
Mendengar kata-kata Antony barusan, tentu saja Emelin kaget.
"Kamu mau pergi Ke Luar Kota? Berapa Lama?"
Antony hanya menghela nafas panjang, lalu berkata dengan lesu,
"Ini akan memakan waktu satu bulan,"
Ekpersi Emelin tentu saja terlihat sedih,
"Kenapa bisa begitu lama?"
"Ada banyak Proyek disana, hah aku tidak bisa menghindarinya,"
Alex yang juga mendegar kalau Antony akan keluar kota itu lalu bertanya,
"Papa mau ke Luar Kota? Kapan Pa? Kenapa Papa tidak bilang pada Alex?"
"Sebenarnya aku tidak ingin membuat kalian sedih, jadi aku hanya baru bisa bilang sekarang, besok pagi aku akan pergi,"
"Yahh.. Papa pergi? Kalau begitu jangan lupa oleh-olehnya ya Pa,"
Antony menatap Alex dengan tampang heran.
"Kamu begitu sedih ketika Mamamu pergi, kenapa sekarang terlihat biasa saja ketika Papa yang pergi hmm?"
Alex sedikit tertawa lalu berkata,
"Kan Papa laki-laki, bisa menjaga dirinya sendiri disana, Mama kan beda, hpmh,"
Antony hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti tentang sikap Alex yang begitu berbeda padanya ini.
Kata pepatah anak laki-laki memang entah bagaimana akan selalu lebih dekat dengan Mamanya, dan sepertinya itu benar.
Mengigat hal-hal ini tiba-tiba membuat Antony ingat tentang Almarhum Ibundanya.
Tiba-tiba merasa merindukan sosok Ibundanya itu.
Dulu ketika dirinya masih kecil, dirinya juga begitu lengket dan manja pada Ibunya itu, sama seperti Alex begitu manja pada Emelin.
Ketika malam tiba, dirinya dulu ketika kecil juga suka menyelinap untuk tidur bersama Ibundanya itu, dan Ibunya akan mulai membacakan sebuah cerita.
Itu adalah hari-hari paling indah dalam hidupnya ketika saat kecil, bahkan walaupun saat itu mereka hidup kekurangan, namun dirinya selalu bahagia bersama dengan Ibunya.
Namun sayang sekali, kebahagiaan tidak berlangsung lama dan Ibunya segera meninggalkannya...
Mungkinkah setelah dari Luar Kota, dirinya akan pergi ke makam Mamanya, mungkin akan mengajak Emelin dan Alex sekalian.
"Alex jangan begitu dengan Papamu," kata Emelin.
"Hmm, tentu saja Alex juga akan merindukan Papa, mari Pa kita tidur bersama nanti malam,"
Antony lalu mengelus rambut Putranya itu.
"Tentu saja, mari habiskan waktu malam ini bersama jagoan Papa ini, hmm,"
Melihat ayah dan anak itu terlihat kompak, Emelin juga ikut senang, namun dirinya merasa cukup sedih juga karena harus berpisah lagi dengan Antony.
Hah....
Dirinya pasti akan merindukan Antony...
####
Malam berlalu dengan sekejap, pagi ini Emelin bangun cukup pagi untuk membantu Antony bersiap-siap pergi.
Saat ini masih jam lima, Alex masih tidur.
Emelin melihat kearah samping, ada wajah tampan yang familiar.
Menatap wajah tampan ini, Emelin merasa tetap saja terpesona berapa kalipun melihatnya.
Tanpa sadar, Emelin menatap wajah tidur itu dengan lekat-lekat, sampai mata itu mulai berbuka, lalu berkata dengan suara sedikit serak.
"Sudah bangun?"
"Ya, aku ingin membantumu bersiap-siap,"
Antony lalu tersenyum sambil mengelus rambut Emelin, lalu berkata,
"Tidak perlu buru-buru, aku akan berangkat masih nanti siang, kalau kamu masih mengantuk, kamu bisa tidur dulu,"
Emelin mengeleng-gelengkan kepalanya,
"Tidak, tidak. Aku pikir aku akan bangun pagi, mungkin membuat beberapa sarapan?"
"Kalau begitu aku ingin nasi goreng seafood,"
Wajah Emelin menunjukan ekpersi cemburutnya lalu berkata,
"Kamu.. Kamu terlalu banyak makan makanan berkalori, seafood sangat berkalori bagaimana kalau kamu gemuk?"
Antony hanya tertawa, lalu mulai mengambil tangan Emelin, mengarahkannya pada otot-otot Sixpack diperutnya itu.
