Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Episode 176: Sebuah Insiden


Hal yang di lihat Antony ketika menuju ke arah kecelakaan adalah sebuah ledakan dengan mobil yang cukup di kenalnya.


Sekarang yang dirinya lihat adalah puing-puing mobil hitam itu terbakar dalam api.


"Emelin? Emelin??" Antony menatap kebakaran itu dengan panik.


Lalu tidak lama, ada ledakan susulan yang membuat kobaran api menjadi semakin besar.


Antony berjalan menuju mobil itu dengan putus asa, mendekat, namun dicegah oleh orang yang berdiri disana.


"Bapak jangan kesana, itu berbahaya,"


"Jangan halangi aku.... Istriku disana...."


"Ah, maksud Bapak Seorang wanita yang menaiki mobil itu? Dia sepertinya berhasil Keluar dari mobil di sebelah sana,"


"Dimana dia? Dimana?"


Orang itu lalu menunjuk ke kerumunan orang disisi berseragan dari Antony.


Antony segera menuju kerumunan itu, di tengah kerumun terlihat seorang wanita tarbaring dengan darah di kepalanya juga di sekitar perutnya.


Itu adalah wajah yang sangat Antony kenal.


"Emelin...."


Antony dengan panik memeluk tubuh pucat itu.


"Emelin.... Bangun..."


Namun tidak ada balasan yang Antony dengar.


"Apakah Bapak Keluarganya? Nona ini sepertinya terkena benturan, dan ketika ledakan pertama pintu sudah terbuka dan dia keluar dengan keadaan sudah berdarah-darah buru-buru keluar, namun dia malah jatuh dan terbentur lagi, sekarang dia tidak sadarkan diri, kami sudah memanggil Ambulans,"


Mendengar itu tatapan Antony kembali menatap wajah Emelin.


Memeriksa detak jantung dan nafas Emelin.


Untunglah, ini masih bernafas sedikit rasa lega muncul namun juga diiringi kekhawatiran.


Hari ini harusnya menjadi hari yang bahagia untuk mereka, namun kenapa bisa menjadi seperti ini?


Antony memeluk tubuh Emelin yang berlumuran darah itu dengan cemas.


Dirinya tidak pernah setakut ini sebelumnya, tidak dirinya pernah mengalami ini ketika melihat Emelin jatuh dari tangga kala itu.


Perasaan hancur dan takut di tinggalkan....


"Emelin, bangun...."


"Emelin...."


Antony terus memanggil nama itu berulang-ulang, takut kalau tidak dia akan pergi, sama seperti bagaimana Ibunya dulu pergi...


Seperti Kakeknya dulu...


"Emelin, kumohon jangan seperti ini...."


Antony tanpa sadar mulai meneteskan air matanya, sampai mengenai wajah Emelin.


Tidak lama, sampai Mata yang tertutup itu lalu membuka kelopak matanya perlahan.


"Ukhh.... Antony... Kamu kah itu...."


"Emelin? Kamu sudah sadar? Tenang, sebentar lagi mobil Ambulance akan datang, bertahanlah, apa yang sakit...."


Emelin lalu memegangi kepalanya yang sakit, lalu merasakan perutnya sangat sakit.


"Sakit.... Perutku sangat sakit..."


Antony lalu menatap luka diperut Emelin, sepertinya akibat benturan, ada darah yang merembes dari sana.


Melihat itu Antony menjadi sangat khawatir, dan seolah merasakan sakitnya,


"Tenang, Emelin kamu harus bertahan...."


Emelin yang merasakan rasa sakit diperutnya itu, tiba-tiba merasakan firasat yang tidak enak...


Ukhh...


Sakit....


Bagaimana ini....


Kenapa rasanya sangat menyakitkan....


Dirinya pernah mengalami hal ini sebelumnya, ketika hari dirinya hampir kehilangan Alex...


Cukup beruntung kala itu, Alex yang berada di perutnya bisa selamat...


Namun kali ini...


Kali ini bagaimana jika janin di perutnya tidak selamat?


Dirinya bahkan belum mengatakan kabar gembira ini pada Antony, namun sudah akan menjadi berita buruk...


Tidak...


Dirinya harus percaya jika tidak akan ada apa-apa, dirinya ataupun calon anak mereka di dalam perutnya ini akan selamat.


Benar, mereka berdua akan selamat, lalu dirinya akan memberitahu kabar baik ini pada Antony...


Tidak..


Tidak ada nanti, harus sekarang...


Namun terlalu banyak hal yang ingin dirinya katakan...


Soal bagaimana dirinya sekarang mencintai Antony....


Dan soal bagaimana dirinya saat ini tengah hamil.


"Antony, aku ingin mengatakan sesuatu padamu..."


"Sudah, kamu jangan bicara dulu. Tunggu Tim Medis datang...."


Dengan wajah lemah dan sisa-sisa energi yang dimilikinya, Emelin kembali berkata,


"Antony.... Aku... Sangat mencintaimu.... Aku sangat sangat mencintaimu.... Kamu adalah cinta pertamaku... Dan akan menjadi cinta terakhirku...."


