Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Episode 25: Canggung


Sore itu, Emelin dan keluarga kecilnya melihat matahari terbenam di bukit itu.


Mereka menghabiskan waktu bersantai dan piknik disana sampai matahari terbenam.


Pemandangan dari atas sana terlihat begitu indah.


"Sangat indah benar bukan, Alex?"


"Benar sekali, Ma. Alex sangat senang bisa pergi berlibur seperti ini,"


"Tentu-tentu. Dimasa depan, kita akan lebih banyak waktu untuk berlibur seperti ini,"


"Benarkah?"


"Tentu saja,"


Alex terlihat sangat menikmati ini.


"Alex senang bisa menghabiskan waktu dengan Papa dan Mama. Apakah kita akan selalu bertiga seperti ini?"


Disini, Emelin binggung mau menjawab seperti apa, namun disisi lainnya, Antony menjawabnya dengan tegas,


"Tentu saja, kita akan selalu bertiga seperti ini."


Seolah mengatakan sebuah janji.


Emelin sedikit melirik kesamping, menatap wajah Antony yang terlihat serius.


Namun....


Hubungan mereka tidak pada tahap itu....


Dirinya benar-benar tidak tahu hari dimana Antony mungkin akan mengajukan surat perceraian.


Namun....


Setidaknya, seperti ini bertiga untuk saat ini bukanlah hal yang buruk.


Dan begitulah, setelah itu mereka lalu turun dari bukit, dan mulai naik taksi kembali ke hotel.


Dalam perjalanan pulang, Alex tertidur pulas diperlukan Antony yang memang menggendong Alex yang sudah lelah itu.


Emelin melirik sekilas kesamping, kesepasang Ayah dan anak itu.


Kalau melihatnya seperti ini, mereka berdua memang terlihat mirip.


Disini, Emelin juga melihat kalau Antony juga sedikit tertidur, bersama Alex diperlukannya.


Wajah tidurnya begitu terlihat tenang.


Dia pasti lelah juga mengendong Alex dari tadi saat di bukit.


Wajah tidur kedua orang itu terlihat sangat tenang dan cantik, pemandangan yang begitu indah.


Sekilas, Emelin lalu mengelus rambut Alex, lalu langsung mengelus rambut Antony juga.


Rambut Antony juga selembut rambu Alex, hanya sedikit lebih kaku.


Orang ini kalau tertidur seperti ini benar-benar terlihat begitu tampan.


Lihat wajah ini, sudah bukan lagi wajah dingin yang biasanya.


Hanya wajah tenang, dan lembut.


Ya ampun....


Bulu mata Antony yang terlihat sedikit lebih panjang ini terlihat manis.


Juga bibirnya yang sekilas agar terlihat merah muda mengoda, warna alami.


Antony juga memiliki kulit yang cukup putih, cukup putih untuk seorang laki-laki.


Wajah tampan ini.....


Namun ketika Emelin curi-curi menyentuh rambut Antony dan mengagumi wajah tidur itu, mata itu segera terbuka.


Mata gelap, itu menatap kearah Emelin, membuat Emelin yang melakukan dan memikirkan hal-hal aneh barusan merasa canggung.


"Kamu sudah bangun?"


"Ya."


Jawaban singkat seperti biasanya, dan kemudian suasana menjadi hening.


Disini Emelin yang tertangkap basah itu berpikir,


Sepertinya Antony juta tidak terlalu memikirkan soal tidakkan Emelin barusan?


Sudahlah, dirinya tidak mau terlalu memikirkan itu.


####


Sampai di hotel, Antony lalu segera meletakkan Alex ditempat tidur, membiarkan bocah kecil ini tertidur pulas.


Emelin yang juga lelah, itu juga ikut berbaring disana.


Emelin disini, melihat Antony mulai membuka koper mereka.


"Ingin mandi?" Tanya Emelin.


"Ya. Sangat panas."


"Baiklah, aku juga akan mandi nanti bersama Alex setelah dia banggun."


"Oke,"


Dan begitulah, setelah mengambil handuk, Antony segera berjalan kekamar mandi.


Lalu, orang itu masuk kedalam kamar mandi dengan tenang.


Emelin yang berbaring itu menatap Antony dari tadi yang berjalan kekamar mandi.


Tidak lama suara keran air muncul.


Disini, Emelin melirik sedikit kearah kamar mandi, dan melihatnya dengan benar.


Itu membuat rasa kantuk dan lelah Emelin langsung hilang seketika.


Kenapa?


Kenapa dengan Kamar mandi dengan kaca tembus pandang ini?


