Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Episode 33: Masa Kecil Antony


Siang itu, setelah Antony selesai rapat dengan salah satu Klaien penting, dia kembali ke Kantornya.


Masih banyak hal yang harus dirinya urus. Salah satunya adalah soal Perusahaan milik Keluarga Smith.


Dia memikirkan apa yang harus dilakukan pada Perusahaan itu.


Namun ketika dia sibuk berpikir, tiba-tiba sebuah telepon datang.


Antony lalu melirik nama si penelpon, tertulis,


'Tuan Anderson'


Ekpersi Antony sedikit memburuk.


Ini adalah Ayahnya.


Sebenarnya walaupun sudah hampir enam tahun dirinya mengetahui identitas Asli Ayahnya, namun perasaannya pada orang ini hampir tidak ada.


Ini lebih seperti dia hanya Ayah dalam nama untuknya.


Jelas, itu semua karena ketika mereka bertemu, itu ketika dirinya berusia dua puluh satu tahun, itu bukan usia yang muda, namun sudah menginjak kedewasaan.


Tentu saja, sejak saat kecil, dirinya selalu penasaran dengan siapa Ayahnya.


Berpikir, kenapa semua orang memiliki seorang Ayah, namun tidak dengan dirinya.


Namun, Ibunya tidak pernah menyebutkan soal siapa Ayahnya, bahkan sampai dia meninggal.


Tentu, rasa rindu dan rasa ingin memiliki seorang Ayah selalu tumbuh dihatinya sejak kecil, dirinya sangat mendambakan Kasih Sayang Seorang Ayah.


Dirinya selalu berandai-andai, andaikan saja dirinya memiliki seorang Ayah, apakah Ibunya masih hidup saat ini?


Ibunya meninggal karena terlalu banyak bekerja keras demi dirinya.


Seandainya saja Ayahnya ada, apakah Ibunya masih akan bersamanya dan memiliki umur yang lebih panjang?


Dari sejak kematian Ibunya, Antony yang awalnya menghadapkan seorang sosok Ayah idaman dan sosok seorang idola dalam hatinya, menjadi dia memilih perasaan benci tertentu pada orang itu.


Kenapa?


Kenapa Ayahnya tidak bersama dengan dirinya dan Ibunya?


Kenapa?


Kenapa Ayahnya meninggalkan dirinya dan Ibunya?


Semakin larut, perasaan itu semakin tumbuh.


Perasaan benci pada Ayahnya yang dirinya sendiri tidak tahu itu siapa.


Namun lambat laut, perasaan tentang sosok Ayahnya itu juga perlahan-lahan memudar.


Dirinya harus hidup bersama dengan Kakeknya setelah Ibunya meninggal.


Kakeknya tentu sosok yang baik untuknya, namun Kakeknya tinggal bersama dengan Paman dan Bibinya.


Antony mengigat lagi, hari ketika dirinya memasuki rumah mereka.


'Ayah!! Kenapa Ayah mengabil anak itu? Tidakkah Ayah tahu kalau Keluarga Kami tidak memilih cukup uang?' itu adalah kata-kata kasar dadi Pamannya.


'Aku yang akan menanggung anak itu,'


'Ayah!! Kenapa Ayah seperti ini? Jika Ayah memiliki lebih banyak uang, sebaiknya Ayah lebih mengurus cucumu yang lain, lihat Putra tertuaku saat ini hampir memasuki Sekolah Menegah Pertama, dia memiliki banyak biaya.'


'Tapi Antony juga cucuku!'


'Kenapa Ayah mau merawat anak tidak jelas yang bahkan kita tidak tahu siapa Ayahnya itu?'


'Kamu.... Tutup mulutmu!! Dia adalah Putra dari Adikmu!'


'Adik, Ayah bilang? Dia hanya wanita yang membuat Malu Keluarga!! Dia tiba-tiba hamil tanpa suami dan membuat malu seluruh Keluarga, tidakkah Ayah tahu seperti apa pendapat semua orang tentang Keluarga kita? Kita dianggap membesarkan seorang pe***r!'


'Tutup mulutmu itu!'


Itu adalah sebuah pertengkaran ketika dirinya pertama kali menginjakkan rumah Pamannya.


Hari itu, Ibunya barusaja meninggal, satu-satunya Keluarga yang dirinya miliki. Satu-satunya penopang dalam hidupnya.


Perasaan kehilangan yang sangat dalam, seolah-olah satu-satunya cahaya dalam hidupnya menghilang.


Saat itu, dirinya hanya seorang siswa sekolah dasar berusia dua belas tahun.


Masih sangat muda, namun harus mengalami hal-hal yang sulit.


Namun, Kakeknya adalah orang yang baik, dia memperlakukan dirinya dengan hangat, dan bahkan selalu berusaha untuk membuatnya nyaman, memberikan kasih sayang yang hilang dalam hidupnya.


