
Setelah melihat pantulan dirinya yang memalukan didepan cermin, Emelin buru-buru mandi.
Terkena air, beberapa tanda itu jadi terasa sedikit sakit.
Emelin mulai berendam air hangat sedikit untuk menenangkan ototnya yang pegal-pegal.
Pikiran Emelin masih penuh dengan hal-hal yang dirinya dan Antony lakukan.
Masih banyak pertanyaan yang mengajal dalam hati Emelin soal tindakan Antony semalam, namun Emelin tahu ini bukan saatnya dirinya memikirkan soal itu, dirinya harus buru-buru segera kembali kerumah sebelum Alex bangun.
Untuk membuat Alex tenang.
Bagaimanapun juga Alex hanya seorang anak kecil, wajar jika dia khawatir kalau orang tuanya tiba-tiba tidak pulang, dan tanpa memberikan kabar sama sekali.
Anak yang cukup dewasa saja pasti juga akan tiba-tiba cemas dan panik jika orang tuanya tiba-tiba tidak pulang tanpa kabar, apalagi anak sekecil Alex?
Emelin benar-benar merasa bersalah.
Ini semua juga karena Antony semalam cukup ketelaluan, ada apa dengannya semalam, menyeret dirinya tiba-tiba ke kamar hotel ini?
Sungguh aneh, bahkan semalam menjadi sangat agresif, dan tidak membiarkan dirinya menyentuh ponselnya, membuat ponselnya diam semalaman, itu mengakibatkan Alex semalaman khawatir.
Memikirkan Alex, Emelin segera menyelesaikan mandinya, lalu menatap kearah pakaian, dirinya terpaksa memakai pakaian Antony.
Melihat kemeja kebesaran dan celana kebesaran ditubuhnya itu, Emelin jelas merasa tidak nyaman.
Melihat pantulan dirinya di cermin, penampilan ini benar-benar memalukan!!
Apalagi tanda di leher yang sangat terlihat ini!!
Akhhhh....
Antony itu, kenapa dia membuat tanda di tempat yang terlihat?
Dirinya masih harus syuting Iklan untuk beberapa hari lagi!?
Bagaimana kalau tanda ini belum hilang?
Setidaknya ini butuh waktu lebih dari tiga hari untuk hilang.
Namun dengan penampilan ini jika dirinya terlihat keluar dari kamar hotel....
Astaga....
Apa yang akan orang lain pikirkan?
Tapi bagaimana lagi, dirinya tidak memiliki pilihan.
Dengan itu, Emelin keluar dari kamar mandi, sambil memegangi celananya yang kebesaran takut melorot.
Namun begitu Emelin keluar, dia disuguhkan dengan pemandangan yang menyilaukan mata, sampai-sampai Emelin lupa dengan celana kebesaran yang dirinya pakai hingga celana itu terlepas kebawah.
Itu adalah pemadangan dimana Antony berjalan menuju kamar mandi, tanpa mengenakan apapun ditubuhnya!!!
Tanpa apapun!!
Dengan tubuh dan semuanya terpapar termasuk bagian rahasianya itu!!
Emelin sedikit salah fokus menatap bagian tertentu ditubuh Antony dibawah sana, segera menutup matanya dengan tangan.
"A... Antony!! Sejak kapan kamu menjadi tidak tahu malu!! Tutup itu!! Tutup!!!"
Awalnya, Antony yang baru bangun tidur itu sangat panik karena saat dirinya bagun, sudah tidak ada lagi orang disisinya.
Kemudian mengigat lagi kejadian samar-samar semalam yang dirinya lakukan pada Emelin.
Dirinya juga tidak tahu kenapa bisa sampai seperti itu.
Seolah ada sesuatu yang merasukinya.
Namun membayangkan sekarang Emelin sudah tidak ada lagi disampingnya, Antony langsung menjadi panik.
Jangan bilang Emelin marah kerena semalam?
Otaknya tidak bekerja dengan benar semalam, dan entah kenapa termakan api cemburu yang tidak jelas.
Dan lagi tindakannya semalam....
Pasti ada seseorang yang mencoba menjebaknya dan memberikan obat aneh...
Sialan...
Antony yang panik itu, lalu bangun dari tempat tidurnya, mencoba mencari baju untuk dirinya pakai, namun tidak menemukan bajunya, hanya sisa-sisa kain dari gaun Emelin yang berserakan dilantai.
Padahal dirinya harus segera menemui Emelin, mencarinya, dan menjelaskan semuanya.
