
Pagi itu, Emelin terbangun dari tidurnya dengan nyaman.
Hal pertama yang dirinya lihat saat bangun tidur adalah wajah tempan tertentu disampaignya.
Walaupun ini kejadian beberapa kali sering terjadi, namun Emelin masih tidak terbiasa dengan wajah tampan dipagi hari ini.
Hmm, wajah ini benar-benar terlihat sangat tampan.
Emelin mulai memikirkan kebodohannya selama tujuh tahun ini.
Nilai nominal dari wajah ini cukup tinggi, terutama saat tidur seperti ini, wajah dengan ekpersi tenang dan damai ini.
Sepintas, Emelin ingin mengambil ponselnya dan memfoto wajah ini.
Jika ini adalah wajah seorang model atau seorang Aktor, pasti hanya dalam waktu dekat orang ini akan langsung begitu populer.
Ketika Emelin menatap lekat-lekat wajah ini, kelopak mata yang awalnya terpejam itu perlahan terbuka.
Terdengar suara magnetis yang terlihat tenang, dan merdu di telinga Emelin, membuat dirinya sedikit bergetar.
"Selamat pagi,"
Dengan perasaan canggung, Emelin lalu menjawab,
"Pagi."
"Sepertinya Alex masih tidur, ini masih cukup pagi sekali, tumben kamu bangun?"
"Aku berpikir untuk melihat matahari terbit di pantai,"
"Hmm, tentu. Segera bangunkan Alex atau matahari segera akan sudah terbit,"
Disini, Emelin lalu menguncangkan tubuh Alex, mencoba membangunkan anak itu.
Dengan mata lelah, putra kecilnya ini perlahan membuka matanya, sambil sedikit menguap.
Emelin lalu mencium dahi kecil itu, dan menyapanya,
"Selamat pagi, Alex,"
"Sudah pagi?" Gumamnya masih terlihat sangat mengantuk.
Anak ini pasti lelah berkat aktifitas di bukit kemarin.
"Mari bangun, dan melihat matahari terbit di pantai, ini pasti akan menjadi sangat indah,"
Mendengar kata pantai, anak yang tadinya masih lesu itu kini terlihat bersemangat.
"Pantai? Mau ke pantai sekarang?"
Alex lalu menatap kearah Antony disampaignya.
"Tentu, mari segera bangun dan bersiap sebelum Mama mu berubah pikiran,"
Pagi itu mereka lalu berjalan menyusuri pantai, menikmati udara segar, dan melihat matahari yang perlahan-lahan terbit.
Semilir angin dingin, menerpa Emelin yang mengenakan pakaian agak terbuka itu membuat dia mengigil kedinginan.
Sambil menatap kearah matahari terbit itu, Emelin memeluk dirinya sendiri agar lebih hangat.
Namun tiba-tiba, sebuah jaket dikenakan padanya.
"Kamu ceroboh, kamu menyuruh Alex mengenakan jaket agar tidak kedinginan, namun kamu sendiri tidak mengenakan jaket,"
Mendengar perkataan Antony barusan membuat Emelin merasa malu sendiri.
Awalnya dirinya cukup percaya diri, jika akan baik-baik saja tanpa jaket, dan hanya membuat Alex yang masih kecil memakai jaketnya, tidak mengira kalau cuaca cukup dingin lebih dari yang Emelin kira.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Emelin yang melihat kalau Antony sebenarnya sekarang hanya mengenakan kaos putih tipis dan pendek.
"Aku tidak selemah kamu dan tubuh kurusmu itu," katanya sambil mengacak-acak rambut Emelin.
"Aku tidak kurus!!"
Disini, lalu Antony menatap Emelin dari atas kebawah seolah sedang menilai.
"Kamu benar-benar cukup kurus, dengan tubuh seperti ini bagaimana kamu bisa bertahan, jika kita membuat adik untuk Alex?" Kata-kata Antony jelas ada nada gurauan disana.
Disini, Emelin merasa lebih malu ketika Antony membuat lelucon kedua soal hal ini, lalu dia mulai membalas leluconnya dengan berani.
"Kamu membahas soal ini lagi, apakah kamu benar-benar menginginkan seorang adik untuk Alex?"
Kali ini mata Antony yang menunjukkan keterkejutannya, lalu menjawab dengan tenang,
"Jika kamu ingin juga,"
Disini, Alex yang awalnya bermain pasir itu sepintas mendengarkan percakapan kedua orang tuanya itu, tiba-tiba mendengar kata-kata yang membuat Alex begitu bersemangat.
"Seorang adik? Apakah Alex akan memiliki satu?" Kata anak itu terlihat antusias menatap kearah Papa dan Mamanya itu.
