
Pagi baru akhirnya datang, saat ini jam masih menunjukkan hampir pukul setengah enam pagi.
Saat yang bagus untuk Matahari terbit.
Emelin dan Antony saat ini sedang berjalan di tepi pantai.
"Udara di pagi hari sungguh menyegarkan bukan?"
"Hmm, itu benar. Aku cukup terkejut juga kamu benar-benar masih sangat berenergi pagi ini,"
Emelin yang tahu kemana arah pembicaraan Antony itu, menjadi malu sendiri.
"Ki... Kita kesini tidak hanya untuk melakukan hal-hal itu!! Butuh referesing!!"
"Iya, iya aku tahu sayangku, kita bersenang-senang disini oke?"
"Tentu saja. Mumpung disini banyak hal yang ingin aku lakukan,"
"Misalnya?"
"Sebenarnya, aku ingin mencoba belajar berenang,"
Mendengar permintaan Emelin itu, wajah Antony menjadi gelap.
"Tidak. Tidak ada berenang."
"Ayolah? Kenapa kamu melarangku? Hanya berlatih sedikit, aku setidaknya ingin belajar hal-hal dasar agar tidak tengelam jika misal aku masuk kolam renang,"
"Tidak bisa. Ini sudah terlambat. Kamu sudah hampir dua puluh enam, susah untuk mulai belajar berenang di usia ini. Dan lagi kamu masih takut dengan kolam renang,"
Melihat Antony yang sepertinya tidak setuju itu, Emelin sedikit memohon lagi,
"Ayolah, kamu hanya akan mengajarimu sedikit... Dasar-dasarnya saja, lagipula aku janji tidak akan berenang tanpa mu atau tanpa pengawasan, ini hanya untuk keamanan saja, ayolah sayang? Ya? Ya?" Kata Emelin lagi sambil memeluk Antony, mencoba merayunya.
Melihat Emelin sepertinya keras kepala, Antony sedikit melunak.
"Tapi apakah kamu benar-benar tidak apa-apa dengan kolam renang?"
Emelin terdiam sejenak, lalu melepaskan pelukannya, dan menatap kearah matahari terbit.
"Kejadian dengan Mamaku mungkin menjadi hal-hal yang membuatku trauma, namun aku tidak ingin terus tegelam dalam ingatan masalalu. Aku juga ingin bergerak, menuju kedepan...."
"Hmm, seperti itu cukup bagus. Mari setelah sarapan kita ke Kolam Renang di Villa tempat kita menginap,"
Emelin lalu langsung menarik Antony kearahnya, dan menciumnya.
"Kamu selalu bisa begitu baik, Ah~ Agap saja ini hadiah,"
Antony lalu menarik Emelin kembali dalam pelukannya,
"Untuk hadiah, itu tadi masih kurang..."
Antony lalu kembali mencium Emelin.
Hmm, ciuman itu benar-benar membuat mereka berdua menjadi candu, walaupun sudah berkali-kali, namun tetap ingin melakukannya lagi dan lagi.
####
Saat ini hari sudah cukup siang, Antony saat ini tengah berada di balkon Villa sambil menahan kearah laut.
Emelin saat ini tengah tidur siang setelah melakukan berbagai aktivitas, sepertinya dia lelah.
Jadi Antony mengabil kesempatan ini untuk mengurus hal-hal yang belum terselesaikan sebelumnya.
Ya, ini soal Paman dan Bibinya.
Lagipula, jika dirinya tidak bertanya, dua orang menyebalkan itu pasti akan terus mengagunya.
Dengan perasaan malas, Antony menekan nomor mereka yang ternyata sudah dirinya blokir.
Membuka blokiran dari nomor itu, Antony segera meneleponnya.
Lalu terdengar suara tidak sabar laki-laki dari ujung telepon,
'Kamu ini, baru sempat menghubungiku sekarang? Apakah kamu tidak tahu kalau aku dan Bibimu sudah jauh-jauh ke Rumahmu namun kamu malah tidak ada?'
"Jadi, apa yang Paman inginkan dengan datang ke Rumahku? Aku rasa ini bukan kunjungan karena kalian kangen padaku?"
'Ah, kamu bicara apa? Tentu saja kami hanya berkunjung untuk bertemu denganmu. Aku sudah mendengar soal kamu yang merupakan Cucu dari Keluarga Anderson yang itu, kenapa kamu tidak pernah bilang pada Pamanmu ini?'
"Sudah, berhenti bicara berbelit-belit. Segera langsung ke intinya saja," kata Antony dengan tidak sabar, terlalu malas mendengarkan kata-kata Pamannya yang munafik ini.
'Cih, kamu ini ponakan tidak tahu untung. Pamanmu ini sudah mencoba bersikap baik namun kamu malah bersikap tidak sopan!'
"Berhenti bicara omong kosong ini, atau akan segera aku tutup,"
"Tunggu dulu, aku memilih Informasi penting untukmu,"
"Aku baru saja menemukan Buku Harian dari Ibumu, dan beberapa surat serta beberapa barang peninggalannya, apakah kamu mengiginkannya?"
Antony lalu terdiam sejenak, memikirkannya soal perkataan Pamannya itu.
Barang-barang dan Buku harian Ibunya katanya?
Memikirkan soal hal itu, membuat Antony sedih.
Jika itu barang-barang Ibunya, tentu saja dirinya ingin mendapatkannya.
Terutama buku harian itu...
Namun bisa saja ini Pamannya hanya membuat-buat saja.
"Dari mana aku tahu itu asli?"
'Kamu ini tidak percaya pada Pamanmu? Aku akan segera mengirimkan foto dari isi Buku Harian itu, itu jelas tulisan adikku,'
"Buktikan,"
Antony lalu terdiam sejenak, dan sebuah pesan berisi gambar tiba di ponselnya.
Itu adalah gambar dari buku harian, lalu berikutnya, ada juga gambar halaman pertama dari buku itu.
Ketika melihat tulisan tangan itu, ada rasa nostalgia didalamnya.
Itu benar-benar milik Ibunya...
Ada banyak hal mengajal soal Ibunya yang belum dirinya tahu.
Soal Hubungan Ibunya dengan Ayahnya...
Lalu soal Ibu Emelin...
Banyak hal yang menjadi misteri sampai sekarang, dan tentu membuat dirinya penasaran.
Jika membaca buku itu bisa memecahkan beberapa misteri, itu akan bagus.
Dirinya harus mendapatkan buku itu.
Namun sepertinya tidak akan mudah.
Mengingat yang membawanya adalah Paman dan Bibinya.
Berita berdua benar-benar licik.
"Jadi apa yang kalian mau? Apakah uang?"
'Tidak-tidak... Ini bukan hanya sekedar uang,'
"Katakan dengan jelas,"
'Aku ingin kamu memasukan anakku Ke Perusahaan Anderson yang kamu kelola. Biarkan anakku bekerja disana. Ini permintaan mudah bukan? Kami CEO nya, jangan mengelak,'
Mendengar permintaan konyol itu, Antony terdiam sebentar.
Mereka ini...
Sungguh keterlaluan!
Apa yang mereka mau membuat anak mereka bekerja di Perusahaan Keluarga Anderson?