
Mendengar pertanyaan Antony tiba-tiba itu, Emelin terdiam sejenak.
"Aku rasa tidak masalah? Mungkin Alex akan senang jika dia bertemu dengan Kakek Buyutnya. Tapi itu terserah kamu saja sih,"
"Apakah tidak apa aku mengajakmu kesana bersama Alex?"
Emelin menatap Antony dengan heran,
"Masalah apa? Tentu saja tidak ada masalah, apa yang kamu takutkan?"
"Yah... Kamu tahu sejujurnya Hubunganku dengan mereka kurang baik."
Emelin mendegar dari Raka sebelumnya bagaimana memang hubuangan Keluarga mereka dengan Antony cukup kurang baik.
Sepertinya ini masalah Keluarga yang lebih rumit dari pada dirinya kira?
Namun tidak masalah, dirinya memiliki hubungan yang cukup baik dengan Raka.
Mungkin entah bagaimana dirinya bisa membuat mereka berdua damai?
Lagipula, Raka tidak perlu khawatir soal Harta Warisan atau sesuatu, Antony bukan tipe yang akan mengambil sesuatu yang bukan haknya, dan mereka akan mendapatkan secara adil.
Dirinya percaya pada Antony.
"Emm, ya kurasa ini kesempatan untuk kita menjadi cukup dekat dengan mereka? Ini momentum yang bagus pula. Dan sepertinya Kakekmu ingin bertemu dengan aku dan Alex? Kakekmu pasti akan sangat menyukai Alex. Tidak ada yang perlu ditakutkan, semua akan baik-baik saja, oke?"
Antony terdiam sebentar untuk berpikir lalu segera menjawab,
"Ya, kamu benar. Aku percaya sekarang kamu pasti bisa mengatasi hal-hal ini,"
"Jadi itukah kenapa kamu merahasiakan ini dariku selama ini?"
"Ya, aku takut kamu menjadi salah satu korban dan ikut terlibat dalam perebutan Warisan Harta Keluarga Anderson. Mereka tidak sesimpel yang kamu kira,"
Emelin lalu berpikir sebentar,
"Aku rasa mereka tidak akan lebih buruk dari pada Ibu Tiriku itu, kamu tahu dia kan? Bagaimana dia ternyata penipu, aku bahkan tidak pernah mengira jika dia dalang di balik kematian Mamaku,"
Ketika mengatakan itu, ekpersi Emelin menjadi sedih.
"Ya, kamu benar. Ibu Tirimu itu memang jelmaan Iblis dia bukan manusia dan tidak punya perasaan, sangat licik. Namun kamu tenang saja, bukankah aku sudah bilang jika saat ini dia di penjara? Bahkan ketika dia dipenjara, aku juga akan memastikan hidupnya tidak tenang. Kamu tahukah, soal Claudia? Aku sudah memasukan dia ke Rumah Sakit Jiwa, dan sepertinya sejak semua kejadian yang menimpanya dia menjadi suka berhalusinasi soal menjadi Artis paling populer dan Kaya Raya atau sesuatu, aku pernah mengirim video kegilaan Claudia pada Ibu Tiri mu,"
Emelin terdiam sejenak, lalu berkata,
"Antony.... Ya Terimakasih telah membantuku balas dendam, mereka memang layak mendapatkannya."
"Lagipula karena rencana Claudia itu, sampai membuat kamu keguguran, sampai kita kehilangan calon anak kita, aku tidak akan melepaskannya dengan mudah,"
"Ya, kamu benar sekali. Aku juga tidak akan memaafkan Claudia itu, rasakan dia sekarang di Rumah Sakit Jiwa. Namun aku masih merasa mengajal terutama soal Isabella...."
Ketika menyebut nama itu, Emelin merasa sedikit keraguan.
"Emelin, percayalah aku sudah tidak memiliki perasaan tersisa padanya. Aku juga hanya tidak menyangka kalau dia bisa sampai sejauh itu membantu Claudia merencanakan untuk kecelakaanmu."
"Kamu benar. Lagipula ku rasa dia juga sudah mendapatkan balasannya bukan? Apakah kamu yang menyebalkan agar Daniel dan Isabella tidur bersama?"