Mendengar kata-kata itu, membuat jantung Antony berdebar.


Namun sebelum Antony bisa merespon, Emelin kembali menutup matanya, kehilangan kesadaran.


Perlahan, penglihatan Emelin memudar, dan pandangannya menjadi semakin gelap, dengan rasa sakit yang masih menyiksanya.


Tidak bisa melihat respon atau jawaban Antony...


"Aku juga... Aku juga sangat mencintaimu, Emelin... Aku sangat mencintaimu...."


Ketika mengatakan itu, Antony melihat bahwa Emelin kembali menutup matanya, membuat Antony panik.


"Hey? Emelin?"


Lalu perlahan, Antony merasakan nafas Emelin semakin melambat....


"Emelin... Jangan seperti ini... Emelin...."


Tim medis segera datang, dengan peralatan medisnya memberikan pertolongan.


"Tolong minggir sebentar, akan kami periksa,"


Antony lalu mundur membiarkan Tim Medis itu bekerja memeriksa Emelin


"Ambil segera tabung oksigen, dan alat pacu jantung, sepertinya pernafasannya terganggu dan jantungnya mulai berhenti,,"


Melihat kata-kata Dokter itu, membuat Antony semakin dihantui rasa cemas dan ketakutan, juga panik.


Deg Deg Deg


Tidak mungkin bukan?


Emelin...


Emelin...


Aku belum memberikan kejutan padamu dan membuatmu bahagia, jangan seperti ini...


Rasa frustasi baru muncul...


Jika kamu mencintaiku jangan tinggalkan aku seperti ini...


Emelin...


"Dokter... Dia kenapa... Emelin... Jangan seperti ini..."


"Tenang dulu," kata salah satu petugas disana.


Tidak lama alat-alat disiapkan disana, dan dokter mulai memasang alat detektor jantung, juga langsung mengunakan alat pacu jantung, juga memasang tabung oksigen.


Melihat awalnya ada garis panjang di detektor jantung, membuat Antony ketakutan.


Dokter mencoba beberapa kali alat kejut listrik itu pada Emelin.


Dan....


Akhirnya, jantung Emelin kembali berdetak.


Dokter dan perawat disana juga menatap dengan cemas.


Akhirnya melewati masa kritis setelah nafas Emelin stabil.


Antony juga merasa sedikit lega, lalu menemani dan mengegam tangan Emelin sampai dia masuk ke mobil Ambulans.


Didalam mobil, Emelin di perksa lebih lanjut.


"Sepertinya dia mengalami luka dalam berkat benturan, untuk berikutnya harus di periksa di Rumah Sakit, untunglah itu tidak jauh dari sini,"


Selama perjalanan, tangan Antony berkeringat dingin, sambil menatap Emelin yang saat ini tengah tidak sadarkan diri.


Rasanya masih menyakitkan ketika melihat wajah ini begitu pucat.


Sekarang, dirinya memahami betapa dalam perasaaan yang dirinya miliki untuk Emelin.


Betapa dirinya sangat mencintai Emelin lebih dari pada yang dirinya kira....


Bahwa sudah sejak lama wanita didepannya ini merupakan bagian dari hidupnya...


Tidak bisa memikirkan hari-hari tanpa dia disisinya....


Kata-kata Emelin sebelumnya kembali terngiang di telinga Antony.


Kata-kata bahwa Emelin juga mencintai dirinya...


Antony mengabil tangan Emelin, lalu menciumnya,


"Segeralah sadar... Aku juga sangat mencintaimu... Kamu belum mendengar jawabanku bukan? Maka segeralah tersadar...."


Dan tidak lama sampai mereka sampai di Rumah Sakit kemudian masuk ke Ruang UGD.


Emelin diperiksa secara menyeluruh disana, membiarkan Antony menunggu di ruang tunggu dengan perasaan cemas yang dalam.


Dia mondar-mandir di depan pintu perawatan itu.


Dan tidak lama sampai seorang Dokter keluar.


"Bagaimana keadaan Istri saya, Dokter?"


"Tidak ada luka serius, hanya saja...."


"Hanya apa, dok?"


"Janin dalam perut Nyonya Emelin tidak bisa di selamatkan, dan harus diangkat,"


"Janin?"


Dokter itu menatap Antony dengan binggung.


"Anda tidak tahu bahwa Istri anda tengah hamil?"


Antony mengeleng-gelengkan kepalanya, tidak tahu harus merespon seperti apa...


Emelin hamil?


Kenapa Emelin tidak pernah bilang?


Lalu....


Ketika Antony masih binggung dalam lamunannya itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Antony segera mengkat teleponnya itu, yang berasal dari rumah.


Mencoba menenangkan diri,


"Sebentar, Dokter,"


"Hallo, ada apa?"


'Ada kabar buruk, Taun Muda Alex mengalami kecelakaan,'


"Apa kamu bilang?"