
Hari-hari berlalu sekali lagi, Raka selain memikirkan soal bagaimana mendapatkan hati Alissya, dirinya juga masih harus memperlajarinya Bisnis Perusahaan.
Masih banyak hal yang dirinya sendiri belum mengerti hal-hal yang dilakukan perusahaan, bisa dibilang dirinya saat ini masih tahap pembelajaran.
Sebagai wakil CEO, masih sangat banyak hal yang harus dirinya tahu dan urus.
Salah satunya adalah memeriksa semua proyek yang tengah berjalan.
Namun terkadang ada beberapa hal yang tidak dirinya mengerti soal hal-hal ini.
Sayangannya, dirinya tidak tahu harus bertanya hal-hal ini kepada siapa.
Karena dokumen-dokumen seperti itu biasanya merupakan rahasia perusahaan, tidak mungkin bisa ditanyakan pada orang luar, Asistenmu pun memiliki pengetahuan yang terbatas soal hal-hal ini.
Bertanya pada Ayahnya?
Dirinya mana berani, Ayahnya selalu galak dan selalu menuntut seperti itu, bukannya dapat solusi nanti yang ada dirinya hanya malah di ceramahi.
Ketika Raka masih sibuk memeriksa dokumen-dokumen itu, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk ruangannya.
"Ya, masuk."
Itu adalah Asisten Raka.
"Begini, Tuan Muda, Pak Presdir memanggil Tuan Muda ke Ruangannya, menunggu laporkan soal review Proyek,"
Ekspresi Raka sedikit gelap.
Bagaimana ini?
Ada beberapa bagian yang dirinya belum mengerti, jadi dirinya belum menyelesaikannya.
"Ya, aku mengerti. Aku akan segera kesana,"
"Tentu, Pak Presdir sudah menunggu,"
Pada akhirnya, Raka hanya pasrah jika kena marah nanti, dia membawa laporan seadanya dan menuju ke Ruangan Antony.
Dia dengan gugup menuju ke Ruangan Antony itu.
Memang, suasana di lorong tempat Ruangan Pak Presdir sangat sepi, wajar sih karena sangat jarang ada orang yang kesini menemui CEO.
Raka segera menyapa sekertaris Antony yang ada diluar.
"Silahkan Pak Wakil Presdir untuk masuk kedalam, Pak Presdir sudah menunggu,"
"Baiklah,"
Raka lalu segera memasuki ruangan itu setelah mengetuk pintu.
"Masuk,"
Terdengar suara dingin dan menusuk dari balik pintu.
Raka segera memasuki ruangan itu.
"Selamat Siang Pak Presdir,"
"Ya, selamat siang. Aku dengar kamu yang mereview proyek-proyek yang ada di Perusahaan,"
"Iya itu benar,"
"Apakah kamu sudah selesai melakukannya? Aku ingin melihat laporan,"
Raka dengan ragu lalu menyerahkan dokumen ditangannya.
"Itu.... Sebenarnya ini belum selesai, hanya setengahnya yang aku kerjakan,"
Antony menatap dokumen itu, lalu mulai membuka halaman pertama.
"Jadi begitu. Apakah ada yang kamu tidak mengerti atau sesuatu?"
"Sebenarnya ada beberapa bagian yang aku sedikit tidak mengerti,"
"Coba katakan apa yang kamu tidak mengerti, aku mungkin bisa membantumu,"
Raka yang tiba-tiba semagat itu, lalu mengeluarkan dokumen lainnya, dan menunjukannya pada Antony.
"Bagian ini dan ini, juga soal Pembagunan Pabrik Baru di Kota S,"
Antony mulai membaca hal-hal yang Raka tidak tahu itu, lalu perlahan-lahan mulai menjelaskannya.
Antony tentu saja tahu, kata Emelin, Raka ini sebenarnya cukup baik, hanya saja....
Dia sepertinya memiliki beberapa masalah serius yang membuat dia menjadi malas, dirinya juga sudah memeriksa laporan miliknya sebelumnya.
Itu bagus, namun hanya masih ada sedikit kekurangan didalamnya.
Sepertinya, dia kurang mengerti sesuatu, namun dia tidak ada tempat untuk berdiskusi?
Raka disana mendegarkan penjelasan itu dengan serius.
"Ah, jadi begitu. Lalu kalau yang ini?"
Raka kembali menunjukan bagian lain yang dirinya tidak mengerti.
Dan tentu saja, Antony menjawabnya satu persatu dengan sabar.
Saling antusiasnya, Raka sampai lupa tujuannya keruangan ini, Raka yang akhirnya sadar kalau dirinya malah merepotkan dan banyak bertanya tidak jelas itu menjadi malu sendiri.
"Itu.... Maaf jika pertanyaanku merepotkan,"
"Tidak masalah sama sekali. Jika kamu ada apa-apa, dan ada yang tidak kamu mengerti, kamu bisa datang dan bertanya padaku, jika ini dalam tahap pengetahuanku, aku akan membantumu menyelesaikannya,"
Raka yang mendengar itu tentu saja menjadi cukup kaget.
