
Kebetulan ini adalah akhir pekan, jadi baik Antony atau Emelin menikmati hari libur mereka.
Kebetulan juga, Alex pergi bermain dengan Kakeknya ke Teman Hiburan, jadi hanya tinggal Antony dan Emelin di Rumah sekarang.
Emelin saat ini sedang memandang halaman belakang rumahnya yang hanya ada rumput, dan menatap matahari yang begitu terang dan terik di langit.
Memang halaman belakang rumah ini tidak begitu luas, namun tetap saja hanya dengan rumput, terasa benar-benar sangat hambar.
Dirinya tiba-tiba ingin bersantai di bawah pohon yang rindang.
Ekpersi Emelin jelas menunjukan ekpersi cemberutnya itu.
Antony yang baru menyusul Emelin ke belakang, melihat wajah Istrinya itu lalu segera bertanya,
"Ada apa sayang?"
"Tiba-tiba aku ingin berteduh di bawah pohon mangga di halaman belakang rumah kita,"
Antony menatap heran kearah Istrinya.
"Namun di belakang rumah kita tidak ada pohon mangga,"
"Tapi aku ingin pohon mangga,"
"Pohonnya?"
"Ya, ini pohonnya, aku ingin ada pohon mangga di belakang rumah,"
Antony mulai menghela nafas panjang, dirinya mengerti ini pasti Emelin sedang ngidam lagi.
Setelah memasuki bulan kedua, Emelin ini semakin banyak memiliki permintaan, ini benar-benar tidak biasa dan benar-benar aneh, bahkan dua kali lipat lebih banyak.
Apakah ini karena Emelin sedang mengandung anak kembar makanya ngidamnya juga menjadi dobel begini?
Sekarang dia tidak hanya minta mangga, namun ingin pohonnya.
Antony rasanya ingin menepuk dahinya karena permintaan aneh ini.
"Jadi maksudmu kamu ingin aku menanam pohon di belakang Rumah ini?" Kata Antony mencoba mengambil kesimpulan dari permintaan Emelin itu.
"Tidak, tidak seperti itu, aku ingin kamu memindahkan pohon Mangga yang sudah cukup besar ke halaman rumah ini," kata Emelin lagi ekspresi pola semester sambil terketik beberapa kali sekolah memohon pada Suaminya itu.
Ekpersi Antony benar-benar berubah menjadi gelap.
Permintaan istrinya ini bahkan jauh lebih merepotkan dari sekedar menanam pohon, dia benar-benar ingin dirinya memindahkan pohon mangga yang sudah besar ke halaman Rumah ini?
"Aku benar-benar ingin berteduh di bawah pohon mangga di halaman belakang Rumah kita," kapan line lagi dengan tampang memohon.
Akhirnya, Antony mengalah.
Apapun lah, permintaan Istrinya ini.
Sebenarnya, itu bukan hal yang sulit. Nanti minta anak buahnya untuk mengurus hal-hal ini dan Istrinya menerima jadi saja.
"Ya, aku akan mengurusnya secepatnya. Nanti segera aku akan menyuruh anak buahku untuk mencarikan pohon dan memindahkan kesini,"
"Tapi aku ingin kamu memindahkan pohon itu,"
Ekpersi Antony kembali menunjukan kaget dan syok.
Dirinya sekarang suruh ikut langsung dalam pemindahan pohon itu?
Sungguh terlalu.
"Ini benar-benar harus aku yang melakukannya?"
"Tentu saja, ini keinginan dua calon anakmu yang ada diperutku, mereka ingin melihat kehebatan Ayahnya!!" Kata Emelin dengan ekpersi ceria.
Antony lalu mencoba memujukan senyumannya.
Sepertinya ini memang tidak ada pilihan dan dirinya harus benar-benar turun tangan untuk memindahkan pohon mangga ini.
Walaupun itu akan menjadi hal-hal yang merepotkan dan tidak akan selesai hari ini.
Ya, dirinya cukup bersyukur setidaknya Emelin tidak meminta untuk memindahkannya pohon kelapa.
"Tentu saja, apapun untuk Istriku dan calon anakku tersayang ini," kata Antony sambil mengelus perut Emelin.
