
Pagi itu, Emelin masih terlihat sibuk didapur.
Dia sudah memasak beberapa menu untuk sarapan.
Sebenarnya, karena ini sarapan, tidak banyak Menu yang bisa disiapkan.
Dia memutuskan untuk membuat pancake, yang cukup simpel.
Namun karena dirinya memang tidak terlalu pandai memasak, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuatnya.
Dirinya juga sudah menyiapkan beberapa toping yang cocok untuk itu, beberapa toping buah dan ada juga toping coklat kesukaan Alex.
Dan untuk kesukaan Antony....
Dirinya tidak begitu tahu.
Melihat kearah jam tangannya, saat ini sudah menunjukkan pukul enam.
Seharusnya, Alex sudah bangun dan Antony sudah menyelesaikannya olahraga paginya.
Disini, dengan bersemangat Emelin menata meja makan, dibantu oleh seorang pembatu disini.
"Apakah sekarang saatnya untuk membangunkan Tuan Muda?" Tanya pengasuh Alex.
"Ya, segera suruh Alex bangun dan agar dia segera mandi, atau dia akan terlambat ke sekolah."
"Baik, Nyoya." Kata pegasuh itu lalu langsung pergi menuju kekamar Alex.
"Nyonya, apakah ada lagi yang bisa saya bantu?" Kata pambatu itu bertanya pada Emelin.
"Kamu bisa melakukan tugas yang lainnya, nanti kamu bisa kembali membereskan meja makan setelah kami selesai."
Memikirkan ini, setelah meja sarapan lengkap Emelin melihat kinerjanya dengan puas.
Lalu memikirkannya, hmm seperti ada yang kurang?
Tapi apa ya?
Ah...
Benar juga, ini adalah minuman.
Kalau soal minuman Emelin tahu, kalau Antony menyukai kopi, apakah itu Black Coffe yang begitu pahit itu?
Lalu Emelin kembali ke Dapur, masih mengenakan celemek berwarna merah mudanya, bersiap membuat minuman.
Disana, saat menuju dapur dia bertemu Antony yang sepertinya baru selesai berolahraga pagi.
Disini, Emelin melihat Antony mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih.
Karena habis berolahraga, terlihat beberapa butir keringat muncul disekitar lehernya, mengambil handuk di sakunya, Antony lalu membersihkan keringat diwajahnya.
Dari sana, Emelin bisa melihat otot-otot tangan Antony yang terbentuk.
Benar-benar penampilan yang ssngat memanjakan mata.
"Kamu sudah selesai?" Tanya Emelin sambil menyapa.
"Ya, aku baru saja selesai."
"Apakah kamu ingin minum? Aku akan membuatkanmu kopi, aku juga sudah menyiapkan sarapan, apakah kamu mau sarapan dulu atau mau mandi dulu?"
"Kamu memasak?"
Emelin lalu menunjukan wajah bersemangatnya, dan menjawab dengan mantap,
"Tentu saja, aku yang membuat sarapan pagi ini. Itulah kenapa aku bangun pagi ini,"
"Tumben."
"A... Apa? Aku hanya ingin terlihat seperti I... Istri yang baik," guma Emelin pelan, terutama saat bagian terakhir, Emelin mengatakannya sangat pelan.
"Kamu barusan bicara apa?"
Emelin yang merasa memalukan mengatakan hal-hal omong kosong barusan, lalu hanya berkata mengalihkan pembicaraan.
"Sana, sana kamu mandi saja dulu baru sarapan!" Kata Emelin sambil mendorong Antony agar pergi dari sana.
"Aku memikirkannya, kamu jadi terlihat bersikap begitu aneh belakangan,"
"A... Aneh apa?"
"Tidak. Tidak."
Melihat ekspresi serius diwajah Emelin, Antony merasa tidak jadi mengatakannya.
Ya, misalnya saja semalam...
Dia datang kekamarnya seperti itu...
Dirinya paham, mungkin Emelin benar-benar ingin menjadi baik, hanya itu tidak lebih dan tidak kurang.
Tapi memang semalam, penampakan Emelin sedikit....
Ya, dirinya hampir berpikir kalau Emelin mau mengajaknya melakukan hal-hal tertentu, namun Emelin sebelumnya sudah pernah bilang dengan jelas padanya kalau dia tidak akan meminta sesuatu seperti itu lagi...
Lagipula hubunga mereka tidak seperti itu...
Emelin selalu berubah-ubah...
Mungkin dirinya saja yang terlalu banyak berpikir.
Emelin hanya ingin menjadi baik.
Sudah tidak perlu terlalu dipikirkan.
"Apa? Apa yang ingin coba kamu katakan?"
"Aku pikir kamu terlibat cantik dengan celemek ini,"
Mendengar pujian yang tiba-tiba itu membuat ujung telinga Emelin memerah karena malu.
"A... Apa? Aku kan memang cantik."
Melihat tingkah Emelin yang begitu lucu itu, Antony tidak bisa menahan senyumnya, dia tersenyum lalu sekali lagi mengelus rambut Emelin.
"Ya, ya. Kamu cantik."
Emelin tentu saja kaget melihat senyuman dan perlakuan Antony barusan.
"Kamu... Itu bukannya kamu yang memiliki kebiasaan mengelus rambut orang seperti itu?"
"Itu mungkinkah benar, jadi kamu harus terbiasa, Emelin."
"Kamu, apa-apa sih!! Sama-sama segera mandi, nanti Alex keburu datang."
Dan begitulah, Antony lalu langsung menuju lantai atas untuk mandi, sedangkan Emelin menuju dapur.
