Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Side Story 2: Malam Yang Indah


Malam itu, Antony baru saja kerja lembur, dia pulang cukup malam saat jam sudah menunjukan pukul 10 malam.


Dengan rasa lelah setelah bekerja seharian, dia akhirnya pulang ke rumahnya dengan tidak sabar.


Ya, itu karena ada seseorang yang akan menyambutnya ketika dirinya pulang.


"Selamat Datang kembali, Antony. Kamu apakah kamu sudah makan?" Sapa Emelin menuju ke ruang tamu, mendekat kearah Antony yang baru pulang kerja itu.


Mendapatkan sambutan hangat seperti itu, membuat hati Antony terasa hangat, seolah rasa lelahnya barusan menghilang seketika.


"Hmm, aku lelah,"


Emelin dengan hati-hati melepaskan Jas yang Antony pakai, terlihat Antony cukup gerah memakai Jas itu seharian.


Menatap Emelin, Antony tanpa malu-malu langsung memeluk Emelin lalu mencium ringan bibir Emelin.


Emelin langsung mendorong Antony menjauh,


"Antony... Kamu itu... Semakin tidak tahu malu, coba lihat kamu masih berkeringat begitu, kenapa tiba-tiba menciumku?"


Antony sedikit tertawa,


"Baik-baik, aku akan mandi, jadi aku bisa menciummu dengan bebas?"


Emelin, dengan malu-malu menjawab,


"Ya, boleh."


Lalu langsung berlari menjauh, dan berkata,


"Aku akan menyiapkan makan malam,"


"Aku sudah makan,"


"Owh baiklah, apakah ini minuman hangat?"


"Ya, ya bisa, bisa,"


Dengan itu, Emelin langsung menuju ke dapur, dan membuatkan minuman Antony, sedangkan Antony pergi ke kamar dan mandi.


Tidak lama setelah Emelin, selesai dia langsung menunggu Antony dikamar mandi.


Emelin sesekali akan menatap kearah kamar mandi karena merasa gugup.


Sudah dua bulan berlalu sejak dirinya mengalami keguguran, setelah mengalami hal-hal itu tentu saja dirinya dan Antony tidak bisa melakukan hal-hal semacam itu karena kondisi rahimnya sudah buruk.


Dan sekarang setelah akhirnya dirinya pulih, dan mumpung Alex sudah tidur ini kesempatan bagus untuk melakukannya.


Namun memikirkannya membuat Emelin sedikit cemas dan gugup.


Bagaimanapun juga, mereka sudah lama tidak melakukannya, terakhir melakukannya saat itu Antony sedikit tidak sadar, dan saat ini juga berbeda, terutama setelah tahu perasaan satu sama lainnya.


Emelin yang melamun, tidak sadar kalau Antony sudah keluar dari kamar mandinya, kali ini Antony hanya mengenakan handuk.


"Apa yang kamu pikirkan?"


Melihat Antony yang hampir telanjang didepannya itu, membuat jantung Emelin hampir copot,


"Kamu... Kenapa tidak memakai bajumu?"


Antony sedikit mengagakat alisnya dengan nada bercanda lalu berkata,


"Bukankah nanti akan di lepas? Jadi tidak perlu repot-repot memakainya,"


"Kamu... Sungguh paling bisa mengodaku, hpmp, ini segera minum minuman ini, ini akan menghangatkan tubuh mu,"


Emelin lalu mengabilkan minuman di meja, dan menyerahkannya pada Antony.


Antony lalu mengabil gelas itu, menatapnya sebentar mencium aroma familiar dari gelas itu,


"Ini minuman gingseng hangat?"


"Ya, ini bagus untuk kesehatan,"


Mendengar itu, Antony lalu teringat sesuatu dan beberapa efek lain dari hal ini, wajahnya lalu menjadi gelap,


"Emelin... Kamu... Kamu meragukan staminaku?"


Wajah Emelin lalu sedikit memerah, dan berkata,


"A.. Apa? Ini memang bagus untuk meningkatkan staminan, dan.. dan juga, bukankah kamu cukup lelah seharian ini jadi aku pikir...."


Ekspresi Antony menunjukan wajah cemberutnya,


"Kamu pikir Aku jadi tidak bisa melakukannya dengan baik, karena cukup lelah?"


"Umm... Aku pikir dulu kamu pernah seperti itu.... Karena kamu katanya lelah, jadi.... Dulu hanya melakukannya sekali, aku bahkan belum merasakan apa-apa dan kamu sudah pergi tidur,"


Antony teringat salah satu kenangan pahit di masalalu gelapnya dengan Emelin.


Ketika mereka masih muda dan Emelin kadang suka meminta hal-hal seperti itu.


