Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Episode 49: Berdua di Kamar


Antony sedikit tertawa melihat ekpersi malu dari Emelin, jadi ada beberapa rasa untuk sedikit mengodanya,


"Kamu masih memiliki beberapa rasa malu setelah berani mengatakan hal-hal seperti itu sebelumnya,"


"A... Apa? Aku bilang untuk melupakan kejadian saat itu oke? Aku hanya tindakan Impulsif ketika aku masih muda, lupakan hal-hal memalukan itu!"


"Aku tidak mungkin melupakannya bukan? Lagipula aku juga cukup menikmatinya, hal-hal indah cukup disimpan dimemory,"


"Me... Menikmati apa...."


"Tentu saja untuk melayanimu, Nona Emelin Smith," kata Antony sambil mengambil tangan Emelin, dan mencium ujung tangannya itu, membuat Emelin memerah dan malu, lalu segera menarik tangannya, menutupi wajahnya dengan bantal kecil.


"Omong kosong apa itu,"


"Tapi aku pikir kamu menyukai hal-hal seperti ini dan terutama di panggil dengan cara seperti itu, kita sering bermain-main dengan itu bukan? Permainan Majikan dan Pelayanannya,"


Emelin mengintip dari balik bantal, menatap bagaimana Antony benar-benar mengigat semua itu, dan dirinya benar-benar merasa malu, lalu Emelin mulai melemparkan bantal yang dipegangnya kewajah Antony.


"Tidur, sana tidur, jangan membicarakan omong kosong," kata Emelin lagi.


"Kamu benar-benar tidak ingin melakukan hal-hal yang lain, Nona Emelin Smith?"


"Akhhhh.... Antony jangan katakan itu lagi...."


"Tapi kamu dulu sangat suka dipanggil seperti itu, apakah sekarang kesukaanmu berubah?"


"Diam! Diam kamu!! Jangan katakan lagi. Aku ingin tidur,"


"Baiklah-baiklah kalau kamu ingin tidur,"


Antony lalu kembali menunjukkan ekpersinya yang seperti biasanya, lalu bangun dari tempat tidur, mengambil bantal disana, setelah meletakan laptop dan kacamata di meja.


Tidakkah tiba-tiba itu membuat Emelin bertanya-tanya,


"Mau kemana?"


"Aku pikir kamu akan merasa tidak nyaman untuk tidur berdua denganku ditempat tidur? Dikamar ini ada sofa, aku akan kesana,"


"Setelah mengatakan hal-hal tidak tahu malu barusan, kamu masih mengatakan itu? Bagaimana aku tidak nyaman? Kamu pikir kita pengantin baru atau sesuatu, kita sudah menikah tujuh tahun, tidak masalah hanya berbagi tempat tidur,"


"Benarkah? Namun untuk beberapa alasan, dari dulu kamu selalu kembali kekamarmu atau menyuruhku kembali kekamarku setelah melakukannya, jadi aku kira kamu memang tidak suka tidur dengan seseorang di tempat tidur."


Emelin memilikirkannya, namun memang benar, dirinya memiki kebiasaan seperti itu.


Rasanya aneh jika tidur dengan orang lain, terutama menatap kulit telanjang seseorang, owh iya benar ini mengigatkannya pada kebiasaan tidur Antony.


Antony memang tidak suka tidur memakai bajunya, itu salah satu alasan pokoknya.


"Bu.. bukan, itu karena kebiasaan tidurmu bukan? Pakai bajumu,"


Antony lalu diingatkan oleh sesuatu,


"Ah itu? Sejak Alex cukup besar, aku sudah merubah kebiasaan tidur itu, karena anak itu suka menyelinap ke kamar, tapi memang lebih nyaman seperti dulu,"


Disini, Antony mulai sedikit membuka kerah bajunya.


"Aku bilang jangan dilepas!"


"Siapa yang mau melepasnya? Aku hanya melepaskan beberapa kancing baju agar tidak panas, namun apakah kamu lebih suka aku melepaskannya?"


"Ti... Tidak.... Siapa yang mau melihatnya,"


"Tapi kamu sudah melihat semuanya, apa lagi yang perlu disembunyikan?"


Emelin langsung memposisikan dirinya untuk tidur, menungging Antony, tidak lagi mendengarkan omong kosongnya itu.


Antony tertawa kecil melihat sikap lucu Emelin.


Memang, mereka sudah menikah selama tujuh tahun, tapi hanya beberapa kali saja mereka berdua tidur berdua saja dikamar.


Itu aneh, tapi memang itu kenyataanya.


"Hey, Emelin?"


Emelin lalu sedikit berbalik, lalu berkata dengan nada bercanda.