Setelah merasakan bayi dalam perut Emelin itu, Antony juga merasa menjadi semagat.
Demi mereka apapun akan dirinya lakukan.
Emelin yang mendengarnya Antony menyetujuinya itu, langsung segera memeluk Antony.
"Astaga, Sayang kamu benar-benar cukup perhatian bukan?"
"Ya ya, sekarang kamu tidak perlu mengeluh lagi, aku akan atur semuanya,"
Dengan itu, Antony segera menghubungi anak buahnya dan mengintruksikan soal ingin memindahkan pohon mangga di halaman rumahnya.
Tentu saja, anak buah Antony itu menjadi terheran-heran.
'Apakah ini perintahmu, Bos?'
"Ya, aku ingin pohon mangga secepatnya,"
'Tapi untuk apa?'
"Ini bukan urusanmu, pokoknya dapatkan pohon mangga secepatnya,"
Mendengar perintah yang terlihat jelas itu akhirnya anak buah Antony di ujung telepon segera setuju.
Tapi ini aneh, biasanya Pak Bosnya ini menyuruhnya menyelidiki orang, mengawasi orang, atau hal-hal sejenisnya, namun kali ini benar-benar menyuruhnya mencari pohon mangga?
Dirinya benar-benar tidak mengerti, soal keinginannya Bosnya yang selalu memiliki ekpersi dingin ini tiba-tiba menyuruh mereka melakukan hal-hal aneh.
Dirinya dengar, Istri Pak Bos denah hamil, apakah ini ngidam atau satuan?
Antony kemudian duduk di teras belakang bersama dengan Emelin mulai mengobrol dulu.
"Antony, bagaimana soal Alissya? Kamu bilang sebelumnya dia ingin pindah ke Luar Kota atau sesuatu?" Tanya Emelin dengan penasaran.
"Ya, aku juga tidak tahu. Sepertinya Alissya sudah memutuskannya, aku juga tidak bisa membujuknya, dia memang selalu keras kepala soal hal-hal seperti ini,"
Emelin berpikir sebentar, lalu bertanya pada Antony,
"Apakah menurutmu,alasan kepergian Alissya ini ada hubungan dengan Raka?"
"Aku juga tidak tahu soal hubungan mereka. Kamu cukup dekat dengan Raka, kamu tidak bertanya padanya?"
"Aku belakangan susah menghubungkan dia, ponselnya mati,"
"Sejak dia berada di Rumah Sakit memang dia susah di hubungi, Ibu Raka sempat menghubungi Kantor dan meminta ijin dan cuti beberapa hari untuk Putranya itu,"
"Atau apakah hubungan mereka ketahuan atau bagaimana?"
"Soal itu aku juga tidak tahu, hubunganku dengan Orang Tuanya Raka sepertinya semakin buruk sejak hari itu,"
"Memang, kamu ingat kata-kata Ibu Raka saat kita ikut mereka ke Rumah Sakit itu? Dia benar-benar menyalahkanmu soal kejadian yang menimpa Putranya itu,"
"Hah, ya. Mereka kan memang seperti itu. Ini juga memang salahku, harusnya aku lebih mengantisipasi kedatangan Paman dan Bibiku, aku tidak mengira mereka benar-benar berani datang dan membuat kekacauan seperti itu di Pesta kita,"
"Ya, bahkan sampai sekarang gosip soal kelakuan burukmu di masalalu dan sekarang benar-benar tersebar di Internet,"
"Sudahlah, aku tidak mau terlalu memikirkan hal-hal itu hal-hal itu benar-benar tidak penting,"
"Tapi ingin menyangkut Reputasimu,"
"Ayolah Emelin, itu hanya hal-hal lama dimasalalu dan benar-benar tidak begitu penting. Lagipula di Dunia Bisnis ini, siapa atasan yang tidak memiliki skandal? Setidaknya ini bukan hal-hal yang keterlaluan seperti kepergok Selingkuh atau sesuatu,"
Emelin lansung merubah ekpersinya, lalu berkata dengan cemburut,
"Awas saja kalau kamu berani-beraninya Selingkuh, mati kamu di tanganku beserta Selingkuhmu itu,"
Antony menatap Istrinya dengan ekspresi heran, lalu segera merayunya,
"Astaga, sayangku Emelin. Di hatiku hanya ada kamu seorang, sekarang atau nanti di masa depan, kamu satu-satunya untukku, hatiku ini sudah begitu penuh dengan kamu sebagai isinya, sudah tidak ada tempat atau pikiran bahkan untuk wanita lainnya, hanya ada kamu,"
"Dasar tukas gombal,"
"Ayolah, aku tidak akan selingkuh, Istriku sudah secantik ini apalagi yang kurang hmm? Kalau aku berniat Selingkuh bukankah sudah dari dulu? Kamu tahu sendiri, selama tujuh tahun lebih Pernikahan kita, mana ada aku dekat-dekat dengan wanita lainnya hmm?"
