
Emelin dan Alissya tentu saja mencoba lari dari kejaran anak buah Geovanni itu, dan pengawal Emelin mencoba melindungi Nyonya mereka itu sebaik mungkin, berkelahi dengan lawan mereka, namun sayangnya, pengawal yang Emelin bawa hanya dua orang, jadi dengan kalah jumlah, Pengawal Emelin akhirnya kalah dalam pertarungannya.
Namun untungnya, itu tetap memberi mereka kesempatan untuk melarikan diri.
Sayangnya, Emelin yang saat ini tengah hamil, susah untuk berlari.
"Kak Emelin tidak apa-apa?"
"Alissya, mari segera lari saja aku tidak apa-apa,"
"Namun Kak Kandungan Kakak...."
"Aku akan hati-hati,"
Sungguh sial, tidak lama setelah Emelin berkata itu, Emelin terpeleset dan hampir jatuh.
Jika bukan karena Alissya yang mencoba memegang Emelin, Emelin mungkin akan benar-benar jatuh.
"Awww...."
Namun tetap saja Kaki Emelin menjadi sakit.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja sungguh,"
Melihat wajah Emelin yang sedikit pucat itu, Alissya tentu saja cemas.
Sial, dirinya tidak pernah mengira kalau hal-hal akan menjadi seperti ini.
Mereka berdua benar-benar sial untuk bertemu dengan beberapa orang jahat.
Namun apa maksud orang-orang tadi?
Alissya tidak mau terlalu memikirkannya.
"Kita sudah dekat Ke mobil," kata Alissya merasa sedikit lega.
Mereka lh segera tiba di mobil Emelin, dan Emelin segera berkata pada Pak Supirnya itu,
"Pak Supir mari segera antarkan kami ke Perusahaan Anderson secepatnya!!"
Supir itu yang melihat nyonyanya panik, segera mematuhi perintahnya, membiarkan mereka masuk, lalu langsung tancap gas kesana.
Disisi lainnya, para anak buah Geovanni juga tidak kalah sigap, begitu Emelin naik mobil, mereka segera menaiki mobil juga dan berkordinasi mencoba mengejar Emelin.
Geovanni yang mendengar kabar itu dari bawahannya segera berkata pada Viktor,
"Kita bisa habis jika mereka memberi tahu hal-hal ini pada Semua orang!"
"Iya, aku tahu. Jadi bagaimana situasinya?"
"Mereka berdua berhasil lolos dan naik mobil, namun Anak Buahku berhasil mengejar mereka dan mengikuti mereka. Menurut mu kenapa tujuan mereka?"
Viktor yang di tanya itu segera berpikir sebentar, lalu berkata,
"Kemungkinan besar Kantor Perusahaan Anderson karena saat ini tidak ada tempat yang lebih aman dari pada tempat itu,"
"Bagaimana ini?"
"Tenang, suruh anak buahmu lewat jalan pintas di Jalan Y, dan menghadang mobil mereka,"
Disisi lainnya, Emelin dan Alissya masih tahap pelarian di mobil, namun mereka di ikuti oleh beberapa orang.
Jelas ini membuat Alissya yang tidak terlalu mengerti soal situasinya menjadi binggung,
"Kak, Emelin, sebenarnya apa yang terjadi?"
Emelin menjadi panik, hendak menelepon Antony, namun akhirnya ingat kalau ponselnya malah jatuh tadi di parkiran saat pengejaran.
"Mereka adalah Musuh Keluarga Anderson, mereka berbahaya,"
Alissya juga menjadi panik, dan berkata,
"Lalu bagaimana, Kak Emelin?"
"A... Aku juga tidak tahu, apakah kamu membawa ponsel?"
Alissya berniat mengeluarkan ponselnya, namun tiba-tiba mobil mereka di rem mendadak, membuat mereka berdua kaget, dan telepon Alissya jatuh ke bawah kursi.
Emelin juga terlempar ke depan karena lupa memakai sabuk pengaman.
"Kak Emelin!!" Teriak Alissya dengan panik, mencoba membantu Emelin bangun, namun dia melihat Emelin terlihat memegangi perutnya.
"Ahh... Perutku sedikit sakit,"
"Kak Emelin..."
Wajah Emelin terlihat cukup pucat, dia juga melihat kearah luar, bagaimana mobil mereka berhenti ternyata dihadang oleh mobil orang lain.
"Bagaimana ini Nyonya?" Tanya Supir itu dengan panik.
Emelin masih menahan rasa sakit di perutnya, dan di bantu Alissya duduk, segera berkata,
"Pokoknya, coba bapak hubungi Suamiku,"
"Baik, Nyonya,"
Supir itu dengan panik mencoba mengeluarkan ponselnya dan menelepon Atasannya, namun tiba-tiba pintu mobil di dobrak dari luar.
Kaca mobil baru saja pecah, dan memaksa membuka pintu.
"Bagaimana ini...."
Beberapa pria berbaju hitam, lalu masuk dan menarik Alissya dan Emelin dengan paksa dari mobil itu, walaupun Emelin dan Alissya mencoba menolak, namun sangat susah untuk mencoba melepaskan diri.
"Lepaskan kami!"
"Akhhh... Apa mau kalian?"
Jelas, Alissya dan Emelin mencoba melawan dengan keras, namun masih gagal juga.
Emelin juga tidak begitu berani untuk melawan, karena takut itu malah akan melukai dirinya sendiri.
Dirinya hanya bisa segera berharap agar Antony segera menyelamatkannya dari ini semua.
Ahhh...
Sungguh Emelin tidak mengira akan ada kejadian sial seperti ini...