
Thomas menatap sepasang suami istri dengan ekpersi penasaran.
"Kalian Paman dan Bibi Antony?"
Paman Antony itu terlihat sangat bersemangat ketika Thomas bertanya,
"Itu benar, kami adalah Paman dan Bibi Antony. Sejak Saudara perempuanku meninggal, aku dan Istriku lah yang merawat dan membesarkan Antony sampai seperti sekarang ini," kata Paman Antony.
Lalu di susul dengan perkataan dramatis Bibi Antony.
"Hmm, saat itu Antony masih di Sekolah Dasar ketika Ibunya meninggal, sungguh anak yang malang, dia tidak memiliki siapapun selain Ibunya, jadi kami membawanya pulang dan merawatnya selama ini,"
"Itu benar, sayang. Kami telah merawatnya selama ini. Sesungguhnya kami tidak mengharapkan apa-apa, hanya mengharapkan Antony hidup bahagia, kami hanya kesini untuk mengetahui kabarnya, namun siapa yang tahu jika Para Pelayan di Rumah ini tidak begitu sopan,"
Pelayan yang berada disana tentu saja tidak terima di bilang seperti itu, dia lalu membalas,
"Bukannya kami tidak sopan, tapi Tuan Antony sudah berpesan sebelumnya, agar selama dia pergi, tidak menerima tamu manapun, namun dua orang ini memaksa untuk bertamu jadi...."
Namun sebelum pelayan itu menyelesaikan kata-katanya, itu sudah di putus oleh Bibi Antony, yang saat ini sedang berpura-pura merujukan ekpersi yang begitu sedih.
"Aku... Aku hanya tidak tahu jika keponakanku tidak ada. Kami benar-benar hanya bermaksud baik untuk mengujuginya jauh-jauh. Tidakkah kalian tahu? Kami tinggal sangat jauh dari sini, membutuhkan satu jam lebih untuk sampai di tempat ini, perjalanan begitu panjang dan sangat melelahkan, kami bahkan merasa cukup lapar, setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang, namun apa yang kamu terima? Kami mendapatkan perlakuan yang tidak adil,"
"Itu benar, aku dan Istriku sudah melewati perjalanan jauh, setidaknya walaupun tidak melihat keponakanku, kami setidaknya ingin mampir untuk sekedar beristirahat, benar begitu sayang?"
"Ya, benar sekali suamiku, saat ini aku dan suamiku dalam posisi kurang nyaman juga,"
Alex yang menatap sepasang suami istri yang mengaku Paman dan Bibi nya itu, merasa muak melihat cara mereka bicara.
Perasaan Alex merasa tidak enak sejak melihat wajah dua orang itu.
Thomas masih mendegarkan perkataan mereka dengan seksama, namun tetap tidak merubah ekpersinya, tidak menunjukan ketertarikan sama sekali dengan cerita itu.
"Namun seperti yang kalian lihat, Putraku Antony saat ini tidak berada di Rumah, dan Mekkah kurang sopan bertamu ketika tidak ada Tuan Rumah di Rumah ini. Aku merasa Para Pelayan tidak salah. Seharusnya bukankah jika kalian ingin berkunjung harus menghubungi Antony dulu? Apakah kalian tidak menghubunginya? Jika kalian bertanya padanya, pasti kalian juga akan tahu jika dia tidak dirumah, jadi tidak perlu ada kejadian seperti ini. Kalian dekat dengannya bukan?" kata Thomas dengan masuk akal.
Sebenarnya dirinya cukup marah dengan kelakuan dua orang ini, namun mengigat posisi mereka sepertinya Paman dan Bibi Antony yang telah merawatnya, dirinya tidak berani bertindak gegabah.
Bahkan walaupun dua orang ini terlihat mencurigakan, namun jika dirinya salah langkah takut-takut malah akan membuat hubungan antara dirinya dan Antony semakin buruk.
Namun memperlakukan dua orang ini dengan ramah, juga membuat Thomas merasa tidak enak.
Jadi lebih baik kembalikan seperti semua.
Agar mereka berbicara dengan Antony sendiri.
Sepasang Suami Istri itu lalu memiliki wajah pucat.
Jelas hubungan mereka dengan Antony sangat buruk.
Sangat-sangat buruk sekali.