"Aku hanya melakukan hal-hal yang dulu coba dia lakukan, dan memberinya obat, dan begitulah akhirnya. Toh pada akhirnya, Daniel juga harus hancur setelah apa yang dia lakukan,"
"Kamu benar. Sebenarnya aku sudah tidak mau memikirkan soal hal-hal itu lagi, hah benar-benar ingin memulai awal yang baru."
"Hmm, itu benar. Kita akan memulai hidup baru kita dengan Putra kita Alex, tidak perlu memikirkan hal-hal rumit."
Emelin berpikir sejenak, dia tiba-tiba ingat sesuatu.
"Umm, bagaimana dengan Perusahaan Smith?"
"Aku sudah meminta Paman Radit untuk mengelolanya, bersama dengan AX Investment, kami mencoba memperbaiki Perusahaan itu, sekarang sudah agak mendingan dan berhasil mendapatkan kembali beberapa Investor dan Proyek,"
Emelin tersenyum mendengar itu, lalu memberikan ciuman di pipi Antony.
"Hadiah untuk suamiku yang begitu bisa diandalkan. Aku benar-benar bersyukur bisa mendapatkan kembali Perusahaan itu. Itu adalah peninggalan Almarhum Kakekku yang berharga,"
Antony menunjukan senyuman nakalnya, lalu berkata,
"Jika kamu ingin memberikan hadiah, setidaknya berikan sedikit ketulusan, cium di sini bukan hanya di pipi,"
Antony menujuk ke arah bibirnya.
Namun yang mengejutkan, adalah Emelin benar-benar langsung memberikan ciuman ringan di bibirnya.
Padahal Antony hanya berniat bercanda.
"Apakah kamu puas sekarang, sayang?"
Antony tersemyum, lalu kembali berkata,
"Ini masih kurang,"
Kemudian dia mencium Emelin.
Melihat kelakukan Suaminya yang semakin di manja malah semakin menjadi-jadi itu, ekpersi Emelin menjadi memerah.
"Ah, Dasar Tidak tahu malu!!"
Lalu dia berlari pergi meninggalkan Antony, menuju kembali ke Alex.
####
Malam itu sesuai rencana, Emelin bersama dengan Alex dan Antony bersiap untuk pergi ke Rumah Keluarga Anderson.
Saat ini, Emelin yang baru selesai berdandan, sedang membantu Alex merapikan bajunya.
"Yups, Putra Mama memang yang paling Tampan sedunia, aduh imutnya,"
Saat ini Emelin memakaikan si kecil itu sepasang jas kecil dan memakaikannya sebuah dasi, itu set waran yang sama seperti yang di pakai Antony.
Alex dengan pakaian itu benar-benar seperti pangeran kecil.
Tentu, Emelin memilih semua ini dengan hati-hati, memastikan semua adalah barang Branded mahal, dan juga memakai Aksesoris mahal lainnya.
Termasuk perhiasan, Emelin juga memilih beberapa perhiasan mewah hadiah dari Antony sebelumnya.
Merasa puas dengan penampilan mereka berdua, Emelin segera keluar dari ruang ganti, diluar ruang ganti, sudah ada Antony yang duduk menunggu.
Antony menatap kearah Emelin sedikit terdiam sesaat.
Merasa Istrinya sangat cantik dan menawan malam ini, sungguh benar-benar membuat dirinya ingin segera 'memakannya,'.
Sabar, sabar. Besok dirinya sudah menyiapkan tiketnya untuk pergi Bulan Madu, hanya sabar sedikit lagi.
Merasakan itu, ada rasa kepuasan tersendiri dalam hati Antony.
"Mari kita segera berangkat,"
Dengan itu, mereka segera pergi menuju Kediaman Utama Keluarga Anderson.
Ketika hampir sampai, Emelin sedikit tapjub dengan Rumah Megah yang di lihatnya.
Walaupun ini bukan pertama kalinya dirinya kesini, namun tetap saja, rasa eksentrik ketika meminta Rumah dengan gaya Arsitektur yang indah ini, membuat orang-orang kagum.
Ini adalah gaya klasik ala Bangsawan Eropa.
Lalu dari tempat parkir, mereka langsung di sambut oleh Para Pelayan.
"Selamat Datang Tuan Muda Antony dan Keluarga,"
Antony tidak begitu memperhatikan mereka, dan langsung berjalan masuk.
