
Hari-hari sekali lagi berlalu dengan cukup cepat.
Emelin saat ini masih merawat Antony di Rumah Sakit, dan cuti sementara dari semua kegiatannya itu.
Alex sendiri, dia titipkan pada Kakeknya Thomas, dan terkadang akan ke Rumah Kakek Buyutnya Johanes untuk sementara, karena Emelin sibuk merawat Antony di Rumah Sakit.
Saat ini, Emelin tengah mendorong kuris roda milik suaminya itu setelah selesai melakukan pemeriksaan.
"Astaga, Emelin kami tidak perlu menempatkanku pada Kursi Roda segala, aku sudah bisa jalan, hanya Tanganku yang patah tulang, Kakiku hanya sedikit mengalami retakan, dan kaya dokter barusan ini sudah baikan, aku bisa jalan pelan-pelan,"
Emelin yang melihat Suaminya ini mencoba ingin berjalan itu tentu saja menjadi protes.
"Kamu ini tidak boleh begitu, jangan langsung coba jalan, nanti naga jika retakannya malah semakin parah?"
Melihat Istrinya itu begitu menghawatirkan dirinya, perasaan Antony juga menjadi semakin senang.
"Istriku ini memang sangat perhatian ya, jadi hadiah apa yang kamu minta setelah semua ini selesai hmm? Apakah sebuah Ciuman? Atau Pelayan Malam Spesial?"
Mendengar Antony mengodanya itu, Emelin merasa malu sendiri.
"Dasar, kamu ini suka bicara Omong kosong, tidak ingat aku saat ini sedang hamil?"
Antony lalu tertawa, dan menyentuh perut Emelin, mengelusnya ringan, mencoba mencari gerakan dalam perut itu.
Kehamilan Emelin sudah mencapai bulan keempat lebih, perut Emelin sudah mulai membesar, dan kehamilanya cukup terlihat, apalagi ini bayi kembar, Antony bisa merasakan juga sekarang sudah ada sedikit gerakan dari sana.
"Emm, tenang saja, kita bisa menundanya setelah bayi kita lahir, membuat satu lagi setelahnya,"
Emelin segera menepuk ringan pipi Antony, dan mencubitnya.
"Kamu ini ya, bahkan aku belum melahirkan namun sudah merencanakan sesuatu seperti itu,"
"Tidak apa-apa, jika ramai ini akan cukup menyenangkan. Alex juga pasti akan suka jika memiliki banyak adik,"
Mereka terlihat bercakap-cakap dengan asik sampai mereka tiba di Rumah Inap Antony.
Sampai Antony bertanya,
"Kapan kamu akan melakukan USG? Apakah sekitar sekarang sudah bisa mengetahui jenis Kelamin Anak kita?"
"Rencananya, aku akan melakukannya sekitar Minggu depan,"
"Sejujurnya, aku sudah tidak sabar menunggu untuk tahu apa jenis kelamin mereka, aku ingin anak perempuan yang mirip denganmu,"
Emelin lalu mulai tersenyum,
"Tentu saja, aku juga sangat mengharapkannya, ini cukup bagus,"
Setelah beberapa percakapan tentang calon bayi mereka, sekarang Emelin mulai membuka topik lainnya.
"Antony, hari ini aku minta ijin denganmu untuk pergi sebentar,"
Antony lalu menatap Emelin dengan penuh tanya,
"Kamu mau kemana memang? Ingat, sekarang kehamilanmu sudah cukup besar,"
"Aku ingin bertamu Alissya, aku sudah membuat janji dengannya, kamu tahu, aku masih ingin mencoba membujuk dia agar tidak pindah keluar Kota, Raka memintaku untuk melakukannya,"
"Hah, Alissya itu kadang bisa sedikit keras kepala, cukup susah untuk di bujuk. Dan lagi, ini mengejutkan, mereka benar-benar memiliki beberapa hubungan?"
Emelin menghela nafas panjang, lalu berkata,
"Ceritanya cukup panjang, aku akan menceritakannya kapan-kapan,"
"Baik-baik, aku minta kamu hati-hati nanti saat pergi, bawalah beberapa pengawal,"
"Iya, iya aku akan membawa beberapa pengawal nanti,"
####
Waktu cukup cepat berlalu sampai jam janjian antara Emelin dan Alissya sudah tiba.
Saat ini Alissya bersiap untuk berangkat dari Kos tempatnya tinggi.
Alissya sendiri sudah membereskan barang-barang yang ingin dia bawa pergi.
Kakaknya Antony saat ini sedang sakit, jadi sementara kepergiannya di tunda dulu sampai Kakaknya itu, cukup baikan sehingga bisa mengurus soal kepindahannya ini.
Namun memikirkan hal-hal ini, Alissya menjadi begitu sedih.
Dirinya teringat lagi pada Raka.
Kabar soal hal-hal ini dan dirinya yang menerima uang dari Mamanya itu pasti sudah sampai pada Raka.
Apakah setelah ini, Raka benar-benar akan membenci dirinya?
Dirinya tahu, ini adalah keputusan yang dirinya sendiri buat, untuk membuat Raka membenci dirinya.