Jika saja mereka tahu kalau Ayah Kandung Antony sebenarnya berasal dari Keluarga Konglomerat Kaya Raya seperti ini, mereka setidaknya akan bersikap cukup baik pada Antony.
Sungguh, sial nasip mereka.
Apalagi sejak kejadian sebelumnya, yang Antony mengusir mereka itu.
Mereka sebenarnya masih tidak terima.
Namun kemudian ada berita besar di Internet soal Identitas Antony yang sebenarnya adalah Tuan Muda Keluarga Anderson yang Kaya Raya itu!!
Jelas mereka berdua tidak akan melepaskan kesempatan emas ini untuk mendapatkan uang.
Walaupun awalnya mereka cukup takut dan ragu-ragu untuk bertemu Antony, karena memang hubungan mereka buruk...
Namun ada beberapa hal kunci yang mereka temukan belakangan.
Ini bisa di jadikan alat tawar menawar dengan keponakannya itu agar mendapatkan uang yang banyak.
Mereka bertaruh dengan datang kesini, dengan segudang rencana yang mereka pikirkan.
Barang yang mereka miliki adalah Buku Harian, beberapa Surat, dan Beberapa Barang peninggalan Ibu Antony.
Dengan barang-barang ini, yang kebetulan mereka temukan di gudang, mereka yakin ini akan bisa menghasilkan banyak uang!!
Ya, anak itu pasti sangat ingin tahu soal Ibunya, dan ini adalah saat yah bagus untuk memanfaatkannya ini.
Namun sayang sekali, rencana mereka akan tertunda berkat kepergian Antony.
Mana harus bertemu dengan Ayah Kandung Antony.
Jika Ayah Kandung Antony ini tahu bagaimana perlakuan mereka pada Antony selama ini....
Apa yang akan terjadi pada mereka berdua?
Memikirkan kemungkinan ini membuat sepasang suami istri itu pucat.
Lalu mereka berdua saling menatap dalam gemetar.
Memikirkan rancana sebaiknya bagaiman cara lolos dari situasi ini.
Setelah saling mengedipkan mata memberikan kode, dan dalam sekejap mata memikirkan begitu banyak rencana dalam kepala mereka, akhirnya Sang suami berkata,
"Kami hanya ingin memberikan beberapa kejutan untuk Keponakan tercinta kami, apakah kami salah?"
"Benar yang dikatakan suamiku, kami hanya ingin membuat beberapa kejutan kecil. Tapi sepertinya ini gagal karena dia tidak berada di rumah. Mungkin lain kali saja kita kembali, kami sepertinya akan pergi, dan kami permisi dulu,"
Dua orang yang tadi bersemangat mendobrak masuk itu, sepertinya sekarang malah begitu bersemangat untuk segera keluar dari Rumah itu.
Thomas hanya menatap mereka dengan ekpersi heran.
"Tunggu dulu,"
Sepasang suami istri itu yang sudah berbalik menuju pintu, hampir merasa lega karena berhasil menghindari interogasi dari Ayah Kandung ini, sekarang kembali menjadi tegang karena di panggil kembali itu.
Ada apa ini?
Apakah sandiwara mereka akhirnya ketahuan?
Bagaimana ini?
Atau apakah Tuan Thomas ini berniat memarahi mereka?
Bagaimana ini?
Terutama, Bibi Antony yang memegangi tangannya yang berdarah itu berkat gigitan Alex.
Menatap wajah bocah kecil itu, mengigatkannya pada Antony yang masih muda.
Mereka benar-benar sangat mirip dari segi wajah.
Ada suatu ketika Keponakannya itu benar-benar sangat bandel, bahkan tidak takut dimarahi, dan malah makin membuat kekacauan, dan sempat memberontak dan memukuli Putra mereka hingga babak belur.
Sudah, ini bukan saatnya memikirkan soal masalalu.
Saat ini harus memikirkan bagaimana menghadapi Tuan Thomas Anderson ini.
Paman Antony sejujurnya tidak pernah mengira kalau Sudara Perempuannya memiliki hubungan dengan orang Kaya seperti itu.
Jika Ayah Kandung Antony begitu kaya kenapa saudara perempuannya itu musti hidup menderita dengan Putranya sebatang kara sendirian selama ini?
Tidakkah, Saudara Tirinya itu bodoh?
Jika dia mendatangi Keluarga Anderson, dan meminta pertanggungjawaban, bahkan kalaupun mereka tidak mau bertanggung jawab, setidaknya akan ada beberapa Uang Kompensasi yang cukup tinggi.