"Apakah tidak masalah?"
"Ya, tidak masalah sama sekali, kamu selalu bisa minta tolong padaku jika ada masalah, tidak perlu sungkan-sungkan,"
"Tapi itu...." Kata Raka sedikit ragu.
"Bagaimanapun juga kita adalah Saudara Sepupu, kita seharusnya memang saling membantu. Aku tidak tahu bagaimana Hubungan antara orang tua kita... Namun setidaknya aku ingin kita tidak memiliki hubungan yang buruk," kata Antony dengan santai.
Dirinya dengar dari Emelin, kalau Raka ini memang memiliki masalah dan menjadi pemberontak juga karena masalah Keluarga Anderson itu.
Ya, dirinya paham semua orang pasti memiliki masa-masa sulitnya sendiri.
Ini juga mengigatkan dirinya, ketika ada di masa-masa seperti itu juga dulu, menjadi nakal dan pemberontak.
Ketika melihat Raka ini saat pertama kalinya, Raka masih di Sekolah Menengah Atas, masih mewarnai rambutnya dan memiliki gaya seperti itu, tiba-tiba mengigatkan dirinya pada saat dirinya masih SMP, hampir memiliki penampilan itu.
Mungkin memang menjadi Tuan Muda Keluarga Anderson tidak mudah.
Seolah menatap dirinya ketika masih cukup muda, Antony tiba-tiba memikinya, ya mungkin Raka tetap seperti itu karena tidak memiliki pijakan atau seorang yang memandunya dengan benar.
Sepertinya memang tidak buruk jika bisa menjaga hubungan baik dengan sepupunya ini.
Raka berpikir sebentar setelah mendengar kata-kata Antony, yahhh...
Awalnya dirinya cukup berprasangka buruk pada Kakak Sepupunya ini karena perkataan Ayahnya.
Namun, ternyata setelah mengenal lebih dekat dan juga dari hal-hal yang Emelin katakan, Antony sepupunya ini ternyata tidak seburuk itu.
Lihat, bahkan tadi dia menjelaskan hal-hal ini dengan jelas padanya ketika dirinya bertanya, bahkan memang ada pertanyaan sederhana, dan tetap saja di jawab dengan baik.
Sebenarnya dirinya juga tidak begitu suka pertikaian.
Dan lagi, dirinya memang cukup akrab dan merupakan teman baik dari Istri sepupunya ini, jika dirinya dan sepupunya ini memiliki hubungan yang buruk, ini juga akan menjadi canggung.
"Tentu saja, masalah Keluarga Anderson memang sudah rumit dari dulu, tidak perlu di perumit lagi,"
Melihat jawab santai itu, Antony lalu tertawa,
"Pffff... Kamu benar, masalah orang tua memang cukup rumit dan terdegar merepotkan,"
Suasana diantara mereka sudah cukup ringan sekarang.
Ketika mereka selesai membicarakan soal pekerjaan itu, tiba-tiba sudah saatnya jam makan siang.
Antony yang memang berniat menjaga hubungan baik, menawarkan untuk pergi makan siang bersama.
Raka awalnya cukup ragu, namun pada akhirnya dia setuju.
Gosip jika Pak Predir dan Pak Wakil Presdir pergi makan siang bersama itu jelas langsung menjadi topik hangat para Karyawan di Perusahaan.
Jam Istirahat siang mereka, penuh dengan acara gosip ini.
Dan tentu saja, gosip ini cepat untuk sampai ke telinga Charles Anderson.
"Apa katamu? Putraku makan siang dengan Anak Haram Kak Thomas itu?" Tanyanya lagi pada Asistennya.
"Iya Pak, itulah gosip yang saya dengar,"
"Tidak mungkin tidak mungkin, mana mungkin Putraku dekat-dekat dengan orang itu, itu hanya gosip tidak jelas,"
"Tapi Pak, lihat ini ada fotonya,"
Melihat foto itu benar-benar ada Putranya dan terlihat akrab dengan Antony itu, hanya ada kemarahan yang tersisa.
Sialan!!
Anak Thomas itu pasti sedang berpura-pura sok baik didepan Putranya agar bisa memanfaatkan Putranya yang polos itu!
Tidak bisa dibiarkan, dirinya harus mencegah ini semua.
Dirinya juga jelas tahu pasti, tujuan Kakaknya Thomas membawa Putra haramnya itu, untuk mendapatkan Perusahaan Anderson ini!
Padahal bagus sekali, Kakaknya itu tidak memiliki anak, jadi semua warisan akan menjadi miliknya.
Namun rencananya benar-benar berantakan.
Gara-gara Putra yang datang tidak jelas dari mana asalnya itu!
Dan sekarang, anak itu berusaha mendekati Putranya?
Tentu saja dirinya tidak akan membiarkan ini terjadi.
Dia itu pasti memiliki rencana pada Putaranya.