
Antony masih tengelam dalam pikirannya sendiri ketika dia memeluk Emelin saat ini.
Sedangkan Emelin yang merasakan sebuah pelukan tiba-tiba membuat dia cukup kaget.
Namun tidak berniat untuk melepaskan pelukan hangat ini, Emelin cukup menikmati pelukan ini, seolah tidak ingin ini berakhir.
Sebuah pelukan hangat yang membuat hatinya tenang.
Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing, dan berpelukan untuk beberapa waktu, sampai suara ponsel Antony berbunyi membuat dua orang itu akhirnya sadar akan hal-hal yang mereka lakukan
Dengan malu, keduanya melepaskan pelukan itu seoalah-olah tidak terjadi apapun.
"Emm, ada Telepon," kata Emelin ragu.
"Hmm, sebentar aku akan mengangkatnya,"
Emelin melihat Antony sedikit menjaga jarak lalu mulai mengatakan telepon itu.
Dari sana, Emelin masih bisa mendengar apa yang Antony bicarakan dengan seseorang dibalik telepon.
"Baik. Kamu sudah menyiapkan tiketnya? Ya ya, dalam setengah Jam kami akan ke Kota B."
Entah apa yang dikatakan orang di balik telepon, Emelin hanya bisa bertanya-tanya.
Eh?
Tapi tunggu, tiket kembali ke Kota B?
Itu kan lokasi tempat dirinya ikut syuting film, kenapa Antony memesan tiket itu?
"Kamu sudah bersama Alex sekarang? Segera bawa dia kesini sebelum jam keberangkatan,"
.....
"Ya, bagus. Aku akan menunggu di pintu masuk lokasi penebangan,"
"Jangan lupa bereskan semua CCTV di sekitar bandara sesuai arahan ku sebelumnya,"
.......
"Bagus."
Dengan itu, Antony menutup teleponnya, lalu mengarahkan pandangannya kearah Emelin, yang menatapnya penuh tanya.
Emelin benar-benar memiliki begitu banyak pertanyaan sekarang, sampai-sampai dia binggung mau bertanya dari mana.
Namun memikirkannya lagi, mari coba tanya dari awal dulu,
"Emm, Antony boleh aku bertanya?"
"Ya, apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Sebelumnya kenapa kamu bisa menemukanku di Kamar Mandi tadi?"
"Kebetulan saat kami menelepon, aku sudah cukup dekat dengan bandara, jadi aku langsung menuju ke pintu masuk bandara sesuai tempat kita bertemu, namun kamu tidak ada disana."
"Ah.. ya benar... Aku kekamar mandi dulu..."
"Ya, awalnya aku tidak tahu kamu disana. Hanya ingin menunggu di dekat gerbang. Namun tidak lama setelah aku menunggumu, aku melihat beberapa wartawan disana, aku melihat sepertinya orang-orang itu tengah mencari Claudia yang berada di Bandara untuk di Wawancarai atau sesuatu."
"Eh? Ada hal seperti itu?"
"Benar. Mendengar nama Claudia dan melihat kamu belum juga datang ke tempat kita seharusnya bertemu, aku memiliki beberapa firasat buruk. Dengan tingkat keberuntunganmu itu, aku yakin hampir 70% kalau kamu entah bagaimana pasti akan bertemu Claudia."
"Sial, kamu benar-benar menebaknya dengan tepat. Namun bagaimana kamu tahu itu di kamar mandi?"
"Hanya sebuah firasat saja. Aku pikir Emelin yang selalu peduli dengan penampilannya, begitu keluar dari Pesawat, kalau tidak langsung ke tempat kita janji bertemu, kemanakah kamu? Tentu saja, jawabannya adalah Kamar Mandi, pasti kamu merasa perlu membenarkan beberapa riasan atau sesuatu,"
Emelin memiliki ekspresi terkejut diwajahnya, bagaimana Antony bisa menebaknya dengan akurat?