Emelin lalu tertawa,
"Aku hanya sedikit menggodamu. Tentu saja aku akan percaya padamu, kamu selalu menyukaiku. Hanya saja mungkin saja ada beberapa wanita tidak jelas yang mencoba mengodamu seperti Isabella tempo hari,"
"Sesuatu seperti itu ada di luar jangkauanku. Yah, bagaimana lagi jika aku terlalu tampan? aku sudah mencoba untuk tidak menunjukan wajahku di manapun namun sekarang wajahku ada di mana-mana ini benar-benar menjadi sesuatu yang merepotkan,"
Emelin sedikit memukul-mukulnya kecil suaminya itu,
"Ukhh... Sejak kapan kamu begitu narsis dan tidak tahu malu seperti ini? Memuji diri sendiri sebagai tampan,"
Antony lalu tertawa,
"Tantu saja sejak saat bersamamu, karena kamu menyukaiku karena aku cukup Tampan? Aku benar-benar merasa berterimakasih dengan wajah ini. Jika aku tidak memiliki wajah ini, mungkin seja saat pertama kali kita bertemu dalam acara perjodohan itu, kamu tidak akan secara Implusif langsung melamarku untuk diajak menikah denganmu,"
"Apa-apaan itu.... Namun sejujurnya itu, sejak aku melihat fotomu dari hasil penyelidikan, dan merasa kamu cukup tampan, aku tidak merasa buruk untuk menikah denganmu," kata Emelin dengan ekspresi sedikit maling ketika mengingat masa lalu.
####
Sore akhirnya datang, dan pohon yang Antony pesan akhirnya tiba.
Emelin melihat pohon yang masih ada di mobil pengangkut itu dengan senang.
Lalu menatap Antony yang sudah memakai pakaian khas berkebun.
"Antony, benar-benar akan memindahkan pohon ini?"
"Tentu saja, and kamu yang minta apa kak sekarang kamu berubah pikiran?"
"Emmm, benar-benar ingin melihat bagaimana kamu memindahkan pohon ini,"
"Pfffff tentu saja, tentu saja.... Aku ini cukup kuat,"
Antony kera dibantu oleh anak buahnya itu untuk mencoba memindahkan pohon itu.
Antony juga sudah menyangkut sendiri tahan di halaman belakang tempat pohon itu akan di pindahkan.
Benar-benar sangat melelahkan menggali tanah itu sendiri, artinya dirinya terlalu lama bekerja kantoran hingga lepas rasanya bekerja fikis, dulu padahal dirinya sering membantu Kakeknya berkebun dan beberapa pekerjaan angkat-angkat.
Nostalgia ketika memikirkannya.
Saat ini, Antony mencoba fokus meletakan pohon pada lokasi yang sudah ditentukan.
Ada tali-tali yang sudah di pasang dan penyanga sehingga pohon tidak jatuh.
Emelin melihat itu dari arah yang agak jauh, dengan begitu semangat.
"Antony, kamu benar-benar keren!!" Kata Emelin sambil mengabadikan momen itu, untuk suatu saat di ceritakan pada anak-anak mereka ketika mereka lahir.
Emelin benar-benar senang melihat betapa Antony serius menuruti permintaannya itu, walaupun aneh-aneh.
Ukhhh...
Sangat beruntung memiliki Antony sebagai suaminya.
Sampai tiba-tiba, terjadi hal yang tidak mengenakan di halaman belakang itu.
"Antony!! Tidak...." Terikat Emelin panik.
Pohon itu terjauh dan menimpa Antony.