"Lihat? Mana ada yang gemuk? Aku selalu rajin berolahraga, tapi mungkin bisa jadi kamu yang gemuk,"
Emelin merasa kaget dengan tindakan Antony, langsung menarik tangannya, dan berkata dengan marah,
"Siapa yang gemuk? Kamu itu tidak boleh mengatakan wanita itu gemuk bahkan jika dia benar-benar gemuk,"
"Mana-mana coba aku periksa,"
Antony langsung mengarahkan tangannya kearah Emelin, memegang perut Emelin yang langsing itu.
"Perutmu benar-benar terlalu kecil. Kalau seperti ini bagaimana caramu mengandung adik Alex nanti?"
"Ja... Jangan mulai omong kosong!"
Antony masih asik meraba perut Emelin.
"Aku penasaran apakah didalam sini ada sesuatu yang tumbuh? Aku sudah melakukan begitu keras malam itu dan tidak memakai pengaman,"
Mengerti dengan ucapan Antony tentu saja Emelin merasa malu,
"Ka.... Kamu ini sangat suka bicara omong kosong?"
"Aku hanya sekedar bertanya, bagaimana kalau memang iya? Apakah kamu akan marah, padaku? Kamu tahu, saat ini kamu baru saja memulai karirmu kembali, dan saat ini sedang masa populer,"
Emelin terdiam sejenak, lalu mulai berkata dengan serius,
"Tentu saja tidak masalah, karena itu adalah berkah. Aku bukan Claudia itu yang sangat tidak punya perasaan, yang bahkan membuat Drama atas kematian calon anaknya sendiri. Kalaupun aku hamil, aku masih tetap bisa berakting, lihat? Ada banyak Ikan untuk kesehatan Ibu Hamil dan Iklan Susu untuk Ibu Hamil, juga ada mungkin ada acara-acara kesehatan khusus untuk hal-hal itu, sekarang hal-hal itu juga menjadi perhatian publik, aku bahkan mungkin bisa siaran langsung tentang yoga yang cocok untuk Ibu hamil, yang paling penting aku akan tetap istirahat yang cukup jika memang perlu,"
Mendengar jawaban hangat Emelin yang begitu energik itu, Antony tersemyum,
"Kamu sangat optimis bukan?"
"A... Apa?"
"Ya, setidaknya aku akan merasa lega jika kamu tidak marah,"
"Tentu saja tidak marah, aku malah akan merasa senang,"
"Aku juga akan senang,"
Mereka lalu saling menatap dalam diam, barulah mereka sadar akan perkataan mereka barusan itu, lalu saling memalingkan wajah, sepertinya wajah mereka masing-masing sedikit memerah karena merasa malu.
Kenapa itu terkesan sangat alami?
Emelin sendiri merasa dirinya aneh, sangat mudah terbiasa dengan keberadaan Antony, dengan semua lelucon, godaan dan ucapannya yang suka aneh-aneh itu.
Juga dengan tindakan hangatnya itu.
Tiba-tiba terpikirkan...
Hmm, mungkin setelah Antony pulang nanti dirinya akan mengungkap perasaannya, bahkan seperti apa nanti entah pendapat Antony soal ini...
Ya!!
Dirinya akan mempersiapkan hatinya selama satu bulan ini!!
"Antony,"
"Emelin,"
Mereka saling memanggil pada saat bersamaan,
"Kamu duluan,"
"Kamu dulu,"
Lagi-lagi mereka mengatakannya bersama-sama.
Keduanya lalu mulai tertawa,
"Baik-baik, kamu duluan saja Emelin,"
"Itu setelah kamu pulang nanti, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,"
Antony menunjukan wajah terkejutnya,
"Hmm, sebenanya aku juga ini mengatakan sesuatu nanti padamu setelah aku pulang, ini sangat lucu melihat kita memikirkan hal yang sama,"
"Apaan, kamu yang mulai meniru-niru aku,"
Mendengar suara-suara disekitarnya, si kecil yang dari tadi tertidur lelap, lalu terbangun,
"Ummm.... Papa dan Mama sudah bangun?"
Alex terlihat mulai membuka matanya, dan masih sedikit menguap, terlihat masih sangat mengantuk.
"Ini sudah pagi, Alex. Papa akan pergi Olahraga apakah kamu mau ikut?"
Wajah Alex lalu menunjukkan senyumannya cerianya, tiba-tiba memikirkan sebuah ide,
"Alex mau, Pa... Mama... Mama ayo ikut Olahraga pagi bersama,"
Emelin lalu menatap Antony sekilas,
"Ayo Emelin, lain kali saja memasaknya, kita belum pernah olahraga bersama?"