Saat itu dirinya masih kurang pengalaman, dan saat itu memang sangat lelah setelah mengurus kantor dan tugas skripsi, Emelin yang pulang tiba-tiba langsung meminta ini dan itu....


Antony benar-benar tidak ingin memikirkan kenangan gelap yang menyediakan itu, sejak saat itu dirinya mulai rajin olahraga untuk mengikatkan staminanya.


Antony lalu menunjukkan senyuman nakal, dan berkata,


"Jadi mari kita lihat, apakah malam ini aku bisa membuatmu puas?"


Setelah mengatakan itu, Antony langsung meminum minuman itu sampai habis, dan meletakannya di meja.


Emelin menutup wajahnya karena merasa malu dengan tindakannya sendiri.


"Ayolah... Aku hanya membuat lelucon jangan di anggap serius oke?"


Antony mengabaikan kata-kata Emelin, lalu mendorong Emelin ke tempat tidur, dan berada diatas Emelin.


"Sepertinya kamu sudah mempersiapkannya, lihat baju tidur yang kamu pakai..."


Wajah Emelin sedikit memerah, lalu memalingkan wajahnya, merasa malu dengan kelakuannya sendiri.


"A.. Aku pikir kita harus segera membuat adik untuk Alex agar dia tidak sedih... Kamu tahu, aku sudah mengatakan pada Alex saat aku hamil sebelumnya, dan Alex begitu bersemangat ingin melihat adiknya, kadang kala dia menyentuh perutku dan bertanya, apakah adik bayi baik-baik saja.... Aku tidak tahu harus mengatakan seperti apa padanya...."


Melihat ekspresi sedih itu tiba-tiba, membuat perasaan Antony juga menjadi tidak nyaman.


Dia lalu memegang wajah Emelin, lalu menciumnya sebentar, lalu berkata,


"Hmm, rupanya kita harus bekerja keras,"


"Ya... Tentu saja,"


Mereka lalu saling bertatapan dengan interes, tatapan penuh dengan keinginan...


Antony lalu mulai mencium Emelin lagi, tangannya mulai bermain-main di tubuh Emelin, dan membiarkan tangan Emelin merambah tubuhnya juga.


Ciuman yang cukup panas dan panjang....


Sampai kemudian, pintu kamar dibuka,


"Mama... Apakah Papa sudah pulang? Alex ingin tidur dengan Papa dan Mama...."


Itu adalah suara Alex yang masih sedikit mengantuk sambil membawa boneka beruangnya, sedang mulai memasuki kamar mereka.


Untunglah, kamar itu agak gelap jadi Alex tidak tahu apa yang terjadi.


Emelin langsung mendorong Antony menjauh, dan mencoba menenangkan dirinya lalu menghampiri Alex.


Antony menatap Emelin yang pergi itu dengan ekpersi rumit, dan menatap miliknya yang sudah bereaksi itu.


Sial.


Sepertinya malam ini juga gagal.


Sebaiknya apakah dirinya mengajak Emelin pergi Bulan Madu berdua saja?


Hah, seperti ini sepertinya akan lama.


Antony lalu kembali memasang handuknya dan mengambil baju lalu kekamar mandi.


"Ya ampun, Alex kamu bangun?" Tanya Emelin yang sudah mendekati Alex.


"Alex bermimpi buruk malam ini,"


Emelin hanya bisa tersenyum lalu mengendong Alex.


"Hmm, mari tidur dengan Mama dan Papa, Papamu sedang dikamar mandi, nanti dia akan keluar,"


Perasaan Emelin juga cukup rumit, lalu naik ke tempat tidur dengan Alex, mencoba membangunkan tertidur.


Dan cukup lama sampai Antony keluar dari kamar mandi.


Sekali lagi mereka saling bertatapan canggung.


Emelin terlihat menunjukan ekpersi minta maafnya.


Antony hanya bisa memghela nafas panjang, lalu mencium kening Emelin, dan berbaring di sampingnya, dengan Alex di tengah.


"Tidak apa-apa, inilah resiko memiliki anak kecil, mari kapan-kapan kita pergi Bulan Madu berdua saja?"


Emelin yang merasa bersalah itu, lalu menatap Antony dengan senang,


"Hmm, tentu saja."


Malam itu, mereka bertiga tidur dengan lelap.


Emelin memikirkannya, walaupun gagal melakukannya, tapi tetap ini adalah malam yang indah.


Sangat bersyukur bisa berkumpul bertiga dengan keluarga kecilnya, dan Alex sudah sembuh dari sakitnya.


Selama beberapa minggu ini, Alex terlihat selalu kesakitan karena efek patah tulangnya, untung anak-anak bisa sembuh dengan cepat.


Setelah mencium kening Alex, Emelin juga tidur dengan nyaman dalam pelukan Antony.