Sungguh, kenapa saudaranya itu benar-benar bodoh dan tolol?
Dia bisa hidup mewah bergelimang harga jika dia mau pergi Ke Keluarga Anderson, namun dia malah hidup miskin sampai dia mati.
Benar-benar tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang baik.
"Ya? Ya?" Kata Bibi Antony dahan takut-takut.
"Tidakkah kalian setidaknya harus meminta maaf pada Alex? Bagaimanapun juga kalian telah melakukan hal-hal buruk padanya. Ini bisa meninggalkan kenangan buruk pada Alex,"
Sepasang suami istri itu lalu menatap anak kecil itu, yang saat ini tengah menjulurkan lidahnya dan menatap mereka dengan ekspresi sombong dan angkuh.
Anak ini!!
Sialan!!
Anak ini benar-benar sengaja mencari perhatian Kakeknya!!
Dan benar-benar berniat mengerjai mereka!!
Kenapa anak kecil seperti itu bisa begitu pintar dan licik?
Sungguh menyebalkan.
Namun memikirkannya lagi, dua orang itu terlihat tidak memiliki pilihan lain.
"Adik kecil, maafkan Paman dan Bibi ya, itu hanya beberapa kesalahan Paman dan Bibi, biasa kami hanya orang tua, setelah menempuh perjalanan jauh, kami hanya terbawa emosi," kata Paman Antony sambil mencoba untuk menyentuh Alex, namun tentu saja Alex tidak mau di sentuh oleh orang itu.
"Umm... Alex takut dengan mereka.... Takut...."
Thomas menghela nafas, dirinya tidak tahu bagaimana menenangkan anak kecil atau mengurus anak kecil dengan baik, sebenanya tidak tahu juga harus berbuat apa.
Namun melihat sepertinya Alex ini tidak suka dengan tamu-tamu itu, Thomas akhirnya mengambil keputusan,
"Sebaiknya kalian segera pergi dari sini saja," katanya dengan ekpersi dingin.
Thomas juga tidak malu terlalu berurusan dengan Paman dan Bibi Antony ini, jadi lebih memilih cara yang paling mudah, yaitu membuat mereka segera pergi.
Melihat dirinya di usir itu, Paman Antony diam-diam merasa kesal.
Hah, sungguh Anak dari Keponakannya itu sangat menyebalkan.
"Baik, kami permisi dulu,"
Dan akhirnya dua orang itu pergi, dan ruangan kembali tenang.
"Alex, sekarang tidak apa-apa, tidak perlu takut lagi," kata Thomas dengan lembut pada cucunya itu.
Lalu Alex mulai tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada Thomas.
"Kakek Thomas adalah yang terbaik!!!"
Alex merasa senang melihat dua orang menyebalkan itu tadi berwajah pucat seperti itu, karena takut pada Kakeknya.
Ternyata Kakeknya ini benar-benar orang yang baik!!
Dirinya sangat menyukai Kakeknya ini!
Thomas juga merasa hangat setelah menatap anak itu, lalu segera mengendong Alex.
"Hmm, cucu Kakek juga adalah yang terbaik. Mari kita pergi ke toko mainan untuk membeli beberapa mainan lucu,"
"Asikkk!! Mainan baru!! Terimakasih Kakek,"
"Tentu saja, mari nanti suruh pelayan di Rumah untuk mencuci bonekamu, ini nanti akan menjadi baru lagi, jadi kamu tidak usah sedih,"
"Benar, itu Kakek?"
"Ya, tentu saja. Ini barang kesayanganmu bukan?"
"Iya, ini hadiah dari Mama Alex, Alex sangat menyukainya,"
"Mamamu sangat baik padamu?"
"Ya, Mama adalah Mama terbaik yang pernah ada,"
Jadi begitu, seperti Putri Olivia juga timbul menjadi seorang wanita yang baik yang sangat menyayangi Putra mereka.
Mengigat kembali kenangan soal Olivia membuat Thomas memiliki ekspresi yang rumit.
Dirinya jadi ingat, salah satu kata-kata terakhir yang dirinya dengar sebelum terjadi Insiden itu...
Memikirkannya membuat hati Thomas tiba-tiba terasa sedih.
Kenapa Olivia harus pergi secepat itu?
####
Bersambung