"Kamu... Kamu benar-benar menebaknya dengan cukup baik."
"Hahaha... Tentu saja, sudah berapa tahun kita menikah? Setidaknya kita sudah melakukan beberapa perjalanan pesawat bersama cukup banyak sebelumnya. Dan aku tahu, Bagaimana kebiasaanmu yang mencari kamar mandi setelah keluar dari pesawat. Kamu selalu khawatir penampilanmu berantakan setelah perjalanan jauh, kamu sering mengatakan sesuatu seperti ini, 'Ah, ya ampun... Bagaimana kalau dandanku berantakan dan tidak sengaja di ambil para fans di bandara? Ah, ini akan memalukan' sesuatu seperti itu."
Muka Emelin memerah karena malu, memang itu terlihat seperti dirinya sekali.
"Ya ampun, kamu hanya mengigat hal-hal yang tidak berguna saja namun melupakan hal-hal yang penting,"
Antony sedikit mengangkat alisnya karena heran, lalu bertanya,
"Hal-hal penting apa yang tidak aku ingat? Hmm, aku ingat tanggal pernikahan kita, aku ingat hari ulang tahunmu, ingat hari ulang tahun Alex, aku juga ingat kamu punya kebiasaan mematikan alarm lalu tidur lagi, Ah.. bahkan bagaimana kamu kalau sarapan hanya makan sayuran dengan mayones, dan apel di pagi hari demi diet sebelumnya untuk waktu yang lama,"
"Kamu... Kamu ingat hal-hal itu?"
"Tentu saja, aku selalu memiliki ingatan yang baik. Aku bahkan ingat bagaimana kamu ini sangat pemilih soal makanan, dan selalu menyingkirkan touge, kacang-kacangan, dan wortel ketika kamu makan."
"Kamu bahkan memperhatikan ini?"
"Ya, sebenarnya sangat mudah mengigat hal-hal ini, kamu selalu memiliki kebiasaan yang teratur dan sama selama bertahun-tahun juga tanpa kamu menyadarinya, dan melakukan hal-hal sama setiap waktu, hanya kamu sendiri mungkin tidak sadar dengan kebiasaan mu itu,"
Emelin memikirkannya, dan memang iya, mungkin dirinya memiliki beberapa kebiasaan ini bertahun-tahun tanpa terlalu memikirkannya.
Tapi mengigat, bawah bahkan Antony tahu hal-hal ini soal dirinya, namun dirinya tidak tahu apapun soal Antony selama bertahun-tahun....
Rasa bersalah mulai muncul.
Owh, apakah selama ini memang dirinyalah yang terlalu tidak peduli?
Dirinya bahkan tidak tahu apa makanan kesukaan Antony, lupakan soal itu, dirinya juga tidak ingat kapan ulang tahun Antony.
Sungguh mengigat hal-hal itu, membuat rasa frustasi kembali ke hati Emelin...
Padahal mereka sudah menikah cukup lama namun memang dirinya yang selama ini tidak ingin tahu apa-apa soal Antony?
Apakah itu juga kenapa Antony tidak pernah bercerita soal hal-hal menyangkut Keluarga Anderson?
Memikirkannya, sepertinya ini salahnya...
"Ah? Begitukan?"
Antony kembali menatap kearah Emelin, lalu sebuah senyum nakal muncul.
"Aku juga ingat, kalau tamu bulanan mu biasanya ditengah bulan, dan itu sebenarnya cukup teratur selama bertahun-tahun,"
Menatap Antony, muka Emelin memerah sampai telinga sekarang, dia memukul-mukul Antony dengan ringan mengunakan tangannya.
"Kamu!! Kamu bahkan mengigat hal-hal itu! Sungguh tidak tahu malu!!!"
