat setelah mendengar Berita ini, jadi dia ingin mengadakan Acara Besar, jadi dia bisa memperkenalkan Cucunya Antony dan Aku sebagai Istrinya secara Resmi pada Publik dan Rekan Bisnisnya,"
"Ah, Benar Suami Anda dari Keluarga Anderson yang Kaya Raya itu, hmm ini memang akan menjadi Acara Besar. Semoga semuanya berjalan dengan lancar,"
"Ya, semoga saja Acara ini berjalan dengan lancar,"
Emelin sendiri Acara ini cukup merepotkan, karena akan ada banyak Tamu dari berbagai Perusahaan akan datang.
Namun mau bagaimana lagi, ini permintaan Keluarga Besar, dirinya dan Antony juga tidak bisa menolak.
Hanya bisa berharap agar semua akan baik-baik saja nantinya.
####
Charlise yang baru saja masuk itu, dan melihat Kakaknya sudah duduk di kursi, langsung berkata dengan tidak sabar,
"Apa hal penting yang ingin Kakak katakan padaku?"
Melihat adiknya itu memiliki ekspresi sebal, Thomas menjadi semakin marah.
"Charlise, aku peringatkan kamu agar jangan macam-macam dengan Putraku atau Istrinya,"
Mendengar hal itu, jelas Charlise yang menjadi tersinggung.
"Cih, apa yang aku lakukan? Lagipula dia hanya anak haram yang tidak pernah kamu anggap, namun sekarang kamu bersiap seperti seorang Ayah? Sungguh tidak tahu malu,"
"Diam kamu! Ini bukan urusanmu soal bagaimana hubunganku dan Putramu! Aku hanya kesini memperingatkanmu agar tidak macam-macam pada mereka,"
"Hah, seolah aku akan repot-repot mengurusi anak Harammu itu. Bukankah itu kamu dan anak Harammu itu yang berusaha menjebak Putraku? Sungguh, kalian tidak tahu diri, mengunakan Trik Licik semacam itu,"
"Aku tidak tahu omong kosong apa yang kamu bicarakan. Aku memperingatkanmu karena aku tahu kamulah yang selama ini mengaggu dan menjadi mata-mata untuk Putraku, membocorkan data dan mengacaukan urusannya, agar Proyek-proyek nya tidak berjalan dengan baik dan membuat Ayah kecewa padanya,"
Mendengar itu, Charlise jelas marah.
Memang dirinya mengirimkan Mata-mata namun hanya sekedar untuk memantau Informasi tidak lebih dan tidak kurang.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Aku tidak melakukan itu!! Jangan bicara sembarangan!!"
"Kamu masih berani mengelak? Dasar tidak tahu malu!"
"Apa maksudmu Kak?"
"Padahal aku sudah berusaha memanfaatkanmu atas perbuatan yang kamu lakukan padaku dulu atas dasar persaudaraan kita, namun sekarang kamu berani membuat masalah dengan Putraku hah?"
"Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud Kakak. Jangan bicara Omong kosong,"
Thomas malah tertawa, lalu berkata lagi,
"Jangan berlagak bodoh, Charlise. Aku sudah tahu bahwa kamu adalah dalang dari Kecelakaan yang menimpaku dulu, lihat aku punya bukti kamu berbicara dengan orang yang menabrak ku saat itu," kata Thomas sambil menunjukan foto yang didapatnya.
Dan benar saja, wajah Charlise menjadi pucat, dia mengambil foto itu dengan gemetar.
Memikirkan hari itu membuat dirinya merasa tidak nyaman.
Dan rasa bersalah mulai muncul...
Ini mengigatkannya ketika Ibunya tahu soal hal ini lalu penyakitnya kambuh, kambuh.
Hari ketika pertengkarkan mereka.
"Cherlise!! Ini semua perbuatanmu bukan? Kamu ini sangat berani sampai mencoba mencelakakan Kakakmu!!"
"Apa? Aku tidak!!"
"Jangan lagi mengelak, aku sudah dapat semua buktinya. Thomas itu Kakak Kandung mu sendiri!! Tapi kenapa kamu begitu tega hah!!"
"Hah... Kakak apa? Semua orang selalu saja membela Kak Thomas.... Dan selalu memuji-muji dia dalam semua hal. Lalu aku apa? Ayah bahkan tidak melihat sedikitpun perjuanganku di Perusahaan, dan Kak Thomas yang baru datang dari Luar Negeri itu langsung mendapatkan posisi bagus? Semua selalu Kak Thomas, dia adalah nomor satu, yang terbaik... Thomas ini Thomas itu... Lalu aku apa? Apakah aku ini bukan Putra kalian?"
Setelah mengatakan itu, sebuah tamparan melayang ke pipi Charlise.
"Apa? Ingin menamparku? Tampar saja aku sesuka Ibu!"
"Charlise, kamu itu anak kandung kamu dan Thomas adalah Kakakmu! Jaga bicaramu!!"
"Jaga bicara apa? Apa yang kalian tahu soal aku? Apakah pernah kalian ada di pihakku!!"
"Charlise kamu...."
Setelahnya, Ibu mereka itu masuk ke Rumah Sakit setelah serangan jantungnya kambuh.
Memang, orang-orang tidak tahu apa yang mereka berdebatkan, dan rahasia itu tetap tersimpan karena kematian Ibu mereka.
Sungguh, dirinya tidak pernah menghadapkan kejadian seperti itu terjadi...
Dan sekarang ketika hal-hal ini di ungkapkan...
Jika Ayahnya tahu...
Namun hal-hal sudah menjadi seperti ini...
Apa lagi yang dirinya bisa?
Kakaknya sudah memiliki bukti...
Cepat atau lambat, Ayah mereka akan tahu, dan dirinya sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya....
Perasaan Charlise begitu rumit memikirkan soal ini, dia langsung merobek foto itu.
Dan berkata dengan marah,
"Lalu bagaimana jika itu benar aku? Aku sangat membenci Kakak!! Sangat!!"
Thomas menjadi kaget mendengar pengakuan itu.
"Kamu...."
"Hah, apakah Kakak akan marah sekarang? Aku yang seharusnya marah... Kita sama-sama terlahir dari rahim yang sama... Namun kenapa kita diperlukan bagitu berbeda.... Kakak selalu mendapatkan segalanya sejak kecil, pujian dari Ayah dan Ibu, pujian dari semua orang, cinta mereka.... Kesayangan mereka, kebangga mereka. Aku setiap kali melakukan sesuatu, selalu dibandingkan dengan Kak Thomas. Harus sebaik ini lah, harus seperti Kakak lah, aku begitu muak mendegar ini semua itu!! Semua hanya ada di pihak Kakak tidak ada yang ada dipihakku..... Aku benar-benar membenci Kakak!! Lebih baik Kakak lenyap saja dari hidupku!!"
Kata-kata itu penuh kebencian dan emosi yang meluap.
Thomas terdiam setelah mendengar itu, tidak tahu harus merespon bagaimana.
Dan Charlise sendiri juga sudah muak berada disana lalu keluar dari ruangan itu.