
Antony sedang sendirian sekarang setelah selesai satu salah satu rapat, berniat kembali ke ruangannya, sedikit heran menatap kearah Isabella, namun demi sopan santun, dia membalas sapaan Isabella.
"Ya, selamat siang, Isabella."
"Aku dengar kamu belakangan tidak kekantor,"
"Soal itu? Putraku sedang sakit,"
"Dia sakit? Sakit apa memang?"
"Dia memiliki beberapa Alergi yang sama seperti ku, Putraku salah makan"
"Eh? Alergi? Bagaimana bisa? Aku tahu sih, kamu sepertinya alergi daging kambing? Putramu juga? Apakah Istrimu tidak tahu hal-hal sederhana ini? Bagaimana dia tidak tahu kamu dan putramu alergi hal-hal ini sampai dia sakit?"
"Beberapa hal terjadi,"
"Itu pasti karena Istrimu ceroboh bukan? Dia benar-benar tidak bisa menjaga Putranya dan membuat dia sakit, sungguh sampai tidak tahu apa yang kalian berdua tidak bisa makan, aku rasa dia bukan itu yang baik,"
"Kamu tidak tahu apa-apa tolong diamlah," kata Antony dengan ekpersi yang begitu dingin, dan segera pergi meninggalkan Isabella disana yang masih sedikit syok melihat respon Antony yang terlihat marah padanya.
Apakah dirinya salah?
Bukankah Istrinya memang tidak becus?
Sampai dia salah masak dan membuat Antony hampir celaka?
Bahkan membuat Putranya sakit?
Sungguh, Isabella tidak mengerti dengan sikap Antony yang seolah seperti membelanya itu.
Bukankah dia hanya Istri Kontrak?
####
Namun setelah beberapa hari dan telah menerima perlakuan dingin dari Antony, itu tidak membuat Isabella menyerah.
Dia mulai menyuruh orang untuk mencoba menyelidiki kegiatan Antony belakangan.
Dirinya barusan dapat kabar kalau selama akhir pekan ini, Istri Antony tidak pulang, jadi Antony hanya mengajak Alex jalan-jalan ke mall.
Melihat ada kesempatan, Isabella segera berniat menjalankan rencananya itu.
"Bagus, tolong sebutkan lokasi kamu melihat mobil Antony berhenti,"
'Baik Nona Isabella, dia berhantu di Mall Xx,'
"Oke, kalian sudah melakukannya dengan baik, aku akan segera mentransfer uang nya untuk kalian,"
'Senang berbisnis dengan Nona,'
Setelah menutup teleponnya, Isabella segera menuju mall tempat Antony berkunjung.
Dan setelah beberapa putaran yang melelahkan, akhirnya Isabella menemukan Antony dan Alex sedang memasuki sebuah cafe yang menjual aneka Es Krim.
Ini bisa menjadi sebuah kesempatan!!!
Sambil berpura-pura memilih Es Krim, Isabella menunjukkan wajah terkejutnya ketika bertemu Antony.
"Ah? Antony? Kamu disini?"
"Ya. Menemani Putraku jalan-jalan,"
Lalu, Isabella menatap seorang anak kecil yang berada di samping Antony itu.
"Ah, adik kecil? Boleh Tante berkenalan? Perkenalan nama Tante Isabella, teman Papamu," kata Isabella dengan nada yang begitu ramah, mencoba mendapatkan kesan baik dari anak itu.
Bagaimanapun juga untuk mendapatkan hati Ayahnya, harus bisa dekat dengan Putranya bukan?
Dirinya dengar, Ibu anak ini tidak bersikap baik padanya?
Bukankah ini kesempatan menunjukkan bahwa dirinya bisa menjadi calon Ibu yang lebih baik dari pada Ibu kandung anak ini?
Lagipula kalau dirinya bisa menikah dengan Antony, dirinya juga akan menjadi Ibu tiri anak ini, walaupun gagasan memiki seorang anak tiri merupakan hal yang menyebalkan untuk Isabella.
Tapi memang lebih baik jika anak ini nanti dibawa pergi Ibunya saja jauh-jauh.
Tidak, kalau seperti itu bukankah nanti akan ada kesempatan Emelin untuk dekat dengan Antony?
Memang, mengambil hati Putra Antony adalah hal utama sekarang, pikirkan langkah berikutnya nanti.
"Alexander Smith," kata Alex dengan nada dingin.
Entah kenapa menatap wanita dewasa didepannya itu, Alex merasa tidak nyaman.
"Alexander ya? Sungguh nama yang indah, kamu bisa memanggilku Tante Isabella," kata Isabella.
"Ya, Tante Isabella."
"Apakah kamu sedang memiliki Es Krim? Tante punya Rekomenasi Es Krim yang enak untuk Alexander,"
"Alex sudah punya pilihan Es Krim sendiri," kata Alex dengan nada yang tidak ramah.
"Ah begitu, sayang sekali. Kamu harus sesekali mencoba rasa yang berbeda, mungkin akan menemukan rasa yang lebih enak,"
"Tidak. Alex hanya suka Coklat."
Melihat sikap dingin anak itu yang tidak jauh berbeda dengan Ayahnya, membuat Isabella kewalahan, hanya bisa tersenyum canggung.
Tatapan Isabella kembali menatap Antony.
"Sepertinya Putramu cukup keras kepala bukan?"
"Sifat alami dari Ibunya,"
"Ah begitukah? Emm, aku tidak melihat Istrimu, apakah dia tidak ikut kalian?"
"Dia sedang sibuk,"
"Ya ampun, ini akhir pekan bukan?"
Isabella berniat menjelek-jelekkan Emelin lagi, namun takut mendapatkan sikap dingin dari Antony lagi, Isabella menahan diri.
"Beberapa hal harus dia urus,"
"Ah begitu. Kalau begitu kenapa kita tidak memilih beberapa tempat duduk yang sama? Kebetulan aku datang sendiri, sepertinya disini juga cukup ramai dan hanya tersisa sedikit tempat,"