Antony kembali menujukan wajah heran tanpa bersalahnya, lalu berkata dengan ekpersi tenang,
"Hmm, aku pikir itu kamu yang menyuruhku untuk mengigatnya agar 'Acara Malam' kita tidak pernah bentrok dengan tamu bulananmu itu, agar semua tetap berjalan dengan nyaman untukmu dan juga menjadi lebih menyenangkan,"
Melihat ekspresi Emelin yang bertambah merah itu, Antony sedikit tertawa.
Emelin benar-benar malu, benarkah dia menyuruh Antony untuk mengigat hal-hal itu?
Akhhh....
Akhhhh....
Sungguh masalalu yang kelam!!
Akhhh...
Terlalu memalukan.
Emelin melihat wajah Antony yang sekarang tertawa.
"Kamu bercanda soal itu kan?"
"Ya, aku hanya bercanda, kamu tidak pernah menyuruhku untuk mengigatnya, hanya saja... Aku kebetulan mengigatnya demi kenyamanan mu juga, kamu sering khawatir setelah kita melakukannya, apakah kamu akan telat atau tidak,"
"A.. Aku tidak seperti itu!!"
"Hmm, tapi bukankah begitu? Kamu selalu sedikit khawatir jika kita tanpa sengaja membuat adik untuk Alex,"
"Ta.. Tapi itu kamu juga bukan? Awalnya kita hanya melakukan sekali, dan tiba-tiba ada Alex.. kamu yang terlalu...."
Reaksi Emelin sungguh mengemaskan, membuat Antony kembali tertawa.
Melihat ekpersi Antony yang tertawa itu, Emelin menunjukan wajah cemberutnya,
"Apakah ini lucu?"
"Ya, ekspresi mu sungguh lucu,"
Melihat Antony yang tertawa itu, Emelin juga jadi ikut tertawa.
"Kamu itu ya, bisa saja mengigatkanku pada hal-hal memalukan,"
Dua orang itu tertawa lepas mengigat beberapa hal lucu dan memalukan juga di masalalu.
Melihat akhirnya, Emelin bisa kembali tersenyum dan tertawa, hati Antony merasa puas.
Memang, dirinya ternyata tidak suka melihat Emelin sedih apalagi menangis seperti tadi, itu adalah ekpersi yang buruk, dirinya lebih menyukai ketika Emelin tersenyum bahagia seperti ini.
Hah...
Awas saja orang-orang itu yang berani membuat Emelin menangis...
Tunggu dan lihat saja, pelan-pelan tapi pasti...
Hari kejatuhan mereka!!
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Tidak, hanya apakah sekarang suasana hatimu sudah membaik? Akhirnya kamu bisa tertawa..."
"Kamu ini bisa saja... Hah... Rasanya memang sudah sedikit baik."
Memang Emelin merasa hatinya sudah tidak terlalu sedih lagi.
"Itu bagus, kamu sangat jelek ketika menangis seperti itu, lihat sekarang riasan wajahmu, owh juga rambutmu itu!"
Emelin yang akhirnya sadar langsung mengambil kaca dari tasnya, dan melihat bagaimana penampilannya.
Rambutnya sangat berantakan, tatanannya sudah sangat-sangat buruk berkat seseorang.
Sedangkan riasan wajahnya...
Tidak ada masalah yang berarti, hanya matanya sedikit memerah setelah menangis, dan riasan matanya aman, tidak luntur menjadi hitam dimana-mana.
Dirinya hampir saja panik, khawatir kalau riasan matanya kacau karena menagis, jika luntur dan hitam dimana-mana, itu akan terlihat sangat memalukan apalagi didepan Antony!!
Bagaimana dirinya bisa menunjukan wajah seperti itu didepannya?
"Selain rambutku, tidak ada yang salah dengan riasanku!"
Antony tertawa lagi melihat ekpersi Emelin.
"Kamu ini!!! Ah..."
Emelin lalu mengigat beberapa hal, kemudian mulai bertanya pada Antony,
"Emm, bagaimana soal Tiket Pesawat? Apa maksudmu?"
####
Bersambung