"Alex selalu iri dengan teman-temanku, mereka akan memamerkan adik baru mereka yang begitu kecil dan lucu, Alex juga ingin memiliki seorang adik, Alex ingin adik perempuan yang lucu," kata Alex lagi.
Sekali lagi Emelin tidak mengira percakapan lelucon ini akan didengar oleh Alex dan membuat anak itu begitu bersemangat, Emelin ingin mengatakan yang sebenarnya, bahwa tidak mungkin Alex memiliki seorang adik dari dirinya dan Antony, namun Emelin sedikit ragu untuk menjawabnya karena tidak ingin melihat ekpersi kecewa putra kecilnya ini.
Bagaimana mengatakannya...
Mungkin dimasa depan dirinya dan Antony akan berpisah, dan memang mungkin Alex akan memiliki seorang adik ketika Antony menikah dengan seseorang diluar sana.
Namun memikirkan kemungkinan ini entah kenapa membuat Emelin merasa sangat tidak nyaman.
"Ini terlalu dini untuk memikirkan Alex memiliki seorang adik bukan? Tidakkah Papa pernah bilang bagaimana kesulitan yang di tanggung Mama mu untuk memiliki Alex?"
Alex lalu menatap kearah Mamanya.
"Baiklah-baiklah, tidak masalah jika Alex tidak memiliki seorang adik, yang penting ada Mama dan Papa yang selalu disisiku."
"Tentu."
Jawaban singkat, itu cukup membuat Alex senang, dia lalu kembali bermain-main dengan pasir lagi, membuat istana pasir disana, Emelin ikut membantu anak itu.
Pagi itu begitu menyenangkan, Emelin menikmati keindahan pantai dan kebersamaan mereka.
####
Hari menjelang siang, Emelin berjalan-jalan berkeliling toko-toko yang sudah buka bersama Alex dan Antony memikirkan membeli oleh-oleh yang cocok untuk dibawa pulang.
Setiap dirinya pergi wisata atau keluar Negeri, biasanya Emelin akan selalu pergi ketempat membeli oleh-oleh, akan ada selalu ada Saudara atau Ibunya atau Ayahnya yang akan dibelikan oleh-oleh, bahkan teman-temannya di Dunia Hiburan.
Namun sekarang Emelin menjadi binggung karena ketika dia pulang tidak akan lagi ada orang yang dirinya belikan oleh-oleh lagi.
Orang-orang penghianat itu....
Walaupun dirinya selalu baik pada mereka selama bertahun-tahun namun itu balasan dari mereka?
Sialan!!
Ketika Emelin berkeliling itu, Alex tiba-tiba ingin kekamar mandi, jadi Emelin mengantar Alex kekamar mandi, membiarkan Antony untuk menunggu disalah satu kursi disana.
"Kamu tunggu disini, aku akan mengantarkan Alex sebentar ke kamar mandi,"
"Baik." Jawab Antony dengan tenang.
Lalu dua orang itu berpisah.
Emelin mengantarkan Alex kekamar mandi dekat situ.
Itu tidak cukup lama sampai Alex selesai dengan urusannya dikamar mandi, namun ketika mereka berdua hendak kembali ketempat Antony, Emelin menabrak seseorang yang juga baru saja dari kamar mandi.
Emelin hampir saja terjatuh setelah menabrak Pria yang lebih tinggi darinya itu.
Namun Pria itu menangkap Emelin agar dia tidak jatuh.
Sepintas, tatapan dua orang itu bertemu.
Walaupun dibalik kacamata hitam, Emelin jelas mengenali seseorang didepannya ini.
"Daniel?"
Ini adalah Pria sampah yang menipunya.
Melihat dari dekat, wajah Daniel yang terlihat cukup tampan itu terlihat, namun setelah Emelin berpikir, Emelin merasa kalau wajah ini kurang sesuatu.
Jelas, bukankah jauh lebih tampan Antony dari pada orang brengsek didepannya?
Apakah matanya rusak sampai tertipu oleh Pria sampah ini?
"Emelin?" Kata Daniel dengan tatapan heran.
Sepintas, Daniel menatap Emelin dengan lekat, seolah terhipnotis oleh wajah manawan dan cantik wanita didepannya ini.
Emelin memang terlihat lebih cantik dari sebelumnya, dan entah kenapa Aura yang terpancar dari wanita di depannya ini sedikit berbeda.
Wajah yang familiar dan terasa nostalgia.
Sepintas, Daniel mengigat hari dimana wanita didepannya ini memanggilnya dengan manja, 'Daniel Sayang~'
Disini, Emelin langsung mendorong menjauh Daniel, seolah jijik disentuh oleh Pria itu, lalu berkata dengan dingin,
"Kenapa kamu disini?"
Kata-kata dingin Emelin barusan membuyarkan lamunan Daniel.
####
Bersambung