"Apalagi? Berhentilah mengodaku, atau aku akan benar-benar meminta layanan malam untuk malam ini,"


Wajah Antony menunjukan sedikit keterkejutannya, lalu mulai membalas dengan santai.


"Kamu selalu bisa memintanya jika kamu ingin,"


"Berhentilah bercanda, hmph" kata Emelin lalu kembali berbalik dan memposisikan tidurnya.


Lalu tiba-tiba suara nafas hangat terasa di telinga Emelin.


"Kali ini aku serius,"


Itu hanya singkat, sampai Antony kembali ke posisinya semula, lalu berbaring disana, seolah-olah buka dia yang mengatakan hal-hal tidak tahu malu itu, membiarkan telinga Emelin memerah karena malu.


'Hmph, Antony memang aneh,' pikir Emelin lalu mulai mencoba tengelam dalam tidurnya.


Emelin yang setengah tidur itu bisa merasakan kalau sepertinya lampu sudah dimatikan, dan disebelahnya, sepertinya sudah tidak ada suara.


Sedikit penasaran, Emelin membalik tubuhnya.


Namun ketika membalik tubuhnya, dia di sambut oleh sebuah wajah tampan yang tertidur.


Memang, wajah ini terlihat lebih bagus ketika tertidur seperti ini.


Hmm, sangat tampan.


Emelin diam-diam mendekatkan wajahnya, lalu sedikit mencium bibir Antony.


Akhhh...


Rasanya sangat lembut...


Sungguh keberanian dari mana mencium Antony diam-diam seperti itu?


Namun sungguh itu tidak tertahankan.


Tiba-tiba, mata yang terpejam itu terbuka.


Tatapan mata mereka bertemu,


"Kamu rupanya bisa nakal,"


Melihat mata itu, rasa malu Emelin muncul.


Sial, jadi dia belum tidur?


"Ti... Tidak...."


Disini Emelin yang merasa malu itu lalu mencoba memalingkan tubuhnya, namun itu dicegah oleh tangan Antony.


Antony memeluk Emelin, membawa kepala Emelin didadanya,


"Hmm, lebih hangat seperti ini,"


Emelin merasa aneh dengan posisi canggung ini, namun tiba-tiba saja dia merasa mengantuk berada dalam pelukan yang tiba-tiba ini.


Rasanya memang sangat nyaman berada dalam pelukan Antony seperti ini...


Namun tiba-tiba ini mengigatkan Emelin pada sesuatu.


"Kenapa kamu bersikap begitu baik padaku?"


"Mungkin karena Alex? Aku juga tidak mengerti,"


"Soal, Alex ya? Awalnya aku tidak begitu terlalu memikirkannya saat membuat perjanjian Pernikahan Kontrak denganmu,"


"Awalnya aku juga tidak terlalu banyak berpikir saat itu, hanya saja...."


"Hmm, saat itu kita memang masih begitu muda, dan bahkan sebelum kita banyak berpikir soal anak, aku sudah hamil begitu tiba-tiba,"


"Kamu benar, itu juga bahkan sebuah kejutan tidak terduga untukku, untuk tiba-tiba menjadi seorang Ayah..."


"Ya, dan semua berjalan seperti itu dengan begitu cepat. Terkadang aku bertanya-tanya, apakah kamu menyesalinya?"


"Menyesali apa?"


"Menikah kontrak denganku, dan memiliki seorang anak denganku..."


"Aku tidak pernah menyesalinya, bahakan walaupun harus memulai ulang, aku akan tetap mengambil pilihan yang sama. Ketika aku tidak memiliki siapapun, kamu memberiku Alex, aku sangat menyayanginya, dia adalah segalanya untukku."


"Begitukah?"


"Apa kamu yang menyesalinya, Emelin? Aku pikir sejak kamu hamil tiba-tiba dulu, kamu memiliki banyak masa-masa sulit,"


"Entahlah, aku juga tidak tahu."


"Mungkin tidak ada gunanya membicarakan masalalu sekarang,"


"Tidak juga, tapi memang aku memiliki banyak penyesalan. Bahkan setelah Alex lahir, bukankah aku ibu yang jahat? Aku bahkan tidak menyentuhnya ketika dia barusaja lahir, tidak pernah menyusuinya,"


"Tapi pada akhirnya, kamu tetap memperlakukannya dengan baik sejak dulu, aku pikir itu kenapa dia begitu menyayangi dan menyukaimu,"


Disini Emelin ingin sedikit bertanya,


'Bagemana denganmu? Apakan kamu juga menyukaiku?'


Namun Emelin tidak berani bertanya.


Dengan itu mengakhiri percakapan itu, Emelin jatuh tertidur dengan lelap dalam pelukan hangat itu.


Tidak apa-apa, tidak perlu banyak memikirkannya.


####


Bersambung