Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Season 2 Chapter 9: Honey Moon (Part 2)


Saat itu, hari masih cukup sore jam baru menunjukkan sekitar pukul setengah lima sore, matahari terlihat sudah turun, membuat pemandangan langit sedikit gelap.


Menatap pemandangan di sore hari seperti ini sangat indah, terutama dari tengah laut seperti ini.


Emelin saat ini berdiri di ujung kapal dengan Antony disampaignya, melihat kearah matahari yang mau tengelam itu.


"Sepertinya masih cukup lama sampai matahari benar-benar tengelam."


"Tidak masalah, kita masih bisa di atas kapal sampai nanti,"


"Apakah tidak masalah?"


"Ya, tidak Malasah. Aku juga sudah menyiapkan sesuatu untuk makan malam nanti disini,"


"Makam malam disini?"


"Tidakkah itu cukup indah setelah menikmati sunset?" Kata Antony lagi sambil memeluk tubuh Emelin dari belakang.


"Emm, kamu benar."


Mereka menatap indahnya laut, dan matahari yang sudah mau tengelam itu dengan damai.


Namun tiba-tiba, kapal pesiar ini mengingatkan mereka pada sesuatu.


"Ah, benar juga, dulu saat kamu hamil Alex, kamu sangat ingin membeli Kapal Pesiar dan naik Kapal Pesiar seperti ini bukan? Namun karena Kakekmu tidak mengijinkan, kamu malah marah dan mengurung diri dikamar, saat itu aku juga sibuk,"


Emelin lalu mengigat dirinya saat muda dulu, dan merasa malu sendiri.


"Itu... Itu... Namanya juga sedang ngidam, aku juga mana tahu bisa meminta hal-hal seperti itu, dan lagi kamu benar-benar terlihat tidak mengabulkannya saat itu, hpmh,"


"Bukannya tidak mau. Namun saat itu aku tidak memiliki kemampuan untuk mengajakmu naik Kapal Pesiar seperti ini. Namun bukankah kamu dulu, juga aku ajak naik kapal?"


"Itu adalah Kapal Nelayan. Kamu benar-benar mengajakku naik Kapal Nelayan dan berkeliling sebentar di dekat pelabuhan."


Antony juga mulai menerawang mengigat lagi kejadian dimasa lalu.


"Ya, aku pikir saat itu adalah saat yang indah juga, menatap matahari tenggelam seperti ini juga, hanya berdua, denganmu..."


Emelin juga ingat kejadian hari itu.


"Itu benar, walaupun awalnya aku menolak, aku juga menikmati duduk diatas kapal kayu itu, menatap laut dari dekat, rasanya juga sangat menyegarkan,"


"Namun sayang sekali, pada akhirnya itu berakhir dengan kenangan buruk, itu semua selalu menjadi salahku," kata Antony lagi.


Emelin juga tahu apa yang Antony maksud.


Saat itu, dirinya malah jatuh ke laut dan tengelam, belum lagi dirinya tidak bisa berenang.


"Itu... Itu bukan salahmu, aku saja yang ceroboh."


"Tidak, itu salahku karena membawamu yang sedang hamil ke tempat berbahaya,"


Emelin merasakan pelukan Antony sedikit bergetar, lalu menatap kebelakang, menatap wajah Antony yang saat ini menunjukkan ekpersi yang murung.


Hari itu, Antony juga yang menyelamatkannya, itu untung bukan tempat yang dalam dan mereka berhasil selamat, namun setelah hari itu memang, jarak antara mereka menjadi cukup dingin.


Jadi begitu, Antony selalu merasa bersalah sejak kejadian hari itu.


Belum lagi, masalah Kehamilannya yang terbilang saat itu terburu-buru.


"Sudah aku bilang, itu bukan salahmu, ini benar-benar karena aku ceroboh, dan bisa jatuh ke laut,"


"Aku juga penasaran bagaimana kamu bisa jatuh?"


Emelin lalu memalingkan wajahnya karena merasa malu.


Dirinya tentu saja ingat, kejadian hari itu.


Saat itu, dirinya dan Antony berdiri diatas kapal nelayan itu, menatap Matahari yang akan segera tengelam.


Pemandangan langit senja itu begitu indah, Emelin saat itu menikmati pemandangan alam yang indah tanpa segaja menatap kearah Antony.


Antony muda, yang terlihat begitu rileks dan tersenyum menatap kearah matahari tenggelam.


Pemandangan itu benar-benar membuat Emelin saat itu terkesima.


Terkesima melihat betapa Tampannya suaminya itu, hingga dia tergelincir dan jatuh, terlalu fokus menatap Antony.