Emelin yang melihat itu sedikit terteguh.
Wow...
Gaya Presdir yang mendominasi memang seperti itu, sangat keren ketika melihatnya secara langsung.
Mengikuti Antony, Emelin segera masuk kedalam.
Didalam sana, mereka melewati sebuah lorong, tempat Lukisan Potret Keluarga Anderson.
Emelin yang melihat lukisan itu, terdiam sesaat, mengaguminya.
"Lukisan ini sangat indah."
"Ini adalah Lukisan dari Almarhum Mamamu, Emelin."
Mendengar itu, tentu saja Emelin terkejut.
"Mama? Mama yang melukis ini?"
Emelin tidak tahu kalau Mamanya memiliki hobi melukis?
Selama dirinya bersama Mamanya, Mamanya tidak pernah bercerita soal hal-hal ini.
"Ya, sepertinya Mamamu lulusan dari Fakultas Seni,"
"Aku tidak tahu hal-hal ini. Mama tidak pernah bercerita soal ini, aku juga tidak pernah melihat Mama melukis."
"Aku dengar, Mamamu sangat suka melukis, melukis adalah hidupnya, namun karena suatu Peristiwa dia tidak bisa melukis lagi,"
"Dari mana kamu dengar hal-hal ini?"
"Dari Ayahku."
"Dari Paman Thomas Anderson? Dia tau hal-hal ini? Ini benar-benar membuatku penasaran seperti apa hubungan mereka?"
"Aku juga tidak tahu detailnya."
"Seandainya saja Mama dulu tidak membatalkan pertunangannya, apakah dia akan lebih bahagia? Dari pada bersama dengan Ayahku yang tukang Selingkuh itu."
Antony lalu sedikit tertawa,
"Jika itu terjadi, mungkin kita tidak akan pernah bertemu. Tidak, lebih tepatnya kita tidak akan pernah ada,"
"Kamu benar. Takdir memang begitu lucu, Mamaku dan Ayahmu memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh, namun aku dan kamu ditakdirkan untuk berjodoh, mungkin mengantikan mereka,"
"Emelin, kamu terkadang suka mengatakan hal-hal aneh,"
Alex yang saat ini menatap sebuah Vas bunga lucu lalu mulai penasaran dengan apa yang orang tua mereka bicarakan itu.
"Apa yang Papa dan Mama bicarakan?"
Emelin lalu tersenyum, dan berkata,
"Bukan apa-apa, kami hanya melihat lukisan ini. Tidakkah menurut Alex ini indah?"
Alex lalu menatap kearah lukisan itu.
"Benar. Ini sangat indah...."
Ketika mereka masih asik mengobrol itu, orang lain datang kesana.
Itu adalah rombongan Paman dan Bibi Antony, lengkap dengan Raka.
Raka yang melihat Alex itu tentu saja langsung datang dengan bersemangat dan menyapanya, tidak memperhatikan sekeliling, hanya langsung berlari kedepan dengan semangat.
"Ya ampun, keponakan kecil. Kamu hari ini lucu sekali,"
Alex yang melihat Raka itu, juga menjadi bersemangat, dan ikut memuji Raka.
"Kakak Raka juga sangat tampan!"
Raka langsung mencubit pipi Alex,
"Sungguh, siapa yang mengajarimu bermulut manis seperti ini? Astaga, kamu sangat imut, Ah~"
Namun ketika Raka hendak menyapa Emelin, ada suara yang menggangu mereka.
"Raka, jangan dekat-dekat dengan Keluarga anak haram itu,"
Itu adalah suara dari seorang wanita yang sedikit lebih tua, Ibu dari Raka Anderson.
"Mama apa-apaan sih, jangan seperti itu."
Melihat Raka memberontak, Ayah Raka lanjut berbicara,
"Raka dengarkan kata Mamamu,"
Melihat sikap orang tuanya begitu dingin itu, ekpersi Raka menjadi rumit, lalu dia menatap dengan canggung kearah Emelin dan Antony.
Emelin yang mengerti sepertinya suasana disini cukup buruk, mencoba menengahi.
"Salam kenal Paman dan Bibi, aku Emelin Smith, Istri dari Antony Callisto, dan ini Putra kami Alexander Smith."
####
Bersambung