Antony berjalan dengan panik diseluruh kamar hotel itu sampai dia berada didepan kamar mandi.
Siapa yang tahu, orang yang dicarinya itu tiba-tiba keluar dari kamar mandi dengan penampilan....
Yang menggoda?
Emelin memakai kemeja putih miliknya yang terlihat kebesaran, celananya barusan melorot, dan hanya membiarkan Emelin memakai kemeja putih itu menutupi sedikit bagian pahanya.
Belum lagi, tanda merah di leher Emelin sangat jelas terlihat, juga beberapa tanda di paha putih itu.
Warna merah benar-benar terlihat jelas di kulit putih Emelin.
Memikirkan kalau hal-hal itu adalah hasil dari kerja kerasnya semalam, membuat sebuah perasaan senang entah bagaimana muncul di hati Antony, sebuah kepuasan tertentu yang tidak bisa dijelaskan.
Apalagi pengalaman semalam sangat menyenangkan....
Memikirkan hal-hal itu dan melihat penampilan mengoda Emelin, merasa sesuatu dibawah sana mulai kembali bangun.
"Antony!! Tutup itu!! Dan.... Dan kenapa itu malah... Malah menjadi besar.... Akhhhh....."
Emelin yang sedikit mengintip dari balik tangannya itu sungguh syok melihat milik Antony tiba-tiba bereaksi!!
Antony sendiri lalu buru-buru menutupi miliknya itu dengan tangannya, karena memang tidak ada apa-apa yang bisa digunakan untuk menutupinya.
Sungguh menyesalkan, kenapa adik kecilnya dibawah sini tidak bisa diajak kerja sama dan malah bereaksi disaat seperti ini?
Ini terlalu memalukan!!
Emelin sendiri menjadi panik, ingin segera lari dari hadapan Antony, lupa kalau celananya itu terlepas dan malah membuat Emelin tergelincir.
"Awas!!" Teriak Antony mencoba tanggapan, namun Antony tidak menangkap Emelin tepat waktu, karena Antony juga tergelincir sesuatu yang ada dilantai.
Mengakibatkan mereka berdua jatuh.
Hal yang Emelin lihat lagi ketika membuka matanya adalah sesuatu tersembunyi milik Antony tepat didepan matanya, benda itu hampir mengenai wajahnya!!
Antony sepertinya jatuh terduduk, dengan Emelin tersungkur didepannya.
Sekarang posisi mereka sangat canggung seolah-olah Emelin sedang.....
Tatapan mereka lalu bertemu, dan wajah mereka lalu menjadi merah semua, karena masing-masing merasa malu.
Emelin menghadap kearah lainnya, lalu membenarkan celananya, sedangkan Antony masih kebingungan mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya, namun benar-benar tidak ada apa-apa disana untuk menutupinya.
Jadi Anting hanya bisa membalik tubuhnya, dan membelakangi Emelin dengan canggung.
"Emelin..." Panggil Antony dengan canggung.
Emelin akhirnya kembali keakal sehatnya, dan teringat kalau dirinya harus segera pulang dan menemui Alex.
Masih tidak tahu harus berkata apa pada Antony!!
Sungguh terlalu canggung!!
"Antony, aku minta maaf tapi aku harus buru-buru pulang, Alex sepertinya sangat khawatir sampai dia sepertinya demam karena kita tidak memberi kabar semalam,"
Antony juga segera sadar, melihat Emelin yang hampir pergi, memegang tangannya,
"Aku juga harus ikut denganmu,"
Emelin lalu sekali lagi, menutup matanya, dan berkata pada Antony,
"Kamu.... Kamu sebaiknya temukan saja dulu pakaian, aku pergi dulu..."
Sekarang Antony jadi teringat kalau dirinya tidak mengenakan pakaian apapun!!
"Lalu.... Bajuku...." Kata Antony sambil menatap baju yang Emelin pakai.
Emelin juga segera mengambil jas di tempat tidur untuk dirinya pakai karena kemejanya masih sedikit transparan.
"Sudahlah!! Cari cara sendiri untuk menemukan pakaian!! Itu salahmu sendiri merusak gaunku!! Aku pergi duluan, Alex sedang menunggu, takut dia menjadi kepikiran kalau aku tidak segera kesana ketika dia bangun," kata Emelin, setelah membereskan pakaian pada tubuhnya, memastikan celana aman, dan jas juga aman.