Kakeknya memang sosok yang hangat bahkan sebelum Ibunya meninggal, Kakeknya selalu membantu mereka, namun sekali lagi sebagai seorang laki-laki tua, kemampuan Kakeknya terbatas.


Untuk Antony, mungkin sosok Kakeknya tidak hanya sekedar sosok Kakek, namun juga sosok Ayah untuknya.


Namun tetap saja, saat itu begitu sulit, dirinya masih ingat juga saat perdebatan antara Kakek dan Pamannya saat dirinya memasuki Sekolah Menegah Pertama.


'Uang... Uang... Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk anak seperti mu bersekolah? Ini benar-benar membuang-buang uang! Kamu tahu?' kata Pamannya saat itu, dengan marah padanya.


Dirinya hanya diam saat itu.


'Kamu harusnya bekerja dan mendapatkan uang sendiri! Jangan menjadi beban Keluarga ini!! Apa gunanya kamu bersekolah? Kamu hanya anak haram tidak punya Ayah!!'


Kata-kata yang begitu kasar pada seorang anak laki-laki yang begitu muda.


Hari-hari itu adalah masa-masa terberat dalam hidupnya.


Bahkan ketika dirinya memasuki SMP, teman-teman sekelasnya mulai bergosip bagaimana dirinya tidak punya Ayah, sama seperti ketika dirinya masih di SD. Dia menjadi salah satu korban bullying saat itu.


Mengalami semua hal-hal itu, membuat dirinya tumbuh kesepian, dan selalu sendirian saat di Sekolah.


Dia mulai semakin membenci sosok seseorang yang disebut 'Ayahnya' saat itu.


Belum masalah di Sekolah, ketika dirinya berada di rumah, Paman dan Bibi nya selalu memiliki alasan untuk marah padanya.


'Kamu jangan keluyuran saja! Nanti Bibi mengurus Toko kami,'


Dirinya bahkan disuruh mengurus dan bekerja di Toko mereka tanpa di bayar, namun mereka tetap memperlakukan dirinya seperti seorang beban, padahal Kakeknya lah yang membiayai biaya Sekolahnya dari yang Pensiun sedikit yang dimilikinya.


'Ayah! Aku tahu kamu menyembunyikan uang untuk Antony! Ayah tidak bisa melakukannya itu! Biaya pendidikan apa! Apakah Putraku bukan cucu Ayah?'


Pamannya selalu mendesak Ayahnya agar menyerahkan semua uang-uangnya untuknya, namun Kakeknya selalu menolak, dia berusaha menabung untuk agar dirinya bisa bersekolah nantinya.


Melihat semua pertengkaran ini, kadang membuat Antony yang saat itu masih muda itu merasa hancur dan furstasi, bagaimana dirinya tidak berguna saat itu.


Rasanya disemua tempat adalah Neraka untuknya.


Bahkan di Sekolah.....


Namun suatu hari, ketika dirinya habis dipukuli oleh beberapa teman sekelasnya, ada seseorang yang membantunya untuk pertama kali.


Ini adalah seorang gadis sepertinya dari kelas yang lain.


'Hey Kalian! Jika kalian masih melakukan ini aku akan melaporkan ini pada guru!' kata gadis itu dengan berani.


'Kamu berani!!'


'Apa? Aku benar-benar akan melaporkan ini pada guru!'


Saat itu semua siswa jahat itu lalu kabur karena takut dilaporkan pada guru.


Gadis itu lalu menoleh dan membantu Antony kecil berdiri.


Untuk Antony, adegan itu adalah titik balik dari hidupnya.


Seorang gadis yang merubah hidupnya, seolah ketika semua cahaya hilang, dia menemukan cahaya baru dalam hidupnya.


'Apakah kamu tidak apa-apa?'


Senyuman manisnya hari itu tidak bisa Antony lupakan.


Sebuah pertemuan tidak terduga yang terukir dihatinya.


####


Antony yang menatap teleponnya itu, yang melamun mengigat masalalu, sekarang kembali tersadar ketika telepon terus berbunyi.


'Tidak ada gunanya mengigat masalalu,'


Dia lalu mengangkat teleponnya itu,


"Iya, ada apa?"


'Kamu nanti malam pulang ke Rumah Keluarga besar, Kakekmu ingin bertemu denganmu.'


Itu adalah kata-kata intruksi yang cukup dingin, bahkan tanpa sapaan atau kata-kata hangat.


Sebuah cerita panjang, untuk dirinya saat memasuki Keluarga Anderson.


"Ya, aku mengerti. Aku akan datang malam ini,"


'Baik. Aku akan menunggumu nanti.'


Telepon yang cukup singkat, lalu telepon itu langsung ditutup.


Antony sama sekali tidak merasa tersinggung atau sesuatu.


Ayahnya ini memang sosok yang seperti ini.


Inilah juga yang membuat dirinya tidak bisa menutup jarak antara mereka berdua.


Memikirkan nanti malam dirinya harus pergi Ke Rumah Besar Keluarga Andrson, membantu Antony memilik pemikiran yang rumit.


####


Bersambung