Dai arah tempat tidur, dengan sedikit tertutup asap air hangat, Emelin bisa melihat seluruh tubuh Antony yang tidak mengenakan apa-apa itu, yang saat ini mandi dengan tenang.


Sial!!


Apa-apa dengan setting kamar hotel ini???


Emelin merasa sedikit malu itu menutup kedua matanya dengan tangannya. Namun itu tidak bisa mencegah Emelin yang akan sesekali melirik kearah kamar mandi menatap pemandangan indah disana.


Owh, ya ampun...


Tubuh itu....


Itu jelas tubuh yang membuat dirinya khilaf dulu saat masih muda...


Menatap pemandangan luar biasa disana itu, membuat wajah Emelin memerah dan juga merasa semakin panas.


Sial!!


Hotel sialan!!


Dan lihat, Antony mandi disana tanpa tahu apapun soal kaca transparan ini!!!


Akhhhhh.....


Emelin sadar!!


Sadar!!


Kami tidak boleh menatapnya!!


Namun walaupun Emelin bilang tidak mau menatapnya, dari awal sampai akhir, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya.


Pemandangan bagus tidak bisa dilewatkan.


Tidak lama setelah itu, Antony keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk.


Dia menatap dengan heran kearah wajah Emelin yang memerah itu.


"Kenapa?"


Emelin memalingkan wajahnya.


Melihat tubuh itu terlalu dekat...


Damage nya tidak terkira...


"Tidak-tidak....."


Emelin yang terlihat malu itu menjadi canggung dan salah tingkah sendiri, dia lalu berdiri dari tempat tidur, mencoba mencari air disana untuk diminum.


Mencoba menenangkan pikirannya dari melirik Antony yang berniat mengambil baju dan ingin masuk kembali kekamar mandi.


Namun sialnya, koper Antony tepat ada disamping Emelin yang sedang minum itu.


Perlahan aroma maskulin dan harum tercium oleh Emelin.


Aroma yang begitu wangi dan membuat hati Emelin semakin berdebar.


Emelin yang kikuk itu lalu tidak sengaja malah hampir saja terpeleset karpet dibawah.


Namun untungnya dia tidak jadi jatuh karena ditangkap oleh Antony.


Tatapan mereka bertemu.


Dipegang oleh kulit dingin, dan sebuah dada telanjang didepannya membuat Emelin semakin gugup, dan wajahnya memerah.


"Kamu harus hati-hati," kata Antony dengan nada datarnya seperti biasanya.


Emelin yang sadar itu segera menjauh dari pelukan Antony.


Namun dia segera berteriak kaget dan menutup matanya.


Itu karena handuk yang dipakai Antony barusan sempat terjatuh dari Emelin melihat sesuatu yang seharusnya tidak dirinya lihat disana.


"Kayyyy.... Pa... Pakai bajumu."


"Kenapa kamu begitu, berisik? Apa yang perlu dipermasalahkan? Kamu sudah pernah melihat semuanya pula," kata Antony lagi dengan nada biasanya.


"Kamu mengodaku?"


"Apa? Lagipula bukankah kamu sudah melihat semuanya barusan?" Kata Antony mulai mendekat kearah Emelin, sambil melirik kamar mandi dengan kaca tembus pandang disini.


Ekspresi Emelin memucat karena malu.


"Kamu... Kamu benar-benar mengodaku.... Jadi kamu tahu...."


Disini, Emelin berjalan mundur sampai dia menyentuh tepi tempat tidur, mencoba menjaga jarak dari Antony, namun percuma karena Antony juga berjalan semakin mendekat.


Sekarang jarak wajah mereka kurang dari tiga centimeter.


Tangan dingin Antony yang habis mandi itu lalu memegang sedikit kerah kemeja yang Emelin pakai.


Dan menatap Emelin dengan pandangan sedikit mengoda,


"Lagipula disini, aku juga sudah pernah melihat semuanya. Tidak perlu terlalu ribut... Kita adalah sepasang suami istri setelah semua...."


Kata-kata yang terdengar biasa saja namun begitu membuat Emelin berdebar tidak karuan.


Seolah terbawa suasana, ketika wajah mereka semakin dekat, saling tatap diam-diam seolah keduanya mengerti apa yang ingin dilakukan.


Jarak wajah mereka hanya tinggal satu centimeter....


Semakin dekat....


"Papa? Mama? Apakah kita sudah di hotel?"


Suara dari seseorang diruangan itu membuat Emelin langsung sadar, lalu mendorong Antony menjauh.


Sekarang mereka berdua dalam tatapan canggung melihat Alex yang sepertinya baru saja bangun dari tidurnya.


Emelin langsung menghampiri anak itu, sedangkan Antony langsung berjalan kembali kekamar mandi.


####


Bersambung