Dirinya sendiri menyukai Jus dipagi hari, dan untuk Alex, tentu saja harus minum susu, lalu Antony tentu saja kopi.
Setelah menyeduh kopi dari mesin kopi, Emelin lalu melepaskan Celemeknya.
Menyisakan baju biasa yang dirinya pakai.
Tentu saja, dia sudah tidak memakai baju tidur semalam.
Sangat aneh memakai baju itu.
Ketika Emelin mulai membereskan hal-hal didapur, sekarang Emelin mulai memikirkannya.
Disini, dirumah mereka, mereka memiliki satu pembatu, satu pengasuh, satu penjaga keamanan dan satu supir....
Ini memang terlihat biasa saja dimasalalu, dulu dirinya memiliki banyak uang yang cukup untuk mengaji mereka semua....
Namun sekarang, dirinya tidak mempunyai uang lagi, dan belum bisa menghasilkan uang.
Jadi....
Apakah gaji Antony cukup untuk menutupi semua itu?
Emelin mulai berpikir keras, namun pada akhirnya dirinya memutuskan untuk nanti bisa membahas ini dengan Antony lagi, sekarang fokus saja untuk mendekati Antony.
Ketika Emelin sudah sampai dimeja makan, disana Alex sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Selamat pagi, Mama."
"Selamat pagi, Alex. Apakah Alex tidur nyenyak malam ini?"
"Ya, Alex tidur nyenyak malam ini, bagaimana dengan Mama?"
"Mama juga."
"Aku dengar dari Bibi pengasuh, kalau Mama memasak hari ini?"
"Itu benar, lihat makanan dimeja makan adalah hasil masakan Mama,"
Alex menatap pancake dan beberapa salad buah dimeja makan, itu terlihat sangat enak ketika melihatnya.
Disini, lalu Emelin mengambilkan pancake coklat dengan toping coklat untuk Alex.
"Ini, cobalah ini Pancake khusus untuk Alex,"
"Ah... Pancake rasa coklat! Alex sangat menyukainya."
Disini, Alex lalu mulai memakan pancake itu dengan lahap, terlihat sangat menyukainya.
"Jangan lupa minum susumu,"
"Baik, Ma. Owh iya, Papa mana? Apakah Papa tidak pulang lagi?"
"Papamu pulang, dia sedang mandi. Nanti dia akan segera menyusul sarapan."
Emelin sendiri lalu mulai memfoto masakan miliknya, dan menguploadnya di media sosial miliknya untuk menambah interaksi dengan mereka, tidak lupa dirinya juga sempat memfoto Alex yang sedang sarapan itu.
Komentar pada Netizen juga bagus, pengemarnya semakin bertambah terutama sejak acara Reality Show tempo hari.
Benar-benar meningkatkan popularitas dirinya.
Tunggu saja sampai film itu dibuat ini akan menjadi hal-hal yang bagus.
Sekarang juga sudah ada beberapa perusahaan kecil yang menyewa jasa nya untuk menghilangkan produk mereka.
Walaupun tidak besar namun sepertinya ini akan memberikan cukup uang untuknya, tidaknya dirinya tidak perlu merasa khawatir soal mencukupi kebutuhan hidup lagi.
Semoga saja akan lebih banyak iklan yang ditawarkan padanya, sehingga hal-hal menjadi lebih baik.
Bicara soal iklan, ini mengingatkannya pada Raka.
Kemarin Raka sempat menawarkan bantuannya, yah tidak perlu sampai menjadi Brand Ambasador sih, cukup mendapat beberapa iklan dari Perusahaan Raka, bukankah itu cukup bagus?
Mengandalkan koneksi seperti ini....
Ya mau bagaimana lagi mumpung ada seseorang yang bisa membantunya tidak perlu repot-repot untuk menolak.
Di sana lalu, Antony sampai keruang makan.
Alex terlihat antusias itu langsung turun dari kursi dan memeluk Antony.
"Papa, Alex kangen...."
"Kita belum lama bertemu kenapa kamu menjadi seperti ini sekarang? Hmm, begitu manja bulan?"
Lalu Antony meletakkan Alex dipangkuannya.
"Lihat-lihat apa ini semua masakan Mama, ini semua sangat enak, papa harus mencobanya,"
Antony menatap kearah meja makan.
Sebenarnya dirinya tidak menyukai hal-hal yang begitu manis, namun sepertinya ini tidak buruk.
Antony lalu mengambil satu sendok pancake.
Terlihat ada dua tatapan antusias ketika Antony perlahan-lahan memasukan makanan itu kemulutnya.
Ini cukup manis.
"Ini enak,"
Tanggapan singkat Antony itu membuat Emelin begitu gembira.
"Ku senang jika kamu menyukainya."
Itu suasana sarapan begitu damai.
Juga untuk menjalankan rencananya, Emelin terlihat begitu ramah pada Antony dimeja makan, bahkan sebelum Antony berangkat kekantor, dia membawakan Antony sesuatu.
"Aku sudah menyiapkanmu sebuah bekal, kamu bisa membawa ini," kata Emelin menyerahkan sebuah kotak makan siang, dan tentu saja tidak hanya Antony yang dibuatkan bekal, Alex juga sangat senang ketika menerima kotak bekal itu.
"Untukku?" Tanya Antony cukup heran.
"Ya, untukmu! Kamu harus memakannya!"
"Terimakasih,"
Emelin dah menyiapkan bekal ini dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.
Berharap dengan makanan ini bisa sedikit membuat Antony menjadi dekat dengannya dan mengambil hatinya.
Satu langkah lagi....
####
Bersambung