Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Season 2 Episode 1: Undangan dari Keluarga Anderson


Pagi itu merupakan hari Minggu yang damai.


Emelin bangun tidur lebih awal, menatap kearah samping, ada Antony yang masih tertidur dengan damai.


Melihat wajah tampan ini, membuat Emelin selalu tidak tahan.


Emelin langsung mendekatkan wajahnya, lalu memberikan ciuman ringan secara diam-diam.


Akhhhh....


Rasanya sangat nyaman bisa mencium Pria setampan Antony di pagi hari, dan lagi Pria setampan ini hanya milik dirinya, tentu saja dirinya akan memanfaatkannya dengan baik.


Menatap wajah yang terlihat sangat tenang dan sangat berbeda dari ekpersi biasanya yang terlihat dingin itu, hanya dengan satu ciuman kecil masih kurang untuk Emelin.


Melihat kalau Antony masih tidur lelap itu, sekali lagi, Emelin mencium bibir itu.


Astaga...


Ini sangat manis dan membuat candu...


Bibir halus dan lembut itu, terasa sangat menyenangkan ketika di sentuh.


Hangat, dan kenyal.


Ahhhhkkk....


Namun begitu Emelin melepaskan ciumannya itu, tubuh Emelin langsung di tarik kedalam pelukan Antony.


Mata gelap itu terbuka,


"Istriku tersayang ini sepertinya sudah bersikap nakal di pagi buta,"


Emelin mencoba mengelak,


"Si.. Siapa yang nakal? Aku tidak melakukan apapun,"


Antony lalu menatap Emelin dengan ekpersi serius, lalu berkata,


"Ah, jadi yang menciumiku diam-diam ketika aku tidur itu bukan kamu?"


Ekpersi Emelin tentu saja memerah karena malu ketahuan dengan kelakuan nakalnya.


"Jadi kamu sudah bangun dari tadi? Kamu benar-benar mempermainkanku,"


"Pfffff... Awalnya aku ingin bangun, namun siapa yang tahu aku mendapatkan kejutan di pagi hari, hmm, kamu sungguh nakal ya," kata Antony lalu menarik Emelin lebih dekat, dan menciumnya.


"Huss, Ada Alex disini,"


Pagi itu Keluarga kecil itu menikmati kedamaian mereka yang indah.


Tidak lama, Emelin memiliki ide untuk pergi keluar dan lari pagi mengajak Alex, nanti mereka akan mencari sarapan di luar.


"Tentu saja, Alex mau!! Sudah lama tidak keluar rumah seperti itu, gara-gara tangan Alex sakit," kata Alex dengan semangat lagi.


Melihat wajah Alex sudah bersemangat seperti sebelumnya, Emelin sangat senang.


Dirinya masih ingat ketika anak ini terluka, dan mengalami patah tulang, dia masih menagis selama beberapa hari.


Dan terkadang Alex akan sangat sedih, melihat dirinya tidak bisa mengunakan tangannya itu.


Apalagi tidak bisa melakukan aktivitas diluar.


"Tentu saja, kita akan bersenang-senang pagi ini, kamu juga bisa bermain dengan anak tetangga sebelah, nanti Mama akan mengirimkan pesan pada mereka,"


"Yey! Pasti asik!"


Antony lalu ikut percakapan mereka mulai bertanya,


"Kalian ingin sarapan apa?"


Emelin belakangan juga suka berjalan-jalan disekitar sini, dan mulai tahu tempat-tempat yang menjual makanan enak.


"Bagaimana jika Bubur Kacang Hijau di Taman? Disana kelihatannya enak, kalian pernah mencobanya?"


"Pernah Ma, boleh juga mari sarapan Bubur Kacang Hijau disana, tapi jangan pakai kacang hijaunya, ya,"


Emelin menatap Alex dengan ekpersi binggung,


"Kamu makan bubur kacang hijau tidak pakai kacang hijau? Dasar anak ini sangat pemilih sekali,"


"Tapi ketan merahnya sangat enak Ma, tapi Alex tidak sudah kacang hijaunya,"


Antony lalu tersenyum, dan berkata,


"Alex, kamu tidak boleh menjadi pemilih makanan, kacang hijau juga enak,"


"Tapi Alex tidak suka,"


Melihat Alex sepertinya memaska itu, Antony akhirnya mengalah.


Melihat sepasang Ayah dan Anak itu, Emelin hanya bisa tertawa, begitu lucu melihat dua orang itu.