Emelin lalu menjawab dengan senang,
"Tentu saja mari kita olahraga bersama-sama,"
Pagi itu untuk pertama kalinya mereka menikmati olahraga bertiga, berkeliling kompleks dengan sangat harmonis, sampai-sampai tetangga sebelah yang biasa menyapa Antony yang selalu lari pagi sendiri itu heran.
"Wow, Pak Antony Istrimu benar-benar sangat cantik, pantas saja kamu selalu menyembunyikannya di Rumah," setelah mengatakan itu, dia langsung mendapatkan injakan dari Istrinya yang kebetulan juga ikut lari pagi.
"Kalau begitu mari saling berkenalan, aku Melli dan Ini Suamiku Riki, kami tinggal didekat sini, itu hanya dua blok dari Rumah mu,"
Emelin yang mendapatkan kenalan baru itu juga merasa senang.
Tinggal disini selama tujuh tahun namun tidak kenal dengan tetangga ini...
Sepertinya keterlaluan?
"Ya, ya salam kenal juga Melli, aku Emelin Istri Antony,"
Mereka lalu mulai bercakap-cakap dengan akrab, dan segera berpisah setelah sampai ditujuan masing-masing.
"Aku dan Istriku akan makan pagi di tempat jualan Bubur di kompleks sebelah sana, kami duluan ya,"
"Kamu akan lari kesana? Begitu jauh?"
Riki lalu membisikan sesuatu ditelinga Antony,
"Istriku sedang hamil sekarang dan dia ngidam ingin lari dan minta dibelikan sarapan di kompleks sebelah, sesungguh setelah dia hamil, dia benar-benar ngidam aneh-aneh, sampai membuat aku pusing dan lelah belalangan ini,"
Antony lalu tertawa,
"Itu bagus bukan? Selamat kalau begitu. Bukankah sebelumnya memang kalian merencanakannya?"
"Ah, itu benar. Tapi aku tidak pernah mengira kehamilan keduanya ini lebih merepotkan dari yang pertama. Kamu kapan juga menyusul yang kedua?"
Dari jauh terdegar panggilan,
"Riki sayang, Ayuk buruan lari!! Aku sudah kelaparan ini,"
Mendengar panggilan Istrinya itu, Riki segera berpamitan.
"Apa yang kalian berdua bicarakan kok berbisik-bisik?"
"Itu, dia hanya mengeluh bagaimana saat ini Istrinya hamil dan ngidam macam-macam katanya lebih buruk dari pada saat hamil pertama. Aku jadi ingat dulu saat hamil Alex kamu pernah ngidam ingin beli Kapal Pesiar lalu ingin berlayar di laut,"
Emelin merasa malu ketika diingatkan dengan hal itu.
"Ahhhhkkk.... Kamu ini..."
"Sekarang aku hanya berpikir bagaimana kalau saat kamu hamil kedua nanti, apakah kali ini kamu akan ngidam ingin beli pesawat dan ingin pergi Keliling Dunia?"
"Antony!!!!"
Pagi mereka benar-benar berwarna, dan sangat menyenangkan.
Sampai waktu cempat berlalu dan saatnya Antony pergi.
Saat ini mereka berada di bandara,
Antony mengucapkan perpisahan pada Emelin dan Alex.
Tepat sebelum Antony pergi, dia mencium kening Emelin,
"Hmm, aku pergi kami hati-hati,"
"Aku yang harusnya bilang seperti itu, ingat untuk selalu menelpon rumah, aku selalu menunggumu dirumah, semoga pulang dengan selamat,"
"Hmm, ya"
"Selamat Jalan Antony, ingat janji kita,"
"Tentu, saja,"
Setelahnya Anthony naik ke pesawat dengan perasaan damai.
Antony berharap semua pekerjaannya berakhir dengan cepat sehingga dirinya bisa pulang, dan segera menyatakan perasaannya pada Emelin.
Hal-hal soal mengambil alih perusahaan juga sudah hampir selesai...
Harap semuanya di jalan dengan lancar....
Namun tanpa Emelin dan Antony sadari, ternyata ada yang menatap mereka diam-diam di bandara.
'Sialan, mereka hidup bahagia seperti itu? Aku tidak bisa menerima, Emelin dan Antony itu hidup bahagia, awas saja ya!!'
Banyang-bayang mengintai tanpa disadari, dari balik Kegelapan.
####
Bersambung