Namun ketika memikirkan soal Raka yang membenci dirinya, perasaan Alissya menjadi cukup sedih.
Kenapa hal-hal bisa menjadi seperti ini?
Dirinya yang membuat keputusan-keputusan ini, namun malah dirinya sendiri yang ragu.
Perasaan Alissya benar-benar cukup rumit soal ini.
Ketika Alissya sibuk berpikir sendiri itu, telepon Alissya berbunyi, itu dari Emelin.
"Iya, Kak Emelin,"
'Apakah kamu sudah mau ke Cafe tempat kita akan bertemu?'
'Tentu, aku juga sudah siap, telah itu tidak sampai lima belas menit dari Rumah Sakit,'
"Itu juga cukup dekat dari sini,"
'Baiklah, mari bertemu disana nanti, sampai nanti,'
"Ya,"
Dengan itu, Alissya segera menutup teleponnya, lalu mulai menaiki motornya untuk menuju tempat pertemuan dahan Emelin.
Itu hanya Cafe tidak begitu jauh, dan lebih mudah naik motor untuk pergi kesana.
Perjalan itu cukup lancar-lancar saja sampai Alissya tiba di cafe itu.
Dan yang cukup mengejutkan, Alissya malah bertemu dengan Emelin di parkiran.
Emelin yang baru saja keluar dari mobil, cukup terkejut melihat kedatangan Alissya itu.
"Hay, Alissya! Kebetulan sekali, kita malah bertemu disini,"
"Ya, aku juga tidak mengira kita bisa datang tempat waktu,"
"Pfff... Kamu benar. Mari kita segera masuk, Cafe ini aku dengar cukup bagus, ada menu-menu Desert yang sangat enak,"
"Kak Emelin menyukai hal-hal seperti itu?"
"Ya, aku harus mencobanya juga,"
"Tentu saja. Dan lagi, apa yang Kakak ingin coba bicarakan denganku?"
Emelin malah tersenyum bukanya menjawab, dia hanya berkata,
"Nanti didalam saja agar lebih nyaman,"
Mereka lalu berbelok dan hendak keluar dari tempat parkir, namun siapa yang tahu jika mereka malah tidak sengaja bertemu dengan wajah-wajah yang familiar.
Emelin segera menghentikan langkahnya, menarik Alissya bersembunyi di balik pintu disana.
"Eh? Itu Paman Viktor bukan?" Tanya Emelin dengan ekspresi kaget.
Alissya juga melihat orang didepan, sedang berbicara asik dengan seseorang.
"Itu benar, itu Pak Viktor. Namun dengan siapa dia bertamu? Mereka berdua terlihat cukup akrab,"
Emelin tidak tahu harus berekspresi seperti apa ketika melihat orang yang Viktor ajak bicara itu.
Itu bukankah yang kata Antony, CEO Dirgantara Group?
Geovanni Dirgantara yang merupakan musuh besar Keluarga Anderson?
Namun kenapa dia bersama dengan Paman Viktor?
Dari arah lorong itu juga bisa sedikit terdengar apa yang mereka berdua bicarakan,
"Pfff... Viktor rancanamu cukup bagus, sekarang lihat, malah Kakakmu Charlise itu yang di salahkan oleh Thomas Anderson, aku cukup puas bagaimana mereka malah bertengkar sendiri,"
"Memang, semakin mereka bermusuhan ini semakin baik untukku, lagipula, hal yang aku lakukan hanya sederhana, menambahkan beberapa bensin pada hubungan mereka yang sudah panas,"
Geovanni lalu tertawa dan berkata,
"Ahahaha.... Itulah kenapa Hubungan mereka saat ini meledak?"
"Ya, kita tidak perlu repot-repot turun tangan, dan biarkan mereka berdua saling menggahancurkan satu sama lainnya,"
Mendengar hal-hal itu, jelas Emelin menjadi cukup syok, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Dirinya memang dengar ada beberapa masalah dalam Perusahaan Anderson, namun dirinya tidak mengira jika itu ada rencana dari Pamannya Viktor yang bekerja sama dengan Geovanni itu.
Emelin yang cukup cemas itu, malah tidak sengaja menjatuhkannya vas yang ada didalam pintu, membuat Viktor dan Geovanni menatap kearah itu.
Viktor lalu menyadari jika ada seseorang yang mengintip pembicara mereka.
Dia terkejut ketika melihat dia wajah yang familiar disana.
Astaga....
Sialan!!
Kenapa dirinya bisa sangat ceroboh?
Itu, Emelin dan Alissya!!
Sialan!!
Apakah mereka dengar apa yang dirinya dan Geovanni katakan barusan?
Geovani yang melihat wajah familir itu juga merasa kaget.
Tidak!!
Mereka tidak boleh sampai ketahuan dan membuat rencana mereka gagal!!
Ini tidak bisa dibiarkan.
Geovanni segera menyuruh anak buahnya yang ada dibelakangnya.
"Kalian tangkap dua orang wanita yang ada disana!! Jangan biarkan meraka sampai lolos! Bagaimanapun caranya!!" katanya sambil menunjuk Emelin dan Alissya yang terlihat hendak pergi dari tempat itu.