Mereka juga berlari bertiga, telihat sangat akrab dan dekat satu sama lainnya.


"Hallo, Bu Ella, wah sepertinya Perut Ibu semakin besar saja,"


"Benar, ini sudah hampir bulan kelima astaga, aku tidak menyangka secepat ini,"


"Alex, lihat sebentar lagi adikku akan lahir," kata Theo, Putra pasangan itu dengan semangat.


Alex terlihat tidak mau kalah, lalu berkata dengan semangat,


"Hpmh, jangan sombong dulu, Theo, Alex sebentar lagi juga punya adik bayi perempuan yang lucu, benar bukan Mama?"


Emelin hanya tersenyum mendengar perkataan Alex barusan.


Disisi lainnya, Ella yang juga mendegar kabar soal Berita Keguguran Emelin yang sempat heboh itu tentu saja tahu, tidak tahu harus merespon apa, jadi dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Theo, kamu ini ya, sudah-sudah nanti kalau sudah saatnya juga baik kamu atau Alex akan memiliki adik,"


Theo hanya tersenyum mendengar itu,


"Ah, Mama benar juga."


"Ibu Emelin ada rencana membeli sarapan dimana? Kamu tahu, dibelakang kompleks ada Penjual Bubur Ayam baru Lo, kabarnya ini enak,"


"Aku sudah berencana untuk membeli bubur kacang hijau di taman,"


"Ah benar juga disana juga enak,"


Mereka terlihat sangat menikmati suasana pagi hari mereka itu.


Sampai tiba-tiba ketika mereka masih asik lari pagi itu, telepon Antony berbunyi.


Melihat siapa yang menelepon, perasaan Antony menjadi cukup rumit.


Emelin yang dari tadi lari asik dengan Alex, melihat juga ekpersi wajah Antony yang berubah itu,


"Siapa yang menelepon?"


"Ini Kakekku,"


"Ah, Kakek Johanes?"


"Kamu kenal dengannya?"


"Tidak juga, hanya pernah bertemu sekali ketika ke rumah Raka, emm kata Raka, Kakeknya itu menyeramkan, aku sedikit takut,"


Tentu saja sekarang Antony sudah tau soal hubungan antara Emelin dan Raka yang hanya teman saat di sekolah, tidak lebih dan tidak kurang.


"Begitukah?"


"Kami sebaiknya angkat saja,"


Lalu Antony mencari tempat yang sepi, dan mengangkat telepon itu.


"Hallo, iya Kakek ada apa?"


'Datang dan Makan Malam di Rumah Malam ini, bukankah ini saatnya kamu membawa Istri dan Putramu?'


Terdengar suara tegas dan dingin dari balik telepon.


"Tapi Kakek...."


Namun belum sempat Antony mengeluh, Kakek Antony juga berbicara dulu,


'Tidak ada tapi-tapian, kamu ini ya selalu membuat alasan saja, Kakekmu ini juga ingin tahu Istrimu dan ingin melihat cicit Kakek, cepat bawa ke Rumah tidak ada penolakan, harus malam ini,'


"Nanti aku akan mencoba membicarakannya dengan Istriku,"


'Dia harus setuju, pokoknya Kakek tidak mau tahu,'


Lalu telepon segera ditutup.


Antony menghela nafas panjang.


Bukanya dirinya tidak ingin membawa Emelin kesana, namun memang suasana Keluarga Anderson cukup buruk dirinya tidak mau melihat Emelin atau Alex mendengarkan caci maki dari mereka terutama oleh Paman dan Bibi nya itu, belum lagi....


Hah, urusan Keluarga Anderson sungguh rumit, ini tidak sesederhana yang dirinya kira.


Sepertinya Ayahnya dan Pamannya ini sedang dalam konflik yang buruk, ini tidak hanya sekedar menyangkut harta warisan sepertinya, ada lebih dari itu yang dirinya masih selidiki lagi.


Ayah Kandungnya itu hanya membawanya ke Keluarga Anderson sebagai Alat.


"Hey, Antony ada apa? Apa yang Kakekmu katakan?"


Pernyataan Emelin yang tiba-tiba mendatanginya itu membuat Antony sadar dari lamunannya.


"Sebenarnya Kakekku mengundang kamu dan Alex untuk mengujugi Rumah Keluarga Anderson, bagimana menurutmu?"