Mengigat hal memalukan ini, Emelin merasa malu sendiri.


"Itu pokoknya itu salahku. Kamu benar-benar tidak salah,"


"Aku kira kamu menyalahkanku, kamu juga begitu marah setelah kita kembali saat itu,"


Emelin juga ingat dimana dirinya marah-marah setelah itu.


Pemandangan langit senja dengan Antony disana benar-benar menyilaukan.


Namun dirinya dimasalalu terlalu memiliki gengsi yang tinggi untuk mengatakannya, hingga membuat banyak kesalahpahaman dan merusak hubungan mereka setelahnya.


"Tapi kamu jangan tertawa jika mendegarnya,"


Antony menatap Emelin dengan binggung,


"Kenapa memang?"


"Baiklah, aku akan jujur, soal kejadian hari itu namun ingat jangan sampai tertawa,"


"Ya, ampun, rahasia apa lagi yang kamu miliki?"


"Hari itu, sebenanya aku terlalu terkesima saat menatap wajahmu dibawah senja saat matahari tenggelam, itu benar-benar sangat tampan dan begitu indah dan membuatku begitu takjub, dan untuk pertama kalinya, aku merasa cukup berdebar-debar melihat betapa Tampannya Suamiku, lalu begitulah aku tergelincir karena begitu asik menatap dan mengagumi betapa Tampannya Suamiku,"


Antony yang mendengar itu tentu saja cukup terkejut, benar-benar kaget dengan pengakuan Emelin itu.


Istrinya ini benar-benar tidak pernah bisa dirinya tebak.


Antony lalu sedikit tertawa, memikirkan itu.


"Kamu... Kamu.... Sudah aku bilang jangan tertawa!!"


"Aku ingin menahannya, namun sungguh kamu benar-benar bisa begitu lucu,"


"Antony!! Kamu begitu jahat sskadnag meledekku!"


Namun bukannya membalas, Antony lalu mencium Emelin tiba-tiba.


"Hmm, tidak apa-apa, sekarang kamu selalu bisa menatapku semau mu, aku memang Suamimu, Milikmu seutuhnya, baik hati, jiwa dan tubuhku, ini milikmu," kata Antony sambil mengarahkan tangan Emelin ke dadanya dan menatap dengan serius kearah Emelin.


"Kamu... Benar-benar suka gombal,"


Antony lalu mencium tangan Emelin dengan bibirnya.


"Aku hanya benar-benar cukup terkejut dengan hal-hal itu. Melihat betapa seperti diam-diam Istriku ini sangat menyukaiku. Jangan malu-malu, kamu selalu bisa mengatakan apapun padaku, semuanya, aku ingin tahu semua tentangmu yang menyukaiku,"


Kemudia, Emelin mulai teringat sesuatu dan bertanya,


"Lalu.... Apa yang membuatmu menyukaiku?"


Antony lalu berpikir sejenak.


"Apakah aku butuh alasan untuk Mencintai Istriku sendiri?"


"Sejak kapan kamu mencintaiku?"


"Aku memikirkannya, apakah sejak kita menikah?"


"Kamu pasti bicara omong kosong, jangan bohong,"


"Aku juga baru-baru ini menyadarinya. Ternyata kamu sudah lebih lama memasuki hidupku, dan menjadi bagian penting dariku sejak lama,"


"Apakah begitu?"


"Sejujurnya, saat kamu dulu mengirimkan surat cerai, ada perasaan tidak nyaman yang aku miliki, namun aku berusaha menahannya, dan mulai menyibukkan diriku sendiri dengan pekerjaan untuk melupakannya,"


"Jadi saat itu, Tugas Keluar Kota itu benar-benar hanya alasan untuk menundanya?"


"Tidak, itu benar-benar ada Tugas yang sangat tepat datang disaat yang tepat. Sangat bersyukur hari itu kita tidak jadi bercerai,"


"Ya, kamu benar."


Lalu keduanya kembali saling memeluk, menikmati pemandangan senja itu.


Rasanya begitu indah, terutama bersama dengan orang yang dicintai, sambil mengigat hal-hal kecil dimasalalu.


"Mungkin sebaiknya kita mengajak Alex untuk ikut lain kali," kata Emelin tiba-tiba.


"Kamu sudah merindukannya?"


"Tentu, saja. Alex adalah Putra Kebanggaan dan Kesayangan kita,"


"Ya kamu benar. Jadi kenapa sekarang kita tidak fokus pada hal-hal lain dulu? Ada sebuah kamar di Kapal ini,"


"Antony!! Kamu benar-benar...."


"Apa? Hmm? Kamu toh juga suka,"


"Diam!!"