Emelin langsung pergi menuju pintu keluar, meninggalkan Antony yang tidak mengenakan apa-apa itu dikamar hotel sendirian.
"Sial, Emelin benar-benar tega meninggalkanku disini tanpa pakaian...."
Antony hanya bisa menatap kepergian Emelin itu dengan perasaan yang cukup rumit.
####
Setelah Emelin keluar dari hotel dan memesan taksi dari ponselnya, dirinya akhirnya merasa lega.
Situasi tadi benar-benar sangat memalukan sampai-sampai dirinya lupa dengan apa yang ingin dia katakan pada Antony.
Akhhhh....
Terlalu memalukan!!
Dan Antony itu!!
Benar-benar berkeliling kamar hotel seperti itu!
Untung saja itu kamar pribadi.
Sial!!
Benar-benar menggoda iman di pagi hari!!
Dengan perasaan yang cukup rumit juga, Emelin naik taksi dengan lancar, sampai dirinya akhirnya sampai dirumah.
Disana dia langsung disambut oleh pembantu disana, menatap Emelin dengan penuh tanya, karena baju yang di pakai Emelin itu...
Itu sepertinya milik Tuan Antony?
"Nyonya akhirnya pulang juga, Nyonya tidak bersama Tuan?"
"Ya, aku pulang, Soal Antony dia akan pulang nanti, mana Alex?"
"Saat ini Tuan Muda Alex bersama pengasuh dikamarnya, Tuan Muda sangat khawatir dari semalam dan tidak bisa tidur,"
"Aku sudah dengar ceritanya, kamu segera siapkan bubur, untuk aku dan Alex segera bawa kekamar Alex,"
"Baik Nyonya,"
"Dan satu lagi, bawahan baju ganti untukku, bawa kekamar Alex,"
Pembatu itu segera pergi setelah mengiyakan perintah Emelin.
Emelin, lalu langsung menuju kekamar Alex.
Dan benar saja, saat ini Alex sedang tidur lelap ditempat tidur, terlihat wajahnya sedikit memerah.
Emelin lalu menyentuh wajah kecil itu, dan benar saja ada sedikit panas disana.
"Alex jangan khawatir, Mama disini sekarang, tidak akan kemana-mana," kata Emelin mengelus rambut Alex, mencoba menengangkannya dalam tidurnya.
Melihat wajah kecil itu sepertinya habis menagis cukup banyak, terlihat dari sisa air mata di bajunya, membuat Emelin tiba-tiba merasa sedih.
"Ini salah, Mama membuatmu khawatir,"
Alex yang terlelap tidur itu, merasakan kehangatan yang menyentuhnya, kemudian membuka matanya.
"Mama? Mama? Ini benar-benar Mama?"
"Iya, Alex, Mama tidak kenapa-kenapa, Mama sekarang disini, jadi tidak usah khawatir lagi oke?"
Alex langsung memeluk Emelin.
"Hiks.... Alex begitu takut... Takut terjadi sesuatu pada Mama dan Papa, karena tidak pulang... Dan Papa... Mana Papa Ma?"
Emelin lalu memeluk anak itu lebih erat,
"Tidak terjadi apa-apa dengan Mama dan Papa, kami bersama semalam, sebentar lagi Papa juga akan pulang, jadi Alex tidak perlu cemas..."
"Benarkah?"
"Ya, kami benar-benar tidak kenapa-kenapa,"
"Tapi.. tapi Alex telepon dari semalam kenapa tidak diangkat, Alex begitu cemas...."
Sekarang, Emelin jadi binggung membuat alasan, Alex masih kecil tidak bisa juga menjelaskan hal-hal yang terjadi semalam antara dirinya dan Antony bukan?
"Itu... Itu... Papamu yang membuat sedikit masalah semalam, jadi membuat Mama tidak bisa pulang atau mengabarimu..."
Alex lalu menatap Emelin dengan serius,
"Jadi ini salah Papa?? Papa membuat masalah dengan Mama?? Benar-benar Papa itu!! Nanti kalau Papa pulang akan Alex marahi!! Membuat Alex cemas saja sepanjang malam, hpmh..."
Melihat wajah cemebut itu, dan ekpersi Alex yang sepertinya sudah pulih, membuat Emelin tersenyum sedikit lega.
"Ya ya, nanti marahi saja itu Papamu oke? Sekarang bagaimana kalau Alex makan dulu? Aku dengar Alex belum makan?"
"Hmm, ya Alex tiba-tiba merasa sangat lapar..."
####
Bersambung